
Agung berdiri di depan pintu showroom tempatnya bekerja, menunggu kedatangan sang sahabat yang akan datang. Kiran, yang melihat
Agung diujug sana pun sedikit berlari dari arah parkian, menemui Agung yang sudah melambai.
“Alhamdulilah, ku kira kamu tidak jadi datang,” ucap Agung langsung ketika Kiran sudah berdiri dihadapannya.
Biasanya, saat pertama bertemu seperti ini keduanya akan saling memeluk erat, tapi kini mereka mengambil jarak.
“Jangan deket-deket Gung,” titah Kiran dengan
terkekeh dan terkesan melede dimata Agung.
“Biasanya juga kamu yang nempel-nempel aku,” keluh Agung tidak terima dengan wajahnya yang muram.
“Ayo masuk,” timpal Agung lagi lalu berjalan lebih
dulu dan Kiran mengekor.
Sampai di dalam sana, mereka berdua langsung menemui ibu Widya. Ini adalah kali pertama Kiran bertemu dengan atasannya itu setelah
sekian lama menghilang.
Tapi Widya sudah tau banyak hal melalui Agung. Juga tentang Kiran yang kini sudah memiliki satu anak laki-laki bernama Aydan.
Widya dan Kiran membuat kesepakatan kerja, yang menguntungkan kedua belah pihak.
Karena tak bisa sebebas dulu, kini Kiran tidak
menjadi karyawan tetap, melainkan karyawan Harian. Gaji pokok yang diterima Kiran sesuai dengan hari kerjanya. Namun untuk bonus dan lain-lainnya masih sama seperti karyawan tetap, terlebih jika penjualan kiran memenuhi target.
“Terima kasih Bu,” ucap Kiran tulus, tak hanya
diminta kembali bekerja, Kiran juga diberi keringanan dalam pekerjaannya.
“Tunjukkan rasa terima kasih mu melalui penjualan,” balas Widya dengan terkekeh, dan kiran pun ikut tersenyum pula.
Hari ini Kiran belum mulai bekerja, dia hanya datang untuk memperkenalkan diri pada Timnya yang baru.
Namun saat ada datang pembeli, Kiran pun ikut
melayani. Karena dia tak bisa langsung pulang. Kiran memiliki janji dengan sang suami untuk bertemu disni saat jam istirahat siang tiba.
“Ran mobil mana yang mau kamu ambil?” tanya Agung yang tiba-tiba datang menghampiri, Agung bahkan langsung memberikan Kiran
segelas kopi dingin pada sahabatnya itu.
Kiran menerimanya dan menyeruput hingga habis
setengah, lalu dikemblikan lagi pada Agung. Dan Agung pun reflek kembali menerima.
__ADS_1
“Yang murah ajalah, kasihan mas Aslan kalau aku ambil yang mahal,” jawab Kiran sesuai isi hati, ia pun sudah tak seperti saat masih gadis dulu, yang begitu ingin tampil sempurna. Kini, ia malah ingin terlihat sesederhana mungkin.
“Murah itu yang harga berapa?” tanya Agung lagi yang tidak puas, tanpa sadar Agung meminum kopi sisa Kiran tadi dengan wajahnya yang kesal. Biasanya, mah bagi kiran itu akan tetap mahal bagi Agung.
“Ini loh, yang mobil kecil-kecil gini, ayla ayla,”
jawab Kiran ketus dan Agung mengangguk setuju.
Kalau itu bener murah, batin Agung.
Interaksi keduanya itu sontak menjadi bahan pembicaraan karyawan yang lain. Kiran yang sudah bersuami dan Agung yang tetap sendiri di
usia matang, bisik-bisik mereka berkata jika Agung pasti mencintai Kiran dan menunggu Kiran menjadi seorang janda.
Kasihan pak Agung.
Iya.
Tapi bu Kiran jahat, tetap kasih harapan palsu sama pak Agung.
