
Malam itu, Kiran kembali menjadi ibu menyusui.
Sudah belajar jadi pengalaman, jadi kini ia begitu lihai. Bahkan sudah tidak membutuhkan bantal sebagai bantalan sang bayi. Ia langsung menyusui menggunakan tangannya.
Saat menyusui itu, Kiran tersenyum.
Ada kebahagiaan tersendiri kala melihat sang anak menyusu dengan begitu lahapnya.
“Sayang, minum dulu. Kamu dari tadi belum minum air putih,” ucap Aslan yang tiba-tiba
menghampiri.
Saat ini sudah tengah malam, tepatnya jam 1 malam. Tapi Aslan dan Kiran kembali terjaga, karena baby Alana menangis ingin menyusu.
Yuli, tak bisa mendampingi Kiran, karena ia tengah menjaga sang suami yang sedang tidak enak badan. Meskipun kelahiran baby Alana membuat Iwan lebih bersemangat, namun Yuli tetap melarangnya untuk terus bersama cucu mereka itu.
Karena tubuh Iwan yang tidak fit, takut malah menganggu keadaan sang jabang bayi.
Terpaksa Iwan menurut, membiarkan baby Alana masuk ke kamar kedua orang tuanya, sementara ia masuk pula ke kamarnya sendiri.
Kiran, mengambil uluran gelas berisi air putih yang diulurkan oleh sang suami, lalu meminumnya hingga tandas.
Tapi tenang, Aslan tadi tak hanya mengambil segelas air putih di dapur. Namun sekaligus mengambil satu teko.
Tak hanya Kiran yang sudah berpengalaman. Aslan pun demikian, ia bahkan sudah menghapal kebiasaan-kebiasaan Kiran saat sedang menyusui seperti ini.
Gampang lapar, gampang haus, mudah gerah, dan selalu ingin didampingi.
Butuh dukungan dari-dari orang tersayang.
Dan sebisa mungkin, Aslan akan menuruti semua keinginan-keinginan istrinya itu.
"Mas nanti masuk kerja tidak?" tanya Kiran, saat sang suami sudah duduk dihadapannya. Kiran duduk di kursi khusus menyusui, sementara Aslan duduk di sofa kecil berbentuk lingkaran yang bisa digeser kemana-mana.
"Tidak sayang, aku ambil cuti istri melahirkan," jawab Aslan seraya tersenyum, sebenarnya tidak ada cuti seperti itu, hanya saja ia ingin selalu menyenangkan sang istri.
Dan benar saja, mendengar jawabannya itu, Kiran mulai menunjukkan senyumnya.
"Bohong," jawab Kiran dengan sedikit terkekeh, terlihat sekali jika suaminya ini selalu ingin membuatnya bahagia.
Aslan pun ikut tersenyum, ternyata usahanya ketahuan.
"Aku bekerja dari rumah sayang, Pras nanti akan sering kesini," jujur Aslan dan Kiran menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa dada mu tidak sakit?" tanya Aslan, saat melihat sang istri yang nampaknya baik-baik saja. Dulu, saat menyusui Aydan, dada Kiran sempat bengkak. Hingga harus ia dulu yang menyusu.
"Alhamdulilah tidak Mas, rasanya lega, ku pikir juga akan sakit sama seperti waktu menyusui Aydan dulu," jawab Kiran apa adanya.
Namun entah kenapa, mendengar itu Aslan sedikit merasa kecewa.
"Mas sabar ya, sampai masa nifas selesai," timpal Kiran lagi, dengan mengulum senyumnya.
"Aku selalu sabar sayang," jawab Aslan namun dengan merengek.
Tak sampai lama, akhirnya baby Alana kenyang, ia melepas susuannya dengan sendiri.
Saat baby Alana tertidur, Aslan dan Kiran ikut beristirahat pula. Naluri mereka sebagai orang tua sudah sangat kental.
Saat baby Alana terbangun, maka mereka berdua pun akan ikut terbangun pula.
Malam itu, entah berapa kali berapa kali baby Alana terbangun, dan hingga saat subuh seperti ini.
Bayi perempuan itu masih juga terlelap pulas.
Sementara itu, Aydan, saat semua orang terbangun shalat subuh, ia pun ikut bangun pula, bahkan ikut shalat bersama mbak Desi, meskipun Shalatnya masih main-main.
