Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 179 - Galau


__ADS_3

Seperti candu.


Setelah melakukan malam pertama di sekolah kala itu, Altar dan Alana terus mengulanginya disaat ada waktu.


Bahkan saat mereka dinyatakan lulus, mereka merayakannya dengan sebuah penyatuan.


Alana, sudah tak takut lagi pada senjata sang suami yang selalu nampak menegang.


Kini ia bahkan suka memainkannya.


Seperti anak kecil yang baru menemukan mainan baru.


Kadang Altar bahkan sampai geli sendiri, saat tiba-tiba tangan nakal istrinya itu merayap masuk kedalam celananya.


Seperti pagi ini.


Sehabis shalat subuh berjamaah, mereka kembali memutuskan untuk berbaring.


"Al!" Altar mengingatkan, agar istrinya itu berhenti menggerak-gerakkan tangannya didalam celana.


Alana terkekeh, tapi tidak menarik tangannya keluar.


"Sebentar saja Mas, mumpung masih kecil, gemes," jawab Alana, sambil terus memainkan itu, mainan lembut yang berangsur-angsur menjadi keras.


"Alana!" pekik Altar.


Karena, setelah membuatnya besar, Alana kabur seperti maling.


Menutup pintu kamar mereka dengan keras dan meninggalkan Altar seorang diri dengan hasrat yang sudah membuncah.


"Awas saja nanti malam!" gerutu Altar, lalu ikut turun dari atas ranjang dan mulai keluar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam 1 siang, Seluruh keluarga Agung makan siang bersama.


"Jadi, kalian mau kuliah dimana?" tanya Agung memulai pembicaraan, berbicara pada kedua anaknya itu.


Pagi tadi, Alana dan Altar baru saja mendapatkan ijazah sekolah. Dengan ijazah itu, kini kedua anaknya tinggal menentukan ingin melanjutkan sekolah dimana.


"Apa ditempat kuliah mas Aydan?" tanya Agung lagi, memberi opsi.


apalagi saat dilihatnya kedua anak-anak ini hanya diam, seolah sibuk dengan pikirannya sendiri.


Alana melirik sang suami, kemanapun Altar memilih untuk kuliah, ia akan ikut.


Tapi satu yang membuat Alana ragu untuk menjawab pertanyaan ayah mertuanya itu.

__ADS_1


Sudah melakukan hubungan suami istri, Alana takut hamil saat kuliah nanti.


lebih takut lagi, jika ia menjadi bahan gunjingan teman-teman barunya.


Kalut dengan pikirannya sendiri, Alana memilih diam seraya menghembuskan napasnya pelan.


Melihat itu, Widya merasa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Alana.


"Altar, kenapa diam? kamu mau kuliah dimana?" tanya Agung sekali lagi.


Tapi Altar juga bingung harus menjawab apa. Sejujurnya, ia pun memikirkan hal yang sama dengan Alana.


Bedanya, bukan karena takut gunjingan. Altar takut tak bisa menjadi suami siaga jika ia kuliah dan Alana hamil nanti.


"Belum tau Yah." Akhirnya Altar buka suara, jujur namun terdengar mengecewakan ditelinga Agung.


Agung ingin anak-anaknya ini semangat dalam belajar, namun Alana dan Altar malah belum memikirkan langkah selanjutnya.


Agung hendak kembali berucap, Namun dengan cepat Widya menahan tangan suaminya itu. Memberi isyarat agar sang suami Diam, tidak kembali bertanya dan tidak kembali membahas perihal ini.


"Makan dulu, nanti setelah makan kita bicarakan lagi." Widya coba menengahi.


"Iya Bu," jawab Alana.


Sementara Altar dan Agung hanya bergeming. Sibuk, dengan pikirannya masing-masing.


Cukup lama mereka berada di meja makan itu.


Sementara Altar dan Agung bicara berdua di ruang keluarga. Bicara antara pria.


"Alana sayang, apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Widya, setelah semua pekerjaan mereka selesai.


