Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 122


__ADS_3

Biasanya, saat pulang kerja seperti ini Kiran akan


menyambut kedatangan sang suami. Tapi sore ini yang menyambut bukanlah Kiran,


melainkan mbak Desi.


“Mbak Kiran masih tidur Pak, di kamar Aydan,” jelas


Desi, yang sudah menggendong Aydan di salah satu tangannya.


Aslan tak memberikan tanggapan apapun, hanya


menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Aydan, sedang makan nasi, disuapi oleh


Desi. Setelah mengelus pucuk kepala sang anak dengan sayang, Aslan segera


menyusul ketempat sang istri.


Naik ke lantai dua rumah itu dan menuju kamar sang


anak, Aydan.


Pertama kali membuka pintu, kedua mata Aslan


langsung mengunci keberadaan sang istri, yang sedang meringkuk tertidur diatas


ranjang sana.


Dengan bibir yang tersenyum, Aslan menghampiri. Duduk


disisi ranjang dan menatap lekat wajah Kiran. Wajah, yang baginya semakin


cantik jika sedang terlelap seperti ini.


Sejenak, Aslan mengalihkan perhatiannya dari wajah


sang istri, ia melihat jam dipergelangan tangan kirinya. Saat itu waktu


menunjukkan jam setengah lima sore.


“Ran, bangun sayang,” ucap Aslan, seraya mengelus


lembut bahu Kiran.


Yang dibangunkan tak memberi respon apapun, bahkan


deru napasnya masih terdengar teratur. Menandakan Kiran, masih tertidur dengan


sangat nyenyak.


“Ran,” panggil Aslan sekali lagi.


 Merasa tak


ada pergerakan, Aslan pun tersenyum menyeringai.


Menelusupkan tangannya masuk ke dalam baju sang istri,


meraba dua benda yang terasa begitu hangat. Pergerakan lembutnya, membuat Kiran


melenguh meski di bawah alam sadar.


Dan kedua netra Kiran langsung membola, kala Aslan


menambah kekuatannya meremas.


“Mas! Ih!” Kesal Kiran, ia bahkan langsung menepuk


tangan suaminya itu.


Dan Aslan hanya terkekeh, seraya mengeluarkan


tangannya kembali.


“Aku baru tahu,” ucap Aslan kemudian, hingga membuat


Kiran mengeryit bingung.


“Tau apa?” tanya Kiran ketus, masih kesal. Apalagi hingga


kini kedua dadanya masih terasa berdenyut.


“Ternyata membangunkan istri yang sedang tidur itu


seperti ini,” jelas Aslan kemudian, lalu menggerakkan kedua tangannya membuat


gerakan meremas.


“Hih! Mas Aslan!” kesal Kiran, bangun tidur dan ia


sudah digoda habis-habisan.


Dan Kiran makin memekik, Saat Aslan tanpa basa basi


langsung menggendongnya. Membawa Kiran untuk kembali ke kamar mereka sendiri.

__ADS_1


“Turunin Mas, malu kalau ada yang lihat,” ucap


Kiran, meski begitu ia menggantungkan kedua tangannya dileher sang suami, takut


jatuh.


“Buat apa malu, kita kan sudah menikah. Kalau belum


menikah terus gendong-gendongan seperti ini baru malu,” jawab Aslan yang tak


mau kalah.


Berbicara dengan Kiran, ia memang harus lebih jago


berkilah.


Sampai didepan pintu kamar mereka, Kiran yang bertugas


membuka pintu itu, lalu kembali menutupnya dengan rapat.


“Mau apa?” tanya Kiran, saat sampai di dalam sana


dan Aslan belum juga menurunkan dirinya.


“MB. Mandi Bersama,” balas Aslan, tanpa menunggu


jawaban ataupun persetujuan sang istri, Aslan dengan cepat mencium bibir Kiran,


seraya terus berjalan menuju kamar mandi.


Di dalam kamar mandi itu, bukan suara gemericik air


yang terdengar, namun suara lenguhaan dan desahaan dari keduanya, yang saling


bersahutan.


***


Hari berlalu, dan entah sudah berapa lama Alfath


tidak menghubungi Dinda.


Selama waktu itu pula, Dinda banyak menghabiskan waktunya


untuk membahagiakan diri sendiri.


Bepergian kemanapun yang ia mau, makan apapun yang


ia suka, bahkan setiap hari ia akan menemai Akbar untuk bermain playground.


pikirannya atas Alfath. Namun saat malam hari menjelang, rindu itu kembali


bersarang.


