
Makan malam pun di mulai, tiga anggota keluarga itu pun sudah sudah duduk rapi di kursinya
masing-masing.
Sebelum mulai menyantap daging panggang itu pun Agung sebagai tuan rumah lebih dulu mengungkapkan
alasan diadakannya makan malam kali ini. Apalagi kalau bukan resminya perjodohan antara Altar dan Alana.
Namun dalam kesempatan kali itu juga Agung mengatakan jika ia tidak akan memaksakan kedua anaknya itu untuk menikah, jika hingga dewasa kelak mereka belum juga menemukan kecocokan.
Agung dan aslan hanya berharap, Alana dan Altar berjodoh.
Semua orang mengangguki dengan antusias, kecuali Alana dan Altar yang hanya memilih diam. Namun saat ditanya mereka bersedia atau tidak, keduanya menjawab iya, mereka akan mencoba.
Mendengar itu, semua orang tua langsung mengucapkan Alhamdulilah.
Dan makan malam pun di mulai.
Gelak tawa semua orang memenuhi meja makan di taman belakang kala itu.
Alana pun mencoba menikmati malam ini, sesekali ia bercanda dengan Sisil dan yang lainnya.
Tapi tidak dengan Altar, ia malah sibuk memperhatikan interaksi antara Alana dan Akbar. Ada perasaan yang mengganjal dihatinya tiap kali melihat kedekatan mereka berdua. Dan Altar sungguh tidak menyukai itu.
Jam 10 malam, akhirnya keluarga Aslan dan Alfath memutuskan untuk pamit pulang.
Agung menawarkan pada Alfat untuk sebaiknya menginap saja, namun Alfath menolak, ia berkata bahwa hari minggu besok ia dan sang istri masih ada urusan.
Akhirnya, Agung dan Widya pun tak bisa memaksa, mereka mengantarkan kedua pasang sahabatnya itu untuk pulang. Mengantar hingga sampai di halaman rumah.
“Alana sayang, kalau Altar menjahati mu, bilang ibu ya?” ucap Widya, pada calon menantunya itu.
Dengan canggung, Alana hanya bisa mengangguk. Ingin sekali ia mengadu jika belum lama ini Altar sudah berani memeluknya, namun ternyata, ia tak punya cukup keberanian.
“Altar, mulai sekarang, kamu harus lebih menjaga Alana, dia ini kan calon istrimu,” ucap Kiran pula pada sang calon menantu.
“Iya, Ibu Kiran,” jawab Altar, patuh. Meski rasanya ia ingin mengatakan jika Alana terlalu tangguh untuk ia jaga. Namun akhirnya, Altar hanya bisa mengangguk patuh.
Selesai pesan-pesan kedua wanita itu, akhirnya mereka semua benar-benar berpisah.
Saat berjalan pulang pun Kiran memeluk lengan anak gadisnya itu dengan sayang.
“Terima kasih ya anak ibu yang cantik, kamu tidak menolak perjodohan ini.” Ucap Kiran malam itu pada anak bungsunya.
__ADS_1
“Sekarang, sebaiknya kamu turuti saran ayah, mulai menerima Altar untuk masuk ke dalam
hatimu. Dan membiarkan cinta itu tumbuh dengan sendirinya,” timpal Kiran lagi hingga membuat Alana mencebik.
“apasih Bu, cinta-cintaan,,” kesal Alana, merasa malu ketika membicarakan tentang hal ini pada kedua orang tuanya, lengkap pula ada sang kakak di sana.
Kiran terkekeh, lalu semakin memeluk erat lengan anaknya itu.
“ibu dan ayah, dulu menikah disaat umur ibu sudah 34 tahun. Lihat sekarang, kalian masih sekolah dan ibu ayah sudah setua ini. Karena itulah, ibu ingin kalian berdua menikah muda saja,” ucap Kiran, seraya melirik anak sulungnya pula.
Aydan yang dilirik pun merasa, lalu memeluk lengan ibunya pula.
“Iya Bu, setelah Aydan lulus kuliah, Aydan akan langsung nikah, jika belum ketemu jodohnya, Aydan akan ikut ta'aruf di majelis,” jawab Aydan, lantang. Memang begitulah rencana hidupnya. Ia tak merasa keberatan sedikitpun akan permintaan ibunya itu.
