Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 42


__ADS_3

Satu hari.


Dua hari.


Tiga Hari.


Seminggu, waktu berlalu. Benar kata orang-orang, hal yang paling tidak mengenakkan setelah pertengkaran adalah pertemuan yang dingin.


Setelah Aslan mengucapkan kata cerai, tak ada lagi kehangatan diantara dirinya dan Maya. Bahkan mereka sudah tidur terpisah.


Rumah yang dulunya selalu hangat, kini berubah menjadi begitu sendu. Tiap hari Aslan selalu berusaha mencari keberadaan Kiran, Maya hanya bisa menunggu, sementara Yuli dan Iwan hanya bicara sekedarnya saja.


"Mas, hari ini adalah hari pemeriksaan kandunganku, bisakah kamu ikut pergi?" tanya Maya lirih, memberanikan diri ia menemui Aslan di ruang kerja.


"Baiklah, ajak Umi juga, kita pergi bertiga," jawab Aslan tanpa mengalihkan perhatian dari berkas yang sedang ia baca.


Matanya memang tertuju disana, telinganya mendengar dengan jelas ucapan Maya, tapi hatinya selalu bertanya dimana keberadaan Kiran?


Sedikit, Maya masih bisa tersenyum, dielusnya perutnya itu dengan sayang.


Ibu akan membuat ayah kembali kepada kita Nak, melalui kamu. Lirihnya di dalam hati.


Aslan memang sudah menjatuhkan talak pertamanya, sudah mengatakan akan menceraikan dirinya saat bayi ini lahir. Tapi Maya masih memiliki waktu sebelum itu.


Dan Maya akan memanfaatkan waktu yang ia punya untuk kembali mendapatkan cinta Aslan.


Tanpa kata-kata lagi, Maya keluar dari ruang kerja sang suami, kini ia menemui Yuli.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu jam kemudian, mereka semua benar-benar pergi ke rumah sakit, dimana Maya biasa memeriksakan kandungannya.


Di dalam mobil itu tak ada yang buka suara, hanya terdengar suara deru mobil mereka sendiri.


Hingga akhirnya mereka sampai di rumah sakit.


"Mas ikut masuk ya?" pinta Maya dan Aslan mengangguk. Cintanya memang tak ada lagi untuk Maya, tapi ia tetap memiliki tanggung jawab.


Terlebih kini, Maya pun sedang mengandung anaknya.


"Kenapa bulan kemarin tidak melakukan pemeriksaan Bu? padahalkan jadwalnya tiap bulan," tanya Dokter Liana, dokter kandungan Maya.


Maya hanya tersenyum kikuk, diliriknya Yuli dan Aslan bergantian, namun kedua orang itu tetap bergeming, tak memberikan respon apapun.


Senyum kecil Maya itupun surut seketika.

__ADS_1


Bulan lalu ia sibuk memikirkan cara menyingkirkan sang madu, hingga melupakan jadwal kontrol.


"Kita langsung USG ya?" tanya Liana dan Maya mengangguk.


Perlahan, Liana mulai mengoleskan cairan bening diperut Maya. Perlahan pula ia menggerakan sensor USG.


Keningnya berkerut, kala melihat hasil USG itu.


"Apa akhir-akhir ini Ibu Maya mengalami pendarahan?" tanya Liana menyelidik.


"Kenapa Dok? anak saya baik-baik saja kan?" tanya Maya cemas. Baik Aslan maupun Yuli langsung menatap lekat layar monitor USG itu.


"Maaf Bu, tapi saya harus menyampaikan ini. Janin ibu Maya tidak berkembang, mungkin tanpa sadar bayi runtuh sendiri dan kini hanya meninggalkan kantung yang kosong," jelas Liana sambil menjelaskan gambar di layar itu.


Seketika itu juga Maya terbelalak, ia menggeleng, tidak terima. Belum lama ini ia memang mengalami pendarahan, namun pikirnya itu hanya kelelahan, karena ia tak merasakan sakit apapun.


Sama halnya dengan Maya, Aslan dan Yuli pun sama terkejutnya.


"Tidak Dok, Dokter pasti salah. Coba periksa sekali lagi," pinta Maya dengan air mata yang mulai keluar.


Liana diam sejenak, kemudian mendekati Maya dan mengelus bahunya yang sedang berbaring.


"Sabar Bu, memang inilah hasilnya. Kantung rahim Ibu sudah kosong," Final Liana tak bisa ditolak, karena memang itulah kenyataannya.


