
Selesai sarapan, Kiran mengantar sang suami untuk pergi bekerja, mengantar Aslan hingga sampai di garasi rumah itu, lengkap
dengan baby Alana yang berada dalam gendongannya.
Setiap kali Aslan hendak pergi bekerja seperti ini,
selalu ada rutinitas rutin yang mereka lakukan. Aslan akan menciumi pipi sang anak berulang kali, lalu mencium kening istrinya sekilas. Dan Kiran mencium punggung tangan kanan suaminya takzim.
Hal itu terus berlanjut hingga saat ini, meski Kiran sedang marah sekalipun.
Rumah tangga mereka berjalan dengan begitu harmonis, setiap hari cinta itu semakin tumbuh begitu besar.
Bersama, menyaksikan kedua anaknya tumbuh hingga dewasa. Saat ini Aydan sudah mulai masuk awal kuliah. Sementara Alana masih kelas 2 Sekolah Menengah Atas.
Umi Yuli sudah meninggal 5 tahun lalu.
Satu tahun setelah kelahiran Alana, Kiran memeriksakan dirinya pada dokter Susan. Ingin mengetahui apakah ia masih bisa memiliki anak
atau tidak, namun ternyata Kiran didiagnosis sudah tidak bisa memiliki anak.
Ada miom yang tubuh di rahimnya.
Dokter Susan menjelaskan banyak hal, meminta Kiran untuk tidak merasa cemas. Dan berkat beberapa pengobatan pun kini Miom itu
benar-benar sudah menghilang dari dalam tubuh Kiran, istri Aslan itu sudah dinyatakan sembuh total.
Saat inipun Aslan sudah tidak bekerja di Bank, ia
menjadi konsultan keuangan. Membuka kantor sendiri, di rumah mereka sendiri.
Toko baju Kiran berkembang pesat, ia bahkan sudah memiliki baju brand nya sendiri, Alana Clothing. Kini Kiran sudah seperti seorang CEO yang hanya perlu memerintah dan mengawasi semuanya, tanpa perlu repot ikut bekerja.
“Alana, kamu jangan bandel, pulang pergi sekolah
bareng Altar Nak. Rumah kalian kan tetanggaan, kamu malah minta jemput mas Aydan. Mas Aydan kan juga harus kuliah, nggak ngurusin kamu terus,” oceh Kiran pagi-pagi, tangannya sibuk menyiapkan 2 kotak bekal untuk kedua anaknya.
Alana mencebik, kesal.
Bukan dia tidak mau pulang dengan Altar, tapi sering datang dan pulang bersama, ia dan Altar jadi digosipi teman-temannya. Dan itu
membuat Alana merasa tidak nyaman. Belum lagi saat mengingat wajah Altar yang
sok berkuasa disekolah, hih! Rasanya Alana ingin sekali memukul wajah itu.
“Alana, dengar tidak!” tanya Kiran, menuntut,
memaksa.
Alana melirik sang ayah, dan dilihatnya ayahnya itu mengangguk kecil. Meminta Alana untuk menuruti saja keinginan sang ibu.
“Iya iya Bu,” jawab Alana kemudian, lalu membuka
mulutnya saat sang kakak Aydan menyumpal mulut cemberut Alana menggunakan
sandwich.
Aydan tahu, niat terselubung sang ibu dan ayah
keduanya, selalu meminta Alana dan Altar untuk bersama. Agar suatu saat nanti,
__ADS_1
mereka bisa menjadi besan.
Mengingat itu, Aydan mengulum senyumnya, merasa lucu.
Lalu bersyukur, ia terlahir sebagai seorang pria,
dan ayah keduanya tidak memiliki anak
perempuan.
“Aydan, pulang kuliah langsung pulang, jangan
nongkrong-nongkrong, nanti anter ibu ke rumah tante Dinda,” kini giliran Aydan
yang diceramahi.
Mendengar itu senyum Aydan luntur dan kini giliran Alana yang tersenyum.
Kakaknya itu paling anti sekali jika diajak ke rumah tante Dinda, ia tak mau bertemu dengan Sisil, anak kedua tante Dinda dan Om Alfath, adiknya Akbar.
Sisil, sudah terang-terangan mengatakan jika ia
menyukai kakaknya itu, bahkan setiap hari Sisil selalu menitip salam pada Alana. Ya, Alana dan Sisil sekolah ditempat yang sama. Mereka menjadi sahabat, sama seperti kedua orang tuanya.
