Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 79


__ADS_3

“Mas Aslan!” panggil Kiran dengan sedikit berteriak dari lobby saat melihat  suaminya tu nyaris saja masuk ke dalams alah satu lift.


Aslan menoleh kearah sumber suara yang sudah begitu dihapalanya itu, ternyata benar. Kiran berdiri disana. Tapi tak hanya Aslan yang menoleh, Maya yang menengar nama iu dianggil pun ikut melihat kearah syang sama, hingga nampak jelas, kiran yang berada di tengah-tengah lobby.


Sesaat Maya tertegun, apalagi saat memperhatian penampilan Kiran dari atas sampai bawah,  melihat Kiran yang kini sudah mengenakan hijab.


Ada desiran aneh yang kembali menguasai hatinya.


Mereka bertiga seperti terhubung oleh sebuah garis, hingga membentuk sebuah segitiga, lingkaran takdir mereka.


Kiran kembali melangkah cepat menghampiri suaminy itu, napasnya terengah saat sudah berdiri tepat dihadapan Aslan.


Sementara Maya, hanya terus memperhatikan keduanya dari tepatnya berdiri.


“Ponsel Mas, kok masuk di tasku, untung aku keburu lihat,” ucap Kiran seraya mengulurkan ponsel sang suami, yang tadi pagi malah masuk ke dalam tasnya.


“Mungkin Aydan yang masukin, kan tadi ponsel ini


dipegang-pegang Aydan," jawab Aslan sambil mengingat-nginat kejadian di rumah tadi pagi.


Setelah mengambil uluran ponsel itu, Aslan segera


menghapus beberapa peluh yng sdah mulai muncul di dahi sang istri. “Terima kasih sayang,” ucap Aslan, seraya mencubit gemas hidung Kiran.


Ponsel itu memang penting baginya, ada beberapa


dokumen yang tersimpan disana, masuk ke dalam google drive.


"hanya ucapan terim kasih? Ciumnya mana?” tanya kiran dengan sedikit berbisik.


Aslan mengulum senyumnya, lalu mengikis jarak seolah membisikkan sesutu ditelingga sang istri, pdahal Aslan mengecup sekilas pipi Kiran, hingga membuat senyum wanita beranak 1 ini terbit.


“Aku akan nailk. Kamu hati-hati ya?" Ucap Aslan setelah kembali memberi jarak, dan Kiran hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan.


Mereka berpsiah meninggalkan senyum dibibir masing-masing.


Melihat lift sang suami sudah tertutup, Kiran


langsung saja berbalik, hendak menuju tempat kerjanya.


Namun alangkah terkejutnya Kiran, sesaat setelah berbalik itu ia melihat Maya berdiri tepat dihadapannya, tak jauh dari tempatnya


berdiri, menatanpya dengan tatapan yang lekat.


Deg!


Maya. Batin Kiran. Tiba-tiba kakinya membatu, tak bisa bergerak.


Hingga dilihatnya, Maya yang lebih dulu datang dan menghampiri. Hingga kini, Maya berdiri tepat dihadapannya.


"Mbak Kiran,” sapa Maya, namun Kiran tetap bergeming.


“Mbak, maafkan aku,” ucap Maya lagi, dengan raut wajah penuh penyesalan. Pertemuan mereka sontak membuka tabir masa lalu yang

__ADS_1


sudah setahun lebih ini terkubur rapat.


Kiran masih saja bergeming, iapun bingung harus


bagaimana. Pasalnya bukan hanya ia yang menderita selama pernikahan itu, bahkan


Maya sampai harus berpisah dengan Aslan.


Akhirnya Kiran menggeleng pelan, “Tidak May, kamu tdak salah, aku yang seharusnya minta


maaf,” jawab Kiran setelah semua kesadarannya kembali.


“Apa dia anakmu?" tanya Kiran yang tak ingin suasana canggung ini menguasai mereka, dan hanya melihat anak perempuan cantik itulah


yang berada dalam gendongan Maya.


Tersenyum kecil, Maya mengangguk. Ia pun sebenarnya tak ingin kembali mengingat masa lalu, masa yang teramat sangat menyakitkan bagi


dirinya, karena kesalahannya sendiri ia sampai kehilangan orang yang sangat dicintainya, bahkan hingga kini rasa cinta itupun masih ada, meski kadarnya sudah berkurang.


“Iya Mbak, aku sudah menikah lagi, dan dia adalah


anak sambungku, ibunya meninggal saat melahirkan dia,” jelas Maya apa adanya, Maya memang menikah lagi dengan seorang duda, setelah masa iddahnya selesai. Ia menikah lagi karena dijodohkan oleh kedua orang tuanya.