Tak bisa membohongi diri sendiri, hati Dinda masih


begitu mengharap Alfath akan datang, kembali menemui dirinya dan kembali


memperbaiki hubungan mereka.


Seperti malam ini.


Hingga tengah malam, Dinda masih juga belum bisa


memejamkan matanya.


Sesekali ia tersenyum getir, kala mengingat nasibnya


yang jadi seperti ini. Bisa dipastikan, jika tak lama lagi ia akan menyandang


status sebagai seorang janda.


Pikiran-pikiran buruk pun mulai menghantui,


membayangkan jika mungkin diseberang sana Alfath sudah menemukan tambatan hati


yang baru.


Karena itulah, dengan mudah ia pergi begitu saja.


“Kita akan baik-baik saja sayang, mama pastikan itu,”


ucap Dinda, berbicara dengan Akbar yang sudah tertidur nyenyak.


Bahkan lampu kamar itu sudah dibuat temaram.


Malam ini, Dinda memutuskan untuk tidur di kamar


Akbar, tidur dikamarnya sendiri membuat ia selalu ingat dengan sosok sang


suami.


Mengingat saat mereka berbagi peluh diatas ranjang


itu.

__ADS_1


Lagi, Dinda menghela napasnya berat.


“Mbak Dinda, kenapa belum tidur?” tanya Asih,


pengasuh Akbar yang berada di kamar itu pula.


Dinda tak langsung menjawab, ia hanya mampu


tersenyum getir.


Asih bukannya tidak tahu, jika majikannya itu pasti


sedang memikirkan sang suami. Namun Asih sungguh tak tega melihatnya.


Asih bangkit dari tidurnya dan menghampiri Dinda.


“Saya buatkan teh ya Mbak,” tawar Asih dan Dinda


menggeleng.


“Tidak usah Sih, aku akan ambil minum sendiri,”


jawab Dinda akhirnya, dan Asih akhirnya hanya bisa mengangguk.


Saat itu juga, Dinda bangkit dari kursi yang ada disebelah


tempat tidur Akbar dan keluar dari dalam kamar itu.


Berjalan dengan lesu menuju arah dapur.


Sebagian lampu di rumah itu sudah dimatikan, namun


sungguh Dinda tak berniat sedikitpun untuk kembali menghidupkan lampu-lampu


itu, ia malah merasa nyaman berjalan diatara lampu yang temaram.


Sampai di dapur, Dinda langsung menuang segelas air


putih didalam gelas. Hingga penuh bahkan nyaris tumpah karena ia melamun.


Bahkan Dinda sampai beristigfar kala menyadari


kelakuannya itu.


Dinda, meneguk air di dalam gelas hingga tandas.


Entahlah, tenggorokannya yang kering atau hatinya


yang jadi tandus.


Hingga ia membutuhkan banyak air untuk tubuhnya.


Setelah air itu habis, Dinda tidak langsung kembali.


Ia membuka lemari pendingin dan melihat isinya. Beberapa buah kesukaan Alfath


masih tertata rapi disana. Dinda memang sengaja menyimpan itu, berharap saat


alfath kembali suaminya itu akan memakannya hingga habis.


Tapi lagi-lagi, Dinda hanya bisa tersenyum getir.


Mengambil satu buah apel, lalu memakannya, mencoba


menikmati meskipun rasanya begitu hambar.


Dengan langkah yang lebih cepat, Dinda memutuskan


untuk kembali ke kamar sang anak. Mencoba mengubur semua harapan-harapan yang


terlalu tinggi ini.


“Jika mas Alfath saja bisa, harusnya kamu juga bisa


Din,” ucap Dinda pada dirinya sendiri.


“Bismilah, mulai sekarang kamu harus melupakan mas


alfath,” lagi, Dinda berucap sendiri, seraya terus mengunyah apel itu dan terus


berjalan menuju kamar sang anak.


Namun alangkah terkejutnya Dinda, ketika pergelangan


tangannya dicekal oleh seseorang dengan begitu kasar,


Dinda menjerit, lalu dengan cepat pula pria itu


membekap mulut Dinda.


Dan seketika Kkedua netra Dinda membola, kala


melihat pria itu adalah suaminya sendiri, Alfath.


Mas Alfath. Batin Dinda gamang.

__ADS_1


__ADS_2