Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 197 - Final Episod


__ADS_3

Seminggu kemudian. Jani sudah diajak pindah ke rumah Aslan dan Kiran. Berencana menempati kamar suaminya semasa bujang.


Kiran tak bisa membantu sang anak dan menantunya itu mengemas barang-barang. Karena dia sibuk di rumah Alana. Membantu ibu muda itu mengurus putri kecilnya, Selina.


Jani berdiri di ambang pintu. Rumah terlihat sepi tidak ada siapapun, karena Aslan pun sedang pergi mengais nafkah.


Melihat istrinya hanya mematung, lantas Aydan merengkuh bahu itu. Membuat Jani tersadar, walau bagaimanapun hari ini pasti akan datang.


Ia yang biasanya tak biasa jauh dari orang tua dan keluarganya. Kini justru harus berpisah dengan waktu yang lama.


"Kenapa? Kamu tidak senang tinggal disini?" Tanya Aydan, menangkap keraguan di mata Jani.


Namun, karena tak ingin egois dengan perasaannya sendiri, Jani justru mengulum senyum. "Tidak Mas, aku senang kok bisa tinggal disini. Seatap bersamamu. Aku hanya merasa, rumah ini sepi karena tidak ada orang sama sekali." Ucap Jani, tertunduk malu-malu.


Mendengar itu, Aydan ikut tersenyum, lalu mengangkat dagu Jani, hingga kedua netra itu bersitatap. Jani reflek menggigit bibir bawahnya, melihat Aydan menatapnya begitu lekat.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita ulangi yang semalam? Kita buat rumah ini jadi ramai." Ucap Aydan ambigu.


Membuat Jani berubah gugup, mengingat percintaan mereka semalam, dan hal itu merupakan yang pertama bagi mereka. Pipi Jani bersemu merah.


Setelah menikah, baik Jani maupun Aydan, memang tidak langsung melakukannya. Aydan selalu menangkap keraguan di mata Jani, membuat ia urung untuk mengajak sang istri merasakan indahnya puncak nirwana.


Namun, setelah semalam ia memberanikan diri meminta izin, akhirnya Jani setuju, ternyata alasan gadis itu hanya satu. Takut sakit, ya hanya itu, karena Anja yang suka menakut-nakutinya, Jani jadi merasa was-was kerap kali berdekatan dengan suaminya.


Dan detik selanjutnya, Aydan tak mampu menahan diri lagi, setelah mengunci pintu rumah, ia membawa tubuh Jani ke atas sofa, dengan serangan yang membabi-buta.


Jani tak bisa mengelak, sentuhan sang suami sudah masuk ke relung hatinya. Hingga akhirnya dia pasrah, saat Aydan menyatukan diri atas sofa.


Penyatuan yang terasa mendebarkan dengan desaah tertahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Menjelang sore, Jani terlihat sudah mandi, mandi berdua dengan sang suami. Karena setelah percintaan mereka, lelaki itu tak serta merta melepaskannya.


Ia terus dibuat melayang oleh permainan Aydan, tak hanya satu, dua kali. Siang itu Aydan benar-benar seperti singa kelaparan, membabat habis tenaga Jani, hingga gadis itu tepar diatas ranjang.


"Sayang, ada ibu di bawah. Katanya mau mengajak kamu bertemu Selina." Ucap Aydan.


Setelah memakai baju, lelaki itu memang langsung turun, mengambil air minum untuk sang istri.


Jani mengangguk, menerima uluran air itu, lalu menandaskannya.

__ADS_1


"Kita sholat dulu, habis itu baru ke rumah Alana." Aydan meraih kembali gelas kosong itu, lalu meletakkannya di atas nakas.


Mengajak sang istri berwudhu dan sholat Ashar bersama.


Setelah itu, barulah pasangan muda itu keluar dari kamar. Menemui Kiran yang saat itu juga baru selesai sholat.


"Masyaallah cantiknya menantu ibu." Puji Kiran saat Jani sudah menyalimi tangannya dengan takdzim.


"Gimana Bu? Nggak perlu pacaran Aydan bisa langsung menikah kan?" Aydan mulai pamer pada sang ibu, yang kerap meledeknya itu.


"Iya, iya percaya. Tapi sekarang ibu mintanya bukan pacar lagi, tapi cucu." Seloroh Kiran, membuat ketiganya terkekeh secara bersamaan.


