Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 142 - Selalu Kalah Berdebat


__ADS_3

Pagi ini Alana terbangun dengan wajah yang sangat cerah, berseri. Semalam, ia tertidur nyenyak setelah mengantongi beberapa ide cemerlang yang diajukan oleh sang sahabat, Sisil.


Saking bahagianya, Alana sampai berangkat sekolah lebih awal,  hari ini malah Alana yang menjemput Altar di rumahnya.


Berulang kali Alana menekan bell rumah ibu widya, hingga tak lama kemudian pintu itu dibuka oleh sang asisten rumah tangga.


“Mbak Alana. Masuk Mbak, mas Altar masih sarapan,” jawab Ratih, apa adanya.


“Tidak usah Bude, Al tunggu disini saja,” jawab


Alana sopan, lengkap dengan senyum ramahnya yang nampak sangat cantik.


Ratih menganggukkan kepalanya seraya membuka pintu rumah lebar-lebar, jika nanti Alana ingin masuk ia bisa masuk sesuka hati. dan setelah itu, Ratih kembali masuk ke dalam rumah, menuju meja makan dan mengatakan kepada semua majikannya jika Alana sudah menunggu Altar di depan.


“uhuk!” Altar sampai terbatuk mendengar ucapan bude Ratih, rasanya sungguh tak masuk akal Alana sampai ke rumah ini pagi-pagi, hanya untuk berangkat ke sekolah bersama dirinya.


“Hati-hati Al,” ucap Widya seraya mendekatkan


segelas air putih pada sang anak.


Panggilan Alana dan Altar memang sengaja dibuat sama,  sama-sama dipanggil AL agar menciptakan ikatan tak kasat mata, kata Agung dulu kala.


Lain Altar lain pula sang ayah, jika Altar merasa


terkejut, maka Agung justru merasa sangat bahagia. Setelah kabar perjodohan itu


disampaikan pada kedua anaknya, kini Alana bahkan menjadi lebih berani untuk


mendekati Altar.


Nyatanya, pagi-pagi begini Alana sudah berada di depan rumahnya.


“Sudah sana pergi, kasihan Alana menunggumu,” titah Agung, dengan tatapannya yang sengaja dibuat tajam. Agar anak berandal nya ini takut


dan menurut.


“Tapi makananku belum habis Yah,” jawab Altar dan memang begitulah adanya.


“Kamu kan bisa makan di kantin.” Agung masih terus mendesak.


“Tidak mau, lagipula jatah jajan di kantin kan


siang, kalau pagi aku sudah ke kantin rugi dong,” bela Altar pula seraya terus memakan sarapannya, nasi goreng sosis yang senagaja ia minta dibuatkan oleh sang ibu.


Tak ingin pagi-pagi anak dan suaminya berdebat,


Widya langsung mengeluarkan uang 100 ribuan di hadapan Altar, hingga membuat


mata Altar langsung membola, menyala seperti warna uang itu.


“Nih, tambahan jajan, sana pergi. “ titah Widya.


Dengan gerakan cepat, Altar langsung mengambil uang itu dan segera meminum air putih sebagai penutup sarapannya.

__ADS_1


“terima kasih ibuku yang paling cantik,” puji Altar,


lalu mencium sekilas pipi sang ibu dan mencium punggung tangan kanan ibunya takzim.


“Kayak ibu dong Yah, ngerti apa maunya anak,” keluh Altar pada ayahnya itu, Agung hanya mendelik saat anaknya mencium pula punggung tangan kanannya.


“belajar dulu yang bener, baru uang jajan ditambah,” sindir Agung hingga membuat Altar mencebik.


Tak ingin ayahnya kembali ceramah panjang kali lebar, Altar langsung segera berlalu menemui Alana didepan rumahnya.


Alana berdiri tepat di teras rumah itu, memunggungi pintu.


“Al!” pekik Altar dengan nada membentak, hingga membuat Alana berjangkit kaget.


Alana bahkan sampai beristigfar didalam hati. sumpah serapah ia tujukan pada Altar. Namun sekuat tenaga tak sampai ia keluarkan melalui mulut.


Alana berbalik dan menatap Altar lekat, lengkap pula dengan senyumnya yang dibuat menggoda.


Melihat itu, Altar malah merasa geli sendiri.


“Kamu sakit?” tanya Altar langsung, ia bahkan


menggerakkan tangannya dan menyentuh dahi Alana, memeriksa suhu tubuh gadis ini.


Alana menurut, membiarkan Altar menyentuhi dahinya berulang.


