
Pagi ini, Kiran berangkat kerja seperti biasa.
Sementara Aslan izin untuk tidak masuk. Sambil menggendong Aydan, Aslan
mengantar kepergian sang istri hingga sampai di garasi mobil.
Berulang kali, Kiran menciumi wajah Aydan, pamit.
“Gantian dong, ayahnya yang dicium,” pinta Aslan, ia
menarik Aydan menjauh dari wajah Kiran lalu mendekatkan sendiri wajahnya,
memperlihatkan salah satu pipinya dengan jelas.
Tanpa banyak perdebatan, Kiran langsung saja mencium
pipi itu, lalu menangkup wajah sang suami menggunakan kedua tangannya dan
memberikan ciuman bertubi-tubi.
Bahkan Aslan sampai terkekeh, geli.
Padahal Aslan ingin dicium mesra, namun Kiran malah
memperlakukannya seperti Aydan pula.
“Ya nggak gini juga sih sayang,” keluh Aslan, namun
Kiran malah menjulurkan lidahnya sebagai jawaban.
Lalu menarik tangan kanan Aslan dan menciumnya,
takzim.
“Aku berangkat dulu ya, Mas?” pamit Kiran dan Aslan
mengangguk,
Aslan mencium kening istrinya sekilas, lalu mengelus
pucuk kepalanya dengan sayang, dan akhirnya membiarkan istrinya itu untuk
segera masuk ke dalam mobil dan pergi.
“Ibu kerja dulu ya sayang, kita di rumah,” ucap
Aslan pada anak laki-lakinya ini, Aydan tak menjawab dengan lantang, hanya
beberapa kata Ya Ya Ya saja yang ia ucapkan.
Fahmi dan semua keluarganya mendarat di Bandara
Internasional Soekarno-Hatta jam 10 pagi.
Aslan, Yuli dan Iwan sudah menunggu disana sedari
tadi. Lalu saat jam menunjukkan pukul 10 pagi tepat, mulai ada beberapa orang
yang keluar dari gerbang kedatangan. Aslan dan kedua orang tuanya berdiri,
menatap satu persatu orang yang mulai datang, memindai dimanakah mas Fahmi dan
yang lainnya berada.
Aslan mulai tersenyum ketika penantiannya itu membuahkan
hasil, diujung sana Raka dan Rian pun melambaikan tangan kearah Aslan pula yang
sedang melambai.
Mendadak sesak menyelimuti hati Yuli.
Semakin Fahmi mendekat, makin besar pula rasa
bersalah yang bersarang di hatinya.
Hingga saat Fahmi, Tika dan kedua anaknya sampai
dihadapan mereka, Yuli langsung memeluk Fahmi erat. Menumpahkan semua air mata
kegundahannya selama ini. Rasa bersalah yang terus terpendam dihati.
“Maafkan Bude Fahmi, maafkan Bude,” pinta Yuli diantara
isak tangisnya.
Fahmi terpaku, ia pun masihh mengingat dengan jelas
__ADS_1
bagaimana kejinya Yuli dulu memfitnah sang adik, bahkan saat Kiran masih
terbaring di rumah sakit dengan semua luka ditubuh yang ia punya.
Namun melihat perjuangan Aslan, Fahmi mencoba mengubur
semua rasa marah itu. Adiknya pun berhak bahagia dengan orang yang dicintainya.
Dan, kini waktu juga sudah menyembuhkan semua luka.
Yang lalu memang begitu membekas, namun kini, bagi
Fahmi itupun hanyalah sebuah cerita. Hatinya sudah tak lagi membenci.
Perlahan, Fahmi pun membalas pelukan Yuli itu,
wanita paruh baya yang kini lebih tampak menua.
“Aku juga minta maaf Bude,” sahut Fahmi kemudian.
Tak hanya Tika yang bernafas lega, namun Aslan dan
Iwan yang ikut mendengar pun menghembuskan napasnya lega.
Setelah pelukan itu terlepas, Fahmi mencium pungung
tangan kanan Yuli takzim, lalu melakukan hal yang sama pada Iwan. Dan Iwan pun
segera memeluk Fahmi erat. Mengucapkan kata maaf yang sama seperti yang
diucapkan oleh sang istri.
Haru itu kemudian mereda, ketika suara Aydan mulai
terdengar. Bayi ini sedari tadi berada di gendongan Aslan.
Fahmi pun segera menggendong anak adiknya itu,
memeluk dan menciuminya berulang. Bahkan kedua mata Fahmi pun hingga
berkaca-kaca. Lain halnya dengan Tika yang langsung menangis.
