Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 93


__ADS_3

“Assalamualaiku, Mbak,” jawab Kiran pada panggilan


Tika.


“Walaikumsalam!” teriak Raka dan Rian kompak dan


terdengar begitu antusias.


Kiran tersenyum, mengetahui tingkah kedua


keponakannya itu. Ternyata yang menelpon bukanlah Tika melainkan Raka dan Rian,


namun menggunakan ponsel sang ibu.


“Bulek, besok kami pulang ke Indonesia, aku tidak


sabar untuk bertemu dengan adek Aydan,” ucap Raka. Raka dan Rian saat ini sudah


jadi remaja, mulai masuk ke jenjang Sekolah Menengah Pertama.


“Benarkah? Besok pulang? Tidak bohong?” sahut Kiran


tak kalah antusiasnya.


“Iya, tapi Cuma sebentar, ayah Cuma mau ambil


sertifikat kerja di kantor Indonesia,” kini Rian yang menjawab.


“Mana Bunda Tika, bulek mau bicara dong,” ucap Kiran


kemudian, lalu diseberang sana, Raka berlari menghampiri sang ibu yang berada


sedikit jauh dari mereka. Mengatakan jika bulek Kiran ingin bicara dengan


ibunya itu.


Tika mengambil ponsel dari tangan Raka dan mulai


menempelkannya ditelinga.


“Assalamualaikum, Ran?”


“Walaikumsalam. Besok mbak Tika pulang? Beneran?”


tanya Kiran lagi, seolah butuh kepastian.


“Iya Ran, tapi Cuma 2 hari, setelah urusan mas Fahmi


selesai, kami kembali lagi kesini,” jawab Tika apa adanya.


“Mbak nginep di rumahku saja ya?” pinta Kiran


sungguh-sungguh, Tika pun tahu jika kini Kiran sudah kembali tinggal bersama


mertuanya.


“Mbak di hotel sajalah, tapi nanti akan berkunjung


kesana,” jelas Tika. Pasalnya rumah mereka yang berada disebelah rumah


Aslan  pun sudah lama tak dihuni, pasti


butuh waktu untuk membersihkan semuanya.


“Tidak tidak, pokoknya mbak Tika sama semuanya tidur


dirumah Kiran saja, banyak kamar kosong kok mbak disini, Abi, Umi sama mas


Aslan pasti setuju,” rayu Kiran dengan tulus, namun sumpah demi apapun Tika merasa


tak enak hati, namun tak kuasa pula untuk menoloak permintaan sang adik ipar.


“Mbak ikut mas Fahmi sajalah, kalau dia mau diajak


tidur di rumah bude Yuli ya kami disana, tapi kalau tidak ya sudah di hotel


juga tidak apa-apa,” jawab Tika mengambil jalan tengah.


“Ya sudah, nanti aku coba hubungi mas Fahmi ya?”


“Iya.” Jawab Tika singkat.


Lalu terputuslah sambungan telepon itu.


Kiran kembali fokus mengemudi, nanti saat ia sudah


sampai di shoowroom. Ia akan segera menghubungi sang kakak, Fahmi.


Dan benar saja, sesampainya Kiran di Showroom, ia segera

__ADS_1


menghubungi sang kakak. Fahmi yang sudah menunggu pun langsung menjawab


panggilan telepon itu. Selesai mengucapkan salam, Kiran langsung mengutarakan


maksudnya untuk menghubungi Fahmi, yaitu meminta sang kakak beserta semua


keluarganya untuk menginap saja di rumahnya saat berkunjung ke Indonesia besok.


Namun benar seperti dugaan Tika, Fahmi menolak


keinginan Kiran itu.


Fahmi mengatakan ia akan menginap di hotel, namun


kelak akan berkunjung ke sana. Kiran cemberut, tak bisa memaksa.


Dengan raut wajah kesalnya itu, Kiran memutus


panggilan bersama kakaknya. Masuk ke showroom dengan wajah yang ditekuk.


*****


Jam pulang kantor. Sesuai rencana Kiran dan Widya


akan berbelanja berbagai jenis sayuran dan membeli susu hamil.


Mereka pergi menggunakan mobilnya masing-masing,


lalu berjalan masuk ke supermarket dengan jalan yang beriringan.


“Dulu aku dan Maya juga berbelanja disini saat


sedang program hamil,” ucap Kiran keceplosan, lalu ia menggigit bibir bawahnya


sendiri ketika ingatannya sudah kembali.


Sedangkan Widya, langsung menatap kearah Kiran yang


jadi kikuk sendiri.


Widya tersenyum, lalu memeluk lengan Kiran erat


untuk digandengnya.