“Tidak panas kan?” tanya Alana pula, dengan matanya yang berkedip-kedip tidak jelas.


Mata yang membuat Altar bergidik ngeri.


“Al! Lepas!” titah Altar, tak nyaman. Bukan mahram dan lagi ini dihadapan rumah orang tuanya.


Tapi Alana tak peduli, malah menggerak-gerakkan


kepalanya seperti anak kucing yang minta dimanja.


“Ibu!” teriak altar memanggil sang ibu.


Mendengar itu, Alana langsung terkisap,  dengan cepat ia melepaskan cengkeramannya pada


lengan Altar, mengambil posisi siap secepat mungkin dengan raut wajah cemas. Takut ketahuan.


Dan melihat itu, Altar langsung tertawa terbahak,


hingga membuat Alana mengeram kesal.


“Ayo ah! Pergi! Sebel!” ucap Alana ketus, dan Altar menurut tanpa banyak berdebat.


Altar bahkan terus tersenyum sampai ia naik di atas motor, sementara Alana masih berdiri, menunggu Altar memberikannya satu helm yang masih terkunci di stang motor.


“Jangan senyum terus seperti itu, aku tidak suka


melihatnya,” ketus Alana, sesuai yang ia rasa. Ia benci sekali tiap melihat Altar yang sedang berbahagia seperti ini.

__ADS_1


“Harusnya kamu tanya, kenapa pagi ini aku sangat bahagia.”


Alana diam, malas menjawab.


“Aku tadi menjual mu pada ibu Wid, 100 ribu rupiah,” seloroh Altar, dan tanpa babibu Alana langsung memukul bahu Altar keras.


Hingga Altar gaduh kesakitan, pukulan Alana selalu saja terasa menyakitkan baginya.


“Sakit Al!”


“Bodo amat!”


“Pakai helm mu,” titah Altar kemudian, seraya


mengulurkan helm itu pada Alana. Bukannya mengambil helm itu, Alana malah


bergeming.


“Pasangin,” pinta Alana, manja. Sumpah demi apapun , ia ingin sekali muntah membayangkan kelakukan nya pagi ini. Kata Sisil, pagi ini Alana harus terlihat manja, genit dan agresif di mata Altar.


Dan Alana, akan berusaha melakukanya sebaik mungkin. Agar Altar, benar-benar tak menyukai dirinya. Tak menganggap ia sebagai calon istri yang baik.


“Nggak usah manja, pakai sendiri!” ucap Altar pula, tak kalah sengit.


“Nggak mau! Pokoknya pakein, titik.” Jawab Alana


cepat, ia bahkan menyembunyikan kedua tangannya dibelakang dan sedikit


mendekatkan kepalanya pada sang calon suami.


Malas berdebat, Akhirnya Altar menuruti juga


keinginan Alana itu. Memasangkan helm dan menguncinya rapat.


“Buruan naik!” Altar berucap dengan kesal.


“Apa lagi?” tanya Altar pula saat melihat Alana yang masih saja terdiam, sesaat keduanya saling atap. Dengan tatapan yang begitu dalam.


Ada geleyar aneh di hati keduanya, namun dengan cepat pula Alana dan Altar mengusir geleyar aneh itu.


“Katamu. Kamu  mau menerim  perjodohan kita kan?” tanya Alana setelah cukup lama keduanya sama-sama terdiam, hanya tatapan mereka saja yang seolah saling bicara.


Pelan, Altar mengangguk. Masih belum tahu kemana arah pembicaraan Alana kali ini.


“Kalau begitu ayo kita jadi lebih dekat, saling


menerima, membuka hati, seperti yang diucapkan ayah Aslan padaku.” Timpal Alana lagi, hingga membuat kedua netra Altar membola.


Ia memang mau menerima perjodohan ini, namun tak menyangka jika Alana akan bertindak seperti ini. Bagi Altar, pernikahan itu masihlah jauh didepan sana,  mereka masih SMA,tidak perlu repot memikirkan itu sekarang.


“Apa maksudmu? Bicara yang jelas, aku sudah sangat mengenalmu sejak kecil, jadi untuk apa lagi saling mengenal. Lagipula bagaimana pun aku dan bagaimanapun kamu, nanti kita akan tetap menikah,” jawab Altar lantang, hingga membuat Alana tak bisa berkata-kata.


Selalu saja seperti ini, Alana selalu saja kalah jika sudah berdebat dengan Altar.

__ADS_1


Akhirnya Alana hanya bisa mencebik, seketika semua rencana yang sudah ia susun rapi menghilang, menguap entah kemana.


__ADS_2