
Dan seperti kesepakatan ibu dan anak itu, selama seminggu Alana dan Altar tinggal di rumah ini, setiap pagi Aydan selalu memeriksa keadaan dua adiknya itu.
Lalu menunjukkan bukti fotonya pada sang ibu.
Dan setiap pagi, Kiran akan menghembuskan napasnya lega. Setiap pagi, Alana dan Altar selalu menggunakan baju lengkap.
Bahkan Alana masih saja tidur sesuka hatinya, meski kini ia sudah bersuami.
Dan lebih membuat Kiran lega lagi, selama seminggu ini ia tak menemukan tanda-tanda kemerahan di tubuh putrinya itu.
Kiran lega, Alana dan Altar benar-benar menuruti keinginan mereka, untuk menunda melakukan hubungan itu dulu.
Setidaknya hingga mereka lulus SMA.
Dan pagi ini, Alana dan Altar akan pindah ke rumah ayah Agung. Membawa 1 buah koper kecil, Alana pergi meninggalkan rumah yang selama ini ia tinggali.
Jujur saja, Alana merasa sedih, bahkan sangat sedih. Jiwa cengengnya tiba-tiba muncul seketika.
Ia menangis saat keluar dari rumah itu, diantar oleh kedua orang tuanya dan sang kakak menuju rumah sebelah.
"Ya ampun Al, cuma pindah sini situ saja nangis," ucap Aydan, meledek adik satu-satunya itu.
Bukannya dapat pembelaan, Aydan malah mendapatkan pukulan dari sang ibu.
Sebuah pukulan yang membuatnya hingga gaduh kesakitan. Lalu ditatapnya sang ibu yang ternyata juga menangis.
"Ibumu dan Alana sama saja, lebih baik jangan di usik," bisik Aslan pada anak sulungnya.
Mendengar ucapan sang ayah itu, Aydan pun menganggukkan kepalanya, setuju.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka semua sampai di rumah Agung.
Agung dan Widya bahkan sudah menunggu mereka semua diteras rumah.
"Kenapa kalian nangis-nangis seperti itu, memangnya kami ini orang jahat," ketus Agung, melihat Alana dan Kiran yang terus menangis membuatnya kesal juga.
Padahal pindahnya hanya sini situ saja.
Sedangkan Widya hanya tersenyum, seraya menyambut Alana dan Kiran dan membawa kedua wanita ini untuk masuk.
Widya, memahami apa yang dirasakan oleh Kiran dan Alana. Sebagai seorang wanita yang sama-sama menjadi ibu dan pernah merasakan pindah dari rumah kedua orang tuanya.
"Kita langsung ke kamarmu saja ya sayang, tidak usah pedulikan ayah Agung dan yang lainnya," ajak Widya, Alana dan Kiran pun hanya menurutinya.
__ADS_1
Kini, ketiga wanita ini sudah sampai di kamar Altar. Yang mulai saat ini, menjadi kamar Alana pula.
Widya dan Kiran, membantu Alana untuk merapikan baju-baju yang ia bawa. Menyusunnya di lemari yang tersedia di sana.
"Ran, jangan murung seperti itu, aku tidak sedang merebut Alana darimu," ucap Widya, pada sang sahabat.
Saat ini, Alana sedang berada di dalam kamar mandi.
"Aku tau mbak Wid, hanya saja aku tetap sedih. Mbak Wid tahu apa yang Alana tanyakan padaku setelah dia menikah?" Kiran balik bertanya.
Dan Widya hanya terdiam, menunggu Kiran melanjutkan ucapannya.
"Alana bertanya, apa nanti aku akan mengurus keperluan Altar? apa nanti aku harus bangun lebih dulu dari semua orang? aku harus menyiapkan sarapan dan makan malam?" ucap Kiran dengan matanya yang berkaca-kaca.
Semua itu adalah pertanyaan Alana, selama seminggu terakhir ia berada di rumah.
Mendengar semua itu, hati Kiran terasa teriris. Mulai merasa bersalah telah menikahkan anaknya disaat Alana belum tahu apa-apa.
Yang Alana tahu selama ini hanyalah belajar dan sekolah.
Widya, mengelus dengan penuh perhatian satu bahu sang sahabat.
Ia tak dulu menjawab, Hingga Kiran sedikit tenang.
