Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 97


__ADS_3

Kemarin, Kiran tak bisa menjemput sang kakak di


Bandara. Hari inipun ia tak bisa mengantar kepulangan kakaknya itu. Hanya


Aslan, Iwan dan Yuli yang mengatar mereka.


Aslan bekerja dari rumah, sekretaris pribadinya yang bernama Pras yang kulu kilir membawakan berkas-berkas atasannya itu.


“Mbak Tika, maaf ya, aku tidak bisa mengantar ke


Bandara,” ucap Kiran dengan penuh sesal. Saat ini ia hendak berangkat kerja, dan sekaligus berpamitan pada Tika dan juga Fahmi yang kelak akan kembali ke


Malaysia.


“Tidak apa-apa Ran, salam ya untuk Agung, katakan padanya, aku nanti tidak bisa datang saat dia menikah, tapi aku akan


mengirimkan kado,” jawab Tika seraya melepas pelukannya dengan sang adik ipar.


“Oke siap.” Jawab Kiran patuh.


Selesai berpamitan dengan Tika, kini Kiran


mendatangi sang kakak, Fahmi.


“Sudah sana, berangkat,” ucap Fahmi langsung, bahkan sebelum Kiran mengucapkan sepatah katapun.


Kiran langsung cemberut, sementara Aslan yang juga berada disana mengulum senyumnya.


Mereka semua berada di halaman, Yuli, Iwan, Raka dan Rian masih berada di dalam rumah.


“Mas, aku berangkat dulu ya, sampai bertemu lagi,” ucap Kiran sambil menurunkan pandangannya, tak kuasa untuk menatap kedua mata sang kakak.


“Ya, hati-hati,” jawab Fahmi singkat, lalu memeluk tubuh adiknya itu erat, hingga Kiran mengigit bibir bawahnya kuat-kuat, agar air


matanya tak kembali tumpah.


Kiran berhasil, pagi itu ia tak menangis sedikitpun. Sebagai salam perpisahan, Kiran terus mengukir senyumnya.


Selepas kepergian Kiran. Aslan, Fahmi dan Tika


kembali masuk ke dalam rumah. Sebelum pergi nanti, Fahmi dan Tika akan


mengunjungi rumah mereka sejenak.


Mengobati rasa rindu mereka pada rumah yang penuh dengan kenangan ini.


Bahkan beberapa foto bayi Raka dan Rian masih


terpampang jelas disana, meski sudah sedikit berdebu.


“Mbak Tika, di panggil Umi,” ucap Aslan, ia menyusul kedua kakak iparnya ini kesini, untuk menyampaikan pesan Yuli yang ingin


menemui Tika.


Tika mengangguk, lalu memutuskan untuk langsung pulang ke rumah Yuli. Meninggalkan aslan dan fahmi berdua di rumah ini. Aslan,


juga sudah lama sekali tidak masuk kesini, ia lalu pamit pada sang kakak ipar


untuk menuju ke kamar Kiran.


Dan disinilah kini Aslan berdiri, lalu tersenyum


kala mengingat tentang malam pertama mereka. Kiran memintanya lebih dulu, namun

__ADS_1


sekuat tenaga Aslan menahan, karena saat itu Aslan tahu, Kiran hanya melakukannya untuk kewajiban, bukan cinta, jangankan cinta, Aslan tahu betul, bahkan saat itu Kiran belum menerima dirinya.


Tapi kini semuanya sudah berbalik, cinta itu


berhasil mereka raih. Bahkan kini ada aydan diantara mereka, bukti bahwa cinta


itu ada.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kembali ke rumah Yuli, Tika langsung menemui mertua adik iparnya itu. Yuli duduk di ruang tengah bersama dengan iwan, menunggu


kedatangan Tika.


“Bude, kata Aslan Bude mencariku, ada apa?” tanya Tika, seraya duduk disebelah Yuli.


Yuli tersenyum, lalu menyerahkan satu amplop berisi uang yang cukup banyak untuk Tika.


“Simpanlah ini, untuk Raka dan Rian,” ucap Yuli.


Kedua netra Tika membola, ia langsung menggeleng dengan cepat, bahkan kembali menyerahkan amplop itu ke tangan Yuli.


“Tidak usah Bude,” balas tika sungguh-sungguh,


sumpah demi apapun ia tak mengharapkan apapun, apalagi sampai Yuli memberi


kedua anaknya sejumlah uang seperti ini.


“Tika, mulai sekarang, panggilah Bude dengan sebutan Umi, sama seperti Kiran. Dan panggil pakde Iwan juga dengan sebutan Abi,” jelas


Yuli tak kalah bersungguh-sungguhnya. Bahkan Iwan pun mengangguk setuju akan


hal itu.


