Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 80


__ADS_3

"Rukun iman yang mana sih Ran, rukun islam yang mana? kok aku kayaknya sering kebalik-balik," tanya Agung.


Dan Kiran menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan kasar, hingga hijabnya sedikit melenceng.


Sedari tadi pagi hingga kini jam istirahat siang, Agung selalu saja merecokinya dengan banyak pertanyaan. Tentang inilah, tentang itulah, tentang anulah, ah entah! Kiran pusing.


"Googling sih! tanya terus, pusing tau nggak?" jawab Kiran ketus.


Agung melengos, "Kemarin disuruh belajar, sekarang mau belajar malah dicuekin," keluh Agung, saat melihat Kiran yang malah asik menyantap makan siangnya.


Namun meski begitu, Agung tetap mendekatkan minum sang sahabat agar sahabatnya itu lebih mudah menjangkau.


"Kamu kan sudah tua sih Gung, masa belajar begitu saja harus merepotkan aku. Kamu kan bisa belajar sendiri, kalau tidak tahu tinggal searching, apa susahnya?" jawab Kiran yang mengandung banyak keluhan.


"Iya iya, nih makan!" balas Agung, lalu menyumpal mulut cerewet Kiran dengan sepotong tempe goreng.


Mereka makan siang pecel ayam di disalah satu kedai, tak jauh dari showroom tempat mereka bekerja.


"Ran, sabtu besom ada reuni sekolah SMA, mau ikut nggak?" tanya Agung sesaat setelah mereka menyelesaikan makan siang.


"Nggak ah, males," jawab Kiran dengan nada tidak peduli. Masa SMAnya bukanlah masa yang indah, ia malas untuk mengenang.


Satu-satunya yang ia ingat hanyalah tentang Aslan, bahkan ketika mengingat itu ia jadi tersenyum.


Senyum yang terlihat mengerikan dimata Agung.


"Kenapa senyum-senyum?"


"Jadi inget suami," jawab Kiran cepat, lengkap dengan senyum mesem-mesem. Agung sampai bergidik ngeri, hii.


"Jadi gimana? mau ikut nggak? sabtunya kita reuni, minggunya kita ikut majlis ta'lim," tawar agung lagi.


"Sibuk banget ya?" keluh Kiran, hanya membayangkannya saja ia jadi malas.


"Ikut nggak?"desak Agung lagi, tak bosan-bosan.


"Aku tanya mas Aslan dulu."


"Oke sip!" balas Agung seraya menunjukkan 2 jari jempolnya.


"Norak!" ketus Kiran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sore hari saat jam pulang kerja.


Kiran lebih dulu sampai di rumah, tadi Aslan sudah mengabarinya jika ia akan pulang larut malam, sekitar jam 8 malam lebih tapi tidak sampai jam 9 malam.


Selesai membersihkan tubuh, Kiran mengambil Aydan dari pengasuhan Desi, kini ia yang akan mengurus anaknya itu.


Memandikan Aydan lalu menyuapinya makan, Aydan memang makan malam di jam sore begini, saat malam nanti ia hanya minta susu.


Tepat seperti yang dijanjikan Aslan, jam 8 malam lewat 15 menit ia sampai di rumah. Ia begitu senang, saat pulanv itu anaknya belum tertidur.


Aslam bahkan langsung berlari hendak mencium Aydan, namun yang ia dapat malah bibir istrinya, Kiran.


Kiran terkekeh, saat Aslan sudah menarik diri.


"Mandi dulu, baru cium-cium Aydan. Kalau belum mandi, cium ibunya dulu," goda Kiran, ia bahkan mengerlingkan matanya, genit.


Sampai-sampai Aslan kehabisan kata-kata, akhirnya ia hanya menatap lekat kedua mata sang istri, lalu mengelus pipinya sekilas.


Mereka sampai melupakan, jika ada Desi diantara mereka.


Tapi Desi memilih diam, seraya mengulum senyumnya agar tak menganggu keromantisan sang majikan.


"Aku mandi dulu," ucap Aslan dan Kiran mengangguk, lalu memperhatikan suaminya itu yang semakin lama semakin menghilang.


"Tidak usah Mbak, mas Aslan bisa sendiri. Sebaiknya Mbak Desi shalat isya dulu, nanti gantian."


Desi tersenyum, mengangguk lalu pergi dari ruang tengah itu.