“Alhamdulilah, sekarang kamu tinggal di Jakarta?


Tanya Kiran lagi dan Maya menggeleng.


“Tidk Mbak, aku ikut suamiku, tinggal di Surabaya, aku ke Jakarta hanya menemani suamiku yang sedang dinas.”


“Mbak masih menikah dengan mas Aslan? Tanya Maya lirih, dan Kiran semakin bingung untuk menjawab. Namun saat teringat Aydan, ia


akhirnya menjawab dengan mantap, “Iya, aku masih menikah dengan Mas Aslan,” jawab


Kiran.


Dan Maya hanya tersenyum kecil, ia pikir setelah


menceraikan dirinya, Aslan pun akan becerai dengan Kiran, ternyata lagi-lagi dugaannya salah.


“May, maaf ya, aku harus segera perg,” ucap Kiran,


saat ini memang nyaris jam 8, jika lebih lama lagi ia menuju Showroom bisa dipastikan ia akan datang terlambat.


“Iya mbak, mbak duluan saja, aku masih menunggu suamiku,” jawab Maya, yang juga merasakan kecanggungan yang sama.


Mendengar itu, Kiran mengangguk lalu berlalu pergi. Namun baru 5 langkah ia berjalan, Kiran kembali berbalik dan menghampri Maya.


Ia memberanikan diri untuk memeluk maya lebih dulu.


“Sampai bertemu lagi May, saat perteman kita yang kedua, semoga kita tidak secanggung ini,” ucap Kiran dengan senyum tulusnya,


Sama, Maya pun membalas senyum itu tak kalah tulus. Lalu kembali memeluk kiran erat.

__ADS_1


“Terima kasih mbak, sampai jumpa lagi,dan maafkan untuk semua kesalahanku,” jawab Maya.


Keduanya lalu berpeukan lagi untuk yang ketiga


kalinya, seolah meleburkan semua rasa benci yang selama ini bersarang dihati masing-masing. Lalu melepaskan pelukan itu dengan sebuah senyuman.


Mereka berpisah, bahkan saling melambaikan tangan.


Maya menghembuskn napasnya lega,  ia terus memperhatikan Kiran yang berjalan semakin menjauh, kelur dari pintu hotel dan menghilang dari pandangannya.


Rasa iri itu masih ada, namun sekuat tenaga Maya


redam. Ia cukup sadar diri dengan semua dosa yang pernah ia lakukan, kini Kiran memang lebih berhak bahagia dibandingkan dirinya.


“Sayang,” ucap seorang pria yang nampak begitu


dewasa.


Maya menoleh dan tersenyum pada pria tu, suami


keduanya. Pria yang mau menerima dia apa adanya.


“Ayo pulang,” ajak pria itu lagi dan Maya


mengangguk, seraya memeluk lengan suaminya itu, erat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dan benar, ternyata Kiran telat juga sampai di


Showroom.


Tapi Widya tak menegurnya barang sedikitpun, seolah Kiran adalah anak emas di showroom ini. Karyawan yang lain menatapnya dengan kesal.


Mereka tidak tahu jika selama diperjalanan tadi


Kiran sudah lebih dulu mengkonfirmasi pada Widya tentang keerlambatannya.


“Kok telat? Darimana?” tanya Agung saat sahabatnya itu sudah duduk sempurna di kursi kerjanya, kursi yang berada tepat disamping


kursinya sendiri.


“Anterin ponselnya mas Aslan, tadi kebawa aku,”


jawab Kiran jujur, lalu mulai menghidupkan leptopnya untuk mencetak laporan harian. Menyerahkan daftar mobil yang berhasil ia jual saat hari sabtu kemarin.


“Kayaknya bulan ini kamu bakal tembus target Ran, baru masuk minggu ketiga kamu sudah jual 15 mobil,” ucap Agung apa adanya.


“Makanya kalo kerja yang serius, jangan Cuma modal nunggu pembeli datang, pake juga dong media sosialmu. Walaupun ibu Widya nggak


nyuruh, tapi apa salahnya kalo kita tetep promosi,” jawab Kiran, matanya masih


terus menatap layar leptop tak sedikitpun melihat ke arah Agung.

__ADS_1


Mendengar itu Agung mencebik, Kiran selalu saja seperti itu jika bersikap kepadanya, ketus dan judes, sangat konsisten.


__ADS_2