Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 116


__ADS_3

Dengan perlahan, Agung menyentuh dagu sang istri dan mengangkatnya keatas, hingga tatapan keduanya kembali bertemu dan terkunci.


"Apa kamu menginginkannya?" tanya Agung dengan suara beratnya, bahkan keduanya matanya nampak sayu, berkabut.


Agung ingin Widya melakukan ini bukan karena rasa bersalah semanta, namun karena Widya juga menginginkannya.


Dilihatnya, sang istri menganggukkan kepalanya pelan. Senyum Agung muncul, lalu dengan perlahan ia mulai mengikis jarak.


Mencumbu bibir ranum sang istri yang terasa begitu lembut.


Berulang kali Agung menyesapnya atas dan bawah bergantian, hingga istrinya itu sedikit mengaga, memberinya celah untuk masuk semakin dalam.


Agung lantas mulai berdiri, menggendong sang istri layaknya anak koala, lalu membaringkannya diatas ranjang.


Tok tok tok!


"Mbak Wid!"


Teriak seorang perempuan dari arah luar, sontak Agung melepaskan pagutannya dan menatap istri yang sudah ia kungkung.


"Sepertinya harus kita tunda sayang," ucap Agung, meski kecewa namun ia tetap coba mengerti, saat ini dirumahnya memang sedang ramai orang.


Widya tahu, Agung sudah begitu ingin, bahkan dibawah sana, ia sudah merasa jika sang suami mulai sesak.


"Mbak!"


Teriak perempuan itu lagi, yang kedua kali.


Agung lantas menarik diri, lalu menarik sang istri untuk bangkit pula.


"Maaf ya Mas?" pinta Widya sunggug-sungguh, dan Agung menjawabnya dengan sebuah kecupan singkat dibibir.

__ADS_1


Lepas itu, Widya kembaki membenahi pakaiannya, lalu bangkin dan membuka pintu. Lalu keluar dan mulai menemui sang pemanggil. Meninggalkan suaminya seorang diri didalam kamar.


"Sabar ya Ajuu (Agung Junior), besok kalau kita sudah pindah rumah, kita gempur habis-habisan," ucap Agung bicara pada dirinya sendiri.


Lalu memutuskan untuk segera mandi, menghilangkan semua hasrat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah Aslan.


Saat malam hari, Aslan dan Kiran sedang berada di ruang kerja sang suami.


Kiran membantu Aslan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan suaminya itu.


"Mas, tadi mbak Widya bilang, besok pagi mereka mulai pindah ke samping," ucap Kiran, lalu melirik sekilas kearah sang suami.


Sama, Aslan pun melakukan hal yang sama, menatap istrinya sekilas lalu kembali melihat kearah komputer di meja kerjanya.


"Nanti sering-seringlah bertemu dengan mbak Widya, dia kan belum terbiasa dengan daerah disini, apalagi mbak Wid memutuskan untuk berhenti bekerja dan tinggal dirumah," jelas Aslan lagi, tanpa pikir panjang.


Aslan tidak tahu, jika ucapannya itu ternyata membuat Kiran merasa tak nyaman.


Seolah sang suami tengah membandingkan antara dirinya dengan mbak Widya.


Widya yang seorang manajer saja dengan mudahnya melepas jabatan itu dan memilih tinggal dirumah, menjadi ibu rumah tangga. Sementara ia? bahkan saat hamil pun Kiran masih kukuh untuk bekerja.


Kiran terdiam, menggigit bibir bawahnya dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Tak medapati jawaban dari sang istri, Aslan pun kembali menoleh dan menatap istrinya itu. Dan betapa terkejutnya Aslan saat melihat sang istri yang akan menangis.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aslan cemas, sumpah demi apapun ia tidak tahu apa yang terjadi dengan istrinya. Tiba-tiba saja Kiran menangis.

__ADS_1


"Mas jahat," lirih Kiran dengan air mata yang menetes satu.


Mendengar itu, kedua netra Aslan membola. Terhenyak kala mendengar ini semua salahnya, lalu susah payah berpikir, kejahatan apa yang telah ia lakukan?


Tapi sayang, lama berpikir Aslan tak menemukan jawaban apapun, ia tak merasa melakukan kejahatan beberpa menit terakhir, bahkan membunuh nyamuk pun tidak.


"Mas ingin aku berhenti bekerja seperti mbak Widya?" tanya Kiran akhirnya karena sang suami malah diam saja, tidak menanggapi ucapan jahat itu.


Nama mbak Widya disebut, Aslan baru ber Oh ria, tentu ia melakukannya didalam hati.


"Tidak sayang, kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya balik Aslan, ia bahkan bangkit dari duduknya dan pindah duduk dikursi sebelah sang istri, berjalan setengah lingkaran mengelilingi meja kerjanya.


"Apa kamu tahu alasan kenapa mbak Widya berhenti bekerja?" tanya Aslan lagi dan Kiran hanya bergeming.


Kiran tidak tahu, sementara Aslan tahu, karena Agung bercerita kepadanya tentang itu.


"Karena itu juga adalah keinginan ibu Ana sebelum meninggal," jelas Aslan lagi hingga kedua netra Kiran membola, lalu air matanya surut seketika.


"Apa kamu ingin aku mening_"


"Stop! maafkan aku," lirih Kiran, memotong cepat ucapan sang suami, bahkan langsung memeluk erat tubuh Aslan.


Tidak mungkin Kiran ingin sama seperti mbak Widya, berhenti bekerja karena sebuah wasiat. Apalagi jika wasiat itu diucapkan oleh sang suami.


Tidak! jerit Kiran didalam hati.


"Maafkan aku sayang," lirih Kiran.


Dan dibalik punggung sang istri, Aslan tersenyum. Dalam hatinya bersyukur, kemarin Agung bercerita perihal itu.


Jika tidak, bisa dipastikan malam ini ia akan kembali tidur seorang diri.

__ADS_1


Aslan, membalas tak kalah erat pelukan Kiran. Bahkan sesekali menciumi tengkuk sang istri.


__ADS_2