
Altar, menelan Saliva nya dengan susah payah ketika ia sudah duduk didalam mobil bersama dengan sang kakak, Aydan.
Seketika suasana jadi sangat dingin dan mencekam.
“A-ada apa Mas?” tanya Altar, memberanikan diri untuk buka suara. Meski rasanya, ia begitu gugup dan takut.
Aydan tak langsung menjawab, ia malah menarik dan menghembuskan napasnya pelan. Tatapannya lurus, sedikitpun tak menoleh ke arah Altar.
“Al, kamu tahu kan, kamu dan Alana adalah adik-adikku. Tapi jika aku disuruh memilih diantara kalian berdua, aku akan tetap memilih Alana.” Ucap Aydan akhirnya.
Mendengar itu, Altar hanya mampu bergeming. Diam dan hanya mendengarkan. Sedikit was-was mengenai ucapan selanjutnya dari sang kakak.
“Aku tahu ibu Wid sakit, aku tahu kamu melakukan semuanya demi ibu kita. Tapi aku tetap tidak bisa menerima jika kamu hanya memanfaatkan Alana untuk itu,” jelas Aydan, hingga membuat Altar tersentak.
Sumpah demi apapun, Altar tak ada niat sedikitpun untuk memanfaatkan Alana demi kepentingannya sendiri. Menikahi Alana, juga adalah keinginan dihatinya.
Meskipun memang benar, jika ia melakukannya demi sang ibu.
“Maaf Mas, tapi aku memang mencintai Alana, terlepas dari alasan ibu,” jawab Altar akhirnya, ia harus menjelaskan pada kakaknya ini agar tak ada salah paham diantara mereka.
“Aku akan menjaga Alana dengan sungguh-sungguh Mas, aku akan melakukan apapun yang terbaik untuk Alana,” jelas Altar lagi dengan suaranya yang tegas, penuh keyakinan dan tak ada lagi ketakutan.
Aydan tahu, Altar akan menjawab seperti itu. Ia hanya ingin memastikan.
Kecil, Aydan tersenyum, lalu menatap ke arah sang adik.
“Pegang kata-kata mu itu, sekali saja kamu mengingkarinya, Mas akan kembali mengambil Alana.”
“Baik Mas,” jawab Altar patuh.
Tak lama setelah mereka membicarakan tentang Alana itu, Altar turun dari dalam mobil sang kakak.
Bunyi bell tanda masuk sudah mulai terdengar, bahkan gerbang sekolah akan segera ditutup.
Menyadari itu, Altar segera berlari masuk ke dalam sekolah dan buru-buru menuju kelasnya.
Dalam larinya itu, Altar berjanji pada dirinya sendiri, jika ia akan berubah jadi lebih baik. Belajar dengan sungguh-sungguh, tak lagi mengusili siswa lain dan berusaha mendapatkan nilai yang baik di ujian naik kelas nanti.
Altar ingin menunjukkan pada semua orang, jika ia bisa, jika ia mampu.
Dan.
Hari berlalu, berjalan seperti yang Altar kehendaki. Setiap hari ia belajar sungguh-sungguh bersama Alana untuk menghadapi ujian kenaikan kelas.
Hingga akhirnya ujian itu rampung dan nilai pun mulai dipasang di papan pengumuman.
Altar, berdiri di sana diantara teman-temannya.
Tatapan Altar, Suga dan yang lainnya langsung tertuju pada lembar anak-anak yang harus melakukan remedial. Biasanya, nama mereka akan tercetak di sana.
Altar membaca dengan seksama kertas itu dan mencari namanya sendiri, dan betapa leganya Altar. Jika ia tak menemukan namanya di sana, Altar, sudah berhasil keluar dari daftar langganan remedial itu.
Buru-buru, kini Altar menggulir matanya, mencari namanya sendiri di daftar nilai terbesar hingga terkecil siswa kelas 2.
Ia melihat Alana dan Sisil berdekatan, Alana berada di nomor 4 dan Sisil berada di nomor 6.
__ADS_1
Kedua netra Altar terus turun, dan berhenti saat ia menemukan namanya sendiri. Berada di nomor 75 diantara 130 murid, tertulis jelas nama Muhammad Altar.
Altar tersenyum, diangka itu, ia sudah sangat bangga.
Karena biasanya, Altar berada diangka 100 lebih.
“Wah, berkat kursus sama Alana ini sih.” Ucap Raffi saat melihat nama Altar berada di no nomor 75, sementara ia dan teman-temannya yang lain tetap berada di angka 100 lebih, meskipun tidak sampai mengikuti remedial.
Altar kembali tersenyum, membenarkan ucapan Raffi itu.
“Al, lain kali ajak kami belajar bersama Alana ya,” pinta Billar sungguh-sungguh, ia sudah jengah selalu dimarahi kedua orang tuanya perihal nilai ini.
Mendengar permintaan sahabatnya itu, seketika raut wajah Altar berubah masam. Ia sungguh tak menginginkan Alana mengajari siapapun, selain dirinya.
Jiwa posesifnya muncul dengan sendirinya.
Tak ingin Alana dimiliki oleh orang lain, meskipun itu demi pelajaran.
