
Biasanya, saat pulang kerja seperti ini Kiran akan
menyambut kedatangan sang suami. Tapi sore ini yang menyambut bukanlah Kiran,
melainkan mbak Desi.
“Mbak Kiran masih tidur Pak, di kamar Aydan,” jelas
Desi, yang sudah menggendong Aydan di salah satu tangannya.
Aslan tak memberikan tanggapan apapun, hanya
menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Aydan, sedang makan nasi, disuapi oleh
Desi. Setelah mengelus pucuk kepala sang anak dengan sayang, Aslan segera
menyusul ketempat sang istri.
Naik ke lantai dua rumah itu dan menuju kamar sang
anak, Aydan.
Pertama kali membuka pintu, kedua mata Aslan
langsung mengunci keberadaan sang istri, yang sedang meringkuk tertidur diatas
ranjang sana.
Dengan bibir yang tersenyum, Aslan menghampiri. Duduk
disisi ranjang dan menatap lekat wajah Kiran. Wajah, yang baginya semakin
cantik jika sedang terlelap seperti ini.
Sejenak, Aslan mengalihkan perhatiannya dari wajah
sang istri, ia melihat jam dipergelangan tangan kirinya. Saat itu waktu
menunjukkan jam setengah lima sore.
“Ran, bangun sayang,” ucap Aslan, seraya mengelus
lembut bahu Kiran.
Yang dibangunkan tak memberi respon apapun, bahkan
deru napasnya masih terdengar teratur. Menandakan Kiran, masih tertidur dengan
sangat nyenyak.
“Ran,” panggil Aslan sekali lagi.
Merasa tak
ada pergerakan, Aslan pun tersenyum menyeringai.
Menelusupkan tangannya masuk ke dalam baju sang istri,
meraba dua benda yang terasa begitu hangat. Pergerakan lembutnya, membuat Kiran
melenguh meski di bawah alam sadar.
Dan kedua netra Kiran langsung membola, kala Aslan
menambah kekuatannya meremas.
“Mas! Ih!” Kesal Kiran, ia bahkan langsung menepuk
tangan suaminya itu.
Dan Aslan hanya terkekeh, seraya mengeluarkan
tangannya kembali.
“Aku baru tahu,” ucap Aslan kemudian, hingga membuat
Kiran mengeryit bingung.
“Tau apa?” tanya Kiran ketus, masih kesal. Apalagi hingga
kini kedua dadanya masih terasa berdenyut.
“Ternyata membangunkan istri yang sedang tidur itu
seperti ini,” jelas Aslan kemudian, lalu menggerakkan kedua tangannya membuat
gerakan meremas.
“Hih! Mas Aslan!” kesal Kiran, bangun tidur dan ia
sudah digoda habis-habisan.
Dan Kiran makin memekik, Saat Aslan tanpa basa basi
langsung menggendongnya. Membawa Kiran untuk kembali ke kamar mereka sendiri.
__ADS_1
“Turunin Mas, malu kalau ada yang lihat,” ucap
Kiran, meski begitu ia menggantungkan kedua tangannya dileher sang suami, takut
jatuh.
“Buat apa malu, kita kan sudah menikah. Kalau belum
menikah terus gendong-gendongan seperti ini baru malu,” jawab Aslan yang tak
mau kalah.
Berbicara dengan Kiran, ia memang harus lebih jago
berkilah.
Sampai didepan pintu kamar mereka, Kiran yang bertugas
membuka pintu itu, lalu kembali menutupnya dengan rapat.
“Mau apa?” tanya Kiran, saat sampai di dalam sana
dan Aslan belum juga menurunkan dirinya.
“MB. Mandi Bersama,” balas Aslan, tanpa menunggu
jawaban ataupun persetujuan sang istri, Aslan dengan cepat mencium bibir Kiran,
seraya terus berjalan menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi itu, bukan suara gemericik air
yang terdengar, namun suara lenguhaan dan desahaan dari keduanya, yang saling
bersahutan.
***
Hari berlalu, dan entah sudah berapa lama Alfath
tidak menghubungi Dinda.
Selama waktu itu pula, Dinda banyak menghabiskan waktunya
untuk membahagiakan diri sendiri.
Bepergian kemanapun yang ia mau, makan apapun yang
ia suka, bahkan setiap hari ia akan menemai Akbar untuk bermain playground.
pikirannya atas Alfath. Namun saat malam hari menjelang, rindu itu kembali
bersarang.