“Raka dan Rian sudah tidak memiliki kakek dan nenek dari Fahmi, karena itulah, anggap umi dan abi adalah nenek dan kakek untuk Raka


Tika.


Tak bisa ditahan, air mata Tika luruh juga.


Kehangatan sebuah keluarga yang begitu ia rindukan, kini kembali ia rasakan.


Hidup di Malaysia seorang diri, membuatnya begitu menginginkan kehangatan ini.


Dan Tika sungguh tak meyangka, Yuli akan melakukannya.


“Baiklah Umi, tapi aku tidak bisa menerima ini,”


sahut Tika, lalu mengembalikan amplop itu lagi. Ia tak mau, fahmi akan memarahinya jika menerima uang ini. Karena itulah, ia akan menolak, meski


rasanya begitu tak sopan.


Tanpa disadari oleh ketiga orang disana, bahwa Fahmi pun sebenarnya sudah kembali tak lama setelah Tika sampai. Fahmi pun medengar


semua kalimat yang diucapkan oleh Yuli, jujur saja, hatinya terenyuh.


“Umi mohon Tika, terimalah,” pinta Yuli, bahkan


hingga sampai ia memelas.


Dan Tika makin diselimuti kegundahan, ia hanya mampu meremat kedua tanganhya kuat.


“Ambilah sayang,” ucap Fahmi menyela keduanya.

__ADS_1


Ia datang kesana, lalu duduk di salah satu kursi.


Fahmi mengangguk pada istrinya itu, memberi isyarat bahwa ia memberi izin Tika untuk menerima amplop pemerian Yuli. Melihat jawaban


Fahmi itu, tentu saja Yuli dan Iwan langsung berbagaia, bahkan keduanya terus mengucapkan kata Alhamdulilah di dalam hati.


Akhirnya tanpa ragu lagi, Tika segera menerima


amplop itu, tak lupa juga ia mengucapan kata terima kasih. Dan yuli membalasnya


dengan sebuah pelukan.


“Ingat, mulai sekarang kalian harus panggil bude dan pakde dengan sebutan umi dan abi, umi tidak mau dengar, kalian salah sebut,”


ucap Yuli dengan nada seolah marah, ia hanya ingin mencairkan suasana agar tak


kembali haru.


Fahmi dan Tika tersenyum, lalu mengangguk dengan kompak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siang harinya, Fahmi dan semua keluarganya kembali terbang ke Malaysia.


Setelah mengantar mereka, Yuli dan Iwan langsung pulang. Sementara Aslan berniat mengunjungi sang istri sejenak, di tempat kerja


Kiran. Tanpa memberi tahu perihal kedatangannya itu lebih dulu.


Saat ini masih jam istirahat, seperti biasa, Kiran


dan Agung makan siang bersama di salah satu cafe yang tak jauh dari showroom


itu. Tapi kini ada sedikit yang berdeba, kini mereka punya anggota baru, Widya.


Duduk di meja dekat jendela kaca, mereka semua makan siang dengan sesekali diselingi obrolan ringan. Kiran dan Widya membahas


tentang pernak pernik pernikahan, sedangkan Agung fokus ke ranjang.


“Ampun!” pekik Kiran, tak habis pikir dengan isi


otak sahabatnya ini.


Sedangkan Widya hanya terus terdiam, sedikit menunduk dengan kedua pipinya yang sudah merona, malu.


Hingga tanpa sengaja, kedua netra Kiran menangkap sebuah mobil yang begitu dikenalnya dengan baik, mobil suaminya terparkir


disebenag jalan sana. Ia yakin betul jika itu adalah mobil Aslan, tapi kenapa


Aslan tidak mneghubunginya jika hendak kesini.


Tanpa babibu, Kiran langsung menelpon sang suami. Ia bahkan menyudahi makan siangnya dan hendak menghampiri mobil itu.


Terus berjalan, menyeberang jalan dengan ponsel yang menempel ditelinga.


Aslan di dalam mobil mengulum senyumnya,


memperhatikan sang istri tanpa berniat menjawab panggilan telepon itu.


Hingga saat Kiran sudah berada disamping mobilnya dan langsung mengetuk-ngetuk kaca mobil Aslan .


Perlahan, Aslan pun membukanya, namun  yang keluar hanya setangkai bunga mawar,


bahkan wajahnya pun tak sampai terlihat.

__ADS_1


Kiran terkekeh, mengambil bunga mawar itu dan


kembali memukuli kaca mobil sang suami dengan kuat.


__ADS_2