Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 162 - Pertama Kali


__ADS_3

“Kenapa lama sekali “ tanya Altar saat Alana dan Sisil sudah  berada tepat dihadapannya.


Ia melihat Alana yang sudah kembali nampak ceria, tidak seperti tadi saat gadis ini berpamitan untuk pergi ke Perpustakaan. Altar melirik Sisil sekilas, ia menatap curiga pada sahabat kecilnya yang satu ini.


Sisil senyum-senyum sendiri, seolah itu adalah senyum menertawakan dirinya.


Altar jadi berpikir, sebenarnya apa yang baru saja dibicarakan oleh kedua gadis ini.


“Kami tadi membicarakan diri_”


“Stt!” potong Alana cepat, ia bahkan langsung membekap mulut Sisil menggunakan kedua tangannya.


Melihat itu, Altar makin mengeryit curiga.


“Tidak bicara apa-apa kok, ayo ke kelas,” ajak Alana langsung, ia bahkan langsung menarik Altar untuk mengikuti langkahnya, meninggalkan Sisil yang sedang menahan gelak tawa di belakang sana.


“Tunggu Al Al,” teriak Sisil, lalu menyusul keduanya.


Awalnya Alana hanya menggenggam pergelangan tangan Altar, namun Altar segera melepasnya dan menggenggam erat tangan calon istri nya itu. Jari keduanya terpaut erat, meski nampaknya Alana sedang menarik paksa Altar.


Pulang sekolah, ternyata hujan turun.


Untung saja, tadi pagi Altar memutuskan untuk menggunakan mobil.


Tubuh Alana dan Altar hanya basah sedikit, saat keduanya berlari menuju mobil itu.


“huh! Basah semua,’ keluh Alana saat ia sudah duduk dengan sempurna di kursi kemudi. Menggunakan tangannya sendiri, Alana mencoba menghapus beberapa air yang jatuh di atas baju dan tubuhnya.


“Gunakan ini.” Ucap Altar, ia mengambil jaketnya yang berada di kursi belakang dan memberikannya kepada Alana.


“Gunakan untuk mengeringkan tubuhmu,” ucap Altar lagi, saat Alana hanya terdiam dan tidak menerima uluran jaket itu.


Pikiran Alana yang sedang terbang kemana-mana mengira jika Altar memintanya untuk mengganti baju basahnya menggunakan jaket ini, menggantinya saat berada di dalam mobil, saat ada Altar.


Menyadari jika bukan itu maksud Altar, Alana langsung menggelengkan kepalanya cepat, ingin membuang pikiran-pikiran kotor yang terus mengusik dirinya.


Lalu tanpa banyak berpikir lagi, Alana segera menerima uluran jaket itu.


Membersihkan tubuhnya sendiri. Hingga semua terasa lebih baik.

__ADS_1


Melihat Alana sudah selesai, Altar pun langsung mengambil alih jaket itu pula, dan mengeringkan rambutnya yang sedikit basah.


“Ku kira hujannya tidak akan selebat ini, ternyata dugaan ku salah. Apa kita akan tetap pulang?” tanya Altar, ragu. Tubuh mereka sedikit basah, dan tidak ada pula baju hangat di mobil ini, jaket satu-satunya pun sudah mereka gunakan sebagai handuk.


Sementara hujan, turun semakin lebat saja.


Jika memaksakan pulang, mereka akan semakin kedinginan, karena harus menggunakan AC mobil dengan suhu yang tinggi. Jika tetap disini dan menunggu hujan sedikit reda, setidaknya mereka akan merasa lebih hangat.


“Terserah mu saja,” jawab Alana yang juga merasa bingung, mendadak ia malah gugup sendiri. Membayangkan yang tidak-tidak.


Berdua bersama Altar di dalam mobil  saat diluar sana tengah hujan lebat, membayangkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


Merasa kesal dengan pikirannya sendiri Alana sampai memukul kepalanya itu, hingga membuat Altar menoleh kearahnya dan menatap Alana dengan tatapan bingung.


“Kamu kenapa?” tanya Altar, heran.


Dan ditanya seperti itu, Alana malah gelagapan sendiri.


“Ti-tidak ada apa-apa Al, sebaiknya kita pulang saja, aku tidak akan kedinginan,” jawab Alana putus-putus diantara


kegugupannya. Lebih baik segera pulang daripada terus berada disini bersama Altar, di situasi seperti ini pula. Membuat Alana tidak bisa berpikir dengan jernih.


