Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 139 - Seperti Kucing


__ADS_3

“Stop! Stop!” titah Alana, saat ia dan Altar nyaris saja sampai di depan gerbang sekolah.


Altar sudah hapal betul jika Alana akan meminta berhenti disini, dan dia menurutinya tanpa banyak perdebatan. Daripada mendengarkan


ocehan Alana dari pagi sampai pulang nanti, lebih baik turuti saja keinginan


bocah tengil ini.


Setelah turun dari atas motor, Altar pun membantu Alana untuk melepaskan helm.


“Pulang nanti gimana? Tunggu sekolah sepi?” tanya Altar dan Alana menganggukkan kepalanya, seperti biasa, untuk menghindari bahan gosip, mereka akan pulang paling akhir dari semua teman-temannya.


“Okelah,” jawab Altar kemudian, lalu segera kembali memelajukan motor besarnya dan mulai masuk ke dalam sekolah. Sementara Alana, masih harus berjalan kaki menuju sana.


Memasuki gerbang, kedatangan Alana langsung mencuri perhatian semua orang.


Rambut panjang yang tergerai asal namun nampak rapi, kulit putih bersih dengan tubuh yang semampai. Dan jangan lupakan juga,


tatapannya yang dingin namun memabukkan. Alana berjalan dengan angkuh, sengaja seperti itu agar tak ada yang berani mengganggunya, hingga ia mendengar suara seorang gadis yang memanggilnya dengan memekik.


Didepan sana, Prisila atau Sisil berlari menghampiri dirinya.


“Al!!” pekik Sisil antusias, entah ada kabar apa pagi ini sampai Sisil sesenang itu.


Sisil bahkan langsung memeluk lengan kiri Alana erat.


“Seneng banget, ada apa?” tanya Alana kemudian, kedua gadis ini kembali melanjutkan perjalanan, menuju kelas mereka yang masih berada jauh di sana.


“Kata Bunda, nanti siang mas Aydan sama tante Kiran datang ke rumah, Ah ya Ampun! Gemes!” celoteh sisil, dengan membayangkan wajah sang pujaan hati, Aydan.


Alana yang melihat itu hanya mampu bergidik ngeri. Menurutnya, sang kakak memang tampan, tapi mas Akbar kakak Sisil jauh lebih tampan, pikir Alana.


Kedua gadis ini terus berbincang hingga akhirnya mereka sampai di kelas 2A, kelas yang diisi oleh murid-murid berprestasi. Altar tidak berada dikelas ini, melainkan dikelas 2E. Kelas yang semua muridnya membutuhkan bimbingan ekstra untuk menaikkan nilai mereka.


Masuk ke dalam kelas, dan langsung duduk di kursi mereka masing-masing. Hingga tak berapa lama kemudian, Nathan datang


menghampiri Alana.


“Al, ini buku mu yang ku pinjam kemarin. Terima kasih ya?” ucap Nathan seraya menyerahkan sebuah buku mata pelajaran matematika pada Alana. Kemarin, Nathan mendapat tugas menulis didepan sehingga ia tak bisa mencatat untuk bukunya sendiri, karena itulah ia meminjam buku Alana.


Dan hari ini, ia mengembalikannya.

__ADS_1


Alana, hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban, lalu menerima uluran buku itu.


Melihat wajah Alana yang nampak datar, Nathan hanya mampu menghembuskan napasnya pelan.


Sejak awal masuk ke sekolah ini, Alana adalah satu-satunya murid yang mencuri perhatiannya, namun ternyata begitu sulit untuk mendekati Alana. Alana selalu bersikap dingin pada semua orang, terkecuali pada sisil. Dan satu lagi, Altar.


Lihatlah, Alana memang sok, siswa paling tampan disekolah ini saja diabaikan begitu saja. Hih! Kesal sekali aku! Bisik salah


satu siswi yang duduk cukup jauh dari Alana.


Itulah kenapa aku tidak menyukai dia. Dia mendapatkan semua yang orang-orang inginkan, kecantikan dan otak yang pintar sekaligus. Serakah! Balas siswi yang lain, merasa geram.


Mereka tak suka akan kesempurnaan yang dimiliki oleh Alana. Mereka sangat ingin, sekali saja Alana mendapatkan sial. Misalnya nilai turun, atau mendadak wajahnya berubah jadi buruk rupa.