“Dengar tidak Dan?”
“Iya Bu.” Aydan pasrah, siapa yang bisa melawan
ibunya, tidak ada.
Selesai sarapan, Alana dan Aydan pergi ke tujuannya masing-masing. Aydan ke kampus tempatnya kuliah, dan Alana menuju ketempat nya sekolah.
Bude Asni dan Bude Idah sudah pensiun semenjak umi Yuli meninggal. Kini Asisten rumah tangga di sana hanya ada mbak Desi dan satu
lagi ART baru, bude Asma.
“Sayang, kamu jangan suka-suka marah dong,” ucap Aslan saat sang istri udah duduk disebelahnya, ketika Aydan dan Alana pergi,
baru Kiran bisa sarapan dengan tenang.
“Kenapa Mas? Aku nggak marah kok, Cuma ingetin mereka, Aydan dan Alana itu suka pura-pura lupa,” jawab Kiran dengan bibir
mengerucut. Dua anak saja sudah pusing, pikirnya.
“Kalau kamu marah-marah seperti itu, kamu jadi
terlihat semakin cantik.”
Bibir cemberut Kiran langsung berubah membentuk sebuah senyuman, merasa gelisah sendiri aat suaminya itu menggodanya seperti ini.
“Inget umur Mas,” balas Kiran lalu terkekeh. Bahkan kini mereka sudah beruban, namun nyatanya cinta itu masih saja bersemi.
Aslan pun ikut tersenyum, lalu mengelus pucuk kepala sang istri dengan sayang.
“Makanlah, sehabis ini temani aku kasih makan ikan.”
Kiran mengangguk.
Pagi yang begitu indah.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Mas, ikut sih,” rengek Alana pada sang kakak, saat Aydan sudah mengeluarkan mobilnya hingga sampai di teras rumah. Alana buru-buru
menghentikan mobil itu dan mengetuk-ngetuk jendela kaca sebelah kemudi.
“Tadi katanya iya mau pergi sama Altar, kenapa
sekarang minta anter mas lagi?” Aydan bukannya tak mau mengantar sang adik,
namun ia tak ingin membohongi sang ibu. Kebohongan kecil jika terus dipupuk
maka akan menjadi kebohongan besar, lama-lama maka akan menjadi seorang pembohong.
Dan lagi-lagi Alana mencebik.
Hingga terdengar suara klakson motor yang begitu keras, di depan gerbang rumah mereka Altar sudah menunggu Alana.
“Tuh kan, Altar sudah jemput, dia pasti juga sudah diminta ibu Wid untuk pergi bersamamu,” ucap Aydan pada sang adik yang masih
setia mencebik.
“Pergilah, ini ku beri uang jajan tambahan,” bujuk Aydan akhirnya, seraya mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dari dompet.
Kedua netra Alana langsung berbinar kala melihat uang itu.
“Siap Mas!” jawab Alana kemudian. Dan Aydan hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya. Melihat sang adik yang berlari menemui Altar.
Lalu duduk di atas motor Altar itu, dan melambaikan tangannya ketika motor mulai melaju.
Dan Aydan pun segera memelajukan mobilnya pula.
Di atas motor itu, Alana terus mengukir senyum,
membayangkan uang yang kakaknya berikan barusan. Ibunya saja hanya memberi ia
uang jajan 50 ribu rupiah.
“Tumben senyum-senyum, biasanya tiap berangkat sekolah bareng aku wajahmu cemberut, kusut kayak jemuran baru diangkat,” ketus
Altar, melirik sekilas Alana dari spion sebelah kiri.
Mendengar itu senyum Alana makin terkembang besar.
“Lagi seneng, barusan aku jual kamu 100 ribu sama mas Aydan,” jawab Alana sedikit
berteriak, agar Altar mendengar dengan jelas ucapannya itu.
Dan mendengar jawaban Alana, Altar mengeram kesal. Tanpa babibu ia segera memutar gas motonya semakin kencang, hingga membuat Alana
memekik dan memeluknya erat.
“Hih! Rusuh!” kesal Alana seraya memukul bahu Altar keras.
Kedua anak SMA ini terus saja bertengkar setiap
harinya dan hanya akur ketika mereka sedang berkumpul bersama keluarga.
Alana menjelma menjadi gadis tercantik di sekolah itu, sama seperti ibunya dulu. Dan Altar pun mengikuti jejak sang ayah, yang
__ADS_1
suka membuli adik adik kelas, seperti seorang penguasa.