Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 147 - Dinding Pembatas


__ADS_3

Membawa satu paper bag yang isinya entah apa, Alana keluar dari dalam rumahnya.


Di depan gerbang sana., sudah ada sang calon suami yang menunggu.


Altar dengan tatapannya yang entah. Nampak dingin namun terus menatap Alana lekat.


“Apa lihat-lihat?!” tanya Alana ketus, sesaat setelah ia berdiri tepat dihadapan Altar. Ia juga menatap tajam pada laki-laki ini.


“Dasar pembohong!” balas Altar pula tak kalah sengit, hingga membuat Alana mengernyitkan dahinya, bingung. Kenapa pula tiba-tiba ia dituduh sebagai pembohong. Padahal Alana tak pernah merasa membohongi Altar.


“Apa maksudmu? Kapan aku bohong? Bohong tentang apa?” balas Alana tidak terima, lalu mencerca Altar dengan banyak pertanyaan sekaligus.


Seperti orang yang misterius, Altar tak menjawab apapun. Dengan tatapannya yang dingin itu, Altar menarik lengan kanan tangan Alana agar lebih dekat, lalu memasangkan helmnya sekalian.


Entah kenapa, Alana selalu menurut tiap kali Altar memperlakukannya seperti ini.


“Memangnya aku paranormal, bisa tahu apa pikiranmu tanpa kamu beri tahu,” ucap Alana, ketika bunyi Klik tanda helm itu terkunci sudah terdengar.


Altar masih setia bergeming, dan menatap kedua netra alana dengan tatapan yang entah.


Alana tidak tahu, jika kebohongan yang dimaksud Altar adalah tentang ucapannya kemarin, Alana mengatakan kepada altar untuk mencoba lebih dekat dengannya, namun semalam, Alana malah dekat-dekatan dengan Akbar.


Sungguh wanita yang tidak punya pendirian. Jadi sebenarnya kamu mau dekat dengan siapa? Aku atau akbar! Pekik Altar di dalam hatinya.


“Jangan banyak omong, cepat naik!” titah Altar, tak ingin dibantah, ia bahkan langsung mengalihkan tatapannya dan menatap lurus pada jalanan.

__ADS_1


Dengan bibir mengerucut, Alana pun menurut. Mulai naik ke atas motor itu dan memegang baju kiri kanan Altar sebagai pegangan.


Dan tanpa babibu lagi, Altar segera memelajukan motornya. Keluar dari dalam komplek perumahan dan mulai memasuki jalan raya.


Tak ada kata diantara keduanya, meski mereka sangat dekat, namun terasa begitu jauh. Entah kenapa, baik Alana ataupun Altar merasa tak suka dengan keadaan seperti ini. Seolah  ada dinding pembatas diantara mereka.


Hingga saat mereka berhenti di lampu merah, dan Altar mengerem motornya dengan mendadak. Alana, reflek memeluk punggung itu.


Dan saat Alana hendak kembali duduk sempurna seraya menarik kedua tangannya, Altar dengan cepat menahan tangan Alana. Menggenggamnya erat meski tanpa mengucapkan kata apa-apa.


Sementara Alana hanya tercenung, ada geleyar aneh dihatinya yang membuat ia terpaku. Alana hanya bisa menurut, merasakan perasaan hangat yang tiba-tiba mengalir dihatinya.


“Turunlah sendiri, aku akan tunggu disini,” ucap Altar sesaat setelah mereka sampai di toko baju milik keluarga Alana,  toko baju yang kini sudah menjelma menjadi pusat perbelanjaan baju ternama di kota Jakarta.


Berjalan dengan sedikit berlari, Alana mulai masuk ke dalam toko. Meninggalkan Altar yang terus memperhatikan langkahnya hingga Alana menghilang.


Semua karyawan sudah begitu mengenal anak pemilik toko ini, mereka semua menyapa Alana dengan sopan. Dan Alana pun membalasnya tak kalah sopan pula.


Tidak ke sana kesini, Alana langsung menuju ruangan tante Hana, seorang karyawan yang sudah dipercaya sang ibu untuk mengurus toko ini. Sejak dulu hingga kini.


Setelah mengetuk pintu ruangan itu dan dipersilahkan masuk, Alana langsung menemui tante Hana di ruangan Manajer.


Lalu menyerahkan satu paper bag pemberian sang ibu pada tante Hana.


“Terima kasih ya Al, padahal tante sudah bilang sama ibu, biar nanti tante ambil saat pulang. Tapi ibu malah menyuruhmu datang kesini,” ucap Hana, merasa tak enak hati, anak pemilik toko tempatnya bekerja sampai

__ADS_1


harus repot-repot datang kesini untuk mengantarkan barang miliknya.


Mendengar itu, malah Alana pula yang merasa tidak enak hati. meskipun ia terus mengeluh dan menggerutu pada sang ibu, namun sejujurnya ia sangat ikhlas mengantarkan barang milik tante Hana.


“Al memang ada keperluan didekat sini tante, karena itulah sekalian Al bawa, Al tidak merasa direpotkan sedikitpun,” balas Alana cepat, sungguh ia tak ingin tante Hana merasa tak enak hati dan sungkan padanya, karena Alana pun menghormati Hana seperti ia menghormati orang tua pada umumnya.


Pelan, Hana pun mengangangukkan kepalanya.


“Kamu kesini bersama siapa? Mas Aydan?” tebak Hana, ia tahu jika Alana tidak pernah diizinkan untuk berpergian seorang diri oleh bosnya itu, baik Kiran ataupun Aslan memang selalu menjaga Alana dengan ketat.


Alana hanya diizinkan pergi jika diantar oleh salah satu keluarga, baik keluarga Agung ataupun keluarga Alfath.


“Bukan mas Aydan tante, aku pergi bersama Altar.”


Lagi, Hana pun mengangguk.


Tak lama setelah perbincangan ringan itu, Alana segera pamit untuk pergi.


Hana ikut mengantarkan Alana untuk keluar dari dalam toko, mengantarnya hingga sampai disebelah motor Altar. Hana, juga mengenal Altar dengan baik.


“Kalian hati-hati ya,” ucap Hana saat Alana sudah duduk sempurna di atas motor calon suaminya itu.


Dengan tersenyum, Alana dan Altar pun mengangguk. Lalu segera berlalu dari sana.


Senyuman yang mereka tunjukkan pada tante Hana tadi, perlahan menyurut. Kembali diselimuti kecanggungan jika sedang berdua seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2