
Kini, waktu menunjukkan jam 8 malam tepat. Biasanya diwaktu seperti ini, Aslan dan Kiran hanya akan menghabiskan waktu dengan termenung dan merindu.
Namun semua rasa sepi itu kini sudah terbayar lunas.
Pertemuan mereka meruntuhkan semua sendu di hati.
Keduanya berbaring diatas ranjang dengan Aslan yang memeluk erat tubuh sang istri, sementara Kiran memeluk tangan suaminya yang melingkar di perut.
Aslan bahkan berulang kali menciumi pucuk kepala Kiran, begitu rindu dengan aroma tubuh sang istri.
"Mas," panggil Kiran.
Mendengar Kiran memanggilnya, dengan perlahan Aslan menurunkan tubuh, mensejajarkan diri lalu menatap lekat manik hitam milik sang istri.
Menatap mata yang selalu membuatnya mendamba.
"Hem?" tanya Aslan, tangannya bergerak naik menyentuh wajah Kiran.
Seperti melukis, ia menyusuri wajah itu satu per satu menggunkan jemarinya.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," jelas Kiran saat telunjuk sang suami berhenti tepat diatas bibirnya.
"Apa?" tanya Aslan, tetap bergeming menatap dalam pada wajah cantik ini.
Tak langsung menjawab, Kiran lalu menyentuh tangan Aslan yang bergerak di wajahnya, lalu kembali menurunkannya sampai di perut.
Sementara tangan Kiran yang lainnya, kini menyentuh wajah sang suami dengan sayang.
"Aku hamil," desisnya seperti berbisik, napas yang menerpa wajah Aslan langsung membuatnya tersentak.
Terkejut, antara percaya atau tidak dengan kalimat yang baru saja ia dengar.
Hamil? ulangnya didalam hati.
__ADS_1
"Apa sayang?" tanya Aslan meyakinkan.
Dengan tersenyum, Kiran membimbing tangan sang suami untuk bergerak mengelus perutnya yang masih rata.
"Aku hamil Mas," terang Kiran dengan riang.
Mendengar itu, Aslan malah menggeleng kecil.
"Bukankah anak kita sudah tiada?" tanya Aslan lagi, tidak percaya.
Ia tak mau, sang istri berbohong hanya untuk membuatnya senang.
Kini, giliran Kiran yang menggeleng. Lalu menceritakan semua keajaiban yang terjadi padanya. Bahwa dulu, ia sebenarnya hamil anak kembar. Ia memang keguguran, namun hanya 1 bayi.
Dokter tidak melakukan tindakan kuret, karena saat itu usia bayi masih sangat kecil, 4 minggu. Jaringan janin atau plasenta yang tertinggal di dalam rahim pun akan keluar secara alami dalam waktu 1 atau 2 minggu.
Tapi bukannya keluar, saat itu Kiran malah mengalami gejala kehamilan kembali.
Mendengar semua cerita itu, tanpa sadar air mata Aslan mengalir di sudut matanya.
Sungguh, kini ia sudah mengubur dalam-dalam keinginannya untuk memiliki seorang anak. Hanya Kiranlah yang ia butuhkan.
Namun dalam sekejab saja, keihklasannya itu langsung dibalas dengan keajaiban yang tidak disangka-sangka.
Sang istri ternyata masih hamil.
"Kenapa Mas menangis? Mas tidak bahagia?" tanya Kiran seraya menghapus air mata suaminya itu. Melihat Aslan menangis, ia jadi ikut sendu.
Pelan, Aslan menggeleng.
"Aku bahagia, sangat bahagia," jawabnya kemudian.
"Lalu, kenapa menangis?"
__ADS_1
"Apa aku pantas Ran menjadi seorang Ayah? demi menyandang status itu, banyak hati yang sudah aku korbankan. Bahkan sebelumnya aku menyakiti kamu," desis Aslan merasa bersalah, rasanya pun kini ia tidak pantas mendapatkan kebahagiaan ini.
Kecil, Kiran tersenyum. Lalu mengecup bibir suaminya sekilas.
"Pantas atau tidak pantasnya hanya Allah yang bisa menilai Mas. Sekarang Allah kembali memberikan kepercayaan pada kita, jadi_"
Ucapan Kiran terhenti, saat sang suami menutup mulutnya dengan sebuah ciuman. Ciuman yang begitu dalam dan mendamba.
Bahkan Aslan menelusupkan lidahnya masuk tanpa seizin, hingga Kiran dibuatnya kewalahan.
"Jadi, berhenti berkecil hati dan perbanyak bersyukur. Terima kasih Ran, terima kasih, karena kamu masih mau menerimaku, bahkan memberikan ku seorang anak," ucap Aslan setelah melepas ciuman itu.
Ia lalu turun, menyingkap baju sang istri dan menciumi berulang kali perut datar Kiran.
Berulang kali, Aslan mengucap syukur di dalam hatinya, tak henti-henti.
Sementara Kiran yang melihat itu hanya tersenyum, bahagia bercampur haru. Tanpa disadarinya pun air bening juga mengalir di sudut matanya.
Terima kasih ya Allah. Batin Kiran penuh syukur. Lengkap sudah hidupnya, kini hatinya begitu lega, tak ada lagi beban yang mengganjal di hati.
Setelah puas menciumi sang Anak, Aslan lalu kembali menghadap Kiran. Dengan senyum yang terus terukir, ia menatap wajah sang istri yang kini berada bawahnya.
"Ran, maukah kamu ikut bersamaku pulang?" tanya Aslan dengan wajah penuh harap.
Pelan, Kiran mengangguk.
Dimanapun sang suami berada, ia akan selalu ikut.
Mendapati jawaban sang istri, senyum Aslan makin melebar. Kebahagiaan bertubi yang ia dapatkan hari ini.
Lagi, Aslan mecumbu sang istri, kini bahkan bukan hanya bibir yang ia sentuh. Namun seluruh tubuh sang istripun di jamahnya dengan lembut.
Meski tanpa penyatuan, namun rindu itu benar-benar terobati.
__ADS_1