Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 74


__ADS_3

Satu bulan berlalu.


Hari ini, Aslan dan Kiran akan kembali ke rumah mereka sendiri. Seperti kesepakatan mereka diawal, jika tinggal di rumah utama hanya saat Kiran menjalani masa nifas. Selesai nifas itu, mereka akan kembali ke rumah mereka.


Tadi malam, mereka sudah berkemas.


Kini, Kiran duduk disisi ranjang dengan menggendong Aydan, ia memperhatikan 2 koper besar berisi barang-barangnya itu.


Entah kenapa, ia merasa ragu.


Ragu untuk meninggalkan rumah ini, tinggal berpisah dengan kedua mertuanya. Kiran tak bisa membayangkan, betapa kesepiannya Yuli jika ia pulang membawa Aydan.


Selama tinggal disini, tak pernah seharipun Yuli melewatkan waktu tanpa Aydan. Bahkan, setelah Kiran memompa Asinya, Yuli lah yang memberikannya pada Aydan.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aslan, ia baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan melihat sang istri yang termenung, menatap kosong.


Kiran menoleh, melihat kedatangan Aslan yang bertelanjang dada, hanya menggunakan handuk yang melilit dipinggang.


Pelan, Kiran menggeleng. Namun raut wajahnya tak bisa bohong, terlihat jelas ada sesuatu yang menjadi beban dipikirannya.


Aslan memilih memakai baju lebih dulu, Lalu ikut duduk di samping sang istri.


"Kenapa?" tanya Aslan lembut, ia bahkan memeluk bahu Kiran dengan sayang.


Kiran menoleh, dan menatap lekat kedua netra sang suami. Mencoba menyelami hati sang suami, mencoba menerka mungkinkah Aslan merasakan hal yang sama. Atau mungkin, Aslan lebih ingin tetap tinggal dibanding dirinya. Aslan pergi hanya karena tak enak hati dengannya.


"Kenapa?" tanya Aslan lagi, tanpa memutus tatapan keduanya.


"Aku ingin kita tinggal disini Mas," jawab Kiran dengan suara yang pelan.


Aslan terdiam.

__ADS_1


"Aku ingin kita tinggal bersama umi dan abi, aku tidak ingin meninggalkan mereka Mas," jujur Kiran sesuai isi hatinya.


"Menurut Mas bagaimana?" tanya Kiran lembut.


Aslan tak langsung menjawab. Sejujurnya iapun memikirkan hal yang sama, terlebih ia adalah anak satu-satunya. Jika bukan ia, maka siapa yang akan merawat kedua orang tuanya kelak.


Tapi Aslan ragu, ia tak ingin Kiran merasa tak nyaman tinggal di rumah ini. Rumah yanh sempat menjadi tempat tinggalnya bersama Maya dulu.


Aslan memang masih mengingat semua kenangan itu, tapi sumpah demi apapun ia sudah mengihklaskan semuanya. Ketika ia teringat, hatinya sudah tak merasakan apapun, getaran atapun sesak.


"Mas?" panggil Kiran karena sang suami hanya terdiam.


"Aku tidak masalah Mas, kita kembali tinggal disini. Aku tidak mempermasalahkan masa lalu," terang Kiran lagi.


Mendengar itu, Aslan segera memeluk istrinya erat, juga menciumi pucuk kepala Kiran berulang. Bersyukur, memiliki istri sedewasa Kiran.


Dengan tersenyum, Aslan melepas dekapannya. Tangannya yang lain mengelus pipi Aydan yang sedang terlelap.


"Baiklah, kita tetap tinggal disini," jawab Aslan singkat, seraya menatap lekat wajah sang istri yang langsung mengukir senyum. Melihat itu, Aslan pun ikut tersenyum juga.


Mendengar itu, Yuli bahkan sampai meneteskan air matanya. Ia menangis haru, tidak menyangka Kiran akan sudi untuk tinggal disini. Menantu yang sempat ia sakiti dengan begitu tega.


Tangis itu mereda, saat Aydan mulai menggeliat dan menangis. Dengan sigap Yuli mengambil Aydan, memeriksanya dan melihat sang cucu yang ternyata pipis.


"Biar Kiran yang bersihkan, Umi," pinta Kiran yang merasa tak enak hati.


"Biar Umi saja sayang, kamu dan Aslan lebih baik makan dulu. Tadi kalian melewatkan sarapan kan?" jawab Yuli apa adanya. Ia pikir, Kiran dan Aslan sengaja tak makan dan ingin sarapan diluar sekaligus pulang, karena itulah Yuli membiarkan.


Tahu kini Kiran akan tinggal disini, ia langsung meminta menantunya itu untuk malan lebih dulu.


Kiran tak menjawab lagi, terlebih saat Aslan dengan perlahan menariknya untuk menuju meja makan.

__ADS_1


Akhirnya, Yuli lah yang membersihkan Aydan.


Kini, sepasang suami istri ini sudah duduk di meja makan, duduk bersebelahan. Kiran pun sudah menyajikan makanan sang suami di dalam piring.


Satu yang mencuri perhatian Kiran, sedari tadi dilihatnya Aslan yang terus tersenyum.


Mencurigakan, batin Kiran dengan menyipitkan mata. Menatap curiga pada sang suami.


"Mas kenapa? senyum-senyum," tanya Kiran heran dengan nada yang terdengar kesal.


"Tidak ada apa-apa sayang," jawab Aslan tapi masih dengan senyum menyebalkan itu.


"Kenapaa?" tanya Kiran lagi, mendesak.


Akhirnya Aslan menjawab, meski dengan mengulum senyumnya.


"Kita semua berebut ingin mengurus Aydan, sepertinya kita harus segera memiliki anak lagi," jelas Aslan gamblang, dan mendengar itu Kiran terperangah.


Sakit yang kemarin saja masih begitu ia ingat, kini suaminya ingin memiliki anak lagi.


Ampun! jerit Kiran di dalam hati.


"Jangan sekarang sayang, aku belum mau," rengek Kiran sungguh-sungguh.


Melihat wajah sang istri yang berubah sedih, Aslan langsung membawanya masuk ke dalam dekapan.


"Iya sayang, maafkan aku ya?" pintanya dan Kiran mencebik.


"Dimaafkan tidak?" tanya Aslan lagi karena Kiran tak menjawab.


"Iya dimaafkan," jawab Kiran ketus, judesnya kumat.

__ADS_1


Mendengar keketusan sang istri, bukannya takut Aslan malah merasa gemas.


Diam-diam Aslan mengulum senyumnya, lalu mencium pucuk kepala sang istri sekilas.


__ADS_2