Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 47


__ADS_3

"Ran," panggil Agung dengan suara yang sedikit keras.


Kiran terkisap, lalu mengedipkan matanya dengan begitu cepat. Menahan agar air mata tak jadi keluar, menyisahkan sesak yang membuatnya tercekak.


Lama sekali waktu yang sudah ia lalui seorang diri, menadapati panggilan dari nomor sang mantan suami membuatnya gamang, seperti tertiup angin yang begitu dingin.


Menusuk sampai ke relung hati.


"Kamu kenapa?" tanya Agung heran, direbutnya kembali ponsel itu dan kembali melihat nomor yang tadi menghubungi.


Nomor telepon Indonesia.


Sejenak, Agung berpikir, nomor Kiran adalah nomor baru, bahkan hanya dia seorang dari Indonesia yang tahu tentang nomor barunya ini.


"Aslan?" tebak Agung dan Kiran hanya terdiam, lidahnya kelu, sama seperti hatinya yang membeku.


Hening.


Kiran dan Agung seolah sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Hingga bunyi bell apartemen itu berbunyi, Fahmi pulang.


"Gung, ku kira kamu tidak jadi kesini," ucap Fahmi setelah dilihatnya Agung yang membuka pintu.


Bukannya menjawab, Agung malah melamun.


Isi kepalanya berkecamuk, hanya penuh dengan Kiran dan semua masalahnya.


"Gung!" pangil Fahmi keras dan Agung langsung tersadar.


Sejenak, keduanya saling tatap, masih berdiri di ruang tamu.


"Mas, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Agung kemudian.


Fahmi mengeryitkan dahinya, heran. Tidak biasanya Agung meminta izin untuk bicara, seperti kali ini.


"Ayo ke ruang kerjaku," ajak Fahmi lalu memimpin langkah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dan disinilah kini Fahmi dan Agung berada.


Duduk berhadapan dan hanya dihalang oleh meja kerja Fahmi.


"Apa yang ingin kamu bicarakan? apa tentang Kiran?" tebak Fahmi dan Agung mengangguk kecil.

__ADS_1


"Belum lama ini, Aslan menemuiku," ucap Agung seraya menatap lekat mata Fahmi. Cukup lama mengenal Fahmi, Agung tahu, jika Fahmi adalah orang yang keras.


Maka ia pun akan seperti itu, agar ucapannya didengar.


"Lalu? apa hubungannya denganku dan Kiran?" tanya Fahmi dengan suara yang dingin. Mendengar nama Aslan, membuat ia geram sendiri.


Masih teringat dengan jelas dipelupuk matanya, bagaimana ibu dan istri pria itu memperlakukam adiknya. Memperlakukan Kiran layaknya seorang sampah, wanita yang kotor.


Mendengar jawaban Fahmi, Agung menghela napasnya pelan. Rasanya ia terlalu dalam ikut campur dalam masalah keluarga ini. Namun hati kecilnya selalu berteriak ingin bicara, tak ingin hanya diam.


"Aslan tidak menceraikan Kiran, bukankah Kiran berhak tahu itu?" jawab Agung dengan memberikan pertanyaan pula.


"Tidak akan lama, aku yakin, sebentar lagi pun Aslan akan menceraikan Kiran. Apalagi jika ibu dan istrinya itu mendesak," jelas Fahmi dengan suara yang mulai meninggi.


Namun entah kenapa, Agung meragukan ucapan Fahmi. Ia masih begitu mengingat, raut wajah Aslan yang begitu berputus asa atas kepergian Kiran.


"Tapi Mas_"


"Sudahlah Gung!" potong Fahmi cepat.


"Aku tahu yang terbaik untuk Kiran dan anaknya, kamu tidak tahu apa-apa, kamu tidak disana saat Kiran dizolimi oleh ibu dan istri pria brengsek itu. Aku! aku melihat dan mendengar sendiri betapa mereka membenci Kiran. Aku tidak mungkin mengirim adikku kembali ke keluarga laknat itu!" jelas Fahmi menggebu dengan amarah yang sudah membuncah.


Ia sungguh membenci Aslan dan semua keluarganya.


Akhirnya, Agung hanya bisa terdiam, akhirnya ia hanya bisa mengucapkan kata Maaf. Lalu pamit keluar dari ruangan Fahmi dan kembali menemui Kiran.


Langit bersemu merah, memantul ke wajah putihnya yang terlihat sedikit pucat.


"Ran," panggil Agung pelan, ia memegang kursi Roda Kiran dari arah belakang.


