Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 30


__ADS_3

Drt drt drt


Ponsel Kiran bergetar saat jam pulang kantor.


1 pesan whatsApp dari sang suami.


Aslan:


Ran, semua barangmu sudah diantar ke rumah baru kita, bude Asni juga sudah disana. Aku akan kirim alamat rumah itu. Nanti malam aku akan menemanimu tidur disana, aku akan pulang lebih dulu melihat Maya.


Kiran tersenyum, lalu dengan cepat ia membalas pesan itu.


Kiran:


Terima kasih, Mas. Aku mencintaimu.


Ucapnya membalas pesang sang sumi.


Setelah itu Kiran tersenyum, ia bahagia, akhirnya ia bisa keluar dari rumah utama. Bukan apa-apa, meski Yuli dan Iwan begitu menyayanginya, tapi tetap saja ia merasa tak nyaman. Rasanya di rumah itu gerak geriknya terbatas.


"Ayo Ran pulang, kenapa malah senyum-senyum?" tanya Agung, dilihatnya sang sahabat yang senyum-senyum sendiri tidak jelas. Apa dia mulai gula gara-gara melihat Alfath tadi? pikirnya menduga-duga.


Tak mengindahkan pertanyaan Agung, Kiran lalu bangkit dari duduknya dan bergegas pulang. Pulang ke rumahnya sendiri, di rumah itu ia yang akan berkuasa.


Tepat jam 5 sore, Kiran sudah sampai di rumahnya. Rumah yang cukup besar, tapi tentu saja tak sebesar rumah utama dan tak ada lantai 2.


Kiran tak memperasalahkan itu, karena ini jauh lebih indah dari yang ia bayangkan selama ini saat hendak keluar dari rumah utama. Pikir Kiran, ia malah akan berakhir dengan mengontrak rumah.


Ternyata tak hanya Asni yang ikut pindah kesini, tapi juga Budi yang bertugas menjaga keamanan rumah.


"Bude!" teriak Kiran saat ia sudah memasuki rumah, tadi Budi memberikan kunci cadangan itu pada sang majikan saat Kiran baru turun dari dalam mobil.


Asni yang merasa dipanggil langsung mendekat ke sumber suara, ia sedikit berlari takut Kiran akan marah jika ia terlambat datang.


"Ada apa Nyonya?" tanya Asni sedikit takut, baginya Kiran adalah majikan yang sombong, karena selama tinggal di rumah utama, Kiran tidak pernah meminta bantuan pada ART disana, bahkan Kiran tidak pernah sekalipun ke dapur untuk memasak.


Kiran tak langsung menjawab, ia malah tersenyum lebar.


"Bude, terima kasih ya, sudah mau menemani saya untuk tinggal disini. Bude tidak usah memasakan makanan untuk saya, bude masak sendiri saja untuk Bude dan pak Budi. Biar saya masak untuk diri saya sendiri." jelas Kiran.


"Bukan apa-apa Bude, cuma saya biasa masak sendiri, dan makanan itu bukan yang berlemak-lemak seperti di rumah Umi." timpal Kiran lagi jujur dengan majah memelas. Tak ingin Asni menjadi salah paham atas keinginannya ini.


Asni mengangguk seraya tersenyum, sedikit-sedikit ia memang sudah tahu kebiasaan sang majikannya ini, si pemilih makanan.

__ADS_1


Wajar saja, Nyonya terlihat cantik dan awet muda. Batin Asni.


"Iya Nyonya, tapi kalau ada perlu apa-apa beri tahu saya saja." jawab Asni tulus.


"Iya Bude, kalau pekerjaan rumah sudah beres bude istirahat saja. Kalau ingin lihat TV jangan sungkan." jelas Kiran dan Asni mengangguk.


Setelah mengatakan itu, Kiran langsung bergegas ke dapur. Menyimpan beberpa bahan makanan yang sudah ia beli tadi ke lemari pendingin.


Asni tersenyum memandang kepergian sang majikan.


Ya Allah, maafkan hamba, selama ini saya tidak menyukai Nyonya Kiran dan menilainya buruk. Tapi saat bicara dengannya sebentar seperti ini saja saya sudah bisa merasa jika Nyonya adalah orang yang baik. Batinnya menyesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hingga jam 8 malam, Aslan belum juga sampai di rumah Kiran. Jujur saja, ia begitu menunggu kedatangan sang suami.


