Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 120


__ADS_3

Sehabis shalat zuhur di toko, Kiran memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba ia ingin sekali melihat Hana sebelum pergi.


Menutup pintu ruangannya, Kiran lalu mengedarkan pandangan, mencari dimana keberanaan Hana saat ini, namun seteliti apapun ia mencari, Hana tak nampak juga dipelupuk matanya.


"Ratih, kamu tahu Hana dimana?" tanya Kiran akhirnya, pada salah satu kasir.


Ratih menggeleng, "Saya tidak tahu Bu, mungkin di ruangannya," jawab Ratih apa adanya.


Lalu Ratih menawarkan diri untuk mencari Hana, sementara Kiran menunggu didepan meja kasir itu.


Hingga tak berselang lama, Ratih dan Hana turun dari lantai 2. Hana, baru saja melayani salah satu pelanggan tetap di toko ini.


"Ada apa Bu?" tanya Hana heran, apalagi saat melihat sang bos yang tersenyum lebar menyambut kedatangannya.


"Hana, eluslah perutku," ucap Kiran kemudian, hingga membuat netra Hana membola.


Namun saat menyadari jika tingkah Kiran ini adalah bawaan bayi, Hana pun tersenyum.


Ratih pun nyaris terkekeh kala mendengar itu.


"Aku yakin nih Bu, pasti dedek bayinya perempuan," ucap Ratih kemudian.


Kiran dan Hana pun tersenyum makin lebar.


"Aamiin," jawab Kiran penuh harap, jika boleh meminta, ia pun begitu menginginkan memiliki anak perempuan.


Namun apapun nanti hasilnya, ia akan selalu mensyukuri, laki-laki ataupun perempuan.


Puas mendapat elusan dari Hana, barulah Kiran bisa merasa lega keluar dari toko itu. Bahkan wanita hamil ini terus saja tersenyum sepanjang perjalanan pulang menuju rumahnya.


Sampai di rumah, ternyata Dinda sudah disana, padahal seingat Kiran, Dinda akan kesini jam 3 sore. Kiran lalu melihat jam di pergelangan tangannya, saat ini masih jam 2 sore.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Kiran, karena di ruang tamu tidak hanya ada Dinda dan Akbar, tapi juga umi Yuli. Jika ia sampai tidak mengucapkan salam, pasti diusir keluar lagi.


"Walaikumsalam," jawab Dinda dan Yuli seirama.


Saat itu, Kiran pamit untuk membersihkan diri dulu. Lalu kembali menemui Dinda dengan menggendong Aydan pula.


"Umi, aku dan Dinda main ke rumah mbak Wid ya?" pamit Kiran, namun entah kenapa mendengar pamit sang menantu itu Yuli malah merasa lucu, ia sampai harus menahan diri agar tidak tertawa.


Kiran persis seperti anak kecil yang pamit untuk main di lapangan.


"Kami sudah makan belum? ajak dulu Dinda dan Akbar makan sana," jawab Yuli kemudian.


"Tidak usah Umi, aku dan Akbar sudah makan tadi," tolak Dinda tak enak hati.


"Aku tadi udah makan Umi, kalo lapar ya minta makan mbak Wid lah," jawab Kiran lagi dan Yuli tak bisa berkata-kata.


Setelah mendapatkan izin Yuli, Kiran dan Dinda segera pergi. Berjalan kaki menuju rumah Widya yang berada tepat disebelah rumah Kiran.


"Jadi mbak Widya istrinya Agung, sekarang mereka tinggal disini?" tanya Dinda, seraya terus berjalan beriringan menuju rumah itu.


Tak lama setelah mereka menekan bell rumah itu, Widya membukakannya. Lalu mempersilahkan keduanya masuk dan berkenalan dengan Dinda.


Ketiga wanita dan 2 anak bayi ini duduk beralaskan karpet tebal di ruang tengah.


Melihat siaran televisi khusus anak-anak dan memakan beberapa cemilan.


"Jadi sampai sekarang Alfath belum juga menghubungimu?" tanya Kiran, setetah Dinda selesai bercerita.


"Kenapa dia egois sekali? harusnya pikirkan juga bagaimana Akbar nanti jika disana." Widya juga ikut buka suara, merasa geram.


Harusnya, walaupun Dinda menolak untuk ikut, Alfath tak boleh merubah sikapnya itu. Seolah memberi ultimatum, jika Dinda harus selalu mengikuti keinginannya.

__ADS_1


Dintanya seperti itu, Dinda pun tidak tahu jawabannya. Hanya satu yang ia pikirkan, Alfath masih belum mencintai dia, karena itulah dengan mudahnya Alfath menghilang begitu saja.


"Diamkan saja laki-laki seperti itu Din, dia bahkan mengabaikan Akbar. Aku bukannya memprovokasi kamu, tapi kita tidak selamanya muda dan hanya memikirkan tentang cinta. Saat tua nanti, kita butuh anak yang akan merawat kita. Saat itu tiba, ku pastikan suamimu itu akan menyesal pernah mengabaikan Akbar," jelas Widya, entahlah, kenapa ia jadi geram sendiri.


Dan Dinda hanya bisa menganggukkan kepalanya, seraya berserah diri kepada Allah.


Kiran, terus memperhatikan Widya yang sangat menggebu. Tidak biasanya, Widya meluap-luap seperti ini.


"Mbak, tadi malam jadi diatas?" tanya Kiran tanpa sadar, hingga Dinda dan Widya menatapnya dengan tatapan entah.


Yang satu melotot malu, yang satu menatap bingung.


"Ke-kenapa?" tanya Widya gugup, bahkan mendadak kedua pipinya merah.


Aplagi ketika membicarakan itu, percintaan panasnya semalam kembali berputar jelas dikepala. Saat ia terus menari diatas tubuh sang suami.


"Pelan-pelan saja mainnya, takutnya udah ada isi," jelas Kiran kemudian, Kiran merasa jika perubahan sikap yang di tunjukkan Widya barusan adalah karena hormon kehamilan.


Yang sebentar-sebentar marah dan sebentar-sebentar lagi tenang.


"Apa iya seperti itu?" tanya Widya memastikan.


"Kalian bicara tentang apasih?" tanya Dinda pula, bingung.


Sontak Widya dan Kiran pun terkekeh, melupakan Dinda yang tidak tahu apa-apa.


Terus, ketika berbincang, seolah pembicaraan itu tidak pernah ada habisnya. Hingga saat adzan Ashar berkumandang, barulah ketika mulut wanita ini berhenti berucap.


Kiran dan Dinda lalu pamit untuk pulang, shalat ashar di rumahnya masing-masing.


"Sering-seringlah main kesini Din, setiap hari aku di rumah terus," ucap Widya apa adanya.

__ADS_1


"Iya, daripada sendirian murung terus di rumah," timpal Kiran menyetujui.


Dan Dinda hanya mampu tersenyum, seraya menganggukkan kepalanya pelan. Bersyukur, ia masih dikelilingi oleh orang-orang yang peduli.


__ADS_2