
Tepat jam 9 malam, Aslan Kiran dan Agung Widya
memutuskan untuk pulang, saat itu juga Aydan sudah terlelap. Karena perut Kiran
semakin besar, maka Aslan lah yang menggendongnya.
Tiap pergi bersama-sama seperti ini, mereka biasa hanya menggunakan 1 mobil. Mobil Agung untuk perjalanan dekat dan mobil Aslan
untuk perjalanan jauh.
Entah kenapa. Kebiasaan seperti itu terus mereka jalani hingga detik ini.
Malam itu, Agung mengemudi, duduk di depan bersama sang istri. Sementara Aslan dan Kiran duduk di kursi belakang.
Mereka semua melambaikan tangan, saat terakhir kali berpamitan pada Dinda dan Alfath. Lengkap dengan senyum yang mengembang dibibir
semua orang.
Selepas mobil itu menghilang, Dinda memeluk suaminya erat. Dan Alfath pun membalas tak kalah erat, bahkan Afath juga mencium pucuk
kepala sang istri dengan sayang.
Dinda. Sangat bersyukur, kini hubungan suaminya dengan sang mantan kekasih sudah benar-benar membaik. Dan Dinda lebih bersyukur
lagi, saat Alfath tak segan menunjukkan cintanya didepan orang lain.
“Mas, aku sangat mencintaimu,” ucap Dinda di dalam dekapan itu. Kini ia sudah benar-benar yakin jika Alfath mencintai dirinya.
Alfath tersenyum, sedikit melerai pelukan mereka dan menyesap bibir manis sang istri.
Melumaatnya dalam hingga terdengar bunyi decapan.
“Aku lebih mencintaimu sayang,” jawab Alfath jujur, perasaan itulah yang kini ada dihatinya, cinta yang begitu banyak untuk sang
istri.
Keduanya kembali memeluk erat, lalu memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di dalam sebuah mobil yang masih melaju, Kiran berulang kali menguap. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia jadi gampang
sekali mengantuk.
Sang suami yang melihatnya pun sampai tak tega.
“Turunkan kursinya ya? Jadi kamu bisa berbaring,” ucap Aslan, perjalanan pulang masih sekitar 20 menit lagi, tapi bisa jadi lebih
lama karena sepertinya malam ini akan macet.
Malam minggu dan jalanan kota jadi padat merayap, belum lagi gerimis mulai turun.
“Iya Mas,” jawab Kiran patuh, ia bahkan menurunkan kursi itu sendiri, karena sang suami tengah menggendong anak mereka, Aydan.
“Kamu ngantuk Ran?” tanya Widya seraya menoleh kearah belakang, melihat Kiran yang sudah setengah berbaring di sana.
__ADS_1
“Iya Mbak,” jawab Kiran apa adanya.
Namun Widya merasa jika tidur di dalam mobil seperti itu malah akan membuat Kiran pusing.
“Kamu mau beli snack tidak? Didepan sana ada
minimarket,” tawar Widya pada sahabatnya itu, seketika kedua netra Kiran
membola, kembali bangkit dan duduk dengan sempurna.
“Mau mbak,” jawab Kiran cepat hingga membuat sang suami memicingkan matanya.
Terkejut, melihat perubahan drastis pada sang istri. Yang awalnya begitu mengantuk kini berubah jadi sangat bersemangat.
Mendengar itu Widya tersenyum, lantas meminta sang suami untuk memberhentikan mobil mereka di minimarket depan sana.
Saat itu, yang turun hanya Agung dan Widya, sementara Aslan dan
Kiran tinggal di dalam mobil.
“Kamu sudah tidak mengantuk?” tanya Aslan mematikan dan Kiran menggelengkan kepalanya.
Lalu menggeser tubuhnya, mengikis jarak dengan sang suami dan mengecup sekilas pipi Aslan.
“Tidak sayang,” jawab Kiran kemudian.
Diperlakukan seperti itu, Aslan hanya mampu senyum-senyum sendiri. Rasanya sudah lama sekali Kiran tidak bermanja-manja di lengannya. Jujur saja, ia rindu.
“Sayang, nanti saat baby moon jangan hanya menghabiskan waktu bersama Dinda
supir dan bodyguard semata.