"Apa Maya tidak mengizinkan mas Aslan kesini ya?" gumamnya pelan.


"Apa Nyonya?" tanya Asni yang kurang jelas mendengar.


Kiran tersenyum kikuk, lupa kalau disebelahnya ada bude Asni. Mereka berdua sedang menonton televisi di ruang tengah.


"Tidak Bude," jawab Kiran sambil menggeleng kecil.


Ini rumah tangga atau rumah tunggu? Batin Kiran kesal.


Andaikan Aslan berkata jika ia tidak bisa datang kesini, pastilah Kiran tidak akan berharap lebih. Tapi sayang, kata Akan Datang itu sudah terucap dan Kiran berharap penuh kata-kata itu akan dipenuhi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah utama.


Maya merasa begitu lemas, ia terus menggenggam tangan sang suami agar tak beranjak pergi.


"May, malam ini biar Umi yang menemani kamu tidur Nak. Biarkan Aslan menemui Kiran dulu, kasihan Kiran, karena ini malam pertamanya tinggal di rumah asing." Jelas Yuli.


Bukan apa-apa, sebenarnya Kiran sudah banyak mengalah dan Yuli tahu itu. Semenjak Maya hamil, Aslan lebih banyak menghabiskan malam bersama Maya bahkan saat jatah malamnya sudah habis.


"Sayang, malam ini tidurlah dengan Umi ya?" pinta Aslan pula, bukan ia tak menyayangi sang istri pertama lagi. Tapi kini keadaannya lain, ia memiliki istri lain yang harus diurus.


Maya terdiam, hatinya seperti sengaja diremat oleh sang suami serta mertuanya sekaligus.


Padahal aku sudah hamil, tapi kenapa mereka masih saja memikirkan mbak Kiran? bahkan setelah mbak Kiran pergi dari rumah ini. Tanya Maya di dalam hati, hati yang penuh dengan kekesalan.

__ADS_1


Perlahan, Maya mulai melepaskan sang suami. Meski dengan berat hati.


"Baiklah Mas, aku mengalah." jawab Maya lirih.


Aslan dan Yuli terdiam, mereka memahami jika wanita hamil lebih sensitif.


"Pergilah dan temui mbak Kiran, aku titip salam untuknya."


Aslan mengangguk dan Yuli tersenyum.


Tanpa babibu lagi, Aslan lalu mencium kening sang istri dan bergegas keluar. Ia harus sampai di rumah Kiran sebelum malam semakin larut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam setengah 10 malam, bell rumah Kiran berbunyi. Asni yang sedang menonton TV bergerak perlahan untuk bangkit dan membuka pintu itu.


Benar seperti dugaannya, jika tamu yang datang malam-malam begini pastilah sang Tuan, majikannya sendiri.


"Tuan, silahlan masuk." ucap Asni sopan dan Aslan langsung masuk dengan tergesa.


"Apa Kiran sudah tidur?"


"Sudah Tuan." jawab Asni apa adanya.


Namun tak berselang lama, langkah buru-buru Aslan itu terhenti di ruang tengah. Dilihatnya sang istri yang tertidur meringkuk diatas sofa.


"Tidur disini?"


"Iya Tuan," jawab Asni dengan suara pelan, tak ingin menciptakan suara yang bisa membangunkan Kiran.


Aslan lalu memerintahkan Asni untuk segera beristirahat. Setelah Asni pergi, ia mendekat kepada sang istri.


Aslan berjongkok dengan salah satu lutut sebagai tumpuan, dipandanginya wajah Kiran yang sudah tertidur pulas.


Dimatanya, Kiran begitu cantik meski sedang tertidur seperti ini. Semakin ia pandangi, semakin membuatnya terlena, seolah wajah itu terpahat dengan sempurna.


"Ran." panggil Aslan pelan, satu tangannya merapikan rambut sang istri yang jatuh ke wajah.


Merasa ada pergerakan, Kiran menggeliat, tidurnya terganggu.


Perlahan, mata itu terbuka dan yang pertama kali dilihatnya adalah wajah sang suami.


Mimpi. Batin Kiran.

__ADS_1


__ADS_2