Maya menangis tersedu, sementara Aslan hanya mengusap wajahnya kasar. Ia terus beristigfar di dalam hati.


"Sabar Nak," lirih Yuli, ia mengelus punggung sang anak yang tertunduk.


"Sebaiknya kita segera melakukan tindakan kuret," Liana kembali buka suara dan Maya terus saja menggeleng, tidak mempercayai semua yang terjadi hari ini.


"Baiklah Dok," jawab Yuli mewakili Maya yang masih terus menangis.


"Tidak Umi, tidak, aku tidak mau, aku tidak mau membuang anakku," tolak Maya dengan tangis yang semakin pecah.


"Ibu Maya, tenanglah, anda masih mempunyai kesempatan untuk hamil lagi, ini bukanlah akhir dari segalanya," jelas Liana dan Maya masih saja menggeleng.


Tidak! teriaknya di dalam hati.


Liana tidak tahu, jika anak ini tidak ada maka habis sudah semua harapannya untuk kembali kepada Aslan.


Biduk rumah tangganya akan benar-benar karam.


"Ihklaskanlah May, ini semua sudah jalan yang Allah gariskan untukmu. Kamu, Aslan ataupun Kiran, kalian tidak bisa memiliki anak secara bersama," ucap Yuli dengan suara yang bergetar.


Mendengar itu, hati Maya seperti ditikan ribuan anak panah, sakit dan begitu perih.

__ADS_1


Ingatan-ingatan tentang kebenciannya pada Kiran mulai bermunculan, seolah memberitahunya alasan tentang terjadinya hari ini.


"Ya Allah," lirih Maya diantara isak tangis.


Cukup lama, akhirnya Maya berdamai dengan hatinya sendiri. Dengan ihklas, ia menyetujui rahimnya di kuret.


Kini, ia hanya mengharap belas kasihan dari Aslan agar tidak menceraikan dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pasca operasi itu, kini Maya sudah kembali pulih. Tetapi tidak ada yang berubah antara hubungannya dengan sang suami, Aslan.


Seolah semua yang terjadi padanya kini adalah apa yang dialami Kiran di masa lalu.


Malam hari, Aslan meminta semua orang berkumpul di ruang tengah.


Entah kenapa, Maya merasa ragu dengan hatinya. Sebelah berbisik, mungkin Aslan akan memintanya untuk rujuk kembali. Dan sebelahnya lagi berbisik, mungkin kinilah saatnya Aslan akan menjatuhlan talak kedua dan ke tiganya.


Setelah itu, perceraian mereka akan benar-benar terjadi.


Meski gugup dan takut, Maya ikut duduk di Sofa ruang tengah.


"Ada apa Nak?" tanya Yuli pada sang anak, dilihatnya Aslan yang tiap hari makin terlihat kurus tak terurus, duduk dengan tatapan dingin di hadapannya.


"Malam ini, aku akan menjatuhkam talak kedua dan ketiga ku pada Maya," jawab Aslan.


Seketika itu juga kedua mata Maya tertutup, menjatuhkan setetes air bening dari sana.


Sementara Yuli dan Iwan hanya terdiam, tak berani buka suara. Mereka sudah melakukan kesalahan 1 kali akibat ikut campur dalam rumah tangga anaknya, dan kini mereka tidak akan mengulanginya lagi.


"Rinjani Maya, mulai detik ini aku menjatuhkan talak kedua dan talak ketiga ku, aku menceraikanmu," ucap Aslan lantang.


Dan Maya hanya mampu terdiam.


Ia tak punya sanggahan apapun untuk membela diri.


Sadar akan semua dosa-dosa yang ia lakukan, dosa yang akhirnya menghancurkan hidupnya sendiri.


Kini, secara agama, Maya dan Aslan sudah berpisah.


Keduanya sudah haram satu sama lain.


"Besok, aku akan mengantarmu pulang ke rumah orang tuamu," jelas Aslan lagi dengan suara yang bergetar.


Ia pun tak menyangka, ini semua akan terjadi. Namun kekecewaan yang begitu besar sudah menutup semua pintu kembali.

__ADS_1


Rumah tangga mereka tak bisa diperbaiki, bagaikan gelas pecah, berusaha menyatukannya kembalipun akan tetap meninggalakn bekas. Bekas luka seumur hidup.


Maka, Aslan memutuskan untuk melepaskan gelas itu.


__ADS_2