Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 151 - Memilih Berpura-Pura Tidak Tahu


__ADS_3

Sampai di rumah Altar langsung mencari keberadaan kedua orang tuanya, perasaannya yang mendadak gelisah membuat ia harus melihat secara langsung bagaimana keadaan ayah dan ibunya itu.


Tak menemukan dimana-mana, akhirnya Altar memutuskan untuk mengetuk kamar kedua orang tuanya. Namun belum sempat terketuk pintu itu sudah terbuka.


Sang ayah, membukanya dengan wajah mendadak pias, seolah melihat Altar seperti melihat hantu.


“Ayah kenapa?” tanya Altar, mengandung kecemasan.


“Kenapa kesini? Kalau baru pulang ganti bajumu, lalu makan siang,” jawab Agung, kebiasaan yang selalu ia lakukan, menjawab pertanyaan sang anak dengan pertanyaan pula.


Bukan tanpa sebab, ia hanya tak ingin anaknya itu kembali mencercanya dengan banyak pertanyaan. Terlebih jika nanti, Altar malah akan menanyakan perihal sang ibu.


Agung, akan semakin sulit untuk berkilah.


“Dimana ibu?” tanya Altar kemudian, hingga membuat langkah Agung yang akan keluar terhenti seketika, lalu membuka pintu kamarnya lebar-lebar agar sang anak bisa melihat jika saat ini ibunya tengah terlelap.


“Ibu tidur, jangan diganggu,” titah Agung pula, lalu segera pergi dari sana, menghindari sang anak dan memilih untuk pergi ke dapur.


Sengaja tak kembali menutup pintu, agar anaknya itu tidak curiga.


Diam-diam, Agung kembali menoleh kebelakang, dan melihat Altar yang menutup pintu kamarnya hingga rapat.


Melihat itu, Agung menghembuskan napasnya lega.


Widya, memintanya untuk merahasiakan tentang penyakitnya itu dari sang anak. Widya ingin, di masa tuanya, Altar tidak selalu menangisi ibunya. Widya ingin, altar tetap menjalani hari-harinya dengan baik, tanpa memikirkan tentang penyakit yang ia derita.


Agung yang sangat mencintai istrinya pun hanya bisa menurut.


Menutup rapat-rapat tentang penyakit istrinya itu dari sang anak.


Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Altar pun langsung memutuskan untuk menuju kamarnya. Masuk ke dalam sana dengan hati yang masih merasa gelisah.


“Sebenarnya aku kenapa ya Allah, kenapa aku merasa gelisah seperti ini, tanpa tahu apa penyebabnya,” gumam Altar, ia duduk disisi ranjang setelah melempar tas sekolahnya asal.


Tak ingin kalut dalam pikirannya sendiri, Altat pun segera bangkit dan mulai mengganti baju, mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat zuhur.


Sehabis shalat, ternyata ia masih merasa gelisah, meski dengan kadar yang sudah berkurang.

__ADS_1


Yang terbayang dalam sujud nya adalah wajah sang ibu, makin membuatnya yakin, jika kini ibunya tidak baik-baik aja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari berlalu.


Keesokan harinya, Alana mengatakan jika ia dua hari ini ia akan berangkat sekolah dan pulang sekolah bersama dengan Sisil. Saat sang ibunya menanyakan alasannya kenapa? Alana menjawab, Karena dua hari ke depan, Sisil akan melewati rumahnya, serempak dengan mas Akbar yang sedang ada urusan  didekat-dekat sini, tentang tugas kuliahnya.


Alana tak menjelaskan bagaimana rincinya, karena ia hanya berbohong.


Sementara Kiran dan Aslan hanya percaya, mereka cukup tahu jika Alana tidak mungkin mengerti tentang urusan Akbar itu.


Setelah mengatakan kepada kedua orang tuanya, kini Alana pun berniat mengatakan perihal itu kepada Altar.


Ingin tahu reaksi Altar ketika ia mengatakan akan pergi dan pulang bersama mas Akbar.


Melalui sambungan telepon, Alana mencoba menghubungi sang tetangga, saat ini masih sore, ia yakin Altar pun masih bermain game di kamarnya itu.


Di panggilan pertama, Altar tak menjawab, makin membuat Alana yakin, jika Altar sedang main game. Alana tidak tahu, jika kini Altar masih sibuk menjadi mata-mata kedua orang tuanya sendiri.


