Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 55


__ADS_3

Tadi, setelah mereka berciuman, Aslan kembali turun dan kembali masuk ke dalam rumah sakit. Mengambil beberapa berkas tentang catatan kesehatan sang istri saat ini.


Ditinggal sendirian di dalam mobil, membuat Kiran merasa kesepian, cukup lama menunggu.


Akhirnya, Kiran memutuskan untuk menghubungi sang sahabat, Agung.


"Assalamualaikum Ran, ada apa? apa Aslan sudah menemuimu?" jawab Agung antusias dan langsung bertanya bertubi-tubi.


Mendapati pertanyaan itu, Kiran tersenyum kecil.


"Sudah, kan kamu yang mengatakan kalau aku ada di Malaysia," terang Kiran dan diujung sana Agung menghela napas lega.


"Alhamdulilah," ucap Agung bersyukur.


"Kenapa kamu senang sekali?" tanya Kiran heran.


"Iyalah aku senang, alhamdulilah bebanku berkurang," kelakar Agung lalu terbahak.


Sedangkan Kiran mencebik, Sial, batinnya.


Kedua orang ini terus berbincang tanpa henti, Agung juga bercerita tentang ingatannya tentang Aslan. Ia sudah mengingat semua kenangan yang terkubur lama itu.


Kenangan saat ia dan teman-temannya mengunci Aslan di dalam toilet, selalu meminta uang jajan Aslan dan memerintah Aslan untuk menuruti semua keinginan mereka.


"Ingat itu, aku jadi merasa bersalah Ran. Aku pura-pura bodoh saja lah, aku akan terus berpura-pura tidak ingat dia," ucap Agung dengan bergidik ngeri.


"Tidak usah berpura-pura, kamu kan memang bodoh Gung," ledek Kiran dengan terbahak.


Dan kini giliran Agung yang merengut.


"Tidak menyangka ya, dia berubah sebanyak itu. Bahkan sekarang jadi suaminu dan kamu begitu mencintai dia," kata Agung serius dan Kirang mengangguk-anggukkan kepalanya, setuju.


Seperti dunia sudah terbalik, pikir Kiran dan Agung kompak.

__ADS_1


"Kalau Aslan memintamu untuk menjauhi aku, apa kamu akan menurut Ran?" tanya Agung sendu.


"Iyalah! dia kan suamiku," jawab Kiran mantap.


Dan Agung mendelik kesal, "Sialan!" umpatnya dengan kasar dan Kiran malah terkekeh.


"Aku serius," ucap Agung lagi.


"Aku tidak mungkin meninggalkan kamu Gung. Mas Aslan memang suamiku, tapi kamu kan pacarku," canda Kiran, tapi mampu membuat Agung tersenyum.


"Aku mencintai kamu Ran,"


"Aku mencintai uangmu Gung,"


"Baiklah, kalau begitu aku akan berhemat, agar cintamu tidak habis-habis."


Keduanya tergelak menertawakan kekonyolan mereka sendiri, namun Kiran buru-buru mengakhiri tawanya itu saat melihat sang suami mulai keluar dari dalam rumah sakit.


"Iya sayang, kalau ada waktu hubungi aku lagi," ledek Agung layaknya seorang selingkuhan.


"Baiklah, beri aku ciuman jarak jauh kalau begitu," ucap Kiran tak mau kalah.


"Najis!" jawab Agung kemudian, lalu memutus sambunga telepon itu.


Dan Kiran mengulum senyumnya serentak dengan Aslan yang membuka pintu mobil.


"Hem, kamu kenapa? habis telepon siapa?" tanya Aslan penasaran, apalagi saat melihat wajah sang istri yang berseri-seri sambil memegang ponsel di tangan kanannya.


"Telepon Agung, bilang, besok kita pulang," jujur Kiran, tadi ia memang mengatakan perihal kepulangannya pada Agung.


Percaya, Aslan megangguk.


"Ran, kalau aku cemburu dengan Mas Agung boleh tidak?" tanya Aslan sambil menghidupkan mesin mobil.

__ADS_1


"Boleh, tiap mas cemburu aku akan selalu memberi penawarnya," jawab Kiran dengan nada menggoda. Entahlah, kenapa kini Kiran jadi begitu berani.


Mungkin karena rindu yang menggebu dan di tambah pula dengan hormon kehamilan, hingga rasanya ia ingin selalu bermesraan dengan sang suami. Tidak perlu menyatu, cukup dengan sentuhan sudah membuatnya begitu bahagia.


"Ahh! kenapa sebulan itu rasanya lama sekali," keluh Aslan sambil mencubit hidung Kiran gemas.


Keduanya terkekeh, setuju.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di Indonesia.


Perlahan, jemari Alfath bergerak.


Dinda yang sedang menggenggam tangan itu langsung tersentak. Matanya membola, tidak percaya.


"Kamu sadar Mas, Mas?" panggil Dinda tidak sabaran.


Tak ingin mengulur waktu, Dinda langsung berjalan dengan tergesa keluar dari ruang rawat Alfath. Ia tak bisa berlari karena perutnya sudah semakin membesar, Dinda hanya tinggal menunggu hari untuk melahirkan. Berteriak, Dinda memanggil sang dokter.


Selepas kepergian Dinda itu, kamar jadi sunyi.


"Ran," lirih Alfath tanpa suara, hanya terdengar seperti hembusan napas.


"Ran," ulangnya lagi dengan mata yang mengerjab, mata itu rasanya begitu berat untuk terbuka.


"Ran,"


Pandangannya masih rabun, menatap samar dinding kamar itu.


"Ran,"


Tak ada yang menjawab panggilan Alfath, bukan hanya ruangan itu yang kosong, namun hatinya pun begitu hampa.

__ADS_1


__ADS_2