Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 110


__ADS_3

Masuk ke dalam kamarnya, Aslan mendengar suara


gemericik air dari dalam kamar mandi. Bisa dipastikan, jika saat ini istrinya


itu sedang mandi.


Kiran, melanggar janjinya sendiri untuk mandi


bersama sore ini.


Aslan tersenyum miring, merasa kesempatan kali ini


bisa membuat Kiran kembali tidur bersama dengannya.


Selesai melepas sepatu dan membereskannya sendiri,


Aslan lalu duduk disisi ranjang. Mulai melepas dasi dan juga kancing di


pergelangan tangan.


Menunggu sang istri keluar dari dalam kamar mandi


dengan raut wajah kecewa, dan sedikit kesal.


Cukup lama menunggu, akhirnya pintu itu terbuka,


nampaklah Kiran yang keluar dari sana dengan tubuhnya yang basah, berbalut


handuk berwarna merah muda, sangat menggoda.


Apalagi saat melihat kaki jenjang itu tak tertutup


apapun. Namun sekuat tenaga, Aslan menguasai diri, ia tak boleh terpancing dan


tergoda dengan istrinya itu. Tekadnya sudah bulat, untuk bersikap merajuk, lalu


meminta Kiran untuk malam ini tidur disini.


“Sayang,” sapa Kiran. Lalu menghampiri Aslan,


berdiri tepat dihadapan suaminya itu. Menunjukkan sisa-sisa air yang masih


mengalir ditubuhnya.


Ah sial, keluh Aslan didalam hati.


Ia bahkan sampai harus meremat kedua tangannya kuat agar


bisa mengendalikan diri, meski keinginan untuk menyentuh sudah sampai di


ubun-ubun.


Kiran mengeryit bingung, saat melihat wajah suaminya


yang nampak kesal, Aslan bahkan enggan untuk menatap kedua matanya.


“Mas kenapa? Ada masalah di Bank?” tanya Kiran


perhatian, ia bahkan sampai duduk disebelah Aslan, hingga handuknya sedikit


tersingkap dan makin nampaklah paha putih mulus dan lembab itu.


Dan Aslan hanya mampu menghembuskan napasnya berat


seraya menelan saliva dengan susah payah.


“Ku pikir kamu akan menungguku, ternyata ...” ucap


Aslan menggangtung, membiarkan istrinya itu berpikir sejenak dan kembali


mendapatkan ingatannya.


Dan benar saja, seketika kedua netra Kiran membola kala


ia teringat sudah melupakan sesuatu, tentang rencana mereka untuk kembali mandi


bersama sore ini. Lalu menatap tubuhnya sendiri yang sudah basah.


Dan berakhir dengan menampakkan senyum kuda pada


sang suami, “Ku kira tadi kita hnay bercanda,” jawab Kiran mencoba mengalihkan


perhatian, ia bahkan mengelus lengan suaminya dengan sayang.

__ADS_1


Aslan tak bergeming, malah memalingkan wajah.


“Lalu kapan aku memiliki waktu yang banyak


bersamamu, saat siang kita kerja, saat malam kamu tidur di kamar Aydan, aku


hanya minta waktu bersama saat pulang kerja, tapi kamu juga mengabaikannya,”


keluh Aslan dengan wajahnya yang datar, tanpa ekspresi.


Aslan sudah betekad, akan membuat istrinya itu


merasa bersalah, lalu memutuskan untuk tidur di kamar ini. Menghadapi Kiran,


kini Aslan butuh strategi baru.


Mendengar itu, Kiran jadi murung dan merasa


bersalah, bahkan hatinya langsung merasa sedih sekali. Ternyata melihat sang


suami yang kecewa, hatinya sesesak ini.


“Maafkan aku Mas,” ucap Kiran, ia bahkan langsung


bangkit dari duduknya dan pindah duduk dipangkuan Aslan. Hingga membuat Aslan


tersentak dan makin susah bernapas.


Tangan Aslan yang sedari tadi bersusah payah untuk


tak menyentuh, kini langsung saja memeluk pinggang Kiran erat, berdalih agar


sang istri tidak terjatuh.


“Maaf tidak membuatmu kembali tidur di kamar ini,”


jawab Aslan, yang masih setia menurunkan pandangannya menatap lantai, tak


menatap kedua mata sang istri.


