Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 64


__ADS_3

Dan benar saja, hari ini Aslan pulang lebih awal, jam 3 sore ia sudah sampai di rumah. Saat itu, Yuli dan Iwan sudah pergi darisana.


Aslan membuka pintu rumah itu sendiri, kini ia mulai membawa kunci sendiri.


Masuk dan tak menemukan siapapun, mungkin Kiran sedang tidur, pikirnya.


Lantas, Aslan terus berjalan menuju kamarnya. Pintu itu dibuka perlahan dan ia masuk dengan pelan-pelan.


Bibirnya tersenyum, benar seperti tebakkannya tadi, Kiran masih tertidur nyenyak diatas ranjang.


Dengan perlahan, Aslan duduk di sisi ranjang. Tersenyum, ia memperhatikan wajah sang istri yang masih terlelap.


"Ran," panggil Aslan lembut, salah satu tangannya bergerak menyentuh bahu sang istri.


Sedikit bergerak, Kiran mulai mengerjab. Dan betapa bahagianya saat pertama kali yang dilihatnya adalah wajah sang suami.


"Mas," jawab Kiran yang langsung tersadar, ia bahkan langsung bangkit dan duduk sejajar.


Diliriknya jam di dinding, masih jam 3 sore.


"Cepat sekali pulangnya?" tanya Kiran, satu tangannya mengucek matanya agar benar-benar terbuka.


"Kenapa? kamu tidak suka aku pulang lebih awal?" Aslan balik bertanya dengan raut wajah yang dibuat kecewa.


Tak menjawab, Kiran hanya mencebik dan memukul dada suaminya pelan. Lalu Aslan, menggenggam tangannya itu.


Sesaat keduanya hanya saling tatap, menikmati menatap lamat-lamat wajah satu sama lain. Kiran tersenyum, benar-benar tak menyangka jika laki-laki ini yang akan menjadi suaminya, menjadi ayah dari anaknya dan menjadi pria yang begitu di cintainya.


"Mas," Kiran bukan suara tanpa melepaskan tatapannya.


"Hem, ada apa?" jawab Aslan, sama seperti Kiran, ia masih menatap lekat netra sang istri.


"Kamu ingat tidak, dulu saat kamu mengantarku ke rumah mbak Riri, di dalam mobil saat aku terlelap, kamu menghidupkan satu lagu yang begitu aku sukai," jelas Kiran sambil mengingat masa lalu, ia masih begitu penasaran dengan hal itu.


Darimana Aslan tahu tentang lagu kesukaanya, sedangkan selama ini mereka tidak memiliki hubungan yeng dekat, hanya cukup tahu satu sama lain.


Sebelum menjawab, Aslan tersenyum. Ia pun jadi mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, saat mereka masih duduk di bangku SMA.


"Kamu ingin tahu? cium dulu," goda Aslan sambil memajukan bibirnya mendekat.


Bukanya mencium, Kiran malah menahan bibir itu.


"Jawab dulu, nanti bukan hanya cium yang akan aku beri," jawab Kiran tak kalah berani menggoda.


Aslan terkekeh, ia begitu suka Kiran yang seagreaif ini.


"Dulu, kamu menjatuhkan mp3 player mu. Saat aku hendak mengembalikannya, mas Agung dan yang lainnya malah mengira aku menggodamu," jujur Aslan, sambil menerawang masa lalu. Karena kejadian itu, Agung dan teman-temannya melarang Aslan mendekati Kiran. Agung bahkan mengancam akan mempermalukan Aslan jika masih berani mendekati Kiran.


Akhirnya Aslan menyerah, ia menyimpan pemutar musik milik Kiran itu. Suatu saat ia begitu penasaran dengan isinya, namun saat diputar, ternyata di dalam mp3 player itu hanya ada 1 lagu. Berarti Kiran hanya mendengarkan satu lagu ini, terus dan terus. Menyadari akan hal itu, Aslan tersenyum sendiri di sudut kamarnya.


"Benarkah?" tanya Kiran tak percaya, ia bahkan sudah tak ingat pernah kehilangan pemutar musik itu.


Pelan, Aslan mengangguk.


"Tapi sekarang aku sudah tidak tahu dimana mp3 player itu berada, ku rasa umi sudah membuangnya," jawab Aslan dengan terkekeh.

__ADS_1


"Lalu kenapa sampai sekarang kamu masih mengingat lagu itu?" tanya Kiran lagi yang belum merasa puas.


"Karena aku jadi ikut-ikutan mendengarkanlagu itu, lama-lama aku juga jadi menyukainya," jawab Aslan apa adanya.


Mendengar itu, entah kenapa Kiran malah tak begitu senang. Ia berharap, Aslan melakukan itu karena sudah menyukainya sejak dulu.


Sedikit kecewa, Kiran mencebik.


"Kenapa?" tanya Aslan bingung.


"Tidak ada," jawab Kiran terdengar sedikit ketus, mirip Kiran remaja.


"Kenapaa?" bujuk Aslan lagi, ia bahkan menarik pinggang sang istri mendekat. Memeluknya penuh cinta.


"Ku pikir, mas sudah menyukaiku sejak lama," ketus Kiran, ia bahkan memalingkan wajahnya dengan kesal.


Aslan terkekeh, lalu menyentuh dagu sang istri dan mengarahkannya agar berhadapan.


"Aku tak punya keberanian untuk itu, penjagamu sangat banyak," jujur Aslan dan Kiran makin mencebik.


Gemas, Aslan lalu meraup bibir yang sedang cemberut itu, melumaatnya cukup lama dan menyesapnya dalam.


