
“Assalamualaiku, Mbak,” jawab Kiran pada panggilan
Tika.
“Walaikumsalam!” teriak Raka dan Rian kompak dan
terdengar begitu antusias.
Kiran tersenyum, mengetahui tingkah kedua
keponakannya itu. Ternyata yang menelpon bukanlah Tika melainkan Raka dan Rian,
namun menggunakan ponsel sang ibu.
“Bulek, besok kami pulang ke Indonesia, aku tidak
sabar untuk bertemu dengan adek Aydan,” ucap Raka. Raka dan Rian saat ini sudah
jadi remaja, mulai masuk ke jenjang Sekolah Menengah Pertama.
“Benarkah? Besok pulang? Tidak bohong?” sahut Kiran
tak kalah antusiasnya.
“Iya, tapi Cuma sebentar, ayah Cuma mau ambil
sertifikat kerja di kantor Indonesia,” kini Rian yang menjawab.
“Mana Bunda Tika, bulek mau bicara dong,” ucap Kiran
kemudian, lalu diseberang sana, Raka berlari menghampiri sang ibu yang berada
sedikit jauh dari mereka. Mengatakan jika bulek Kiran ingin bicara dengan
ibunya itu.
Tika mengambil ponsel dari tangan Raka dan mulai
menempelkannya ditelinga.
“Assalamualaikum, Ran?”
“Walaikumsalam. Besok mbak Tika pulang? Beneran?”
tanya Kiran lagi, seolah butuh kepastian.
“Iya Ran, tapi Cuma 2 hari, setelah urusan mas Fahmi
selesai, kami kembali lagi kesini,” jawab Tika apa adanya.
“Mbak nginep di rumahku saja ya?” pinta Kiran
sungguh-sungguh, Tika pun tahu jika kini Kiran sudah kembali tinggal bersama
mertuanya.
“Mbak di hotel sajalah, tapi nanti akan berkunjung
kesana,” jelas Tika. Pasalnya rumah mereka yang berada disebelah rumah
Aslan pun sudah lama tak dihuni, pasti
butuh waktu untuk membersihkan semuanya.
“Tidak tidak, pokoknya mbak Tika sama semuanya tidur
dirumah Kiran saja, banyak kamar kosong kok mbak disini, Abi, Umi sama mas
Aslan pasti setuju,” rayu Kiran dengan tulus, namun sumpah demi apapun Tika merasa
tak enak hati, namun tak kuasa pula untuk menoloak permintaan sang adik ipar.
“Mbak ikut mas Fahmi sajalah, kalau dia mau diajak
tidur di rumah bude Yuli ya kami disana, tapi kalau tidak ya sudah di hotel
juga tidak apa-apa,” jawab Tika mengambil jalan tengah.
“Ya sudah, nanti aku coba hubungi mas Fahmi ya?”
“Iya.” Jawab Tika singkat.
Lalu terputuslah sambungan telepon itu.
Kiran kembali fokus mengemudi, nanti saat ia sudah
sampai di shoowroom. Ia akan segera menghubungi sang kakak, Fahmi.
Dan benar saja, sesampainya Kiran di Showroom, ia segera
__ADS_1
menghubungi sang kakak. Fahmi yang sudah menunggu pun langsung menjawab
panggilan telepon itu. Selesai mengucapkan salam, Kiran langsung mengutarakan
maksudnya untuk menghubungi Fahmi, yaitu meminta sang kakak beserta semua
keluarganya untuk menginap saja di rumahnya saat berkunjung ke Indonesia besok.
Namun benar seperti dugaan Tika, Fahmi menolak
keinginan Kiran itu.
Fahmi mengatakan ia akan menginap di hotel, namun
kelak akan berkunjung ke sana. Kiran cemberut, tak bisa memaksa.
Dengan raut wajah kesalnya itu, Kiran memutus
panggilan bersama kakaknya. Masuk ke showroom dengan wajah yang ditekuk.
*****
Jam pulang kantor. Sesuai rencana Kiran dan Widya
akan berbelanja berbagai jenis sayuran dan membeli susu hamil.
Mereka pergi menggunakan mobilnya masing-masing,
lalu berjalan masuk ke supermarket dengan jalan yang beriringan.
“Dulu aku dan Maya juga berbelanja disini saat
sedang program hamil,” ucap Kiran keceplosan, lalu ia menggigit bibir bawahnya
sendiri ketika ingatannya sudah kembali.
Sedangkan Widya, langsung menatap kearah Kiran yang
jadi kikuk sendiri.
Widya tersenyum, lalu memeluk lengan Kiran erat
untuk digandengnya.