Ingin tahu, sebenarnya apa yang terjadi pada sang ibu, karena sudah beberapa hari ini pula, Altar merasa jika ibunya itu nampak lebih pucat.


“Asalamualaikum, Al,” jawab Altar diujung sana.


Dan Alana langsung mencercanya dengan banyak pertanyaan setelah ia menjawab salam Altar.


“Kamu kemana? Kenapa teleponku tidak kamu angkat? Apa kamu sedang sibuk? Atau sengaja menghindari ku?”


Altar, sampai bingung harus menjawab yang mana dulu.


“Besok tidak usah menjemput ku,” ucap Alana lagi, karena Altar hanya bergeming, tak menjawab satupun pertanyaan yang ia ajukan.


“Baiklah, ya sudah, ku matikan ya,” ucap Altar pula, lalu tanpa menunggu jawaban Alana, Altar langsung memutus panggilan itu. Ia sudah cukup yakin jika Alana menelponnya hanya untuk mengatakan jika ia besok akan pergi bersama dengan mas Aydan. Tak ingin membuatnya menunggu, karena itulah malam ini Alana menelpon.


Altar buru-buru memutus sambungan telepon itu, karena kini pun ia sedang sibuk.


Baru saja, Altar mendapatkan sebuah lembar berisi resep obat sang ibu, yang baru saja ia curi dari kamar kedua orang tuanya.

__ADS_1


Melihat itu, Altar semakin yakin, jika kini ibunya itu sedang sakit. Sakit yang mungkin lebih parah dari bayangannya saat ini.


Tak tahu jenis jenis obat yang tertulis di sana, Altar pun mulai mencarinya di mesin pencarian, google.


“Ini tulisannya apa sih?” gumam Altar, ia juga merasa kesulitan kala membaca tulisan nama obat itu, sebuah tulisan yang seperti tulisan latin, namun terlalu banyak garis lurus.


Modal menerka-nerka, akhirnya Altar menemukan satu kata.


Dengan perasaan yang menggebu, ia mulai menuliskan nama obat itu di mesin pencari, dan seketika semua penjelasan tentang obat itu muncul secara berbarengan.


Ibunya, saat ini sedang mengkonsumsi obat untuk penyakit Hemofilia.


Dengan matanya yang terbuka lebar, malam itu Altar terus membaca semua tulisan di layar ponselnya. Seraya terus mengingat-ingat kejadian yang terasa mengganjal di benaknya.


Tiap seminggu sekali, ibu dan ayahnya itu memang rutin ke rumah sakit. Mengatakan jika itu adalah pemeriksaan rutin untuk melihat kesehatan mereka.


Namun Altar kini yakin satu hal, jika setiap seminggu sekali, mereka bukan memeriksakan kesehatan bersama, namun untuk pengobatan sang ibu.


Dalam selembar kertas yang ia bawa pun tertulis tanggal pemeriksaan selanjutnya, satu minggu lagi di jam yang sama.


Tercenung, Altar kala merasa puas membaca tentang penyakit Hemofilia itu. Satu yang altar takutkan saat ini, sang ibu sudah pada taraf pendarahan di otak.


Pelan, Altar menggelengkan kepalanya.


“Tidak, ibu tidak mungkin sakit parah, kalau ibu sakit, kenapa ayah dan ibu tidak pernah memberi tahuku,” gumam Altar, diantara pikirannya yang gamang.


Matanya berembun dan terasa begitu panas, seolah air mata itu siap jatuh kapan saja.


“atau ayah dan ibu memang sengaja merahasiakannya dariku?” gumam Altar lagi dengan suara yang semakin lirih.


Lalu tersenyum getir kala meyakini ucapannya sendiri.


Ya, Altar yakin, jika ayah dan ibunya memang sengaja menyembunyikan ini semua darinya. Demi apalagi,. Jika bukan karena tak ingin membuat ia merasa cemas.


Dan seketika itu juga, seorang Altar menangis. Seumur hidupnya, ini adalah kali pertama ia meneteskan air mata.


Altar yakin, jika ayah dan ibunya memiliki alasan yang kuat hingga merahasiakan hal penting seperti ini. Daripada menuntut sesuatu yang makin membuat ibunya merasa cemas, akhirnya Altar pun memilih diam. Memilih berpura-pura tidak tahu apa-apa sesuai dengan keinginan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Meskipun nanti, Altar akan sering menangis seorang diri, seperti malam ini.


__ADS_2