
Masuk ke dalam kamarnya, Aslan mendengar suara
gemericik air dari dalam kamar mandi. Bisa dipastikan, jika saat ini istrinya
itu sedang mandi.
Kiran, melanggar janjinya sendiri untuk mandi
bersama sore ini.
Aslan tersenyum miring, merasa kesempatan kali ini
bisa membuat Kiran kembali tidur bersama dengannya.
Selesai melepas sepatu dan membereskannya sendiri,
Aslan lalu duduk disisi ranjang. Mulai melepas dasi dan juga kancing di
pergelangan tangan.
Menunggu sang istri keluar dari dalam kamar mandi
dengan raut wajah kecewa, dan sedikit kesal.
Cukup lama menunggu, akhirnya pintu itu terbuka,
nampaklah Kiran yang keluar dari sana dengan tubuhnya yang basah, berbalut
handuk berwarna merah muda, sangat menggoda.
Apalagi saat melihat kaki jenjang itu tak tertutup
apapun. Namun sekuat tenaga, Aslan menguasai diri, ia tak boleh terpancing dan
tergoda dengan istrinya itu. Tekadnya sudah bulat, untuk bersikap merajuk, lalu
meminta Kiran untuk malam ini tidur disini.
“Sayang,” sapa Kiran. Lalu menghampiri Aslan,
berdiri tepat dihadapan suaminya itu. Menunjukkan sisa-sisa air yang masih
mengalir ditubuhnya.
Ah sial, keluh Aslan didalam hati.
Ia bahkan sampai harus meremat kedua tangannya kuat agar
bisa mengendalikan diri, meski keinginan untuk menyentuh sudah sampai di
ubun-ubun.
Kiran mengeryit bingung, saat melihat wajah suaminya
yang nampak kesal, Aslan bahkan enggan untuk menatap kedua matanya.
“Mas kenapa? Ada masalah di Bank?” tanya Kiran
perhatian, ia bahkan sampai duduk disebelah Aslan, hingga handuknya sedikit
tersingkap dan makin nampaklah paha putih mulus dan lembab itu.
Dan Aslan hanya mampu menghembuskan napasnya berat
seraya menelan saliva dengan susah payah.
“Ku pikir kamu akan menungguku, ternyata ...” ucap
Aslan menggangtung, membiarkan istrinya itu berpikir sejenak dan kembali
mendapatkan ingatannya.
Dan benar saja, seketika kedua netra Kiran membola kala
ia teringat sudah melupakan sesuatu, tentang rencana mereka untuk kembali mandi
bersama sore ini. Lalu menatap tubuhnya sendiri yang sudah basah.
Dan berakhir dengan menampakkan senyum kuda pada
sang suami, “Ku kira tadi kita hnay bercanda,” jawab Kiran mencoba mengalihkan
perhatian, ia bahkan mengelus lengan suaminya dengan sayang.
__ADS_1
Aslan tak bergeming, malah memalingkan wajah.
“Lalu kapan aku memiliki waktu yang banyak
bersamamu, saat siang kita kerja, saat malam kamu tidur di kamar Aydan, aku
hanya minta waktu bersama saat pulang kerja, tapi kamu juga mengabaikannya,”
keluh Aslan dengan wajahnya yang datar, tanpa ekspresi.
Aslan sudah betekad, akan membuat istrinya itu
merasa bersalah, lalu memutuskan untuk tidur di kamar ini. Menghadapi Kiran,
kini Aslan butuh strategi baru.
Mendengar itu, Kiran jadi murung dan merasa
bersalah, bahkan hatinya langsung merasa sedih sekali. Ternyata melihat sang
suami yang kecewa, hatinya sesesak ini.
“Maafkan aku Mas,” ucap Kiran, ia bahkan langsung
bangkit dari duduknya dan pindah duduk dipangkuan Aslan. Hingga membuat Aslan
tersentak dan makin susah bernapas.
Tangan Aslan yang sedari tadi bersusah payah untuk
tak menyentuh, kini langsung saja memeluk pinggang Kiran erat, berdalih agar
sang istri tidak terjatuh.
“Maaf tidak membuatmu kembali tidur di kamar ini,”
jawab Aslan, yang masih setia menurunkan pandangannya menatap lantai, tak
menatap kedua mata sang istri.