Alana sedang membasuh tangannya di wastafel.


Dan Widya pun memberikan kain untuk mengeringkan tangan sang menantu.


"Sebenarnya Bu, sebenarnya aku ragu, galau," jawan Alana, ragu-ragu pula. Tapi kebiasaan tak pernah berbohong, akhirnya Alana menceritakan semua kegundahannya pada sang ibu.


Tentang ia dan Altar yang sudah berulang kali berhubungan badan, juga tentang ketakutannya untuk hamil saat kuliah nanti.


Bukannya ikut merasa cemas, Widya malah tersenyum sumringah. Mengetahui Alana dan Altar sudah menjadi sepasang suami istri yang sesungguhnya, membuat Widya sangat bersyukur.


Mulai muncul harapan baru dihatinya, agar Alana bisa segera hamil.


"Kok ibu malah senyum-senyum gitu?" tanya Alana, heran.


Dan widya malah makin terkekeh dibuatnya.

__ADS_1


"Ya sudah, begini saja. Kalian tunda dulu kuliahnya tahun depan. Lagipula tidak ada keharusan untuk langsung melanjutkan kuliah kan? bahkan beberapa tahun kemudian pun kalian masih boleh sekolah," jawab Widya, panjang lebar.


Setelah mendengar menantunya bercerita, Widya rasa ini adalah solusinya.


Dilihatnya, Alana yang tersenyum kecil.


"Apa boleh seperti itu Bu?" tanya Alana, butuh kepastian.


"Tentu saja, oh iya, kapan pertama kali kalian melakukan itu?" tanya Widya pula, antusias.


"3 minggu yang lalu Bu, waktu prom nigth, waktu itu_"


"Iya iya iya," Widya cepat-cepat memotong ucapan sang menantu. Sebelum menantu polosnya ini menceritakan adegan penyatuannya dengan sang anak, Altar.


Widya, tidak akan sanggup untuk mendengarnya.


Selesai berbincang di dapur, Widya dan Alana menghampiri kedua pria itu di ruang tengah.


Entah membicarakan apa, tapi wajah keduanya nampak serius.


"Mas, kalian sedang membicarakan apa?" tanya Widya, pada suaminya itu. Bertanya saat ia sudah duduk tepat disebelah Agung.


"Bukan apa-apa sayang, tentang kuliah tadi," jawab Agung apa adanya.


Altar tak seperti Alana yang selalu bicara jujur. Altar lebih berhati-hati tiap berucap. Karena itulah, saat ditanya Altar ingin kuliah dimana, Altar hanya menjawab kini sedang ia pikirkan.


Tahu suaminya nampak tak baik-baik saja, Widya mengajak Agung untuk masuk ke dalam kamar.


Beralasan dia sudah lelah dan ingin ditemani suaminya beristirahat.


Meninggalkan Alana dan Altar berdua di ruang tamu.


Di dalam kamar sana, Widya langsung menceritakan semua cerita yang ia tahu tentang Alana dan altar.


Juga tentang kegundahan kedua anaknya untuk melanjutkan pendidikan di ke perguruan tinggi.


Mendengar cerita istrinya itu, agung pun tersenyum.


"Harusnya, aku bicara saja dengan alana langsung, tidak bicara dengan altar menyebalkan itu," jawab Agung setelah sang istri selesai bercerita.


Dan Widya hanya terkekeh mendengar jawaban suaminya itu.


"Kalau mas yang bicara sama Alana, ceritanya bisa panjang kali lebar, sampai magrib tidak akan selesai-selesai," balas Widya pula.


apalagi ketika membicarakan masalah ranjang, suaminya ini paling semangat.


"Ya sudah, kamu saja yang bilang pada mereka untuk menunda kuliah dulu."

__ADS_1


"Iya Mas," jawab Widya, menurut.


Siang itu, Widya dan Agung sudah merasa lega. Sementara Altar dan Alana, masih sibuk dengan pikirannya masing-masing.


__ADS_2