Aydan sudah puas, mendengar cerita cinta kedua orang tuanya itu. Yang menikah tanpa cinta namun akhirnya kini saling mencintai. Bahkan cinta yang sangat dalam.
“Terima kasih sayang,” balas Kiran, lalu menyandarkan kepalanya pada lengan anak sulungnya.
Kiran terus berjalan dengan menggandeng kedua anaknya.
Dan saat tiba di rumah, Aslan membukakan pintu untuk ketiga orang yang disayanginya itu.
“Aydan, kamu mandi ya, mandi pakai air hangat, jangan jorok!” titah Kiran saat mereka semua sudah sampai di ruang tengah, sebelum berpisah. Kedua anaknya akan naik ke lantai 2. Sementara ia dan sang suami tetap di lantai 1.
Baru kemarin, Kiran dan Aslan memutuskan untuk pindah kamar di bawah.
“Baru juga sayang-sayangan, sekarang kambuh lagi arah-marahnya,” jawab Alana dengan mencebik.
Aslan yang melihat itu hanya tersenyum, lalu mengelus pucuk kepala anaknya dengan sayang.
“Dengarkan ibumu,” ucap Aslan pula dan Alana mengangguk dengan paksa.
“Iya Yah,” jawab Alana akhirnya.
Setelah itu Alana dan Aydan naik ke lantai d2, dan setelah memastikan anaknya tak ada lagi di sana. Aslan dan Kiran baru menuju kamar mereka.
Selesai membersihkan tubuh, barulah keduanya berbaring di atas ranjang.
Seperti biasa, saat hendak tidur seperti ini. Aslan akan memeluk istrinya erat.
Membawa Kiran untuk didekapnya dalam.
“Bismilah ya Mas, semoga Alana dan Altar benar jodohnya,” ucap Kiran, ia mulai memejamkan mata dan membalas pelukan sang suami pula.
__ADS_1
“Aamiin, iya sayang. Semoga mereka benar-benar berjodoh, seperti harapan kita semua.”
Kiran, menganggukkan kepalanya yang sedang bersandar di dada sang suami.
“Sekarang tidurlah.”
“Iya sayang, ayo kita tidur.” Jawab Kiran lirih, ia juga sudah sangat mengantuk,.
Dan tak lama kemudian, keduanya benar-benar terlelap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya adalah hari minggu.
Semua orang berlibur di rumah.
Aydan dan Alana juga tidak kemana-mana hari ini.
Hingga akhirnya Kiran meminta Alana untuk pergi ke toko baju milik keluarga mereka dan diantarkan oleh Altar. Ke toko baju untuk memberikan sesuatu pada tante Hana.
“Ya ampun Bu, Alana males lah, pergi-pergi, hari minggu kan waktunya alana di rumah,” rengek Alana, menolak perintah ibunya itu. Terlebih lagi saat tahu jika ia akan pergi dengan Altar.
“Mas Aydan saja sih yang pergi,” tawar Alana lagi, kebiasaan yang selalu Alana dan
Aydan lakukan. Jika diperintah, pasti malah mengalihkan pada yang lain.
Saat ini, mereka semua masih duduk di ruang tengah, menonton televisi setelah beberapa
menit lalu sarapan bersama.
“Nggak Ah, aydan sama ayah mau cari makan ikan bu,” bela Aydan cepat, malas sekali jika ia harus ke toko baju yang jaraknya cukup jauh. Sementara beli pakan ikan, hanya didepan gang sana.
Mendengar pembelaan sang kakak. Alana langsung mengerucutkan bibirnya. Seperti sebuah skenario yang disusun apik oleh sang ibu, hingga ia tak bisa meminta kakaknya itu untuk menggantikan tugasnya.
‘Sudah,sudah, Al sebaiknya kamu sekarang bersiap. Ibu sudah kirim pesan pada Altar, untuk segera menjemputmu,” final Kiran.
Dan Alana mencak-mencak sendiri.
“Males Lah, buat apa siap-siap. Gini aja perginya.” Jawab Alana pula dengan wajahnya yang masam.
Kiran, hanya mampu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Anakmu itu yah,” ucap Kiran pada sang suami yang duduk disebelahnya, sedang asik memotong kuku.
“Anak kita sayang,” balas Aslan pula, hingga membuat Kiran makin menggelengkan kepalanya.