Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 166 - Percaya


__ADS_3

Alana, masuk ke dalam rumahnya dengan senyum yang terkembang.


Beberapa saat lalu Alana dan Altar baru saja pulang sekolah. Di dalam mobil sebelum berpisah, Altar kembali memeluk tubuh sang calon istri dengan sayang.


Kali ini bukan bibir yang dicium remaja satu itu, melainkan pucuk kepala Alana.


“Ibu!” teriak Alana, mulai membuat suasana rumah jadi bising.


“Ibu! Ayah!” teriak Alana sekali lagi.


Kiran dan Aslan yang sedang berada di kolam ikan pun sampai mendengar teriakan anaknya itu, padahal kolam ikannya berada di taman belakang rumah ini.


“Anakmu Mas, kalau teriak, bikin kepala pusing,” keluh Alana, namun ia bangkit dari duduknya dan menemui sang anak di dalam sana.


Aslan hanya tersenyum, lalu mengikuti langkah sang istri pula.


“Anak kita sayang, kamu lo yang dulu semangat buatnya,” jawab Aslan, hingga membuat Kiran mendelik. Kiran bahkan menghentakkan kakinya, kesal.


Sementara Aslan malah terkekeh dibuatnya.


Sampai di ruang tengah, dan mereka bertemu dengan sang anak.


Melihat Alana yang datang dengan wajah sumringah. Seolah baru saja mendapatkan durian runtuh.


“Kenapa? Kamu berhasil mendapatkan peringkat satu?” Kiran menebak, teringat jika hari ini adalah hari pengumuman tentang nilai ujian anaknya beberapa hari lalu.


“Tidak Bu, aku masih sama seperti kelas 1 kemarin, peringkat 4,” jawab Alana, riang.


“Lalu apa yang membuatmu sebahagia ini?” Aslan ikut buka suara, penasaran pula apa yang bisa membuat anaknya sebahagia ini.

__ADS_1


Tidak menjawab, Alana malah mengangkat tangan Kirinya dan menunjukkan cincin di jari manis itu.


Lengkap dengan mengulum senyumnya, malu-malu. Apalagi saat melihat kedua orang tuanya menatap dengan seksama cincin di jari manisnya.


“Cincin? Kamu dapat darimana?” Kiran bertanya dengan kedua netra yang membola, tak ingin anaknya jadi pencuri di toko perhiasan. Kiran tidak pernah merasa memberikan uang lebih pada anaknya itu, lalu darimana Alana bisa mendapatkan cincin mahal ini.


“Dari altar Bu,” jawab Alana malu-malu,


Dan seketika Aslan pun mengulum senyumnya.  Merasakan desiran aneh yang ia rasakan di dalam hati.


Aslan baru tahu jika rasanya akan seperti ini.  ketika melihat anak gadisnya mulai menyukai seorang pria. Ada sedikit rasa tidak terima dan cemburu yang menyelimuti.


Seolah tak rela jika anaknya ini beranjak dewasa.


Dan ternyata, perasaan yang dirasa Aslan itu, juga dirasakan oleh Kiran.


Kiran bahkan sampai bergerak maju dan memeluk anaknya ini dengan sayang.


Alana yang sedari tadi tersenyum lebar, perlahan senyumnya menyurut. Lalu membalas pelukan ibu tak kalah eratnya.


“Bu, jangan bicara yang aneh-aneh, aku tidak mau menangis. Walaupun aku menikah dengan Altar, aku akan tetap jadi anak ayah dan ibu,” balas Alana langsung.


Sumpah demi apapun, ia paling tak bisa untuk menahan tangis jika seperti ini.  Membayangkan pernikahan yang akan membuatnya meninggalkan rumah ini.


Aslan tak tinggal diam, kedua tangannya mengelus dengan sayang sang istri dan sang anak sekaligus, mengelus pundak keduanya dengan sayang.


Mereka semua sudah bersepakat, jika saat Alana dan Altar liburan nanti, mereka akan mengelar pernikahan. Tepatnya 3 hari, setelah Altar berusia 17 tahun.


“Iya, ibu tidak akan  bicara yang aneh-aneh, ibu hanya ingin kamu tahu, bahwa ibu sangat menyayangi kamu Al,.”

__ADS_1


“Bohong,” balas Alana cepat, dengan bibir yang mengulum senyum.


“Kalau sayang, tambah dong uang jajanku,” timpal Alana lagi hingga membuat Kiran mencubit perut anaknya ini.


Alana menjerit, gaduh kesakitan.


“Aw! Sakit Bu,” rengek Alana dan Kiran tidak peduli, melihat pertengkaran kedua wanitanya ini, Aslan hanya mampu tersenyum kecil.


Ia akan sangat merindukan saat-saat seperti ini nanti, apalagi saat Alana mulai pindah ke rumah Altar.


“Masuklah ke kamarmu, istirahat,” ucap Aslan akhirnya, setelah lama ia hanya memperhatikan keduanya.


Alana mengangguk. Lalu segera berlalu menuju kamarnya sendiri di lantai 2.


Meninggalkan Aslan dan Kiran yang saling memeluk ketika anaknya menjauh.


“Alana sudah mau menikah saja ya Mas?” tanya Kiran lirih. Aslan lalu menarik istrinya itu untuk duduk di sofa ruang tengah.


“Iya sayang, ini semua gara-gara kamu dan mas Agung,” jawab Aslan saat mereka berdua sudah duduk di sana dengan sempurna, duduk berdampingan.


Mendengar itu, Kiran mengerutkan dahinya.


“kenapa jadi salahku dan Agung?” tanya Kiran langsung, dengan wajahnya yang nampak bingung.


“Karena kalian sudah menjodohkan Alana dan Altar sejak masih dalam kandungan, jadi mereka masih kecil begini sudah menikah,” jawab Aslan apa adanya, hingga membuat Kiran mencebik, sedikit membenarkan ucapan suaminya itu.


“Tapi Mas percaya kan sama Altar? Mas percaya kalau Altar bisa membahagiakan Alana kan?” tanya Kiran bertubi, ingin tahu sudut pandang suaminya itu tentang ini.


Aslan tak langsung menjawab, ia menatap kedua netra istrinya itu dan menganggukkan kepalanya kecil.

__ADS_1


“Iya, aku percaya,” jawab Aslan kemudian, dan berhasil membuat Kiran kembali tersenyum.


 Ya, baik Aslan ataupun Kiran, mereka sama-sama sudah mempercayai Altar. Mereka percaya, jika Altar pasti akan membahagiakan anak mereka.


__ADS_2