Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 145 - Merasa Benci


__ADS_3

“Altar!!” pekik Alana seraya mendorong kuat dada Altar yang berada persis dihadapannya.


Berhasil menjauh dan Altar malah tertawa terbahak.


“Makanya jangan pancing-pancing aku!” ketus Altar kemudian setelah tawanya mereda,  tak butuh jawaban Alana lagi, Altar langsung bergegas memundurkan motornya  dan masuk ke halaman rumah.


Meninggalkan Alana yang sedang menggerutu kesal.


Semenjak hari itu, Alana mendiami Altar, tak peduli meski berulang kali Sisil memintanya untuk bermanja-manja dengan sang calon suami.


Hingga saat akhir pekan tiba.


Keluarga Alsan  dan Alfat diundang untuk datang ke rumah Agung.


Malam minggu kali ini, Agung dan Aslan akan memberi tahu pada semua orang tentang perjodohan antara Alana dan Altar.


Meskipun mereka belum yakin jika perjodohan itu berhasil, namun mereka tetap berharap banyak pada kedua anaknya itu.


Alfath dan dinda beserta kedua anaknya Sisil dan Akbar datang lebih dulu ke rumah Agung. Sementara Aslan dan Kiran sedang menunggu Aydan yang masih lembur kerja kelompok bersama teman-temannya.


Dan saat nyaris jam 8 malam, barulah Aydan pulang. Akhirnya mereka semua berjalan kaki menuju rumah Agung. Sedari awal keluar rumah, Alana sudah memasang wajah kusutnya. Menunjukkan bahwa ia begitu tak menyukai acara malam ini.


Bahkan Alana tak merias sedikitpun wajahnya.


Hanya menggunakan kaos putih dan celana traning ketat dengan aksen garis putih di setiap sisi celana itu. Rambutnya pun hanya diikat ekor kuda, asal.


“Lihat Yah, kita kayak bawa 2 gembel,” ucap Kiran saat mereka semua berdiri dihadapan rumah Agung.


Bukan hanya Alana yang tidak merias dirinya, bahkan Aydan pun seolah tidak peduli dengan penampilannya.  Wajahnya lusuh, bahkan bajunya tidak ganti setelah seharian ini ia kenakan untuk kuliah.


Tadi Kiran sudah meminta anak laki-lakinya itu untuk mandi dulu dan ganti baju, namun Aydan malah menolak dengan keras.


Mengatakan jika ia sudah masuk kamar maka ia tidak akan keluar lagi.


Kiran, benar-benar geram pada kedua anaknya itu, rasanya ingin sekali mencubiti pantat kedua anaknya ini.


“Sudah lah Bu, jangan pedulikan mereka,” jawab Aslan seraya memeluk pundak istrinya itu. Mekipun Kiran tetap memasang wajah kesalnya.


Alana malas merias diri, karena ia tak mau terlihat cantik dimata Altar. Sedangkan Aydan malas mandi, karena ia tak mau terlihat tampan di mata Sisil.


Ceklek!


Pintu terbuka, dan yang membukanya adalah Sisil, ia langsung menyapa Aslan dan Kiran sopan, mencium punggung tangan kanan keduanya.

__ADS_1


Lalu memeluk Alana erat seraya melirik sang pujaan


hati.


“Mas Aydan baru pulang kuliah ya?” tanya Sisil dan aydan hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


Tapi seperti itu saja, Sisil sudah senang bukan main.


Mereka semua masuk dan langsung berkumpul di taman belakang, membuat menu barbeque untuk makan malam mereka kali ini.


Altar yang melihat kedatangan alana dengan penampilan seperti itu malah tersenyum kecil, ia justru sangat menyukai penampilan Alana yang seperti ini. Ketimbang dandan tebal-tebal.


Para orang tua duduk berdekatan dan anak-anaknya sibuk memanggang beberapa daging dan sayur yang sudah ditusuk-tusuk.


Alana dan Sisil mendekati Akbar dan Altar yang sedang memanggang, lalu disusul pula oleh Aydan.


“Minggir lah, biar aku sama sisil aja yang panggang, Cuma segini doang masa yang ngerjain 5 orang,” ucap Alana, khas dengan nadanya yang ketus. Sangat mirip dengan Kiran muda.


“Jangan berdua dong, bertiga ya? Sama mas Aydan juga,” tawar Sisil seraya melirik nama orang yang barusan ia sebut.