Terbuai, Kiran menggantungkan kedua tangannya dileher sang suami. Bergerak duduk diatas pangkuan Aslan.


"Nakal," ucap Aslan, dengan napas terengah.


Keduanya terkekeh lalu kembali mengikis jarak. Kali ini, Kiran yang ambil alih kendali. Bahkan ia yang memulai penyatuan.


Diatas tubuh sang suami, Kiran bergerak perlahan, maju mundur begitu teratur.


"Ran, katakan jika kamu mencintaiku," ucap Aslan diantara lenguhannya, tangannya tak tinggal diam, meremati surga dunia.


Kiran mendesis saat Aslan meremaatnya kuat, bahkan menariknya gemas.


"Aku tidak suka berkata-kata Mas, aku lebih suka menunjukkannya langsung," jawab Kiran dengan mengedipkan sebelah matanya, khas wanita genit.


Melihat itu, Aslan terkekeh.


"Kamu, selalu saja bisa menjawabku," ucap Aslan, ia lalu bangkit dari tidurnya dan menjangkau bibir sang istri.


Dalam lumataan sang suami, Kiran tersenyum.


Ia terus bergerak meski dalam posisi duduk. Penyatuan yang begitu melekat.


Hingga tak lama kemudian, keduanya saling memeluk erat. Gelombang itu datang dan di raih secara bersamaan.


"Aku mencintaimu Mas," desis Kiran dengan napas terengah. Ia bahkan masih memeluk erat tubuh sang suami, hingga tak hanya dibawah sana yang menyatu, namun juga peluh keduanya.


Tersenyum, Aslan menciumi pundak sang istri yang terbuka nyata.


"Aku lebih mencintaimu," jawab Aslan yakin, ia semakin memeluk erat tubuh polos sang istri


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ke esokan harinya.

__ADS_1


Hari ini, Kiran akan ikut Aslan untuk berkunjung di tempat suaminya bekerja.


Pagi-pagi, Kiran ikut bersiap-siap. Sebenarnya Kiran merasa begitu gugup, namun ia mencoba biasa saja. Tersenyum cerah, menutupi kegugupannya sendiri.


"Sayang," panggil Aslan yang sudah lebih dulu rapi.


Kiran yang sedang duduk di kursi meja rias menoleh, entah kenapa rasanya kali ini sang suami begitu tampan. Terlihat muda dan berwibawa.


Mendadak Kiran jadi kecil hati, ia merasa begitu tua dan gendut.


Senyum cerah Kiran, perlahan meredup dan kini jadi murung.


Mendapati perubahan mendadak sang istri, Aslan dibuat bingung bercampur heran.


"Kenapa?" tanya Aslan perhatian, ia menarik Kiran untuk bangkit dan duduk dipangkuannya.


"Aku insecure," jawab Kiran jujur dengan suara yang begitu lirih.


"Insecure?" ulang Aslan dan Kiran mengangguk.


"Kenapa? karena berat badanmu bertambah?" tebak Aslan dan Kiran hanya terdiam, jika seperti ini berarti tebakkannya benar, pikir Aslan.


"Sayang, mana yang kamu pedulikan, penilainku atau penilaian orang lain?" tanya Aslan, ia mengangkat dagu sang istri yang sedang menunduk.


"Dimataku, hanya kamu yang paling sempurna. Disini, juga sedang ada anak kita, dia butuh banyak nutrisi kan?" tanya Aslan sambil mengelua perut Kiran dengan sayang.


"Bahkan setelah kamu melahirkan, aku tetap ingin melihat tubuhmu yang berisi seperti ini," goda Aslan, ia bahkan mencubit pipi sang istri gemas.


"Lebih menggoda, embuk dan_"


"Sstt!" potong Kiran cepat, "Mas mesum," timpalnya lagi masih dengan wajah yang masih cemberut.


Aslan terkekeh, selesai dengan tawanya, ia menatap lekat kedua mata sang istri.


"Aku mencintaimu Ran, semua yang ada padamu aku cintai dengan sepenuh hati, bukan hanya tentang kecantikan ..."


"Nanti, kita juga akan menua bukan? kulit kita akan keriput, gigi kita juga tak akan lagi utuh. Mungkin kamu kamu akan lebih gendut daripada ini dan akupun begitu ..."


"Dan aku hanya ingin melalui itu semua denganmu, denganmu dan anak-anak kita,"


Perlahan, senyum Kiran terbit, ia bahkan mengulum senyumnya malu-malu.


"Jadi, kita akan berangkat sekarang atau menundanya dua jam lagi?" tawar Aslan sambil mengelus kedua kaki sang istri dengan lembut. Tangannya masuk ke dalam gamis Kiran dan merayap naik.


"Mas!" pekik Kiran merasa terkejut, ia bahkan langsung memukul dengan keras tangan nakal sang suami.


Buru-buru Kiran turun, menjauh dari Aslan.


"Ayo berangkat!" ajaknya dengan suara meninggi.


Sumpah demi apapun, Aslan begitu gemas dengan tingkah sang istri.


"Iya iya, tidak lagi," jawab Aslan sambil menahan senyumnya.


"Sini," ajak Aslan, ia mengulurkan tangannya dan Kiran menyambut itu.

__ADS_1


Dengan langkah beriringan dan tangan menyatu, keduanya keluar dari dalam kamar.


Desi, langsung melihat pemandangan indah itu. Ia tersenyum, ikut merasakan kebahagiaan.


__ADS_2