Padahal Aslan hanya tak kuasa melihat tubuh Kiran yang


menyembul keluar itu.


“Hanya malam ini?” tanya Alan, mendesak dan


memojokkan, makin membuat Kiran merasa tak tenang dengan pertanyaannya itu.


“Tidak, besok besok dan seterusnya juga,” jawab


Kiran cepat, lalu menggantungkan kedua tangannya dileher sang suami.


“Benarkah?” Aslan menatap dalam kedua netra Kiran dan


Kiran langsung menganggukkan kepalanya.


Tak bisa menahan diri lagi, akhirnya Aslan menarik


handuk istrinya itu dan tertanggal begitu saja. Lalu menjamahnya dengan sesuka


hati, lengkap dengan ciuman dalam yang ia berikan. Tak hanya mendesah, Kiran


bahkan menggelinjang tak karuan.


****


Keluar dari dalam kamar untuk makan malam, Aslan


langsung menggendong sang anak, Aydan.


Wajahnya berseri sekali, seolah baru saja


memenangkan sebuah perlombaan.


“Malam ini, Aydan ayah yang suapi ya?” ucap Aslan,


berucap pada sang anak yang sudah duduk dikursi khusus Aydan makan. Kursi yang


tingginya sama seperti kursi orang dewasa, hingga wajah Aydan pun nampak di


meja makan keluarga itu.


Aydan mengangguk, sudah mulai mengerti apa yang

__ADS_1


diucapkan oleh orang lain, meskipun ia belum bisa mengucapkannya.


“Anak pintar,” puji Aslan, lalu mulai mengambil


mangkok kecil milik sang anak.


Saat Aslan sibuk menyuapi Aydan, yang lainnya sudah


lebih dulu makan malam. Sesekali Kiran pun menyuapi suaminya itu dari piring


miliknya.


Yuli, Iwan dan semua orang yang melihat pemandangan


itu pun ikut merasa bahagia, ikut bersyukur, menyaksikan keluarga Aslan yang


nampak rukun dan bahagia.


“Ran, tambah lagi nasinya, kan sekarang diperutmu


sudah ada adeknya Aydan, jadi makan yang banyak,” titah Yuli, ia bahkan


langsung menambahkan sendiri nasi dipiring sang menantu, juga menambahkan lauk


yang akhir-akhir ini disukai Kiran, ayam semur.


“Terima kasih Umi,” sahut Kiran dengan riang, lalu


makan dengan lahap pula.


Melupakan semua diet yang selama ini ia terapkan.


“Sayang, suapi aku lagi,” pinta Aslan, yang


akhir-akhir ini kurang perhatian, bahkan kini tingkah manjanya jadi melebihi


Aydan.


“Sini, Aydan biar Oma yang suap, kamu makan sendiri saja,”


pinta Yuli namun Aslan dengan cepat menjauhkan mangkuk itu dari tangan sang


ibu.


Aslan menolak, “Tidak Umi, malam ini Aydan akan


makan dengan ayah, ya kan Ay?”


Dan Aydan menjawabnya dengan sebuah kekehan, jika


boleh memilih, Aydan lebih suka makan sendiri.


Makan malam kali ini, keluarga mereka lebih lama


berada di meja makan. Karena Aslan, lebih banyak bermain-main daripada menyuapi


sang anak. Dan Yuli tidak akan tenang jika Aydan belum menghabiskan semua makananya.


“Besok-besok kamu tidak usah suapi Aydan lagi,” titah


Yuli dengan raut wajahnya yang kesal, sedangkan Aslan menggaruk kepalanya yang


tidak gatal.


Bukan tanpa sebab kenapa Yuli sampai uring-uringan


begini, makanan Aydan belum habis, tapi bayi mungil ini malah sudah lebih dulu


terlelap. Bahkan wajahnya masih kotor penuh dengan makanan, belum sempat


dibersihkan dan Aydan sudah terlelap.


Karena Aslan, terlalu lama menyuapi.


Sementara jam tidur Aydan tak bisa diundur-undur.


“Minggir!” kesal Yuli pada sang anak, lalu membawa


cucunya itu untuk digendongnya dan naik kelantai dua, membersihkan wajah Aydan


lalu membaringkannya di dalam box bayi.


Kiran yang melihat hanya mampu menggelengkan

__ADS_1


kepalanya, lalu menarik sang suami untuk pergi darisana juga.


__ADS_2