Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 180 - Tiba Saatnya


__ADS_3

"Sayang?" panggil altar pada istrinya itu.


Alana yang kini duduk disebelah Altar pun langsung menoleh. Memperlihatkan wajah kusut yang penuh dengan pikiran.


awalnya ia sudah merasa lega setelah berbicara dengan ibu Widya. Namun saat melihat wajah ayah Agung yang garang, Alana kembali galau.


Merasa, jika ayah Agung pasti akan kecewa jika mereka sampai menunda pendidikan.


"Kenapa?" tanya Altar, penuh perhatian. Ia bahkan menatap hangat istrinya ini.


"Mas, se-sebananya aku belum mau kuliah, aku sudah mengatakan alasannya kepada ibu Wid dan ibu Wid setuju dengan keinginanku itu, tapi sepertinya ayah Agung tidak akan mengizinkan," jawab Alana panjang lebar, tapi Altar masih belum mengerti apa maksudnya.


"Memangnya apa alasanmu ingin menunda kuliah?" tanya Altar lagi.


Ditanya seperti itu, Alana sedikit menunduk, lalu mulai buka suara.


"Aku takut, nanti baru awal kita kuliah, tiba-tiba aku hamil. Kita kan sering gitu-gituan Mas," jawab Alana, cemas dan merasa malu sekaligus.


Tak sampai di sana, Alana juga menceritakan jika ia takut jadi bahan gunjingan.


Altar tersenyum.


"Sebenarnya, aku juga ingin kita menunda kuliah dulu sayang," balas Altar jujur.


"Benarkah?"


"Iya."


"Apa Mas juga takut jika kita akan jadi bahan gunjingan?" tanya Alana, antusias.


"Bukan, untuk apa takut digunjing, kita kan menikah resmi. Yang aku takutkan, aku tidak bisa menjagamu dengan penuh jika kita kuliah nanti." Jujur Altar.


Dicemaskan seperti itu, membuat Alana senyum-senyum sendiri. Merasa sangat dicintai suaminya itu.


"lebih baik sekarang kita pergi saja Mas, ke apotik, beli testpack," ajak Alana dan altar mengangguk setuju.


Saat itu mereka hanya pamit kepada asisten rumah tangga, tidak pamit pada kedua orang tuanya, karena takut mengganggu.


Perjalanan sekitar 15 menit, mereka sampai disebuah apotik.


"Mas yang turun ya?" pinta Alana dan Altar langsung tersentak.


"Kamu saja sayang, aku malu," jawab Altar jujur, dan Alana mencebikkan bibirnya. Jujur saja, ia juga malu.


Tak bisa dipungkiri, wajah Alana dan Altar benar-benar masih belia, baru lulus SMA.


"Ayo gunting batu kertas, yang kalah turun," pinta Alana.


Mendengar tawaran itu, Altar menari dan menghembuskan napasnya pelan. Ia tak bisa egois dan harus bersikap sportif.


"Baiklah, tapi jangan curang."


"Iya," jawab Alana dengan mengulum senyum. Ia lumayan ahli dalam permainan ini.

__ADS_1


Baru hendak memulai, Altar langsung menghentikannya dengan cepat.


"Tunggu, mau berapa kali, satu kali atau tiga kali?" tanya Altar, memastikan. Ia tak ingin dibodoh-bodohi sang istri.


Saat pertama ia menang, Alana pasti akan langsung meminta 3 kali. Tapi saat pertama Alana menang, Alana pasti akan langsung menyudahi.


"Satu kali saja," jawab Alana dengan tersenyum.


Dan Altar pun mengangguk setuju.


Guntung Batu Kertas!


"AA!! Yes!" ucap Alana, girang. Alana yang menang.


Tanpa banyak perdebatan lagi, Altar segera turun dari dalam mobil dan mulai masuk ke dalam apotik sana.


Sementara Alana terus tersenyum, membanggakan atas kemenangannya itu.


"Beli apa dek?" tanya di wanita penjaga kasir, saat melihat Altar yang celingak celinguk didepan mejanya.


"Cari testpack mbak," jawab Altar langsung, hingga membuat wanita itu membulatkan matanya.


"Ada nomor identitas nggak dek? KTP?" tanya kasir itu lagi, pembeli testpack di apotik ini memang harus 17 tahun keatas.