Iya.
Ah, andaikan pak agung mau sama aku aja. Aku pasti jadi orang terberuntung di
dunia.
Ngarepp!!
Sebelum jam 12 siang, Aslan datang ke showroom
tempat kerja sang istri. Kiran pun menyambut kedatangan suaminya itu seperti yang dilakukan Agung tadi saat menyambut kedatangannya.
Berdiri didepan pintu utama showroon dengan raut wajah berseri dan senyum yang lebar.
“Sayang,” sambut Kiran seraya memeluk suaminya erat, entahlah, jika bersama Aslan ia mendadak jadi wanita manja. Sedangkan saat
bersama Agung ia langsung berubah jadi begitu ketus, judes, pedes.
“Dimana mas Agung?” tanya Aslan, lalu keduanya
berjalan beriringan masuk ke dalam showroom. Kiran memeluk lengan suaminya erat.
“Ada di dalam, dia sudah menunggu kita,” jawab Kiran apa adanya.
“Kamu sudah dapat mobil yang mau dibeli?”
Kiran mengangguk.
Namun saat mengetahui Kiran hendak membeli mobil ayla ayla itu, Aslan tidak setuju. Tahu jika mungkin Kiran merasa tak enak hati, akhirnya Aslan meminta Kiran untuk membeli mobil yang sama seperti milik dirinya, hanya saja
__ADS_1
berbeda warna, Pajero Sport.
Selesai urusan beli membeli mobil itu, akhirnya
mereka bertiga memutuskan untuk makan siang bersama.
Di salah satu cafe yang tak jauh dari shwroom.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Aslan saat melihat dahi sang istri dipenuhi oleh keringat dingin.
Kiran tak langsung menjawab, ia menarik Aslan untuk lebih mendekat kearah dirinya, lalu berbisik.
“Asiku penuh Mas, tadi lupa tidak bawa pompa Asi.” Bisik Kiran pelan sekali, terdengar begitu lirih. Mendengar itu, kedua netra Aslan langsung membola, lalu melihat cepat keaarah dada sang sitri.
Untunglah Kiran meggunakan hijab yang cukup panjang, hingga dada yang sudah membesar itu tertutup dengan sempurna.
“Kamu kenapa Ran? Sakit?” tanya Agung pula yang merasa cemas, jika dilihat-lihat Kiran nampak lebih pucat, padahal tadi dia masih baik-baik saja.
“Maaf Mas, tapi kami harus pulang.” Aslan yang
menjawab. Namun karena tak memungkinkan Kiran untuk membawa mobil sendiri, akhirnya
Aslan meminta bantuan Agung untuk nanti sore mengantar mobil itu ke rumah mereka.
Agung yang tidak tahu apa-apa hanya menurut, ia bahkan meminta Aslan dan Kiran untuk berhati-hati ketika pulang.
Jadilah siang itu Agung hanya makan seorang diri,
Sementara aslan dan Kiran berhenti di basement hotel terdekat.
Aslan membantu sang istri untuk mengeluakan Asinya itu.
“Sayang, kita check in saja ya?” tawar Aslan,
rasanya jika kini ia tak akan sanggup
untuk menahan sesuatu yang dibawah sana. Jika dulu ia terpaksa, karena Kiran masih nifas. Tapi kini? Sudah tak ada penghalang lagi.
“Kalau check in nanti kita lama Mas, nanti umi
nyariin lagi.”
“Terus?” balas Aslan, disela-selanya mengeluarkan asi itu.
Kiran mendesah pelan, suminya ini memang nakal. Tak hanya menghisaap, ia juga memainkan lidahnya.
“Disini saja,” jawab Kiran singkat.
Dan mendengar itu, Aslan langsung tersenyum lebar.
__ADS_1
Ia tak menahan diri lagi, malah melepaskan semuanya.
Percintaan ditempat baru, yang membuat keduanya malah semakin menggila.