Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 95


__ADS_3

Pagi ini, Kiran berangkat kerja seperti biasa.


Sementara Aslan izin untuk tidak masuk. Sambil menggendong Aydan, Aslan


mengantar kepergian sang istri hingga sampai di garasi mobil.


Berulang kali, Kiran menciumi wajah Aydan, pamit.


“Gantian dong, ayahnya yang dicium,” pinta Aslan, ia


menarik Aydan menjauh dari wajah Kiran lalu mendekatkan sendiri wajahnya,


memperlihatkan salah satu pipinya dengan jelas.


Tanpa banyak perdebatan, Kiran langsung saja mencium


pipi itu, lalu menangkup wajah sang suami menggunakan kedua tangannya dan


memberikan ciuman bertubi-tubi.


Bahkan Aslan sampai terkekeh, geli.


Padahal Aslan ingin dicium mesra, namun Kiran malah


memperlakukannya seperti Aydan pula.


“Ya nggak gini juga sih sayang,” keluh Aslan, namun


Kiran malah menjulurkan lidahnya sebagai jawaban.


Lalu menarik tangan kanan Aslan dan menciumnya,


takzim.


“Aku berangkat dulu ya, Mas?” pamit Kiran dan Aslan


mengangguk,


Aslan mencium kening istrinya sekilas, lalu mengelus


pucuk kepalanya dengan sayang, dan akhirnya membiarkan istrinya itu untuk


segera masuk ke dalam mobil dan pergi.


“Ibu kerja dulu ya sayang, kita di rumah,” ucap


Aslan pada anak laki-lakinya ini, Aydan tak menjawab dengan lantang, hanya


beberapa kata Ya Ya Ya saja yang ia ucapkan.


Fahmi dan semua keluarganya mendarat di Bandara


Internasional Soekarno-Hatta jam 10 pagi.


Aslan, Yuli dan Iwan sudah menunggu disana sedari


tadi. Lalu saat jam menunjukkan pukul 10 pagi tepat, mulai ada beberapa orang


yang keluar dari gerbang kedatangan. Aslan dan kedua orang tuanya berdiri,


menatap satu persatu orang yang mulai datang, memindai dimanakah mas Fahmi dan


yang lainnya berada.


Aslan mulai tersenyum ketika penantiannya itu membuahkan


hasil, diujung sana Raka dan Rian pun melambaikan tangan kearah Aslan pula yang


sedang melambai.


Mendadak sesak menyelimuti hati Yuli.


Semakin Fahmi mendekat, makin besar pula rasa


bersalah yang bersarang di hatinya.


Hingga saat Fahmi, Tika dan kedua anaknya sampai


dihadapan mereka, Yuli langsung memeluk Fahmi erat. Menumpahkan semua air mata


kegundahannya selama ini. Rasa bersalah yang terus terpendam dihati.


“Maafkan Bude Fahmi, maafkan Bude,” pinta Yuli diantara


isak tangisnya.


Fahmi terpaku, ia pun masihh mengingat dengan jelas

__ADS_1


bagaimana kejinya Yuli dulu memfitnah sang adik, bahkan saat Kiran masih


terbaring di rumah sakit dengan semua luka ditubuh yang ia punya.


Namun melihat perjuangan Aslan, Fahmi mencoba mengubur


semua rasa marah itu. Adiknya pun berhak bahagia dengan orang yang dicintainya.


Dan, kini waktu juga sudah menyembuhkan semua luka.


Yang lalu memang begitu membekas, namun kini, bagi


Fahmi itupun hanyalah sebuah cerita. Hatinya sudah tak lagi membenci.


Perlahan, Fahmi pun membalas pelukan Yuli itu,


wanita paruh baya yang kini lebih tampak menua.


“Aku juga minta maaf Bude,” sahut Fahmi kemudian.


Tak hanya Tika yang bernafas lega, namun Aslan dan


Iwan yang ikut mendengar pun menghembuskan napasnya lega.


Setelah pelukan itu terlepas, Fahmi mencium pungung


tangan kanan Yuli takzim, lalu melakukan hal yang sama pada Iwan. Dan Iwan pun


segera memeluk Fahmi erat. Mengucapkan kata maaf yang sama seperti yang


diucapkan oleh sang istri.


Haru itu kemudian mereda, ketika suara Aydan mulai


terdengar. Bayi ini sedari tadi berada di gendongan Aslan.


Fahmi pun segera menggendong anak adiknya itu,


memeluk dan menciuminya berulang. Bahkan kedua mata Fahmi pun hingga


berkaca-kaca. Lain halnya dengan Tika yang langsung menangis.


