Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 60


__ADS_3

Hari berlalu, Alfath sudah keluar dari rumah sakit, bersamaan dengan pulangnya Dinda dan si jabang bayi. Bayi berjenis kelamin laki-laki yang dinamainya Akbar.


Untunglah, saat itu Alfath dengan sendirinya mengazani Akbar, sebelum Dinda meminta.


Kini keluarga kecil ini sudah berkumpul di rumahnya sendiri. Kemarin, 3 minggu mereka tinggal di rumah orang tua Dinda.


Memasuki kamar, Dinda tergugu di ambang pintu.


Dilihatnya Alfath yang begitu menyayangi Akbar, seperti anak kandungnya sendiri. Padahal mereka sudah sama-sama tahu, jika Akbar bukanlah anak Alfath.


Menghela napas, Dinda pun menghampiri keduanya.


"Mas, ini kopimu," ucap Dinda seraya meletakkan segelas kopi panas diatas nakas.


Dengan tersenyum, Alfath mengangguk dan Dinda duduk disisi ranjang. Memperhatikan Alfath yang masih mengelus bayi di dalam bedongan itu, Akbar masih tidur.


"Mas," panggil Dinda pelan dan Alfath langsung menatap ke arahnya.


Alfath lalu bangkit meninggalkan boxs bayi dan menghampiri sang istri.


"Ada apa Din?" tanyanya lembut, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama ini, sebelum koma.


Tak langsung menjawab, Dinda meremat kedua tangannya merasa takut, cemas dan gugup. Rasa tak nyaman itu bercampur jadi satu.


"Bukankah Mas akan menceraikan aku setelah Akbar lahir?" tanya Dinda lirih, dengan sendirinya air mata itu luruh.


Memperjelas kepastian rumah tangga mereka adalah sesuatu yang harus segera Dinda tahu. Dinda tak ingin merasakan kebahagiaam yang hanya semu.

__ADS_1


Melihat Dinda menangis, entah kenapa Alfath merasa dadanya begitu sesak. Seolah ia baru menyadari, jika selama ini ia sudah memperlakukan Dinda dengan buruk. Rasa bersalah yang sangat menyiksa, ia ingin menebus semua itu. Agar hatinya kembali lega.


"Maafkan aku Din," jawab Alfath setelah menarik Dinda masuk ke dalam dekapannya.


Bukannya mereda, isakan tangis Dinda makin terdengar jelas.


"Maafkan aku, selamanya aku tidak akan menceraikan kamu Din," ucap Alfath lugas.


Mendengar itu, Dinda melerasi dekapan sang suami. Menatap Alfath dan mencari kejujuran di dalam mata itu.


"Kenapa? bukankah Mas masih sangat mencintai Kiran? dan Akbar juga bukan anak Mas," tanyanya dengan lirih diantara isak tangis.


"Aku memang masih mencintai Kiran, kamu paling tahu bagaimana hubunganku dengan dia kan," jawab Alfath dan Dinda hanya mendengarkan, meski sakit namun memang itulah kenyataannya.


Sedari dulu, Alfath dan Kiran saling mencintai, dialah yang hadir diantara keduanya.


"Tapi aku sadar satu hal, setelah semua yang terjadi, Allah menunjukkan jika Kiran bukanlah jodohku. Sekarang pun rasanya aku tak sanggup untuk bertemu dengan Kiran, apalagi jika ingat dalam kecelakaan itu dia kehilangan anaknya," jelas Alfath dengan sendu.


"Dan tentang Akbar, dia tidak berdosa Din dan aku pun bukanlah orang yang suci," ucap Alfath seraya membalas genggaman tangan Dinda.


Alfath sadar diri, Dinda pun bukanlah wanita pertama yang disentuhnya. Namun inilah bedanya, jika seorang wanita ternoda maka ia akan meninggalkan bekas. Tapi Pria tidak.


Mendengar itu, hati Dinda begitu lega.


"Jadi beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya Din, tetaplah berada di sampingku, bersama Akbar dan anak-anak kita nanti," Alfath mengakhiri kata-katanya dengan mencium sejenak bibir Dinda.


Tersenyum, Dinda mengangguk. Lalu menghampur memeluk tubuh Alfath erat.

__ADS_1


Alhamdulilah, batin Dinda penuh syukur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah gipsnya dilepas, seminggu Kiran menjalani terapi fisik atau fisioterapi. Selama terapi itu, Yuli selalu mendampingi, sedangkan Aslan sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Kini, Kiran sudah dinyatakan sembuh total. Ia sudah bisa kembali berjalan seperti sedia kala.


Di rumahnya pun, kini ia tak tinggal sendiri, ada asisten rumah tangga yang baru bekerja disana, Mbak Desi namanya.


Tersenyum, Kiran memperhatikan dirinya didalam pantulan cermin. Sebentar lagi, suaminya akan pulang dan ia bersiap untuk menyambut.


Wajahnya sudah kembali segar, bahkan kini Kiran nampak lebih berisi. Perutnya pun sudah membuncit seperti orang kekenyangan.


"Bu, mobilnya pak Aslan sudah didepan," ucap Desi, tadi Kiran sudah berpesan jika suaminya datang segera beritahu dia.


"Iya Mbak, terima kasih ya," jawab Kiran, antusias ia segera keluar, ingin menyambut sang suami.


Berjalan dengan hati yang bergemuruh, apalagi saat mendengar bunyi bell rumah itu berdenting.


Senyum Kiran makin mengembang, saat ia membuka pintu itu dan Aslan berdiri disana.


Tak langsung masuk, Aslan malah terpana di tempatnya berdiri.


Memperhatikan lekat, penampilan sang istri dari atas kepala sampai keujung kaki.


"Cantik," puji Aslan singkat, namun mampu membolak balikkan hati Kiran.

__ADS_1


"Sangat cantik," puji Aslan lagi tak habis-habis.


Kiran, mulai mengenakan hijab.


__ADS_2