Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 9 - Lagu Kesukaan


__ADS_3

Pagi hari, subuh tepatnya.


Aslan sudah berdiri didepan pintu rumah Kiran.


Semalam, sebelum tidur Tika bercerita pada suaminya tentang niat Alfath untuk menikahi kiran secara siri, bahkan tak tanggung-tanggung, Alfath berencana untuk membawa Kiran kabur esok hari.


Amarah Fahmi tak bisa ditahan lagi, hingga Tika bersujud barulah langkah Fahmi terhenti. Langkah yang ingin menemui sang adik untuk mencaci maki agar Kiran sadar, sadar jika dia salah.


Untunglah Tika berhasil membujuk, meminta Fahmi untuk pura-pura tak mengetahui semuanya, toh kini Kiran sudah setuju untuk menikah dengan Aslan.


Jam 12 malam, akhirnya Fahmi mengirim pesan pada sang calon adik ipar, mengatakan jika besok subuh Kiran akan pergi.


Dan disinilah Aslan kini berdiri, setelah beberapa detik lalu ia menekan bell rumah Fahmi.


Ceklek!


Pintu terbuka, Fahmi, Tika dan Kiran keluar bersamaan. Bahkan ditangan Kiran sudah ada koper yang ia seret.


"Alamatnya sudah ku kirim, temanku juga sudah menunggu kedatangan kalian. Cepet lah pergi." titah Fahmi, raut wajahnya mengisyaratkan kemarahan yang terpendam.


"Baik Mas, kami pamit dulu." jawab Aslan sopan, ia bahkan langsung mengambil alih koper Kiran dan membawanya ke bagasi mobil.


Kiran tak peduli apalagi tersentuh atas perlakuan Aslan itu, memang seperti itulah adatnya.


Kiran memeluk Tika erat, pamit. Sementara Fahmi langsung masuk tak peduli.


"Sabar, pahamilah kenapa mas Fahmi marah." ucap Tika, ia mengelus lengan Kiran memberi ketenangan.


Dan Kiran hanya mengangguk sebagai jawaban.


Tak lama, kini Kiran dan Aslan sudah berada di dalam mobil. Melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Riri, teman kerja Fahmi yang tinggal sendirian. Mengontrak rumah dan untungnya rumah itu tak terlalu jauh dari tempat kerja Kiran.


Sepi.


Satu kata itulah yang kini menyelimuti mobil Aslan. Jika Aslan merasa canggung, lain halnya dengan Kiran yang tak merasa apa-apa.


Pikirannya kosong, ia hanya menatap jalanan kota Jakarta yang sedikit senggang. Mungkin karena sekarang masih jam 5 subuh. Belum ada orang yang berangkat kerja, juga tidak ada anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah.


Diam-diam, Aslan memelankan laju mobilnya. Memilih jarak yang lebih jauh untuk sampai di rumah Riri.


Ia melirik Kiran, dilihatnya wanita itu hanya terdiam, bahkan tak sadar jika mobil melaju dijalan yang lebih jauh.


"Ran," panggil Aslan mencoba memulai obrolan, kini mobil berhenti di antrian lampu merah.


Kiran tak menolah, tepatnya tak mendengar.

__ADS_1


"Ran." panggil Aslan lagi dengan suara lebih keras, Kiran terkisap, lalu menoleh dengan cepat.


"Ada apa?" tanyanya datar.


Aslan tiba-tiba bingung ketika ditanya seperti itu, mendadak kepalanya blank ingin menjawab apa.


Lama, Kiran menatap mata Aslan. Mata yang tak membuatnya takut sedikitpun.


"Kalau tidak ada yang penting, jangan ganggu aku," ucap Kiran dingin lalu kembali mengalihkan tatapannya, menatap jalanan dari balik jendela.


Mendengar itu, Aslan menghela napasnya pelan. Dulu hingga sekarang, ternyata Kiran masih sama saja. Acuh dan Dingin.


"Besok kita akan langsung mengurus surat-surat pernikahan, aku akan menjemputmu jam 8 pagi," ucap Aslan, mobil kembali melaju dengan pelan, karena lampu sudah berubah hijau.


Sadar jika sedari tadi Aslan tak memanggilnya dengan sebutan Mbak, Kiran malah berdecih. Decih yang mirip seperti decihan sang kakak, Fahmi.


"Lan, jangan berusaha terlalu keras. Kita menikah ya menikah saja, jangan berusaha untuk mendekatkan diri padaku." jawab Kiran apa adanya, inilah memang yang ingin ia katakan pada Aslan.