Saat ini Aydan sudah berusia 2 tahun, bahkan Aydan sudah bisa bicara pula. Meski baru bisa mengucapkan 4 kata sekaligus.
Ibu, adek Ay mau minum.
Ibu, dimana ayah.
Dan masih banyak lainnya lagi. Aydan, juga suka sekali melompat-lompat saat mendengar lagu di iklan tv.
Pagi ini, Aydan pun langsung berlari menuju kamar kedua orang tuanya, mengatakan jika ia ingin melihat adek bayi. Diikuti pula oleh Desi.
Aslan yang melihat kedatangan anaknya pun langsung berjongkok, menyambut sang jagoan dengan sebuah pelukan.
"Adek Ay tidak mau," ucap Aydan seraya mendorong-dorong wajah sang ayah.
Aslan terkekeh, Aydan memang tak suka ia peluk dan cium, geli kumis katanya. Padahal kumis itu selalu ia cukur rapi. Namun bagi Aydan masih saja tetap terasa.
"Bukan Adek dong sayang, Mas Aydan," terang Aslan kemudian, membenarkan panggilan untuk Aydan sekarang.
"Ya, Mas Aydan," tiru Aydan dengan suaranya yang menggemaskan, bahkan Kiran sampai tersenyum lebar kala mendengar itu.
"Mau sama ibu," pinta Aydan lagi, bahkan sampai mencondongkan tubuhnya menuju kearah sang ibu, padahal kini ia masih berada di gendongan sang ayah.
__ADS_1
"Tunggu sayang, ibu masih ganti popok Adek Alana, tunggu ya," jawab Kiran, dengan kedua tangannya yang sibuk membersihkan pup Alana.
Untuk mengurus baby Alana, Kiran memang tidak menggunakan baby suster, semuanya akan ia urus sendiri. Lagipula kini ia sudah tidak aktif bekerja.
Toko yang ia kelola sudah berjalan dengan sangat baik, ia bahkan sudah mempercayakan pula kepada Hana.
Kiran, hanya sebulan sekali untuk mengunjungi toko itu.
"Bu, biar adek Alana nya saya yang jemur," ucap Desi yang juga ada di sana.
Kiran belum mandi, dan kini Aslan tengah menggendong Aydan. Sedari subuh tadi, Kiran selalu sibuk dengan Alana.
"Iya Mbak, terima kasih ya," jawab Kiran tulus, bersyukur sekali karena Desi bukan hanya bekerja karena uang, namun ia benar-benar tulus menyayangi Aydan dan juga Alana.
Setelah Desi membawa pergi Alana, Kiran menciumi sejenak anak laki-lakinya. Lalu membujuk dengan susah payah, agar anaknya itu tidak minta gendong.
"Ibu mandi dulu ya sayang?" bujuk Aslan pula.
"Mas Aydan lihat Adek bayi sama Oma juga sana, ya?" timpal Kiran pula.
Mendengar nama Adik dan Omanya, Aydan langsung menganggukkan kepalanya semangat.
Melihat itu, Kiran langsung bernapas lega. Saat ini sungguh ia sangat gerah.
Tidur semalam, ia terus mengeluarkan keringat. Namun tak bisa menaikkan suhu AC, karena ada baby Alana juga di kamar itu.
Dan setelah sang suami dan anaknya pergi, Kiran langsung bergegas mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di teras rumah.
Ternyata tak hanya ada Desi dan baby Alana. Namun ada juga Yuli dan Iwan di sana. Sepasang kakek nenek inipun ikut berjemur, merasakan kehangatan matahari pagi dan sejuknya udara hari ini.
Iwan, bahkan meminta Desi untuk memberikan baby Alana pada dirinya.
Duduk di kursi roda, Iwan memangku sang cucu perempuannya. menatap penuh syukur, kini ia diberi keturunan seorang anak perempuan.
"Oma! Opa!" teriak Aydan, hingga membuat kakak dan neneknya menoleh, lalu melihat Aydan yang berlari keluar rumah.
Yuli, langsung memangku cucu laki-lakinya itu.
Merasa sang anak sudah aman bersama kakek nenek dan pengasuhnya, Aslan pun kembali naik ke lantai 2, menuju kamarnya. Ia pun belum mandi.
__ADS_1
Pagi itu, Iwan dan Yuli benar-benar merasa bahagia, memangku Aydan dan Alana, membuat mereka merasa jika hidup mereka sudah sempurna.