
Alana, membawa baju gantinya masuk ke dalam kamar mandi. Jadi saat dia keluar dari sana, tubuhnya sudah terbalut rapi dengan baju ganti.
Altar menunggu sang istri, duduk di sofa panjang yang dekat dengan jendela kamar itu.
Saat ini masih jam 5 sore, kata ibu Kiran tadi mereka diharuskan istirahat lebih dulu dan keluar saat makan malam tiba.
“Al, kamu mau tidur tidak?” tanya Altar, saat Alana sedang mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer, duduk di kursi meja riasnya.
“tidak Al, kalau aku tidur nanti susah bangunnya pas magrib,” jawab Alana jujur, ia melirik sekilas ke arah suaminya itu, lalu kembali fokus untuk mengeringkan rambut.
“Kalau begitu aku tidur ya, tapi nanti bangunkan,” pinta Altar, ia lalu bangkit dan segera pindah posisi. Kini ia sudah duduk disisi ranjang.
“Iya, tidurlah, nanti aku bangunkan.”
Mendengar itu, Altar pun segera berbaring di sana. Merasa begitu familiar dengan wangi tempat tidur itu. Sama seperti aroma tubuh Alana.
Tak butuh waktu lama, Altar sudah terlelap, bahkan saat Alana mematikan hairdryernya ia bisa mendengar dengan jelas dengkuran halus yang keluar dari mulut Altar itu.
Alana memutar setengah tubuhnya, hingga kini menghadap ke arah Altar. Ia tersenyum kecil, merasa lucu. Lucu saat melihat ada seorang pria yang tidur di atas ranjangnya.
Jujur saja, sebenarnya Alana masih merasa aneh akan hal itu.
“Sekarang altar adalah suamiku dan aku adalah istrinya, hihihi,” Alana terkikik pelan.
Menertawakan kekonyolannya sendiri.
Ia lalu bangkit dan menghampiri suaminya itu, menarik selimut untuk menutupi tubuh sang suami.
Alana bahkan memberanikan diri untuk menatap lekat wajah Altar, dari jarak dekat.
“Tampan, tentu saja harus tampan, suamiku memang harus tampan,” desis Alana lagi, dengan bibir yang terus mengukir senyum.
Tak ingin mengganggu Altar, akhirnya Alana memutuskan untuk keluar. Turun ke lantai satu dan memeriksa apakah ada orang di sana.
Baru keluar kamar, ia langsung bertemu dengan sang kakak.
Aydan, juga baru saja keluar dan berniat untuk turun. Ingin mengambil sebotol air minum dan dibawanya naik kesini.
“Loh, pengantin baru kok keluarnya sendirian?” tanya Aydan, lengkap dengan senyum seringainya, senyum meledek.
Melihat itu, sumpah demi apapun Alana sungguh kesal. Ia bahkan langsung berlari dan hendak memukul kakaknya itu.
__ADS_1
Namun ternyata, Aydan lebih dulu berlari sebelum ia berhasil menjangkau.
“Mas Aydan!” pekik Alana tertahan, antara tak ingin membangunkan sang suami dan ingin membuat kakaknya itu berhenti.
Namun Aydan tak peduli, ia terus menuruni anak tangga dengan sesekali menoleh pada sang adik dan menjulurkan lidahnya, meledek.
“hih! Awas ya, nanti pas Aydan nikah bakal aku goda-goda terus,” kesal Alana.
Kekesalan yang ia bawa hingga sampai di lantai 1.
Kebetulan, Kiran juga baru keluar dari dalam kamarnya dan melihat sang putri yang menggerutu.
“Alana,” panggil Kiran, dengan suaranya yang seperti menegur.
“kenapa sih, ngomel-ngomel gitu?” tanya Kiran lagi sesaat setelah ia menghampiri anaknya itu.
“Mas Aydan bu, mas Aydan terus ledekin aku, aku kan kesel,” jujur Alana, lengkap dengan wajahnya yang memelas.
“Mana Altar?” Kiran malah tak menanggapi aduan anaknya, malah menanyakan sang menantu, celingak celinguk mencari keberadaan Altar.
Hal itu makin membuat Alana kesal dan akhirnya mencebik.
“Altar tidur,” jawab Alana , ketus. Ia bahkan melipat kedua tangannya didepan dada.
“Al, jangan panggil suamimu Altar Altar begitu, panggil dia Mas, sama seperti kamu memanggil mas Aydan.” Ucap Kiran, dengan mengulum senyumnya.