“tidak, minta ajari Sisil saja,” jawab Altar kemudian hingga semua temannya menatap tajam .
“Dasar bucin!” kesal Suga.
“Bucin akut!” Ahmad menimpali.
Dan Altar tak peduli sama sekali.
Ia malah izin pergi pada sahabat-sahabatnya itu, pamit ingin mencari Alana. Suga dan yang lainnya makin ingin muntah ketika mendengar itu.
Saking jijiknya, mereka semua malah mengusir Altar agar segera pergi.
Altar mendatangi kelas gadis itu, melongok dan melihat isi dalamnya.
Seketika Altar tersenyum lebar, saat tatapannya langsung bertemu dengan kedua netra indah itu, Alana pun sedang melihat ke arahnya.
Melihat sang calon suami datang, Alana pun segera bangkit dari duduknya dan menemui Altar. Hingga keduanya bertemu diambang pintu kelas 2A itu.
“Kamu sudah liat hasil ujian kemarin?” tanya Altar langsung dan Alana menggelengkan kepalanya.
“Belum, kata Sisil tunggu dulu, dia masih pergi ke toilet.”
Mendengar Sisil sedang pergi, Altar pun langsung saja menarik Alana untuk mengikuti langkahnya.
Mereka berdua berjalan cepat, naik ke atap sekolah ini. Alana bahkan sampai merasa kelelahan, saat Altar menariknya dan memaksanya mengikuti langkah Altar yang lebar-lebar.
Sampai di atas sana, napas Alana terengah-engah. Ia sangat haus.
“Ya ampun Al, aku capek,” keluh Alana jujur, entah berapa anak tangga yang sudah ia naiki tadi dengan sedikit berlari.
Bahkan kini napasnya sampai terputus-putus, tersengal.
“Maaf Al, “ ucap Altar, ia menghapus peluh Alana yang mulai membasahi dahi. Untunglah, di tangan kiri Altar, tadi ia membawa sebotol air mineral.
“Minumlah dulu” ucap Altar, seraya mengulurkan botol air minum itu.
Tanpa banyak babibu, Alana langsung menerimanya, meminumnya dengan tidak sabaran.
__ADS_1
Bahkan terdengar jelas oleh Altar, bunyi tegukan itu.
Melihat Alana yang mengangkat tinggi wajahnya dan memperlihatkan leher jenjang itu.
Seketika darah Altar mendidih, entah kenapa ia jadi panas dingin begini, saat melihat Alana yang minum seperti itu.
Dan seperti diluar kendalinya, Altar langsung saja merebut botol minum di tangan Alana dan menyesap bibir basah itu dengan begitu lembut.
Menyesapnya dalam hingga membuat Alana terlonjak kaget, ia bahkan langsung mendorong dada Altar untuk menjauh. Bukannya tak mau ada sentuhan, namun kini mereka sedang berada di sekolah.
Sumpah demi apapun, Alana sangat takut jika sampai ketahuan.
Melihat Altar yang tak ingin melepas pagutannya, terpaksa Alana mengigit bibir itu. Hingga akhirnya Altar gaduh kesakitan dan mulai menjauh, memberi jarak.
“Altar!!” pekik Alana geram.
“Ini disekolah!! Bagaimana jika ada yang lihat!” gerutu Alana lagi, ia bahkan menatap Altar dengan tatapan andalannya, tatapan tajam .
“Maaf Al_”
“Maaf maaf terus!” potong Alana ketus.
Sudah lama sekali Altar tidak dimarahi oleh Alana seperti ini.
“Besok-besok kalau minum dari botol jangan menghadap ke arahku.”
“Memangnya kenapa? Suka-sukaku mau menghadap kemana,” balas Alana, sengit.
Altar mencebik, dasar tidak peka, gerutunya di dalam hati.
Setelah berdebat, akhirnya mereka berdamai. Dengan banyak kesepakatan yang mereka buat berdua. Salah satunya adalah tidak ada sentuhan ketika mereka sedang berada di sekolah.
Altar menuruti, meski dengan berat hati.
Lalu Altar mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Sebuah cincin yang tidak ada wadahnya. Cincin sederhana, dengan mata kecil yang berkilauan.
“Aku membawamu kesini untuk memberi ini,” ucap Altar serius. Mereka masih berdiri ditempat yang sama, namun kini dengan suasana yang berbeda.
Melihat cincin indah itu, seketika Alana terpana, dengan hatinya yang merasa haru.
“Al, maukah kamu menikah denganku?” tanya Altar lirih, ia sungguh ingin melamar Alana dengan cara yang layak. Dan inilah yang ia bisa.
Setelah berhasil mendapatkan nilai ujian yang lebih baik, ia memang ingin segera melamar sang calon istri. Dan tak ingin banyak mengulur waktu.
Altar, langsung melakukannya saat ini juga.
“Aku mau Al,” jawab Alana akhirnya. Setelah cukup lama ia terpana.
Alana tergugu, dengan matanya yang berbinar-binar.
Alana hanya menurut, saat Altar mengambil tangan kirinya dan menyematkan cincin itu di jari manis.
“Cantik, seperti kamu,” ucap Altar.
__ADS_1
Hingga membuat Alana meleleh.