Tak langsung menanggapi, Aslan menggelengkan kepalanya pelan. Tak menyetujui ucapan sang calon istri.


"Ku pikir karena umurnya sudah dewasa maka pemikiran mu juga akan lebih matang, ternyata pikiranku salah," ucap Aslan, mobilnya berhenti lagi di lampu merah yang sama. Sengaja mengulur waktu agar tak bisa melewati lampu merah itu.


"Apa maksudmu?" tanya Kiran yang mulai tersinggung, tak menyangka jika kini Aslan berani menjawab kata-katanya.


"Pikiran mu terlalu sempit," jawab Aslan sarkas, ia bahkan menatap Kiran tak kalah tajamnya.


Satu yang Aslan tahu tentang Kiran selama seumur hidup mengenal, wanita ini tak bisa diajak bicara dengan baik-baik.


"Jaga mulutmu." sanggah Kiran cepat.


Keduanya saling tatap dengan tatapan menyalang.


"Sebelum memintaku untuk jaga mulut, sebaiknya jaga dulu mulutmu," jawab Aslan dengan suara berat.


Mendadak Kiran terintimidasi, seperti melihat Fahmi didalam tubuh Aslan.


Secepat kilat, Kiran memutus tatapan mata itu. Kembali memilih untuk melihat jalanan.


"Kita masih memiliki banyak waktu untuk saling mengenal sebelum hari pernikahan_"


"Aku sudah mengenalmu." Potong Kiran cepat.


"Jangan potong saat aku bicara."


"Kalau begitu bicaralah yang penting, jangan basa-basi yang tidak jelas."

__ADS_1


Lagi, Aslan menghela napasnya pelan.


"Aku hanya tidak ingin, kamu terpaksa menerima pernikahan ini." Aslan mencoba menjelaskan maksudnya.


"Aku memang terpaksa, jadi kamu mau apa?"


Lagi, Aslan menghela napasnya berat.


"Apa marah-marah itu hobimu?" tanya Aslan yang ingin merubah alur pembicaraan. Mobil kembali melaju dengan sangat pelan, anehnya Kiran tak menyadari itu.


Tak menyadari jika Aslan mengulur-ngulur waktu, memberi banyak waktu agar mereka tetap bisa bersama.


Jengah, atas pertanyaan tak penting Aslan. Kiran lalu merogoh tas miliknya. Mengambil ponsel dan earphone sekaligus.


Tahu jika Kiran akan menyumpal telinganya dengan benda kecil itu, Aslan dengan cepat bergerak merebut.


Memasukkannya ke kantong celana dengan buru-buru.


"Apa yang kamu lakukan! kembalikan earphone ku!" teriak Kiran kesal.


Awalnya ia tak peduli pada laki-laki cupu ini, tapi kali ini amarahnya sudah terpancing. Tak bisa lagi acuh, harus memaki sampai puas ke ubun-ubun.


"Kembalikan!" pinta Kiran lagi dengan suara meninggi.


"Diamlah, jangan marah-marah terus. Lagipula apa kamu tidak tahu sopan santun. Mana boleh mengacuhkan orang yang ada di samping mu." jelas Aslan tak gentar, ia jawab dengan suara yang lebih pelan.


Ingin tahu, seberapa bisa Kiran bertahan dengan sifat pemarahnya itu, ia akan ikuti terus.


Bukannya menjawab, Kiran malah menutup matanya sejenak. Akhirnya kesadarannya kembali, sia-sia saja menghabiskan tenaga bicara dengan Aslan.


Mereka tidak akan pernah cocok.


"Terserah mu, lakukan apa yang kamu mau, dan aku juga akan begitu."


Jengah, Kiran lalu melipat kedua tangannya didepan dada. Bersandar pada kursi dan mulai memejamkan mata.


Tidur sajalah, pikirnya.


Perlahan, entah kenapa sudut bibir Aslan tertarik membentuk sebuah senyuman. Melihat wajah Kiran yang diam seperti itu terlihat sangat damai.


Seolah wanita ini adalah wanita yang lemah lembut, bukan si pemarah seperti tadi.


Meski terpejam, Kiran bisa tahu jika Aslan mengamati wajahnya. Ia tak peduli, tak ingin peduli.


Hingga lambat laun, pendengarannya menangkap suara yang terdengar merdu sekali, lagu kesukaannya.

__ADS_1


__ADS_2