Setelah menyelesaikan candaan itu, ketiganya langsung pergi ke sebelah rumah mereka, yakni rumah yang ditempati Alana.


Menemani sekaligus membantu ibu muda itu dalam mengurus Selina. Karena setelah ketiadaan Widya, Alana menjadi satu-satunya wanita dewasa di rumah ini.


Kiran sempat mengajak sang anak untuk pindah sementara ke rumahnya. Namun, gadis itu kekeuh, ingin tetap tinggal di rumahnya dan Altar.


Tidak ingin meninggalkan Agung sendiri.


Akhirnya semenjak hari itu, Jani dan Kiran kulu kilir, bergantian menjaga ibu muda dan bayinya agar tidak terkena baby blues.


"Mbak Jani." Panggil Alana pada Kakak iparnya itu.


Sontak Jani yang duduk tak jauh darinya menoleh. "Ada apa? Apa kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Jani spontan.


Dan Alana menggeleng kecil, dengan senyum yang mengembang.


"Aku nggak butuh apa-apa, aku cuma mau tanya sama Mbak Jani." Ucapannya sedikit berbisik, membuat Jani mencodongkan tubuhnya.


"Tanya apa?" Jani jadi ikut berbisik-bisik pula.


"Mbak Jani sama Mas Aydan udah gitu-gituan?" Tanya Alana dengan binar mata polosnya.


Sedangkan Jani yang ditanya seperti itu justru mengerjap pelan. Seraya menelan ludahnya kasar.


"Udah yah?" Desak Alana menginginkan jawaban.


Melihat Kakak iparnya yang bergeming dengan wajah gugup. Alana yakin bahwa sang Kakak sudah menembus pintu surga dunia istrinya.


Pipi Jani terasa panas, dan gugup sekaligus. "Udah apa maksud kamu?" Pura-pura tidak mengerti.

__ADS_1


"Bikin dedek bayi."


Dan jawaban itu, membuat Jani langsung terbatuk, karena tersedak ludahnya sendiri.


Kenapa dia frontal sekali.


"Cie udah yah? Nggak apa-apa Mbak, nggak usah malu sama aku. Gimana rasanya, enakan?"


Ya ampun, aku harus jawab apa? Dia ini pertanyaannya ada-ada saja. Aku jadi merinding.


"Tapi awalnya sakit, udahannya enak kok. Aku juga dulu sama Mas Altar_"


"Iya-iya, sudah yah. Tidak perlu diteruskan." Potong Jani cepat-cepat, bisa-bisa dia kehabisan nafas jika terus mendengarkan cerita Alana.


Dan obrolan itu benar-benar terputus, saat Kiran masuk kembali ke dalam kamar, dengan sepiring buah segar di tangannya.


Kiran tersenyum, lalu meletakkan buah tersebut di atas nakas lengkap dengan dua garpu.


"Sini, biar ibu yang pegang Selina. Kalian makan buah dulu tuh biar seger, abis itu istirahat." Ucap Kiran, seraya mengambil bayi kecil dari gendongan Alana.


Selina selesai menyusu.


Alana dan Jani kompak mengangguk, lalu setelahnya Kiran benar-benar membawa bayi mungil itu keluar, menemui Aslan dan Agung di depan teras rumah.


Setelah menghabiskan satu piring buah itu bersama-sama, Jani pergi ke dapur, meletakan piring yang sudah kotor itu di wastafel.


Saat ia hendak pergi ke kamar Alana lagi, ternyata ada sang suami yang duduk di sofa. Niat pertama urung, ia justru mendekat ke arah Aydan.


Tanpa dipinta, ditambah rasa lelahnya, Jani meletakkan kepalanya di paha Aydan. Membuat lelaki itu sedikit terkejut, namun detik berikutnya dia tersenyum lebar.


"Kenapa? Capek ya?" Tanya Aydan dan dijawab anggukan cepat oleh Jani.


"Tidurlah, aku temani disini." Aydan mengelus lembut punggung sang istri hingga keduanya benar-benar terlelap di atas sofa.


Tak berbeda dengan yang di dalam sana. Alana dan Altar juga sudah jauh ke alam bawah sadar mereka.


Sedangkan ketiga orang paruh baya itu, masih setia duduk di teras rumah, dengan bayi kecil yang ada di dalam gendongan Kiran.


Mereka semua sudah bahagia. Dan mereka berharap di atas sana, Widya pun merasakan hal yang sama.


......TAMAT......

__ADS_1


__ADS_2