Selama ini ia hanya mampu melihat Aydan melalui


sambungan telepon, ia sangat rindu pada keponakannya itu. Raka dan Rian pun


“Fahmi, umi mohon Nak, kalian menginap di rumah saja


ya?” pinta Yuli dengan memelas, mnendengar itu, Tika lalu memegang lengan


suaminya, memberi isyarat untuk menjawab Iya.


Dan Fahmi pun segera menganggukkan kepalanya.


Yuli tersenyum, seolah beban dihatinya hilang


seketika ketika melihat jawaban Fahmi itu.


Mereka semua akhirnya langsung memutuskan untuk


pulang. Selama di perjalanan, Aydan terus berada didekapan Tika.


****


Drt drt drt


Ponsel Kiran diatas meja kerjanya bergetar, saat itu


Kiran sedang berada di di dalam kamar mandi. Agung yang berada disana


akhirnya  melihat ponsel itu, ada satu


panggilan masuk dari Aslan.


“Angkat tidak ya?” gumamnya ragu, semenjak memiliki


hubungan dengan Widya, kini ia mulai memahami semua perubahan yang harus ia


lakukan bersama Kiran, terlebih tentang hubungan. Ia tak bisa sesuka hatinya


sendiri, seperti dulu.


Lama Agung berpikir, hingga panggilan itu terputus


sendiri.


“Yah, Mati, gimana kalau penting.” Agung galau, kini

__ADS_1


ia malah merasa bersalah karena tidak menjawab panggilan itu.


Ah entahlah, penulisanya saja bingung bagaimana cara


menjabarkan tentang isi hati Agung.


“Kiran mana sih, di WC aja lama banget,” keluhnya


pada sang sahabat, berulang kali ia melongok, menatap kearah lorong yang menuju


kamar mandi, melihat apakah Kiran sudah berjalan kembali atau belum.


Dan ternyata, belum.


Agung berjangkit kaget, ia bahkan sampai memegangi


dadanya dan beristigfar kala mendengar ponsel Kiran kembali bergetar, panggilan


yang sama, panggilan dari Aslan.


Tanpa pikir panjang, Agung hendak mengangkat


panggilan itu, hingga terdengar suara diujung sana mencegah niatnya itu.


“Jangan pegang-pegang ponselku!” teriak Kiran, ia


bahkan sedikit berlari dan merebut ponselnya sendiri dari tangan Agung.


Bahaya kalau sampai Agung melihat isi ponselnya, ada


beberapa foto dan video tentang kebersamaanya bersama Aslan.


“His!” ketus Kiran setelah ponsel itu berhasil ia


rebut, lalu melihat jika suaminya menelpon, dan Kiran langsung mengangkat


panggilan itu,.


“Assalamualaikum, Mas,” jawab Kiran, lalu berjalan


menjauhi Agung, seraya mengepalkan tangan yang ditujukan untuk sahabatnya itu.


“Astagfirulahalazim, astagfirulahalazim,” ucap Agung


berulang kali, seraya terus mengelus dada.


“Kalau nggak inget sahabat, udah ku toyor itu


kepalanya,” gumam Agung, kesal.


Sedangkan Kiran, langsung asik dengan sambungan


teleponnya sendiri.


Aslan mengatakan, jika kini mas Fahmi dan semuanya


sudah berada di rumah. Sehabis zuhur, Aslan akan menemani Fahmi untuk pergi ke


kantor lama Fahmi, mengambil beberapa berkas penting. Tak hanya itu, Aslan juga


menceritakan tentang awal pertemuan mereka tadi di Bandara. Tentang Umi yang


meminta maaf, dan tentang Fahmi yang juga berlapang dada untuk mengucapkan kata


maaf pula. Lalu menceritakan, bagaimana mereka semua begitu merindukan Aydan.


Kiran terus tersenyum, kala mendengar cerita


suaminya itu.  Bahkan tanpa disadari


olehnya, setetes air bening mengalir disetiap sudut matanya. Air mata haru


bercampur bahagia.


Sumpah demi apapun, kini ia merasa begitu lega.


Keluarganya telah utuh kembali. Menerima satu sama


lain dengan hati yang terbuka. Tak ada lagi kenangan buruk dihidup mereka,


karena semua itu sudah diambil pelajarannya.


Kenangan yang membuat hidup mereka kini jadi lebih


berarti.


“Aku akan segera pulang,” ucap Kiran kemudian.

__ADS_1


__ADS_2