
Cinta mempertemukan kita sebab suatu alasan, apakah ini suatu berkah atau hanya pelajaran.
-Kiran-
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kiran menatap nanar kepergian Maya, ada bagian hatinya yang begitu perih meratapi kenyataan ini. Bukan hanya tentang dia dan Aslan, melainkan juga tentang anaknya yang kini sudah tiada.
Mungkin karena inilah kamu meninggalkan ibu Nak, bahkan setelah kamu tiadapun tak ada seorangpun yang peduli.
Tangan Kiran bergerak menyentuh perutnya yang rata.
Ya Allah, kenapa? kenapa engkau ambil pula anakku? kenapa engkau pisahkan aku dengannya? kenapa tidak engkau biarkan hamba ikut bersamanya ya Allah.
Tangis Kiran makin deras, namun ia tak mengeluarkan suara barang sedikitpun.
"Berhentilah menangis." ucap Fahmi dengan suara tegas, ia menghampiri Kiran dan duduk di samping ranjang.
"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Alfath Mas, sumpah," jawab Kiran langsung dengan suara yang bercampur isak tangis. Ia tak mau sang kakak dan Tika berpikiran yang sama seperti Maya.
"Aku tidak berselingkuh Mas, apalagi sampai memiliki anak dari perselingkuhannya itu. Astagfirulahalazim Mas, itu fitnah," jelasnya lagi buru-buru dengan derai air mata yang terus mengalir.
Tangis yang menular pada Tika, Tika benar-benar tidak tega melihat keadaan sang adik ipar saat ini.
"Sudah Ran, tenanglah, kami percaya padamu. Kami sudah tahu semua bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi. Kami tahu kamu tidak bersalah sayang." jawab Tika dengan sesenggukan, ia makin mendekap Kiran erat.
Berharap adik iparnya ini bisa sedikit tenang.
Fahmi yang melihat keadaan sang adik begitu kacau hanya mampu terdiam, ia menatap lekat mata Kiran yang penuh dengan kesedihan.
Hatinya begitu perih, melihat itu.
"Maafkan aku Ran," ucap Fahmi kemudian, kini ia merasa bersalah atas keputusannya dulu untuk menerima Aslan menjadi suami adikknya. Jika waktu bisa diulang, ia akan tetap pada pendiriannya diawal, menolak Aslan.
Mendengar ucapan maaf sang kakak, perlahan tangis Kiran mereda. Dengan napas yang masih terengah, ia membalas tatapan Fahmi itu.
"Maafkan aku, karena dulu menikahkanmu dengan Aslan. Ku pikir keluarga mereka tulus menerimamu, ternyata tidak. Ternyata semuanya benar, ternyata mereka hanya menginginkan seorang anak_"
__ADS_1
"Tidak tidak! bukan kamu yang salah Mas. Aku yang salah, akulah yang memaksa Kiran untuk menerima pernikahan ini. Aku yang salah, maafkan aku Ran. Maafkan mbak," potong Tika cepat.
Rasa bersalah itu tak bisa ditepis, merayap memenuhi seisi hatinya.
"Maafkan aku Mas, maafkan aku karena menempatkan adikmu dalam keadaan seperti ini," sesal Tika.
Tapi Fahmi hanya terdiam, sebenarnya ia tak menyalahkan Tika. Tapi tetap saja egonya menguasai. Rasanya jika mengingat masa lalu, memang Tika yang paling banyak mengambil peran dalam pernikahan ini.
Melihat Tika dan Fahmi yang malah berdebat membuat Kiran merasa tidak enak hati.
Perlahan, ia mulai menghapus air matanya sendiri lalu membalas pelukan Tika yang sedari tadi tidak terlepas.
"Bukan Mbak, ini bukan salah Mbak Tika atau Mas Fahmi," jawab Kiran seraya melirik sang kakak yang masih setia menatapnya dengan tatapan iba.
"Ini semua sudah jalan Allah, baik buruknya pasti akan ada hikmah," jelas Kiran dengan suara bergetar. Mulutnya mungkin bisa berkata seperti itu, namun tidak dengan hatinya.
Tapi kini hatinya itu sudah tidak penting lagi, rasanya sakit hati memang sudah jadi teman baiknya.