Kiran tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.
“Siap Bos, kalau honeymoon kan Cuma kita berdua. Kalau baby moon berarti kita bertiga, jadi nanti kita sering-sering liat dedek bayinya
ya?” jawab Kiran menggoda, hingga membuat senyum Aslan tak bisa surut. Saking gemasnya,
ia sampai menarik hidung istrinya itu.
“Tapi nggak bisa juga sih Mas, kan ada Aydan,”
timpal Kiran lagi hingga membuat senyum Aslan hilang seketika, lalu diganti
dengan helaan napas panjang.
Melihat itu Kiran terkekeh, merasa lucu sendiri. Bahkan kekehan Kiran belum reda sampai Agung dan Widya kembali masuk ke dalam mobil
itu.
“Kenapa Lan? Di bully lagi sama istri?” tebak Agung setelah duduk dengan sempurna di kursi kemudi. Sementara Widya hanya tersenyum,
lalu memberikan sekantong plastik untuk Kiran di kursi belakang.
Lama berteman dengan Kiran, Widya sampai menghapal makanan kesukaan sahabatnya itu.
__ADS_1
Aslan tak menjawab apapun, hanya terdengar suara Kiran yang mengucapkan kata terima kasih pada Widya.
Sebelum mulai makan, Kiran kembali mengecup sekilas pipi suaminya itu, meminta agar sang suami tidak marah. Mereka memang akan membawa Aydan saat baby moon nanti, namun Kiran sudah berencana untuk menjadikan Agung
dan Widya sebagai baby sister dadakan.
Kiran akhirnya tidak jadi mengantuk, sepanjang perjalanan mereka pulang, Kiran terus menguyah makanan ringan.
Hingga saat jam setengah 10 malam, mereka semua sampai di rumah.
Kedua pasangan ini segera masuk ke rumahnya
masing-masing dan beristirahat.
Yuli yang sedari tadi sudah menunggu pun langsung mengambil Aydan di gendongan Aslan, dan membawanya untuk masuk ke kamarnya
sendiri.
Akhir-akhir ini, Yuli memang sering membawa Aydan untuk tidur di kamarnya.
Entah kenapa.
Tok tok tok!
Suara pintu kamar Kiran diketuk, saat itu Kirab sedang berada di dalam kamar mandi. Aslan yang sudah berbaring di atas ranjang pun segera bangkit dan membuka pintu itu.
Ada Desi di sana, lengkap pula dengan segelas susu hangat untuk Kiran.
"Terima kasih Mbak," ucap Aslan seraya mengambil gelas itu.
Dan setelah mengantarkan susu, Desi segera kembali ke kamarnya sendiri.
Aslan, meletakkan susu itu di atas nakas dan ia kembali berbaring.
Entah Kirab yang terlalu lama di dalam kamar mandi atau memang Aslan yang sudah mengantuk. Aslan terlelap bahkan sebelum Kiran kembali dari kamar mandi itu.
Deru napasnya terdengar teratur, menandakan tidurnya sudah sangat pulas.
Kiran, keluar dari dalam kamar mandi. Tatapannya langsung terkunci, pada sang suami yang sudah terlelap.
ia duduk disisi ranjang, memperhatikan wajah sang suami yang nampak lelah.
Lalu pandangannya beralih pada segelas susu di atas meja nakas. Kiran mengambil itu dan meminumnya hingga tandas.
Mematikan lampu utama kamar dan ikut berbaring disebelah sang suami.
Kiran, tidak langsung menutup matanya. Ia tidur berbaring ke arah Aslan dan menatap lekat wajah suaminya itu.
Sejurus kemudian, entah kenapa Kiran jadi merasa bersalah sendiri tiap kali ia mengeluh pada suaminya itu.
Siang, Aslan sibuk bekerja, sementara malam Kiran terus merepotkan nya.
Kiran mendekat, menarik salah satu tangan sang suami agar bisa menjadi bantalannya. Wajah keduanya begitu dekat, bahkan Kiran langsung mencuri sebuah ciuman di bibir suaminya itu.
Namun saat hendak melepaskannya, ternyata Aslan lebih dulu menahan tengkuk Kiran.
__ADS_1
Memperdalam ciuman mereka dan melakukan penyatuan.