Untunglah, Altar sudah punya.


Dengan percaya diri, Altar mengeluarkan kartu identitas itu. Dan tanpa banyak tanya lagi, si penjaga kasir langsung memberikan testpack yang dicari Altar.


Saat itu, Altar membeli 3 testpack sekaligus.


"Mana?" tanya Alana, saat Altar membuka pintu mobil itu, belum sampai duduk.


Dan Altar pun memberikan plastik putih bawaannya pada sang istri.


"Apa tidak lebih baik kita tunggu 1 bulan dulu sayang baru menggunakan itu?" tanya Altar, kini ia sudah duduk bahkan sudah menghidupkan mesin mobil.


Melihat Alana yang sibuk membaca keterangan yang tertera di kotak testpack itu.


"Iya Mas, seminggu lagi kita periksa," putus Alana.


Tak kemana-mana lagi, keduanya memutuskan untuk langsung pulang.


Sampai di rumah, mereka dibuat bingung, saat tiba-tiba melihat pintu rumah yang terbuka lebar.


Biasanya, pintu rumah mereka akan selalu tertutup rapat.


"Apa ada tamu ya?" tanya Alana, heran.


Dan Altar hanya mengedikkan bahunya sebagai jawaban.


Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, Alana dan Altar segera masuk ke dalam rumah. Tapi ruang tamu itu kosong, tidak ada siapapun.


Lebih masuk ke dalam, Alana dan Altar langsung berlari saat melihat Ayah Agung menggendong ibu Widya yang sudah tak sadarkan diri.

__ADS_1


Di sana, sudah ada ayah Aslan, ibu Kiran dan mas Aydan.


"Ibu, ibu wid kenapa?" tanya Alana, sungguh cemas.


"Kika ke rumah sakit sekarang sayang." jawab Kiran cepat.


Altar langsung segera lari keluar dan mengambil mobilnya. Pun Aydan yang berlari dengan cepat dan mengambil mobil di rumah sebelah.


saat itu, Kiran ikut di mobil Agung, ikut memegangi Widya di kursi belakang. Sementara Alana duduk didepan bersama Altar.


Aslan, menyusul bersama Aydan.


"Ibuu, ibu Wid kenapa?" tanya Alana dengan air mata yang sudah menangis deras.


Ia terus melihat kebelakang dan melihat pula darah yang terus keluar dari hidung sang ibu mertua.


Hati Alana begitu sakit, kala menyaksikan ibu Wid yang tersiksa seperti itu.


Dan Altar pun ikut menangis pula, namun ia tetap menatap lurus dan fokus mengemudi.


"Jangan menangis sayang, ibu Wid pasti baik-baik saja," balas Kiran yang tak tau harus menjawab apalagi.


Mereka semua sudah tahu, jika hari ini akan tiba. Hari dimana Widya akan ambruk dan tak bisa bertahan lagi.


Dan Alana lah satu-satunya yang belum menyadari itu.


Sepanjang perjalanan rumah sakit, Agung terus menghapus darah yang keluar dari hidung istrinya.


Alana terus menangis, dan Altar tetap bergeming.


Hingga tak berselang lama kemudian. Mereka semua sampai di rumah sakit.


Dengan tergesa, Agung kembali menggendong istrinya agar segera mendapatkan penanganan.


Menunggu, semua orang hanya bisa menunggu didepan ruang operasi kala itu.


Alana terus memeluk ibu Kiran.


Sementara Aydan, terus memberikan dukungan pada sang adik ipar untuk kuat.


Altar hanya bisa mengangguk diantara tangis diamnya.


"Bagaimana ini Lan?" pada Agung pada sang sahabat.


"Istigfar Mas, ini semua sudah takdir Allah," Agung menunduk, menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir.


Hatinya bak diiris sembilu, rasanya ia tak akan sanggup jika hidup tanpa sang istri.


Hingga akhirnya, lampu merah operasi itu kini berubah jadi hijau.


Sang dokter, keluar lebih dulu untuk menemui keluarga pasien.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Agung langsung, inilah pertanyaan yang ingin ditanyakan semua orang.

__ADS_1


"Maaf pak, ibu Widya mengalami Koma."


Deg!


__ADS_2