Kiran sangat tahu, bagaimana rasanya memanggil orang yang lebih muda darinya dengan sebutan Mas, awalnya sangat geli, namun lama-kelamaan ia terbiasa juga. Memanggil Aslan dengan sebutan Mas.
Mendengar ucapan sang ibu, Alana semakin mencebik.
Tak bisa membantah, karena memang sudah seharusnya seperti itu.
“Nanti lama-lama kamu juga akan terbiasa,” balas Kiran lagi, kemudian terkekeh pelan.
“Tuh kak, ibu sama aja kayak mas Aydan, ledekin aku terus,” kesal Alana hingga membuat Kiran makin terkekeh.
“Tidak seperti itu sayang, ibu hanya merasa lucu sedikit,” terang Kiran.
“Kamu mau apa turun? Biar ibu siapkan,” timpal Kiran lagi yang ingin mengalihkan pembicaraan, tak ingin anaknya ini semakin marah kepadanya.
“Jangan tinggal-tinggal suamimu seperti itu, lebih baik kamu segera kembali ke kamar,” Kiran kembali berucap, karena anaknya itu masih saja bergeming.
__ADS_1
“Sini, ibu siapkan buah untuk kalian.” Akhirnya Kiran menarik paksa Alana untuk mengikuti langkahnya menuju dapur, kembali berpapasan dengan Aydan yang hendak naik ke lantai 2, dengan membawa sebotol air mineral.
“Apa lihat-lihat!” ketus Alana, hingga membuat Aydan mengulum senyumnya.
“Adek Mas habis nikah makin cantik aja,” ledek Aydan lagi.
“”Aydan!! Berhenti mengganggu adikmu!” Kiran yang buka suara, sebelum sang anak bungsu merengek minta pembelaan.
Aydan terkekeh, lalu mengangguk patuh.
“Iya Bu, maaf ya adikku sayang.”
“Pergi sana!” usir Alana cepat.;
Dan dengan terkekeh, akhirnya Aydan kembali melanjutkan langkahnya, naik menuju kamarnya sendiri.
Setelah itu Kiran, langsung kembali menarik sang anak menuju dapur.
“Duduklah, ibu akan iris kan buah untuk kalian berdua,” ucap Kiran dan Alana hanya menurut.
Lalu memperhatikan sang ibu, mengambil beberapa buah dari dalam lemari pendingin, mulai mencuci beberapa buah, mengupasnya dan mengiris, lalu meletakkannya didalam piring.
Alana langsung bangkit dan menghampiri sang ibu.
“Nanti, aku harus urus keperluan Altar ya Bu?” tanya Alana, lirih. Setelah ia berdiri disebelah sang ibu. Alana mengungkapkan kegundahan hatinya perihal itu.
Ditanya seperti itu, Kiran pun menoleh kepada sang anak dan menatapnya lekat.
Jujur saja, ia merasa iba pada sang anak, karena Alana harus menikah diusia semuda ini, disaat ia belum mengetahui banyak hal. Namun jika teringat tentang Widya, Kiran buru-buru menepis kegundahannya itu.
“Sayang, belajar pelan-pelan saja, jangan jadikan pernikahan ini sebagai beban di hidupmu,” jawab Kiran kemudian. Ia bahkan mengelus dengan sayang pucuk kepala sang anak. Tak ingin Alana jadi memikirkan banyak hal yang membuatnya terbebani.
“Di rumah ibu Wid kan masih ada pembantu, jadi kamu tidak perlu menyiapkan semuanya,” jelas Kiran lagi. Beberapa waktu lalu pembantu di rumah besannya itu memang izin untuk pulang kampung, namun kini sang pembantu sudah kembali lagi ke rumah itu.
“Ibu Widya juga ibumu kan? Jadi jangan sungkan ketika di sana, jangan anggap ibu Wid itu mertua yang jahat, tapi anggaplah seperti ibu kandung, seperti ibu Kiran.”
Mendengar itu, Alana tersenyum. Lalu memeluk tubuh sang ibu erat. merasa lebih tenang setelah mendengar petuah sang ibu.
mereka lalu saling memeluk erat.
Kedua wanita berbeda generasi ini memang sering sekali berdebat, namun percayalah, tak ada yang bisa menandingi kasih sayang diantara keduanya.
__ADS_1
“Iya, Bu,” jawab Alana patuh.