Selama ini ia hanya mampu melihat Aydan melalui
sambungan telepon, ia sangat rindu pada keponakannya itu. Raka dan Rian pun
“Fahmi, umi mohon Nak, kalian menginap di rumah saja
ya?” pinta Yuli dengan memelas, mnendengar itu, Tika lalu memegang lengan
suaminya, memberi isyarat untuk menjawab Iya.
Dan Fahmi pun segera menganggukkan kepalanya.
Yuli tersenyum, seolah beban dihatinya hilang
seketika ketika melihat jawaban Fahmi itu.
Mereka semua akhirnya langsung memutuskan untuk
pulang. Selama di perjalanan, Aydan terus berada didekapan Tika.
****
Drt drt drt
Ponsel Kiran diatas meja kerjanya bergetar, saat itu
Kiran sedang berada di di dalam kamar mandi. Agung yang berada disana
akhirnya melihat ponsel itu, ada satu
panggilan masuk dari Aslan.
“Angkat tidak ya?” gumamnya ragu, semenjak memiliki
hubungan dengan Widya, kini ia mulai memahami semua perubahan yang harus ia
lakukan bersama Kiran, terlebih tentang hubungan. Ia tak bisa sesuka hatinya
sendiri, seperti dulu.
Lama Agung berpikir, hingga panggilan itu terputus
sendiri.
“Yah, Mati, gimana kalau penting.” Agung galau, kini
__ADS_1
ia malah merasa bersalah karena tidak menjawab panggilan itu.
Ah entahlah, penulisanya saja bingung bagaimana cara
menjabarkan tentang isi hati Agung.
“Kiran mana sih, di WC aja lama banget,” keluhnya
pada sang sahabat, berulang kali ia melongok, menatap kearah lorong yang menuju
kamar mandi, melihat apakah Kiran sudah berjalan kembali atau belum.
Dan ternyata, belum.
Agung berjangkit kaget, ia bahkan sampai memegangi
dadanya dan beristigfar kala mendengar ponsel Kiran kembali bergetar, panggilan
yang sama, panggilan dari Aslan.
Tanpa pikir panjang, Agung hendak mengangkat
panggilan itu, hingga terdengar suara diujung sana mencegah niatnya itu.
“Jangan pegang-pegang ponselku!” teriak Kiran, ia
bahkan sedikit berlari dan merebut ponselnya sendiri dari tangan Agung.
Bahaya kalau sampai Agung melihat isi ponselnya, ada
beberapa foto dan video tentang kebersamaanya bersama Aslan.
“His!” ketus Kiran setelah ponsel itu berhasil ia
rebut, lalu melihat jika suaminya menelpon, dan Kiran langsung mengangkat
panggilan itu,.
“Assalamualaikum, Mas,” jawab Kiran, lalu berjalan
menjauhi Agung, seraya mengepalkan tangan yang ditujukan untuk sahabatnya itu.
“Astagfirulahalazim, astagfirulahalazim,” ucap Agung
berulang kali, seraya terus mengelus dada.
“Kalau nggak inget sahabat, udah ku toyor itu
kepalanya,” gumam Agung, kesal.
Sedangkan Kiran, langsung asik dengan sambungan
teleponnya sendiri.
Aslan mengatakan, jika kini mas Fahmi dan semuanya
sudah berada di rumah. Sehabis zuhur, Aslan akan menemani Fahmi untuk pergi ke
kantor lama Fahmi, mengambil beberapa berkas penting. Tak hanya itu, Aslan juga
menceritakan tentang awal pertemuan mereka tadi di Bandara. Tentang Umi yang
meminta maaf, dan tentang Fahmi yang juga berlapang dada untuk mengucapkan kata
maaf pula. Lalu menceritakan, bagaimana mereka semua begitu merindukan Aydan.
Kiran terus tersenyum, kala mendengar cerita
suaminya itu. Bahkan tanpa disadari
olehnya, setetes air bening mengalir disetiap sudut matanya. Air mata haru
bercampur bahagia.
Sumpah demi apapun, kini ia merasa begitu lega.
Keluarganya telah utuh kembali. Menerima satu sama
lain dengan hati yang terbuka. Tak ada lagi kenangan buruk dihidup mereka,
karena semua itu sudah diambil pelajarannya.
Kenangan yang membuat hidup mereka kini jadi lebih
berarti.
“Aku akan segera pulang,” ucap Kiran kemudian.
__ADS_1