Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 123 - Menyadari Perasaan Dihati


__ADS_3

“Maafkan aku,” ucap Alfath, berbicara dengan kedua matanya yang sendu. Satu tangan Alfath masih mencengkram kuat pergelangan tangan Dinda, menguncinya dan mendekap Dinda erat, sementara tangan yang lainnya pun masih membekap mulut sang istri, rapat.


Alfath ingin, Dinda terus diam hingga ia selesai


bercerita.


“Maafkan aku Din, maafkan aku,” ulang Alfath, lagi dan lagi.


“Aku sadar aku salah, aku mengacuhkan mu dan juga Akbar. Kamu tahu kenapa aku melakukan itu? Karena aku bodoh...”


“Aku selalu merasa, jika aku masih sangat mencintai Kiran, hingga sebisa mungkin aku harus menjauh dari dia. Karena itulah, aku pun


memintamu untuk pergi bersamaku. Tapi aku tidak menyangka, jika kamu akan menolak,” jelas Alfath, dengan tatapannya yang dalam, menatap kedua mata sang istri penuh permohonan.


“Dengan egoku yang terlalu tinggi, aku membiarkanmu. Berpikir jika penolakan mu itu adalah akhir dari hubungan kita, karena itulah


aku mencoba untuk tidak peduli. Menikmati waktuku sendiri tanpa kamu dan juga


Akbar...”


Alfath terdiam sejenak, ia bahkan mulai melerai dekapannya pada mulut Dinda.


“Tapi ternyata aku tidak bisa, aku tidak bisa


menikmati hidupku tanpa kamu Din. Setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik aku terus memikirkan kalian berdua. Bukan Kiran lagi yang aku pikirkan.” Setetes air mata jatuh, bukan dari mata Dinda, melainkan dari kedua mata Alfath, karena nyaris saja, ia kembali melakukan kesalahan sang sama, membiarkan wanita yang dicintainya pergi begitu saja.


“Aku mencintaimu Din, sangat,” lirih Alfath dengan suaranya yang pilu.


“Bohong,” jawab Dinda lirih, ia bahkan berniat melepaskan diri dari dekapan sang suami. Disaat ia hendak menyerah, Alfath selalu datang seperti ini.


Pelan, Alfath menggeleng. Ia bahkan mengecup sekilas bibir Dinda dengan paksa. Sumpah demi apapun ia sangat rindu.


“Maafkan aku Din, beberapa hari ini aku tidak


menghubungimu karena aku sibuk mengurus ke pindahan ku kembali ke Indonesia. Aku


ingin kita kembali bersama, di rumah ini,” jelas Alfath hingga membuat kedua netra Dinda membola. Ia tahu persis, jika Alfath kembali pindah kesini, berarti suaminya itu harus melepaskan pekerjaannya.


“Benarkah? Kenapa?” tanya Dinda, antara percaya dan tidak.


“Karena aku tidak ingin berpisah lagi denganmu, aku memutuskan untuk melanjutkan usaha ayah saja. Aku mohon Din, maafkan aku,” pinta Alfath lagi, sungguh-sungguh, apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan kata maaf dari Dinda, wanita yang kini begitu dicintainya.


“Mas tidak bohong?” tanya Dinda butuh kepastian.


Dan Alfath tak menjawab apapun, ia langsung mencium bibir sang istri begitu kasar. Seolah menunjukan kerinduan yang tak bisa lagi ditahan.


Dinda, hanya bisa mengikuti permainan itu.


Dalam pagutan kedua bibir mereka, Dinda mengulas senyumnya.

__ADS_1


Bersyukur, ternyata ikhlas nya dibayar dengan begitu indah.


Malam itu, keduanya kembali menyatu, tak cukup satu kali, mereka terus mengulanginya hingga beberapa kali. Seolah sedang meruntuhkan semua ego yang selama ini menyelimuti, lalu membangun kepercayaan tentang isi hati satu sama lain, bahwa kini mereka saling mencintai.


Bukan hanya Dinda yang menginginkan Alfath, namun juga Alfath yang begitu menginginkan Dinda.


Kata cinta, berulang kali Alfath ucapkan, seirama


dengan semua hentakan yang ia berikan.


Sementara Dinda terus tersenyum, ia sudah tak mampu berkata-kata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya adalah hari minggu.


Aslan akan menemani sang istri untuk memeriksakan kandungannya. Kata dokter Susan, pemeriksaan kali ini mereka sudah bisa


mendengar detak jantung sang jabang Bayi.


