
Dengan senyum mengembang, Kiran keluar dari ruangan dokter Meta. Yang pertama kali dilihatnya adalah Agung, yang langsung bangkit dari kursi tunggu dan menghampirinya dengan wajah penuh tanya.
Agung berjongkok, menyesuaikan Kiran yang kini selalu berjalan menggunakan kursi roda.
"Bagaimana?" tanyanya antusias.
"Aku hamil!" jawab Kiran seolah ingin melompat-lompat.
"Alhamdulilah," balas Agung, ia lalu memeluk tubuh Kiran erat, memberi selamat, juga mensyukuri bahwa sahabatnya kini bisa kembali ceria.
Keduanya berpelukan, persis teletubies. Berpelukan dan bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Sudah Gung, sesak," ledek Kiran dan Agung langsung melerai pelukannya.
"Enak tapi kan? serasa dipeluk suami sendiri," kekeh Agung melucu, tapi Kiran malah sendu.
"Sudahlah, jangan bersedih lagi, mas Fahmi sudah menceritakan semuanya padaku tentang suamimu itu, siapa namanya? Aslan?" tebak Agung dengan wajah cengo.
Hingga kini ia masih belum menyadari jika Aslan suami Kiran adalah adik kelasnya saat SMA dulu. Bahkan dulu, Agung dan teman-temannya sering mengerjai Aslan.
"Iya, mas Aslan," jawab Kiran lemah, ia menghela napas berat setelah menyebut satu nama itu.
Entah kenapa, tiap hari cintanya tak pernah berkurang. Bahkan saat pertama kali mengetahui ia masih hamil, orang yang pertama kali diingatnya adalah Aslan.
Aslan, pria yang sudah menyatukan kepingan hatinya lalu dihancurkannya kembali.
"Ayo kembali ke kamar," ajak Agung seraya bangkit, mengambil posisi dibelakang Kiran dan mulai mendorong kursi roda itu.
"Jadi sekarang kamu sudah jadi janda?" tanya Agung saat mereka sudah sampai di ruang rawat Kiran.
Perlahan, Agung membantu Kiran untuk kembali berbaring di atas ranjang.
Kiran tidak langsung menjawab pertanyaan Agung, seolah ia tidak menginginkan akan hal itu.
"Kalau begitu, biar aku yang jadi ayah anakmu tapi aku tidak ingin menikahimu," jelas Agung sungguh-sungguh dan Kiran mencebik kesal.
"Kenapa? hanya kamu pria yang tidak mau menikahiku," tanya Kiran dengan nada ketus dan Agung langsung terkekeh.
"Karena aku tahu semua sifat burukmu, hahaha," jawab Agung yang kemudian tertawa terbahak.
Tawa itu hilang, saat Kiran menyumpal mulutya dengan buah jeruk diatas nakas.
"Awh, lihatlah, sebagai seorang wanita, kamu itu kasar sekali," jujur Agung dengan kesal, lalu mengembalikan jeruk itu lagi diatas nakas.
"Aku akan sering mengunjungimu, tapi tidak bisa setiap hari, aku kan juga harus mencari nafkah untuk anakku," canda Agung seraya hendak mengelus perut Kiran.
Namun urung takkala Kiran menepisnya dengan kuat.
Plak!
__ADS_1
"Aw, KDRT Ran," keluh Agung sambil meniup-niup tangannya sendiri.
"Bodo amat," jawab Kiran tidak peduli.
Dan Agung malah mengulum senyumnya, bersyukur, Kiran bukanlah wanita yang lemah. Dengan semua masalahnya itu, ia masih terlihat tegar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
1 bulan berlalu dan Aslan masih belum bisa menemukan Kiran. Kini, ia sudah benar-benar bercerai dengan Maya, sah secara agama dan hukum negara.
Bahkan Aslan pun sudah mengantarkan Maya kembali kepada kedua orang tuanya.
Pagi ini, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Setelah shalat subuh, Aslan memandangi barang-barang sang istri yang masih tertinggal di rumah mereka.
Tertata dengan rapi.
Kembali, ia membuka ponsel Kiran yang sebagian layarnya sudah pecah.
Dilihatnya dalam ponsel itu penuh dengan foto-fotonya sendiri, yang diam-diam diambil oleh Kiran.
Melihat itu, Aslan tersenyum kecut. Masih teringat dengan jelas semua kenangannya bersama Kiran, yang kini rasanya hanya sebagai angan-angan.
"Ya Allah, hamba mohon, pertemukanlah hamba dengan Kiran," lirihnya penuh harap, doa yang selalu ia panjatkan.