“Hii, ogah, mas Aydan belum mandi Sil, lihatlah, wajahnya saja masih berminyak begitu, huwek! Aku tidak terbayang bagaimana bau ketiaknya,” jawab Alana cepat, lengkap dengan gaya bergidik jijik.


Bukannya kesal, Aydan malah senang kala mendengar adiknya itu menjelek-jelekkan dirinya.


Bagaimana caranya aku membuat Sisil menjauhiku ya Allah?’ tanya Aydan pada Allah, bertanya didalam hati.


“Ayo Mas, kita duduk saja,” ajak Altar pada Aydan dan Akbar.


Akhirnya mereka memutuskan untuk duduk didekat pemanggangan itu, tidak bergabung dengan para orang tua yang lebih memilih duduk disalah satu gazebo panjang.


“Kamu bilang mas Aydan tidak mandi, memangnya kamu mandi?” tanya sisil pada sahabatnya itu ketika didekat pemanggangan hanya ada mereka berdua.


Alana tak langsung menjawab, lebih dulu menatap tajam sang sahabat. Bukannya takut, Sisil malah terkekeh.


Asik terkekeh, Sisil sampai tak sengaja menyentuh pemanggang panas itu menggunakan jari-jarinya. Hingga ia menjerit kaget.


Sang kakak, akbar pun langsung menghampiri.


“Kenapa dek?” tanya Akbar pada sang adik, cemas.


“Tidak apa-apa Mas, tidak melepuh kok, aku Cuma kaget,” jawab Sisil jujur, seraya menunjukkan jari-jari tangan kanannya yang baik-baik saja.


“Makanya kalo ngerjain apapun itu fokus. Bukannya ketawa terus.”

__ADS_1


Sisil, malah berakhir dimarahi oleh sang kakak.


“Duduk sana, biar aku yang menemani Alana,” titah Akbar langsung dengan tatapannya yang berubah jadi  tajam.


Dengan mencebik, akhirnya Sisil menurut, duduk di kursi sebelah Altar dan berhadapan langsung dengan Aydan.


Meninggalkan Alana dan Akbar yang memanggang daging itu.


“berikan padaku,” ucap Akbar, seraya meminta beberapa tusuk daging yang berada ditangan Alana.


“Aku bisa kok Mas, Mas panggang yang itu saja,” jawab Alana seraya menunjuk piring daging yang belum dipanggang.


Dan Akbar hanya menganggukkan kepalanya.


Sambil memanggang, mereka berdua terlibat berbagai obrolan. Akbar berulang kali menanyakan bagaimana sekolah Alana dan Sisil, apalagi sebentar lagi mereka akan mengadakan ujian kenaikan kelas.


Mereka terus berbincang, hingga Akbar menanyakan satu hal yang membuat Alana merasa tak nyaman.


“Jadi kamu dan Altar di jodohkan?” tanya Akbar, seraya melirik sekilas Alana yang berdiri di sampingnya.


Melihat wajah Alana yang tiba-tiba jadi murung.


“Kenapa, apa kamu tidak menyukai perjodohan itu?” tebak Akbar dan Alana masih setia bergeming.


“Kalau kamu menolak, katakan saja, aku yakin om Aslan dan Om Agung tidak akan memaksakan kalian untuk menikah. Kurasa mereka hanya berharap jika kamu dan Altar bisa bersama,” terang Akbar lagi, seraya kembali


fokus memanggang daging.


Daging terakhir yang harus mereka panggang.


“Andaikan yang dijodohkan denganku itu mas Akbar, aku pasti tidak akan menolak,” ucap Alana tiba-tiba, bercanda karena ingin mencairkan  suasana. Tak ingin membahas tentang altar.


Mendengar itu akbar tersenyum, lalu otomatis salah satu tangannya mengacak rambut Alana dengan gemas.


“Maaf ya, tapi aku akan menolak, karena aku sudah memiliki kekasih,” jawab Akbar bohong, hanya ingin meladeni candaan Alana itu.


“Benarkah? Kalau begitu aku akan buat mas Akbar mencintaiku dan akhirnya kita menikah,” balas Alana lalu tertawa terbahak.


Tawa yang membuat akbar ikut tertawa pula.


Namun tidak dengan Altar dibelakang sana.


Melihat Alana dan Akbar tertawa, ia malah merasa benci, Altar bahkan sampai mengepalkan

__ADS_1


tangannya kuat.


__ADS_2