Aslan begitu antusias akan hal itu.


“Ayo sayang, tunggu apalagi, sebaiknya kit ake rumah sakit sekarang,” ajak Aslan, saat melihat istrinya malah masih asik bersama


Aydan.


“Sabar Mas, ini masih terlalu pagi,  kan janji ketemu dokter Susan jam 9, sekarang


“Kalau kamu sudah tidak sabar, ya sudah, kamu pergi saja duluan,” timpal yuli, dengan banyak ejekan didalam kalimat itu, bahkan


setelah mengatakan itu Yuli langsung terkekeh.


Diam-diam, Kiran juga mengulum senyumnya.


Sementara Aslan, hanya memasang wajah tak suka, lalu duduk disalah satu sofa, ikut berkumpul dengan semua keluarganya di sana.


“Sabar Lan, benar kata Kiran, ini masih terlalu


pagi,” Iwan menimpali pula. Lalu menyeduh teh hangat miliknya sendiri. Dan


Aslan hanya mampu menghembuskan napasnya pelan.


Kini, di rumah ini ia sudah tidak memiliki


pendukung.


Drt drt drt


Ponsel Aslan didalam saku celananya bergetar. Tanpa menunda, ia langsung melihat panggilan itu, ternyata mas Agung menelpon.

__ADS_1


“Assalamualaikum, Mas,” jawab Aslan, hingga membuat semua orang menatap kearahnya sekilas, lalu kembali menonton televisi yang


sedang menyala.


“Walaikumsalam,” jawab Agung di samping sana.


“Lan, hari ini kamu dan Kiran jadi ke rumah sakit?” tanya Agung kemudian.


“Iya Mas, jadi. Kenapa?” jawab Aslan sekaligus


bertanya pula.


“Aku dan Widya juga rencananya mau periksa, tapi aku belum membuat janji temu, bagaimana ya?”


“Alhamdulilah, mbak Wid sudah hamil?” tanya Aslan lagi antusias, ia bahkan sampai melupakan pertanyaan Agung tadi.


Kiran yang ikut mendengar ucapan sang suami pun seketika terkejut, ia bahkan langsung bangkit dari duduknya di atas karpet dan pindah duduk disebelah sang sumi.


Menempelkan telinganya di ponsel Aslan, menguping.


Dan diujung sana, Agung mengulum senyumnya, tiap kali  teringat sang istri yang tengah hamil ia


pun merasakan kebahagiaan yang membuncah.


“Alhamdulilah, insyaallah iya Lan, baru diperiksa


pakai testpack, belum ke dokter kandungan. Rencananya hari ini, karena itulah


aku menelpon mu,” jelas Agung kemudian.


Dan Kiran pun langsung memekik tanpa suara, girang.


“Kita pergi bersama-sama saja Mas, tidak apa belum membuat janji, tapi nanti harus ambil nomor antrian dulu, bisa jadi baru dapat giliran masuk saat siang,” terang Aslan apa adanya, untuk konsultasi dengan dokter susan, mereka memang harus menggunakan nomor antrian, jika ingin dapat nomor lebih awal, maka melakukan pemesanan dihari sebelumnya.


Setelah membuat kesepakatan untuk pergi bersama, akhirnya panggilan itu terputus.


“Ayo Mas, kita pergi sekarang,” ajak Kiran antusias, dan Kini Aslan yang pura-pura enggan.


“nanti sajalah, tunggu mas Agung dan mbak Widya panggil kita dulu,” elak Aslan, dengan mengulum senyumnya. Apalagi saat melihat wajah Kiran yang langsung murung, dengan bibir mencebik, lucu.


Sementara Yuli dan Iwan yang memperhatikan sepasang suami itu hanya mampu menggelengkan kepalanya, drama yang selalu mereka lihat setiap hari. Bertengkar, berbaikan, bertengkar, berbaikan, seperti itu terus sampai Kiran lahiran.


“Ayo lah Mas,” pinta Kiran, merengek.


Aslan bergeming, bahkan melipat kedua tangannya didepan dada.


“Kan semakin cepat pergi semakin bagus, mbak Wid bisa dapet nomor antrian yang lebih cepat,” bela Kiran lagi, atas keinginannya


sendiri.

__ADS_1


Aslan masih tetap tak menjawab, namun kini ia


menunjuk salah satu pipinya sebagai syarat.


__ADS_2