Padahal Aslan hanya tak kuasa melihat tubuh Kiran yang
menyembul keluar itu.
“Hanya malam ini?” tanya Alan, mendesak dan
memojokkan, makin membuat Kiran merasa tak tenang dengan pertanyaannya itu.
“Tidak, besok besok dan seterusnya juga,” jawab
Kiran cepat, lalu menggantungkan kedua tangannya dileher sang suami.
“Benarkah?” Aslan menatap dalam kedua netra Kiran dan
Kiran langsung menganggukkan kepalanya.
Tak bisa menahan diri lagi, akhirnya Aslan menarik
handuk istrinya itu dan tertanggal begitu saja. Lalu menjamahnya dengan sesuka
hati, lengkap dengan ciuman dalam yang ia berikan. Tak hanya mendesah, Kiran
bahkan menggelinjang tak karuan.
****
Keluar dari dalam kamar untuk makan malam, Aslan
langsung menggendong sang anak, Aydan.
Wajahnya berseri sekali, seolah baru saja
memenangkan sebuah perlombaan.
“Malam ini, Aydan ayah yang suapi ya?” ucap Aslan,
berucap pada sang anak yang sudah duduk dikursi khusus Aydan makan. Kursi yang
tingginya sama seperti kursi orang dewasa, hingga wajah Aydan pun nampak di
meja makan keluarga itu.
Aydan mengangguk, sudah mulai mengerti apa yang
__ADS_1
diucapkan oleh orang lain, meskipun ia belum bisa mengucapkannya.
“Anak pintar,” puji Aslan, lalu mulai mengambil
mangkok kecil milik sang anak.
Saat Aslan sibuk menyuapi Aydan, yang lainnya sudah
lebih dulu makan malam. Sesekali Kiran pun menyuapi suaminya itu dari piring
miliknya.
Yuli, Iwan dan semua orang yang melihat pemandangan
itu pun ikut merasa bahagia, ikut bersyukur, menyaksikan keluarga Aslan yang
nampak rukun dan bahagia.
“Ran, tambah lagi nasinya, kan sekarang diperutmu
sudah ada adeknya Aydan, jadi makan yang banyak,” titah Yuli, ia bahkan
langsung menambahkan sendiri nasi dipiring sang menantu, juga menambahkan lauk
yang akhir-akhir ini disukai Kiran, ayam semur.
“Terima kasih Umi,” sahut Kiran dengan riang, lalu
makan dengan lahap pula.
Melupakan semua diet yang selama ini ia terapkan.
“Sayang, suapi aku lagi,” pinta Aslan, yang
akhir-akhir ini kurang perhatian, bahkan kini tingkah manjanya jadi melebihi
Aydan.
“Sini, Aydan biar Oma yang suap, kamu makan sendiri saja,”
pinta Yuli namun Aslan dengan cepat menjauhkan mangkuk itu dari tangan sang
ibu.
Aslan menolak, “Tidak Umi, malam ini Aydan akan
makan dengan ayah, ya kan Ay?”
Dan Aydan menjawabnya dengan sebuah kekehan, jika
boleh memilih, Aydan lebih suka makan sendiri.
Makan malam kali ini, keluarga mereka lebih lama
berada di meja makan. Karena Aslan, lebih banyak bermain-main daripada menyuapi
sang anak. Dan Yuli tidak akan tenang jika Aydan belum menghabiskan semua makananya.
“Besok-besok kamu tidak usah suapi Aydan lagi,” titah
Yuli dengan raut wajahnya yang kesal, sedangkan Aslan menggaruk kepalanya yang
tidak gatal.
Bukan tanpa sebab kenapa Yuli sampai uring-uringan
begini, makanan Aydan belum habis, tapi bayi mungil ini malah sudah lebih dulu
terlelap. Bahkan wajahnya masih kotor penuh dengan makanan, belum sempat
dibersihkan dan Aydan sudah terlelap.
Karena Aslan, terlalu lama menyuapi.
Sementara jam tidur Aydan tak bisa diundur-undur.
“Minggir!” kesal Yuli pada sang anak, lalu membawa
cucunya itu untuk digendongnya dan naik kelantai dua, membersihkan wajah Aydan
lalu membaringkannya di dalam box bayi.
Kiran yang melihat hanya mampu menggelengkan
__ADS_1
kepalanya, lalu menarik sang suami untuk pergi darisana juga.