Sungguh, ia sangat percaya ucapan Widya itu. Hanya saja, hatinya tidak bisa berhenti bersedih.
Hingga Alana keluar dari dalam kamar mandi, sang ibu masih saja menangis. Kedua ibunya itu duduk bersimpuh di atas karpet tebal yang ada di sana.
Dengan koper yang masih terbuka dan beberapa pakaian Alana yang masih berantakan.
Perlahan, Alana pun menghampiri keduanya. Tadi, ia ke kamar mandi untuk menghapus sisa sisa air mata.
Tapi saat melihat sang ibu menangis, Alana jadi ikut menangis lagi.
Sia-sialah Alana mencuci wajahnya di dalam kamar mandi tadi.
"Dulu, saat ibumu hamil kamu Al, ibu Kiran cengeng sekali, sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit menangis. Dan ternyata, itu terbawa olehmu sampai sekarang," ucap Widya, saat Alana sudah ikut duduk bersama mereka.
"Aku nggak cengeng kok Bu, ibu yang Kirab yang cengeng," balas Alana, mencari pembelaan, diantara isak tangisnya yang mulai keluar.
Widya tersenyum, memandang lucu pada anak dan ibu di hadapannya ini. Biasanya, Alana dan Kiran selalu berdebat, beradu argumen.
Namun kini, keduanya terus saling memeluk, menangis, menumpahkan semua kasih sayang yang selama ini seolah terpendam.
__ADS_1
Puas menangis dan memeluk, kiran lebih dulu melerai pelukan itu.
Menatap wajah sang anak yang nampak sembab. Bahkan kedua matanya nampak begitu merah.
Kiran, merapikan rambut anaknya yang sedikit berantakan, menyelipkan beberapa rambut Alana kebelakang telinga.
"Al, apa kamu dan Altar sudah berciuman?" tanya Kiran hingga membuat kedua netra sang anak dan besannya membola seketika.
Widya bahkan langsung menepuk lengan sahabatnya itu. Mencegah Kiran yang ingin mengintrogasi anaknya.
"Ke-kenapa tanya begitu? memangnya kalau ciuman bisa hamil?" tanya Alana, gugup, seketika ia jadi orang yang paling bodoh sedunia.
Mendengar jawaban anaknya, Kiran dan Widya langsung terkekeh.
"Tidak mungkin hamil jika hanya berciuman sayang," Widya yang menimpali.
Membuat semburat merah itu langsung muncul dikedua pipi Alana. Ia sedikit menunduk, malu.
"Jangan malu seperti itu, jawab saja pertanyaan ibu, apa kalian sudah berciuman?" tanya Kiran lagi, dan Widya pun menatap lekat sang menantu, merasa penasaran juga.
Widya juga ingin tahu, sejauh apa kedua pengantin kecil ini sudah berhubungan.
Pelan, Alana mengangguk. Hingga membuat Widya langsung bersorak senang, sementara Kiran malah menelan salivanya dengan susah payah.
"Ciuman dimana? di pipi apa dibibir?" kini Widya yang bertanya, dan membuat Alana makin terpojok dengan semua rasa malunya.
"Ibu Wid, kenapa tanya seperti itu juga?" lirih Alana.
Dan dengan tersenyum, Widya pun menjawab,
"Tidak ada apa-apa sayang, ibu hanya ingin memastikan bahwa kalian benar-benar saling mencintai. Biasanya, jika kita tidak mencintai pasangan kita, kita tidak akan mau disentuh olehnya," jawab Widya, berkelit. Padahal bukan itu yang ingin dia tahu. Widya ingin tahu sejauh apa hubungan intim diantara keduanya.
Namun mendengar penjelasan ibu Widya, Alana langsung tersenyum lebar. Akal sehatnya menerima alasan sang ibu. Hingga tak malu-malu lagi, Alana menceritakan semuanya.
Semua yang ia lakukan bersama Altar seminggu ini.
Ciuman panas di pagi hari, tidur dengan saling memeluk erat, dan bahkan Altar pun sudah menyentuh dadanya.
Seketika, kedua netra Kiran dan Widya membola.
Sebelum Kiran banyak bicara, Widya langsung menarik besannya itu untuk keluar dari dalam kamar sang anak.
Meninggalkan Alana, yang senyum-senyum sendiri.
__ADS_1