Selepas kepergian Desi, Kiran pun bangkit dari duduknya. Dengan membawa Aydan ia masuk ke dalam kamar, menyusul sang suami.


Aslan sudah tak ada disana, hanya terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi.


Kiran lalu menyiapkan baju ganti untuk sang suami, satu tangannya mengambil baju itu dari dalam lemari, sementara tangan yang lainnya menggedong Aydan.


"Duh! capek juga ya gendong Ay pakai tangan 1," ucap Kiran gemas, seraya menciumi pipi gembul Aydan.


Merasa tak sanggup, akhirnya ia mendudukkan Aydan diatas ranjang, lalu iapun ikut berbaring disana.


"Sayang belum mau tidur?" tanya Kiran pada sang anak.


"Belum." Aslan yang menjawab, seraya menghampiri kedua orang yang sangat disayanginya ini.


"Ayah sudah mandi, waktunya cium Aydan," timpal Aslan lagi seraya bergerak hendak mencium sang anak, tapi lagi-lagi Kiran menghalangingya.

__ADS_1


"Ganti baju dulu Mas, nih lihat, airnya netes-netes. Kan aku sudah bilang, keringkan dulu rambutnya baru keluar dari dalam kamar mandi," oceh Kiran.


Sesaat, Aslan merasakan apa yang dirasakan oleh Agung. Mendapati ocehan sang istri.


Namun meski begitu, Aslan tetap menurut. Ia urung mencium Aydan dan segera menganti baju, baju yang sudah disiapkan oleh sang istri.


"Bu, ayah sudah mandi, sudah ganti baju, rambut sudah kering, sekarang apalagi?" tanya Aslan seraya duduk disisi ranjang.


Mendengar itu Kiran terkekeh, ia memukul dada suaminya pelan.


"Cium Aydan," ucap Kiran kemudian, dan Aslan lalu tersenyum, ia ikut naik ke atas ranjang dan memeluk sang anak erat. Mendudukkan Aydan dipangkuannya dan berulang kali mencium pipi gembul Aydan.


Hingga bayi ini tertawa renyah, merasa geli.


Tawa Aydan itu terdengar hingga keluar, Desi yang sedang mencari keberadaan Aydan pun lalu tersenyum lega.


Ia kembali ke dalam kamarnya dan beristirahat.


"Mas, kata Agung sabtu besok sekolah SMA kita mau ada reuni, Mas mau ikut nggak?" tanya Kiran setelah suaminya itu puas menciumi Aydan.


"Iya, aku juga dapat undangannya. Kalau kamu bagaimana? kalau kamu ikut aku pasti ikut," jawab Aslan apa adanya, lalu tatapan keduanya teralihkan saat melihat Aydan yang mulai menguap.


"Aku buatkan susu dulu," ucap Kiran, mengesampingkan pembicaraan mereka tadi tentang reuni.


Kiran pergi ke dapur, lalu kembali lagi ke dalam kamar dengan sebotol dot penuh susu formula untuk Aydan.


Saat Kiran hendak mengambil Aydan didekapan Aslan, suaminya itu menolak. Aslan malah mengatakan, jika ia saja yang memberi susu pada Aydan.


Kiran terenyuh, perhatian kecil seperti itu saja sudah membuat hatinya meleleh.


Akhirnya, Aslan lah yang memberikan susu itu pada sang anak, memangku Aydan dengan sayangnya. Sementara Kiran, ia sudah berbaring lebih dulu.


"Aku mau ikut reuni, tapi kita ajak Aydan, bagaimana?" tanya Kiran dan Aslan mengangguk. Apapum keputusan istrinya itu, Aslan akan setia mengikuti.


Kiran lalu menyanyikan lagu tidur untuk Aydan, seraya mengelus punggungnya dengam sayang. Hingha lambat laun, bayi mereka tertidur didalam dekapan sang ayah.


Tak hanya Kiran, hati Aslan pun menghangat kala melihat anaknya tertidur pulas seperti itu.


Lalu dengan perlahan, Aslan menidurkan Aydan ditengah-tengah ranjang, tidur diantara dirinya dan sang istri.


"Tidur ya," ucap Aslan dan Kiran mengangguk.


Sebelum ikut merebahkan diri, Aslan lebih dulu mencium sekilas bibir sang istri.

__ADS_1


__ADS_2