"Disini dingin, kamu tidak kedinginan?" tanya Agung karena angin berhembus tanpa henti, bahkan sebagian rambut Kiran bergerak mengikuti arah angin itu.


"Tidak, aku suka udara seperti ini," jawab Kiran tanpa mengalihkan perhatian dari langit yang sedang ditatapnya dalam.


Langit yang ia yakini, menaungi kota Jakarta.


"Apa kamu bahagia?" tanya Agung, lalu memutar kursi roda itu.


Ia berjongkok dihadapan Kiran.


Kiran tak langsung menjawab, matanya berembun kala melihat sang sahabat yang menatapnya dengan lekat.


"A-aku bahagia," jawab Kiran bohong.


"Kamu bisa tertawa keras, tersenyum dan terlihat bahagia. Kamu juga bisa membohongi aku dan semua orang jika kamu sudah bahagia, tapi kamu tidak bisa membohongi dirimu sendiri," jelas Agung dan langsung jatuhlah air mata Kiran.

__ADS_1


Melihat tangis itu, Agung mengangkat tubuhnya dan memeluk tubuh kurus Kiran.


Dalam hatinya, ia masih begitu yakin jika sang sahabat masih sangat mencintai Aslan, pun sebalikya. Kedua orang ini saling mencintai dan terpisah hanya karena kesalahpahaman.


Dalam hatinya, Agung bertekad untuk menyatukan mereka kembali. Walau entah berhasil atau tidak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selepas kepergian Agung, kini giliran Tika yang menghampiri Fahmi di ruang kerja suaminya itu.


Datang dengan wajah yang sudah basah.


"Jadi Aslan belum menceraikan Kiran?" tanya Tika dengan suara yang bergetar, sementara Fahmi langsung tercenung.


Tadi, Tika mendengar semua pembicaraan Agung dan sang suami, ia hendak mengantar minum untuk mereka berdua. Namun langkahnya terhenti saat mendengar Agung berkata bahwa Aslan tidak menceraikan Kiran.


"Kenapa Mas berbohong, kenapa Mas membohongi Kiran?" tanyanya dengan suara meninggi.


"Pelankan suaramu!" balas Fahmi yang tanpa sadar sedikit berteriak.


"Mas, Aslan tidak bersalah, kenapa Mas memisahkan mereka berdua," desis Tika dengan air mata yang kembali mengalir.


"Kiran sudah bahagia, untuk apalagi dia kembali pada Aslan, cukup dengan kita," tekan Fahmi, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri sang istri.


"Kiran sudah bahagia, aku tidak mau mengusik luka lamanya lagi," jelas Fahmi mencoba bicara dengan suara yang lembut.


"Kata siapa Kiran bahagia? Mas tidak pernah tahu kan, tiap hari aku selalu melihat Kiran yang melamun, tatapannya kosong, menangis diam-diam, Mas tidak tahu kan? yang Mas lihat hanya tawa palsunya saja," jelas Tika, satu tangannya bergerak menghapus air matanyaa sendiri dengan kasar.


Mendengar itu, hati Fahmi seperti tercabik.


"Tanya Mas, tanya pada Kiran apa maunya dia, jangan semuanya hanya dari sudut pandangmu. Cukup sekali, cukup sekali kita membuat kesalahan pada Kiran, kita jangan memaksanya lagi untuk menuruti keinginan kita,"


Mendengar itu, Fahmi tercenung. Selama ini, ia memang tidak pernah bertanya, apa keinginan sang adik.


"Kiran yang menjalani Mas, yang menurutmu bahagia, belum tentu sama bagi Kiran ..."


"Jika kamu benar-benar menyayangi Kiran, harusnya runtuhkan egomu sendiri. Sekarang Aslan masih suami Kiran, Aslan lebih berhak atas Kiran dibanding kamu ..."


"Maaf, aku sadar ucapanku terlalu kasar, tapi jika tidak seperti ini, Mas tidak akan mau dengar ..."


"Aku akan mengatakan semuanya pada Kiran, tentang Aslan yang tidak pernah mengabulkan gugatan cerai itu, juga tetang Aslan yang masih menunggu Kiran disana_"


"Tidak, jangan katakan apapun!" potong Fahmi cepat dan Tika langsung menghembuskan napasnya kasar, kecewa.


Ternyata sang suami sudah tak memiliki hati nurani.

__ADS_1


"Biar aku yang mengatakannya," timpal Fahmi kemudian.


__ADS_2