Bukan hanya rindu yang Aslan rasakan, juga rasa bersalah yang sangat menyiksa. Andaikan saat itu ia tidak pergi, andaikan saat itu ia memilih untuk tetap tinggal, pasti semuanya tidak akan seperti ini.
"Ya Allah, maafkan hamba," gumam Aslan pelan, sadar jika semuanya sudah digariskan oleh Allah. Ia tak punya hak untuk mengeluh.
Ting!
Tiba-tiba ponsel Kiran berbunyi, menunjukkan pengingat.
Besok ulang tahun Agung. Catatan dalam pengingat tersebut.
Seketika itu juga, Aslan seperti menemukan sebuah petunjuk untuk menemukan sang istri.
Agung adalah rekan kerja sekaligus sahabat Kiran.
"Ya Allah, kenapa aku sampai lupa dengan mas Agung," ucapnya dengan semangat yang kembali menghampiri.
Selama ini, Aslan hanya sibuk mencari Kiran dengan menemui beberapa kerabat sang istri yang tinggal di Lampung.
Buru-buru, Aslan segera bersiap untuk menemui Agung.
Aslan yakin, jika Agung pasti mengetahui dimana keberadaan sang istri saat ini.
20 menit perjalanan, akhirnya ia sampai di dealer tempat Agung bekerja, dulu, Kiran juga bekerja disini. Aslan tidak langsung turun dari dalam mobil, karena dealer itu masih tutup, dilihatnya jam dipergelangan tangan, masih jam 6 pagi.
Aslan tak peduli itu, ia setia menunggu disana.
__ADS_1
Menyaksikan pintu itu terbuka dan satu per satu karyawan yang berdatangan.
Tepat jam 7.30 pagi, ia melihat Agung turun dari dalam sebuah mobil. Melihat itu, Aslan pun buru-buru ikut turun dan berlari menghampiri Agung.
"Mas Agung!" teriak Aslan yang tak ingin kehilangan Agung, seseorang yang dikenalnya sebagai sahabat sang istri sejak SMA dulu.
Melihat kedatangan Aslan, Agung bergeming.
Ia masih mengingat, siapa pria ini? pikirnya.
"Mas, dimana Kiran?" tanya Aslan langsung saat sudah berada di hadapan Agung. Mulutnya tak bisa basa basi, yang pertama kali keluar hanyalah tentang dimana Kiran. Sesuatu yang menjadi pertanyaannya selama ini.
Mendapati pertannyaan itu, Agung mengeryit bingung.
"Saya Aslan Mas, suami Kiran," jelas Aslan yang melihat kebingungan Agung.
Didalam hatinya, Agung berOh ria.
Diperhatikannya lekat wajah Aslan yany nampak lebih kurus. Dulu ia pernah bertemu sekali di rumah Kiran saat hendak mengambil flashdisk, namun dulu Aslan tidak sekurus ini.
Melihat perubahan Aslan itu, Agung jadi teringat dengan Kiran. Perubahan yang sama persis, pikirnya.
Mendadak iba menyentuh hatinya, merasa kasihan pada Kiran dan Aslan sekaligus.
Tapi, ia sudah berjanji pada Fahmi untuk merahasiakan keberadaan Kiran dari siapapun.
"Aku tidak tahu," jawab Agung bohong, ia handak berlalu, namun bahunya ditahan oleh Aslan dengan cepat.
"Aku mohon Mas, jika Mas tahu dimana keberadaan Kiran tolong beri tahu aku," lirih Aslan dengan wajah yang begitu sendu.
Agung adalah harapan satu-satunya, tapi malah memberikan jawaban yang begitu mengecewakan.
Melihat itu, Agung terenyuh, namun tiba-tiba teringat alasan Kiran pergi Agung kembali kukuh.
Tidak akan memberi tahu keberadaan Kiran, apalagi kepada Aslan.
"Aku memang tahu keberadaan Kiran, tapi aku tidak akan memberitahukannya padamu," jawab Agung dengan suara yang dingin.
Dan Aslan langsung gamang.
"Kenapa?" tanya Aslan langsung.
"Karena Kiran tidak ingin menemuimu,"
Deg! seperti teremat, dada Aslan terasa begitu sesak, nafasnya tercekak ditenggorokan dan terasa begitu sakit.
Ternyata Kiran bukan pergi karena Fahmi, melainkan karena keinginannya sendiri.
Pergi, meninggalkannya tanpa kata.
__ADS_1