Melihat Kiran, Fahmi tahu, adiknya sedang berusaha untuk tegar.
"Ayo kita pergi," ajak Fahmi langsung.
Kemarin, Aslan memintanya untuk menjaga Kiran. Dan kini Fahmi menepati itu. Demi menjaga Kiranpun Fahmi mengatakan pada sang adik jika Aslan sama saja seperti Maya.
Tidak perlu memberikan penjelasan apapun, kita tinggalkan saja semua kesedihan dan memulai hidup baru. Jelas Fahmi saat mendorong kursi roda sang adik keluar dari dalam rumah sakit.
Kiran hanya terdiam, sementara Tika tak berani buka suara. Ia hanya mengikuti semua keputusan sang suami.
Hingga sampai di Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta. Semua orang masih betah terdiam.
"Bunda, kita mau kemana?" tanya Raka memecah keheningan. Tadi ia dan sang adik Rian tiba-tiba dijemput saat masih jam sekolah.
Dan saat sampai di rumah, semua barang mereka sudah terkemas dengan rapi. Tanpa banyak tanya, Raka dan Rian terus mengikuti kemanapun ayah dan bundanya pergi.
"Apa kita akan pergi untuk mengobati Bulek Kiran?" kini Rian buka suara, sedari tadi ia setia berdiri disamping Kiran, bahkan terus menggenggam tangan sang bulek.
Raka dan Rian turut bersedih tentang kecelakaan itu, mereka tahu bagaimana keadaan Kiran kini. Patah tulang dan membutuhkan perawatan yang cukup lama untuk segera pulih.
__ADS_1
Mungkin, dengan berobat di tempat yang jauh, sakit Kiran bisa segera pulih. Begitulah yang ada di pikiran Raka dan Rian kini.
"Iya sayang, kita akan pergi untuk obati bulek Kiran," jelas Tika, ia mengelus pucuk kapala Raka yang duduk di sampingnya.
Mereka semua kini sudah duduk di kursi tunggu, menunggu penerbangan mereka ke negeri Jiran, Malaysia.
"Ran, ini ponselmu yang baru, pakailah," ucap Fahmi seraya menyerahkan benda pipih itu kepada sang adik.
Tanpa menjawab ucapan sang kakak, Kiran menerima uluran ponsel itu.
Satu yang ada dibenaknya, entah kenapa, sebelum pergi ia ingin sekali mendengar suara sang suami yang kini entah berada dimana. Mungkin kini suaminya itu masih bersama istri pertama, pikir Kiran.
Ia menggeleng pelan, kata Fahmi ia sudah melayangkan gugatan cerai. Besok pasti surat cerai itu sudah sampai di rumah Aslan.
Mengingat itu, Kiran menyingkirkan semua rasa, untuk terakhir kalinya biarlah ia menjadi wanita tak punya malu. Karena tak bisa dipungkiri, cintanya pada Aslan sudah teramat dalam.
Perlahan, tangannya bergerak untuk mengetik nomor ponsel yang sudah begitu di hapalnya. Hanya sekali, ia ingin menelpon Aslan untuk terakhir kali.
Tapi sayang, hingga bunyi Tut terakhir panggilannya tetap tidak mendapatkan jawaban.
Kiran tersenyum getir, meratapi nasibnya yang begitu malang.
"Kamu telepon siapa?" tanya Fahmi penasaran.
"Agung Mas," jawab Kiran bohong. Ia lalu memasukkan ponsel itu ke dalam tas kecil yang ia bawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain.
Ada seseorang yang menganggap waktu berjalan begitu lama.
Aslan masih berkutat dengan semua kesibukannya, namun hati dan pikirannya melayang jauh ke Jakarta sana.
Lagi, dilihatnya jam yang melingkar di tangan kirinya. Seolah berhenti berputar, baginya waktu tetap berada di angka jam 2 siang.
Drt drt drt
__ADS_1
Ponsel Aslan terus bergetar, namun Aslan tak mendengar walau sedikitpun. Fokusnya kini hanyalah pekerjaan, makin cepat ia selesaikan, makin cepat pula ia segera pulang.
Makin cepat pula ia bisa menemui Kiran.