“Apa hubunganmu dengan Maya sekarang baik-baik saja?”
tanya Widya, jujur saja ia penasaran dengan kisah Kiran yang dulu mau jadi
dari Agung. Bahwa Maya lah yang meminta Kiran untuk menikah dengan suaminya,
namun hanya karena ingin Aslan memiliki anak, setelah itu Maya berniat membuat
Kiran dan Aslan berpisah, namun nyatanya, Aslan malah menceraikan Maya. Karena akhirnya
semua keluarga Aslan tahu tentang niat jahat Maya itu.
Kiran mengangguk, menjawab Iya pertanyaan sang
manajer.
“Iya Mbak, alhamdulilah baik-baik saja,” jawab Kiran
meski sedikit ragu, pertemuan pertama mereka kemarin masih ia ingat dengan
jelas, bagaimana ia dan Maya yang masih diselimuti kecanggungan.
Widya ingin bertanya lebih, namun merasa jika semua
tidak ada gunanya ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya itu. Lalu Widya
menarik Kiran untuk mulai menuju lemari pendingin yang isinya sayuran segar.
Mengambil beberapa sayuran dan dimasukkan kedalam
keranjang.
Kiran mengambil dalam porsi yang lebih banyak, bahkan
Kiran juga mengambil beberapa kantong daging. Membuat Widya mengerutkan
dahinya, “ Kenapa banyak sekali, lebih baik belanja mingguan untuk sayur segar
begini,” ucap Widya, dengan tatapannya yang heran.
“Besok mas Fahmi sama keluarganya ke Indonesia, ini
untuk mereka,” jawab Kiran dengan tersenyum, dan Widya mengangguk-anggukan
kepalanya.
__ADS_1
Cukup lama mereka berkleliling disana, bahkan
setelah mendapatkan semua yang mereka cari, Kiran dan Widya masih betah berada
di supermarket itu.
Widya banyak bertanya tentang Agung, tentang
kebiasaan kekasihnya itu, juga tentang semua kesukaannya.
Kiran menjelaskan secara rinci, tak lupa pula
semakin melebih-lebihkan cerita. Widya dan Kiran bahkan sampai sama-sama
tertawa ketika membicarakan Agung itu.
Drt drt drt
Drt drt drt
Ponsel Kiran dan Widya sama-sama bergetar, Aslan dan
Agung menelpon pasangannya masing-masing diwaktu yang sama. Kiran dan Widya pun
langsung menjawab panggilan itu.
Ternyata Aslan dan Agung mengingatkan jika saat ini
sudah jam setengah 6 sore, sebentar lagi magrib. Kiran belum pulang, dan Widya
belum memberi kabar Agung jika ia sudah berada di rumah.
Kiran dan Widya kompak menjawab Iya, ketika kedua
pria itu memerintah mereka untuk segera pulang.
Dan setelah panggilan itu sama-sama terputus, Kiran
dan Widya segera meninggalkan pusat perbelanjaan itu dan pulang menuju rumahnya
masing-masing.
Magrib, Kiran baru sampai di rumah, Yuli menatapnya
dengan tatapan tajam. Aslan saja sudah pulang sedari tadi, tapi menantunya ini
malah pulang telat, sangat telat malah.
“Maaf Umi.,
aku tadi belanja dulu,” ucap Kiran seraya bergelayut manja dilengan Yuli. Beberapa
kantong belanjaannya sudah diambil oleh salah satu ART dan dibawa ke dapur.
“Aku beli susu program hamil Umi, terus beli sayur
sama daging juga, besok mas Fahmi pulang ke Indonesia,” jelas Kiran lagi,
jujur.
Mendengar itu, tiba-tiba hati Yuli seperti
tersentak. Mendengar nama Fahmi. Sejak peristiwa beberapa tahun lalu, ia belum
pernah bertemu dengan Fahmi sekalipun, meski hubungannya dengan Kiran sudah
baik-baik saja, namun masih ada rasa yang mengganjal dengan kakak menantunya
ini.
“Mas Fahmi dua hari di Indonesia Umi, apa boleh
selama di Indonesia mereka menginap disini?” tanya Kiran lagi yang terus
berucap, sementara Yuli tetap bergeming, sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Umi!” panggil Kiran dengan suara yang sedikit
meninggi, karena sang mertua malah melamun.
“Fahmi akan ke Indonesia?” tanya Yuli langsung
setelah kesadarannya kembali dan Kiran mengangguk, menjawab Iya.
“Mintalah ia untuk tinggal disini, kalau Fahmi
menolak, biar umi dan abi yang menjemput mereka di bandara, dan umi yang akan
membawa mereka ke rumah ini secara langsung,” jelas Yuli.
__ADS_1
Dan Kiran hanya mampu tersenyum saat mendengar itu.