Tak melihat respon apapun dari Alana, akhirnya Nathan kembali ke kursinya sendiri.


Sisil, langsung menggeser kursinya, hingga sampai disebelah Alana.


“Al, aku punya rahasia,” bisik Sisil langsung.


Sebelum Alana bertanya apa rahasia itu, Sisil sudah lebih dulu membisikkan kalimat panjang di telinga sang sahabat.


Mendengar itu, kedua netra Alana membola. Seolah tidak percaya dengan cerita sang sahabat. Selama ini, baik ibu atau ayahnya tidak pernah bercerita seperti itu.


Tapi jika ceritanya benar, lalu ia akan dijodohkan dengan siapa?


Altar? Pekiknya didalam hati. lalu menggeleng dengan cepat.


Tidak! Teriaknya lagi didalam hati, tidak terima jika memang benar begitulah adanya.


“Jangan asal ngomong, mana ada jodoh-jodohan jaman  sekarang,” ketus Alana dengan tatapannya yang


tajam.


Namun Sisil tak takut sedikitpun dengan tatapan mengerikan sang sahabat. Ia sudah terbiasa dan sudah memahami karakter


sahabatnya ini.


“Aku serius, kalau tidak percaya coba tanya sendiri pada ibu atau ayahmu,” tantang Sisil, tak mau kalah.


Lagipula jika itu benar, maka dia adalah orang yang paling bahagia. Sisil, akan meminta untuk dijodohkan dengan Aydan. Hanya membayangkannya

__ADS_1


saja, Sisil sudah senyum-senyum sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam pulang sekolah tiba.


Alana masih berada di di taman sekolah itu, duduk dengan pikirannya yang melayang kemana-mana. Rahasia yang diucapkan Sisil tadi benar-benar mengganggu pikirannya.


Dalam hatinya ia begitu menolak, merasa tak masuk akal. Namun lain hati lain pula di otak.


Jika diingat-ingat, kedua orang tuanya memang menunjukkan gelagat aneh, ibu dan ayah pertama dan ibu dan ayah keduanya sering sekali meminta Alana untuk selalu bersama Altar.


Jika mengingat itu, rasanya sungguh masuk akal jika ia dan Altar sudah dijodohkan sejak usia dini, bahkan mungkin sejak ia masih


berada didalam kandungan dulu kala.


Pelan, Alana menggeleng. Tak ingin hal itu sampai terjadi. Altar, bukanlah tipe calon suami yang ia idam-idamkan, Alana ingin


suami yang seperti ayahnya. Pintar, bertanggung jawab dan sangat manis,


sementara Altar? Duduk saja di kelas 2E, dan hobinya mengganggu adik-adik tingkah.


“Ah!” kesal Alana seraya mengacak rambutnya frustasi.


Nanti saat pulang ke rumah, ia akan meminta penjelasan dari ayah dan ibunya. Benar atau tidak cerita sisil hari ini.


“Al, ayo!” teriak Altar dari seberang sana, ia tak menghampiri Alana, hanya berteriak dan melambai, meminta Alana untuk mendekat.


Saat ini teman-teman mereka sudah lebih dulu pulang, meski masih ada beberapa siswa dan siswi lainnya, namun cukup aman untuk mereka


pulang bersama.


Tanpa babibu, Alana pun langsung menghampiri Altar, menatap anak ayah Agung ini dengan tatapan sengit, tatapan permusuhan.


“Kenapa lagi? Uang jajan mu habis?” tanya Altar menebak, tadi pagi saat Alana mendapatkan uang 100 ribu dari mas Aydan ia sangat bahagia, dan siang ini, wajah Alana kembali masam, mungkinkah uangnya habis? Pikir Altar yakin.


Alana tak menjawab apapun, hanya tatapannya saja yang semakin dipertajam.


Gemas, Altar pun mengacak rambut Alana, hingga membuat Alana makin mengeram kesal.


“Wajahmu biasa saja, kalau seperti itu mirip kucingnya bude Dar, hahahaha.” Seloroh Altar, seraya membayangkan kucing anggora milik tetangga mereka. Kucing berwarna abu dengan tatapannya yang bengis.

__ADS_1


__ADS_2