Tak bisa membohongi diri sendiri, hati Dinda masih
begitu mengharap Alfath akan datang, kembali menemui dirinya dan kembali
memperbaiki hubungan mereka.
Seperti malam ini.
Hingga tengah malam, Dinda masih juga belum bisa
memejamkan matanya.
Sesekali ia tersenyum getir, kala mengingat nasibnya
yang jadi seperti ini. Bisa dipastikan, jika tak lama lagi ia akan menyandang
status sebagai seorang janda.
Pikiran-pikiran buruk pun mulai menghantui,
membayangkan jika mungkin diseberang sana Alfath sudah menemukan tambatan hati
yang baru.
Karena itulah, dengan mudah ia pergi begitu saja.
“Kita akan baik-baik saja sayang, mama pastikan itu,”
ucap Dinda, berbicara dengan Akbar yang sudah tertidur nyenyak.
Bahkan lampu kamar itu sudah dibuat temaram.
Malam ini, Dinda memutuskan untuk tidur di kamar
Akbar, tidur dikamarnya sendiri membuat ia selalu ingat dengan sosok sang
suami.
Mengingat saat mereka berbagi peluh diatas ranjang
itu.
__ADS_1
Lagi, Dinda menghela napasnya berat.
“Mbak Dinda, kenapa belum tidur?” tanya Asih,
pengasuh Akbar yang berada di kamar itu pula.
Dinda tak langsung menjawab, ia hanya mampu
tersenyum getir.
Asih bukannya tidak tahu, jika majikannya itu pasti
sedang memikirkan sang suami. Namun Asih sungguh tak tega melihatnya.
Asih bangkit dari tidurnya dan menghampiri Dinda.
“Saya buatkan teh ya Mbak,” tawar Asih dan Dinda
menggeleng.
“Tidak usah Sih, aku akan ambil minum sendiri,”
jawab Dinda akhirnya, dan Asih akhirnya hanya bisa mengangguk.
Saat itu juga, Dinda bangkit dari kursi yang ada disebelah
tempat tidur Akbar dan keluar dari dalam kamar itu.
Berjalan dengan lesu menuju arah dapur.
Sebagian lampu di rumah itu sudah dimatikan, namun
sungguh Dinda tak berniat sedikitpun untuk kembali menghidupkan lampu-lampu
itu, ia malah merasa nyaman berjalan diatara lampu yang temaram.
Sampai di dapur, Dinda langsung menuang segelas air
putih didalam gelas. Hingga penuh bahkan nyaris tumpah karena ia melamun.
Bahkan Dinda sampai beristigfar kala menyadari
kelakuannya itu.
Dinda, meneguk air di dalam gelas hingga tandas.
Entahlah, tenggorokannya yang kering atau hatinya
yang jadi tandus.
Hingga ia membutuhkan banyak air untuk tubuhnya.
Setelah air itu habis, Dinda tidak langsung kembali.
Ia membuka lemari pendingin dan melihat isinya. Beberapa buah kesukaan Alfath
masih tertata rapi disana. Dinda memang sengaja menyimpan itu, berharap saat
alfath kembali suaminya itu akan memakannya hingga habis.
Tapi lagi-lagi, Dinda hanya bisa tersenyum getir.
Mengambil satu buah apel, lalu memakannya, mencoba
menikmati meskipun rasanya begitu hambar.
Dengan langkah yang lebih cepat, Dinda memutuskan
untuk kembali ke kamar sang anak. Mencoba mengubur semua harapan-harapan yang
terlalu tinggi ini.
“Jika mas Alfath saja bisa, harusnya kamu juga bisa
Din,” ucap Dinda pada dirinya sendiri.
“Bismilah, mulai sekarang kamu harus melupakan mas
alfath,” lagi, Dinda berucap sendiri, seraya terus mengunyah apel itu dan terus
berjalan menuju kamar sang anak.
Namun alangkah terkejutnya Dinda, ketika pergelangan
tangannya dicekal oleh seseorang dengan begitu kasar,
Dinda menjerit, lalu dengan cepat pula pria itu
membekap mulut Dinda.
Dan seketika Kkedua netra Dinda membola, kala
melihat pria itu adalah suaminya sendiri, Alfath.
Mas Alfath. Batin Dinda gamang.
__ADS_1