“Apa hubunganmu dengan Maya sekarang baik-baik saja?”


tanya Widya, jujur saja ia penasaran dengan kisah Kiran yang dulu mau jadi


dari Agung. Bahwa Maya lah yang meminta Kiran untuk menikah dengan suaminya,


namun hanya karena ingin Aslan memiliki anak, setelah itu Maya berniat membuat


Kiran dan Aslan berpisah, namun nyatanya, Aslan malah menceraikan Maya. Karena akhirnya


semua keluarga Aslan tahu tentang niat jahat Maya itu.


Kiran mengangguk, menjawab Iya pertanyaan sang


manajer.


“Iya Mbak, alhamdulilah baik-baik saja,” jawab Kiran


meski sedikit ragu, pertemuan pertama mereka kemarin masih ia ingat dengan


jelas, bagaimana ia dan Maya yang masih diselimuti kecanggungan.


Widya ingin bertanya lebih, namun merasa jika semua


tidak ada gunanya ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya itu. Lalu Widya


menarik Kiran untuk mulai menuju lemari pendingin yang isinya sayuran segar.


Mengambil beberapa sayuran dan dimasukkan kedalam


keranjang.


Kiran mengambil dalam porsi yang lebih banyak, bahkan


Kiran juga mengambil beberapa kantong daging. Membuat Widya mengerutkan


dahinya, “ Kenapa banyak sekali, lebih baik belanja mingguan untuk sayur segar


begini,” ucap Widya, dengan tatapannya yang heran.


“Besok mas Fahmi sama keluarganya ke Indonesia, ini


untuk mereka,” jawab Kiran dengan tersenyum, dan Widya mengangguk-anggukan


kepalanya.

__ADS_1


Cukup lama mereka berkleliling disana, bahkan


setelah mendapatkan semua yang mereka cari, Kiran dan Widya masih betah berada


di supermarket itu.


Widya banyak bertanya tentang Agung, tentang


kebiasaan kekasihnya itu, juga tentang semua kesukaannya.


Kiran menjelaskan secara rinci, tak lupa pula


semakin melebih-lebihkan cerita. Widya dan Kiran bahkan sampai sama-sama


tertawa ketika membicarakan Agung itu.


Drt drt drt


Drt drt drt


Ponsel Kiran dan Widya sama-sama bergetar, Aslan dan


Agung menelpon pasangannya masing-masing diwaktu yang sama. Kiran dan Widya pun


langsung menjawab panggilan itu.


Ternyata Aslan dan Agung mengingatkan jika saat ini


sudah jam setengah 6 sore, sebentar lagi magrib. Kiran belum pulang, dan Widya


belum memberi kabar Agung jika ia sudah berada di rumah.


Kiran dan Widya kompak menjawab Iya, ketika kedua


pria itu memerintah mereka untuk segera pulang.


Dan setelah panggilan itu sama-sama terputus, Kiran


dan Widya segera meninggalkan pusat perbelanjaan itu dan pulang menuju rumahnya


masing-masing.


Magrib, Kiran baru sampai di rumah, Yuli menatapnya


dengan tatapan tajam. Aslan saja sudah pulang sedari tadi, tapi menantunya ini


malah pulang telat, sangat telat malah.


“Maaf  Umi.,


aku tadi belanja dulu,” ucap Kiran seraya bergelayut manja dilengan Yuli. Beberapa


kantong belanjaannya sudah diambil oleh salah satu ART dan dibawa ke dapur.


“Aku beli susu program hamil Umi, terus beli sayur


sama daging juga, besok mas Fahmi pulang ke Indonesia,” jelas Kiran lagi,


jujur.


Mendengar itu, tiba-tiba hati Yuli seperti


tersentak. Mendengar nama Fahmi. Sejak peristiwa beberapa tahun lalu, ia belum


pernah bertemu dengan Fahmi sekalipun, meski hubungannya dengan Kiran sudah


baik-baik saja, namun masih ada rasa yang mengganjal dengan kakak menantunya


ini.


“Mas Fahmi dua hari di Indonesia Umi, apa boleh


selama di Indonesia mereka menginap disini?” tanya Kiran lagi yang terus


berucap, sementara Yuli tetap bergeming, sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Umi!” panggil Kiran dengan suara yang sedikit


meninggi, karena sang mertua malah melamun.


“Fahmi akan ke Indonesia?” tanya Yuli langsung


setelah kesadarannya kembali dan Kiran mengangguk, menjawab Iya.


“Mintalah ia untuk tinggal disini, kalau Fahmi


menolak, biar umi dan abi yang menjemput mereka di bandara, dan umi yang akan


membawa mereka ke rumah ini secara langsung,” jelas Yuli.

__ADS_1


Dan Kiran hanya mampu tersenyum saat mendengar itu.


__ADS_2