Dan mendengar keinginan Alana itu, Altar pun menganggukkan kepalanya. Lalu menghidupkan mesin mobil dan mulai melaju keluar dari area sekolah.


“Pindah lah kebelakang jika merasa kedinginan disini,” ucap Altar lagi, semilir Ac dari mobil itupun mulai memenuhi mobil. Terpaksa harus seperti itu agar kaca tidak berembun dan mengganggu pandangan Altar.


“Aku baik-baik saja Al, sebaiknya kamu fokus menyetir dan hati- hati,” jawab Alana, ia meremat kedua tangannya sendiri, mengurangi rasa dingin yang mulai menjalar di tubuh.


“Sabar ya?”


Alana mengangguk.


Cukup lama mereka berada di jalanan, hujan deras dan banyaknya kendaraan lain membuat mereka lebih lama berada di jalanan. Bahkan hingga mereka sampai didepan rumah Alana, hujan masih juga belum reda. Masih sama derasnya seperti saat mereka keluar dari sekolah tadi.


“Tunggu disini, aku akan turun mengambilkan mu payung,” ucap Altar langsung, sesaat setelah mesin mobil mereka mati.


Namun baru membuka kunci pintu mobil itu, Alana dengan cepat menahan lengan Altar. Sentuhan yang terasa begitu dingin.


Altar bahkan sampai terkejut merasakan dinginnya tangan Alana itu, ia reflek menyentuh tangan Alana dan menggenggamnya erat.

__ADS_1


“Tanganmu dingin sekali Al.” Altar lalu mengambil tangan Alana yang lain dan menggenggam keduanya sekaligus, bahkan meniupnya berulang agar Alana merasa lebih hangat.


“Harusnya tadi kita tunggu hujan reda dulu. Tunggulah disini, aku akan ambil payung dan kamu bisa segera masuk.”


Lagi, Alana menahan saat Altar hendak pergi meninggalkan dirinya di sana.


“Jangan, nanti kamu basah,” ucap Alana akhirnya, setelah ia cukup lama terdiam.


“Aku laki-laki, hujan tidak akan membuatku sakit,” seloroh Altar namun Alana tidak ingin dengar, Alana tetap manahan tangan Altar untuk tetap diam.


“Sama seperti kamu yang tidak ingin aku kedinginan, aku juga tidak ingin kamu kehujanan,” jelas Alana, ketika Altar sudah kembali menatapnya dengan lekat.


Hening, sesaat setelah Alana berucap itu tak ada lagi kata diantara keduanya, hanya tatapan mereka yang saling mengunci. Seolah berbicara melalui tatapan itu.


“Wajahmu juga dingin Al,” ucap Altar, memecah keheningan. Satu tangannya bergerak naik dan menyentuh wajah Alana yang terasa dingin.


Alana mengigit bibir bawahnya, merasa gugup.


Dibelai lembut seperti itu, seketika Alana membeku, dengan darah yang mengalir lebih deras.


Ia tergugu dan hanya mampu menatap kedua netra Altar.


Dan seolah waktu berhenti berputar, saat Altar mendekat dan mengikis jarak diantara keduanya. Dengan debaran jantung yang menggebu, Altar memberanikan diri untuk menyesap bibir Alana. Menyesapnya dalam dan begitu lembut.


Sejenak, Alana terpaku dengan kedua netranya yang membola sempurna.


Namun saat merasakan sentuhan Altar yang begitu lembut, ia terasa seperti terhanyut.


Alana menutup matanya, dan mulai membuka kedua bibir sedikit, memberi celah untuk Altar bisa masuk lebih dalam.


Keduanya berpaut untuk pertama kali.


Dingin yang tadi mereka rasakan, kini sudah menghilang entah kemana. Tubuh keduanya berubah jadi sangat panas.


Takut kehilangan kendali, Altar segera melepas pagutan mereka dengan perlahan. Sama-sama membuka mata hingga kembali terkunci dengan jarak yang sangat dekat.


“Maaf Al,” ucap Altar, lirih. Bahkan napas hangatnya masih mampu menyapu lembut wajah Alana.


Altar sudah siap jika Alana ingin menamparnya kuat-kuat.

__ADS_1


Namun bukannya menjawab atau menampar, Alana malah menunduk, merasa malu.


“Jangan meminta maaf, sebaiknya cepat nikahi aku,” jawab Alana lirih, makin malu setelah mengatakan itu.


__ADS_2