Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 150 - Sibuk Dengan Pikirannya Sendiri


__ADS_3

Mengunggu di rumah dan sang istri tak kunjung pulang, Aslan akhirnya menyusul Kiran ke rumah Agung.


Ia berjalan kaki menuju rumah sahabatnya itu, masuk ke dalam rumah sana setelah beberapa kali mengucapkan salam.


Pintu rumah itu tidak terkunci, dan Aslan memutuskan untuk masuk. Menelisik tiap sudut ruangan yang nampak sepi. Hingga pendengarannya menangkap suara dari arah dapur.


Aslan perlahan ke sana dan melihat sang istri yang berkutat sendirian dengan sesekali menarik dan membuang napasnya berat.


“Ran,” panggil Aslan seraya mendekat, mendengar suara suaminya memanggil, Kiran pun langsung berbalik dan melihat Aslan berjalan mendekati dirinya.


“Mas,” jawab Kiran, dengan mata yang langsung berkaca-kaca, seolah baru saja menemukan tempatnya untuk berbagi keluh kesah.


“Mbak Wid sakit lagi?” tebak Aslan dan Kiran menganggukkan kepalanya cepat, dengan derai air mata yang mulai turun.


Kiran, sungguh merasa sedih tiap kali mengingat sang sahabat. Mengingat betapa kuatnya Widya dalam menghadapi penyakitnya itu. Bahkan widya pun menutup rapat rasa sakitnya dari sang anak, Altar.


Aslan, mengelus bahu sang istri dengan lembut, ingin Kiran tenang.


“Kamu jangan menangis, bukannya kita semua sudah sepakat untuk tidak mempermasalahkan penyakit itu. Kita akan bersikap kuat dan tegar, kamu ingat kan?” ucap Aslan dan lagi-lagi Kiran hanya mampu menganggukkan


kepalanya.


Ia tak mampu berkata-kata. Dengan tenggorokannya yang tercekak itu.


“Sudah, jangan menangis lagi, sekarang kita buat buburnya,” ucap Aslan lagi yang tak ingin sang istri terus menangis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pulang sekolah, Alana bersama Sisil  kembali menghampiri Altar di kelasnya sana. Mereka mengeryit bingung saat melihat hanya ada altar di kelas, sementara kelima temannya sudah menghilang entah kemana.


Biasanya, ke enam siswa nakal itu tidak pernah terpisah ketika masih berada di dalam sekolah.


“Mana teman-temanmu?” tanya Sisil curiga, setelah Altar ikut bergabung bersama dengannya dan Alana. Kini mereka bertiga sudah berjalan beriringan melewati koridor kelas dan menuju area parkiran.


“Mana aku tau, mereka sudah tua untuk selalu aku awasi,” jawab Altar, acuh.


Hingga membuat Sisil mendelik dan Alana mencebik.


Kelima temannya, saat ini sedang menemui Nathan, meminta siswa pintar itu untuk mengerjakan tugas sekolah mereka di atap sekolah.


Siang itu, Alana dan Sisil akan pergi ke salah satu toko buku. Altar yang pulang  bersama Alana

__ADS_1


pun terpaksa ikut, meski sebenarnya ia merasa enggan.


Sudah sedari tadi, entah kenapa Altar selalu ingin pulang. Rasanya tak tenang dan ingin segera bertemu dengan sang ibu.


“Kamu tidak masuk?” tanya Alana, saat melihat Altar malah duduk di kursi tunggu di depan toko.


“Tidak, masuklah dan jangan lama-lama.” Jawab Altar, lalu sibuk sendiri dengan ponselnya ditangan. Ia hendak menghubungi sang ibu, dan mengatakan jika ia akan pulang terlambat.


Alana yang melihat itu hanya bergeming, entahlah, Altar selalu saja bisa  membuatnya  merasa kesal.


Tanpa menjawab apa-apa lagi, Alana langsung menarik tangan Sisil untuk masuk ke dalam toko buku itu.


“Hih! Aku tidak suka sekali dengan sikap Altar,” ucap Sisil saat mereka sudah berada diantara buku-buku yang berjajar rapi didalam rak.


Alana hanya terdiam, menyetujui ucapan sang sahabat.


