Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 170 - Mas Dan Sayang


__ADS_3

Membawa sepiring irisan buah ditangannya, Alana kembali naik ke lantai 2 dan menuju kamarnya.


Perlahan, ia membuka pintu dan masuk dengan pelan-pelan. Melihat Altar yang masih tertidur membuat ia takut jika


kehadirannya malah mengganggu.


Meletakkan piring yang ia bawa di meja sofa kamar itu, lalu duduk di sofa  dengan pelan-pelan pula.


“Huh!” Alana menghembuskan napasnya lega, apalagi saat melihat Altar yang nampak tak terganggu sedikitpun dengan kehadirannya.


“Kalau aku makan buah ini Altar kebangun nggak ya?” desis Alana pelan. Awalnya ia ingin memakan buah itu saat Altar sudah bangun dan menunggunya di sana.


Namun jika dilihat-lihat, buah-buahan itu nampak begitu segar dan menggoda. Rasanya ia tak akan sanggup jika harus menunggu nanti.


“Ah, aku makan dulu sajalah,” putu Alana akhirnya.


Dan dengan hati-hati pula, ia mulai memakan irisan buah itu.


“Em, seger,” gumamnya pelan.


Asik menyantap buah, Alana sampai tidak sadar jika Altar sudah terbangun.


Masih berbaring di atas ranjang sana, Altar terus menatap Alana yang sedang asik memakan buah-buah itu.


Kecil, Altar tersenyum, semakin dilihat semakin cantik Alana di matanya.


Altar bangun, hingga membuat Alana terlonjak kaget pula.


Untung saja Alana tidak sampai tersedak buah yang ia makan saking terkejutnya.


“Kamu sudah bangun? Apa aku membangunkan mu?” tanya Alana bertubi, dilihatnya Altar yang bangun lalu menghampiri dirinya di sofa ini.


Lalu duduk persis disebelah Alana, duduk sangat dekat hingga tak ada celah diantara mereka.


Seketika, jantung Alana jadi berdebar tak biasa. Berdegup dengan begitu cepatnya. Alana bahkan sampai menelan salivanya dengan susah payah.


“Ka-kamu mau ini?” tanya Alana, seraya menunjukkan irisan buah apel yang ada ditangannya.


Tanpa menjawab apapun, Altar langsung melahap buah apel itu, hingga membuat Alana makin tersentak kaget.


Lalu melihat Altar, yang mengunyah buah itu dengan menatapnya lekat.

__ADS_1


“Ke-kenapa melihatku seperti itu?” tanya Alana gugup dan kikuk sekaligus.


Melihat gelagat Alana itu, Altar malah mengulum senyumnya. Baru kali ini ia melihat Alana yang malu-malu seperti ini.


Biasanya, jika ia menatap Alana, Alana malah akan balik menatapnya dengan tatapan tajam.


“Apa salahnya melihat istriku sendiri,” jawab Altar akhirnya, lalu lebih dulu memutus tatapan mereka. Kembali fokus pada irisan buah didalam piring itu. Memakannya dengan lahap, sama seperti Alana tadi.


“Apa kamu yang menyiapkan ini?” tanya Altar, menunjuk piring buah itu.


“Bukan, ibu Kiran yang buat,” jujur Alana pula, namun seketika ia merasa tak enak hati sendiri.


Merasa tak mampu untuk melayani Altar layaknya seorang istri. Hanya irisan buah saja, harus ibunya yang siapkan.


“Al, ada yang ingin aku katakan padamu,” ucap Alana lirih, ia bahkan sedikit menunduk ketika mengucapkan kalimat itu.


Hingga membuat Altar heran.


“Apa? Tatap mataku jika sedang bicara,” jawab Altar langsung, yang tak ingin ada kesalahpahaman diantara mereka berdua.


Dan Alana menurut, dengan perlahan ia mulai kembali menatap sang suami, Altar yang kini sedang menatapnya lekat.


“Mu-mulai sekarang, aku akan memanggilmu Mas,” jawab Alana lirih, pelan sekali, sampai Altar harus bersusah payah untuk mendengarnya.


“Apa? Ulangi lagi, bicara yang benar, kenapa bisik-bisik seperti itu?” balas Altar, yang sudah dibuat Alana semakin


penasaran.


“Mulai sekarang aku akan memanggilmu Mas!” Alana, dengan suaranya yang meninggi.


Dibentak seperti itu, bukannya marah, Altar malah mengulum senyumnya. Senyum yang nyaris saja berubah jadi kekehan.


“Benar?” tanya Altar, diantara percaya dan tidak.


Dan dilihatnya Alana yang menganggukkan kepalanya kecil.


Melihat itu, Altar sungguh merasa bahagia. Bersyukur, Alana akan benar-benar menghormatinya sebagai seorang suami.


“Baiklah, sekarang coba katakan, aku ingin dengar.”


Alana, langsung mencebik kala mendengar ucapan itu. Jika disuruh seperti ini, rasanya ia sungguh enggan. Jadi merasa malu.

__ADS_1


“Tidak mau ah!” kesal Alana, ia lalu ikut makan buah itu dengan lahapnya, ingin mengalihkan bahan pembicaraan mereka tadi tentang Mas Mas Mas.


“Ayolah Al, panggil aku Mas, aku ingin dengar,” ledek Altar.


Melihat Alana yang bergeming, Altar pun punya ide usil untuk menggelitik perut sang istri.


Menggelitiknya sedikit, hingga membuat Alana berjangkit kaget dan geli.


“Al! Geli,” kesal Alana.


Dan mendengar Alana yang masih memanggilnya Al, Altar pun kembali menggelitik Alana tanpa ampun.


Hingga Alana terjatuh di atas sofa itu dan Altar menindihnya.


“Ampun Al, Ampun!” pinta Alana setelah tawanya mereda, di gelitik Altar membuat ia tertawa terbahak.


“Panggil aku Mas,” titah Altar, ia menatap lekat Alana dari atas tubuh gadis ini.


“Iya iya, Ampun Mas,” jawab Alana menurut.


Dan ucapan Alana itu, berhasil membuat Altar tertegun.


Sesaat, tak ada kata diantara keduanya.


Hanya terdengar suara deru napas Alana yang terengah, gara-gara lelah tertawa tadi.


Tatapan Altar semakin dalam, hingga membuat Alana bergeming.


“Al, kita memang tidak boleh melakukan itu, tapi apa aku boleh mencium mu?” tanya Altar, sekaligus meminta izin.


Ditanya seperti itu, Alana sungguh bingung. Sejujurnya, ia mau saja jika Altar menciumnya, tapi lidahnya kelu untuk menjawab Boleh, Alana sungguh malu.


Yang bisa ia lakukan hanya satu, menggigit bibir bawahnya seraya terus diam.


Dan entah di detik ke berapa, Altar membantu Alana untuk menggigit bibir itu. Menggigitnya pelan hingga Alana membuka mulutnya dan membiarkan Altar masuk lebih dalam.


Kedua mata Alana kemudian terpejam, menikmati semua sentuhan yang suaminya berikan.


Sesaat, kamar itu hanya dipenuhi suara decapan, hingga akhirnya Alana melenguh saat  Altar menarik tubuhnya hingga kini ia duduk diatas pangkuan Altar.


“Karena kamu sekarang memanggilku Mas, jadi aku akan memanggilmu sayang,” ucap Altar kemudian, hingga membuat Alana mencebik diantara senyumnya yang coba ia sembunyikan.

__ADS_1


__ADS_2