“Ayo lah Al, kita lanjutkan misi kita itu, buat Altar membencimu, jadi dia tidak akan sudi dekat-dekat denganmu lagi,” timpal Sisil lagi, menggebu.


“Tapi aku tidak mau kalau harus manja-manja dengannya, aku tidak bisa,” jawab Alana apa adanya, ia bahkan menggelengkan kepalanya dengan keras.


Sisil tidak langsung menjawab, masih nampak berpikir.


“Ku rasa, dia tidak suka jika kamu dekat-dekat dengan kakakku itu. Mungkin Altar dan kakakku pernah berselisih,” timpal Sisil lagi, ia malah fokus menatap Alana dan mengabaikan buku-buku yang ingin mereka cari.


“Jadi?” tanya Alana, bingung.


“Jadi, manfaatkan saja kakakku untuk membuat Altar juga membencimu.” Sisil berucap dengan senyumnya yang lebar, seolah kembali menemukan ide cemerlang untuk membantu sang sahabat.


Dan senyum lebar Sisil itu, sedikit menular dibibir Alana. Meski ragu, Alana pun menganggukkan kepalanya pelan.


Alana masih belum menyerah, untuk membuat Altar membatalkan perjodohan mereka. Dan kini, ia akan meminta bantuan mas Akbar untuk melancarkan misinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Drt drt drt


Ponsel Widya di atas nakas bergetar, Agung yang duduk disisi ranjang pun dengan cepat menggapai ponsel itu. Tak ingin suaranya mengganggu sang istri yang tengah terlelap, beristirahat.


Dilihatnya sang anak menelpon, Altar.


Tanpa menunggu lama, Agung pun langsung menjawab panggilan itu, lalu beranjak dan sedikit menjauh dari sana.

__ADS_1


Menjawabnya dengan suara yang pelan.


“Ayah, kenapa bisik-bisik sih?” tanya Altar di ujung sana, setelah mereka saling mengucapkan salam.


Bukannya menjawab pertanyaan anaknya itu, Agung malah balik bertanya dengan banyak pertanyaan sekaligus.


“Kamu dimana? Kenapa belum pulang? Ingat pesan ibumu, jangan suka keluyuran, pulang sekolah langsung pulang,” cerca Agung, masih setia berbisik-bisik. Hingga membuat sang anak mengerutkan dahinya, ayahnya itu selalu saja memarahinya sebelum mendengarkan penjelasan.


“Aku akan pulang terlambat Yah, aku masih bersama dengan Alana dan Sisil di toko buku.”


Mendengar nama Alana disebut, kemarahan Agung yang tadi  langsung menguap seketika. Ia malah bersyukur, jika kini Altar dan Alana semakin dekat.


“ Ya sudah, nanti pulangnya hati-hati.” ucap Agung dan Altar menjawab IYA dengan patuh.


Tak lama setelah panggilannya dengan sang ayah berakhir, Alana dan Sisil keluar dari dalam toko. Membawa masing-masing satu kantong plastik ditangan mereka.


Melihat keduanya, Altar pun langsung bangkit dan segera menuju motor miliknya diikuti oleh Alana. Sementara Sisil menuju mobil yang sudah menunggu kedatangannya.


Tanpa banyak babibu, Altar dan Alana segera pulang ke rumah.


Altar bahkan meminta Alana untuk berpegangan padanya, karena ia akan melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.


Alana menurut, ia duduk menyamping dengan satu tangannya memeluk pinggang altar erat.


“Kenapa kita buru-buru?” tanya Alana saat mereka berhenti di lampu merah.


“Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin segera pulang,” jawab Altar jujur.


Namun Alana malah merasa jika ia telah merepotkan Altar, alana merasa, jika altar tak suka bepergian dengannya seperti ini.


Menyadari itu, entah kenapa Alana merasa tak suka. Ia bahkan mulai melepaskan pelukannya secara perlahan.


Namun terhenti saat Altar menahannya tiba-tiba.


“Kenapa? Sudah ku bilang kan, peluk yang erat, nanti jatuh,” Altar mengingatkan.


Dan Alana hanya diam, lalu kembali memeluk Altar erat.


Sepanjang perjalanan pulang itu, mereka sama-sama terdiam, meski tak ada jarak diantara mereka, namun tetap saja, Alana merasa begitu jauh dengan Altar.


Wanita memang selalu seperti itu, sibuk dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2