Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 76


__ADS_3

Agung berdiri di depan pintu showroom tempatnya bekerja, menunggu kedatangan sang sahabat yang akan datang. Kiran, yang melihat


Agung diujug sana pun sedikit berlari dari arah parkian, menemui Agung yang sudah melambai.


“Alhamdulilah, ku kira kamu tidak jadi datang,” ucap Agung langsung ketika Kiran sudah berdiri dihadapannya.


Biasanya, saat pertama bertemu seperti ini keduanya akan saling memeluk erat, tapi kini mereka mengambil jarak.


“Jangan deket-deket Gung,” titah Kiran dengan


terkekeh dan terkesan melede dimata Agung.


“Biasanya juga kamu yang nempel-nempel aku,” keluh Agung tidak terima dengan wajahnya yang muram.


“Ayo masuk,” timpal Agung lagi lalu berjalan lebih


dulu dan Kiran mengekor.


Sampai di dalam sana, mereka berdua langsung menemui ibu Widya. Ini adalah kali pertama Kiran bertemu dengan atasannya itu setelah


sekian lama menghilang.


Tapi Widya sudah tau banyak hal melalui Agung. Juga tentang Kiran yang kini sudah memiliki satu anak laki-laki bernama Aydan.


Widya dan Kiran membuat kesepakatan kerja, yang menguntungkan kedua belah pihak.


Karena tak bisa sebebas dulu, kini Kiran tidak


menjadi karyawan tetap, melainkan karyawan Harian. Gaji pokok yang diterima Kiran sesuai dengan hari kerjanya. Namun untuk bonus dan lain-lainnya masih sama seperti karyawan tetap, terlebih jika penjualan kiran memenuhi target.


“Terima kasih Bu,” ucap Kiran tulus, tak hanya


diminta kembali bekerja, Kiran juga diberi keringanan dalam pekerjaannya.


“Tunjukkan rasa terima kasih mu melalui penjualan,” balas Widya dengan terkekeh, dan kiran pun ikut tersenyum pula.


Hari ini Kiran belum mulai bekerja, dia hanya datang untuk memperkenalkan diri pada Timnya yang baru.


Namun saat ada datang pembeli, Kiran pun ikut


melayani. Karena dia tak bisa langsung pulang. Kiran memiliki janji dengan sang suami untuk bertemu disni saat jam istirahat siang  tiba.


“Ran mobil mana yang mau kamu ambil?” tanya Agung yang tiba-tiba datang menghampiri, Agung bahkan langsung memberikan Kiran


segelas kopi dingin pada sahabatnya itu.


Kiran menerimanya dan menyeruput hingga habis


setengah, lalu dikemblikan lagi pada Agung. Dan Agung pun reflek kembali menerima.

__ADS_1


“Yang murah ajalah, kasihan mas Aslan kalau aku ambil yang mahal,” jawab Kiran sesuai isi hati, ia pun sudah tak seperti saat masih gadis dulu, yang begitu ingin tampil sempurna. Kini, ia malah ingin terlihat sesederhana mungkin.


“Murah itu yang harga berapa?” tanya Agung lagi yang tidak puas, tanpa sadar Agung meminum kopi sisa Kiran tadi dengan wajahnya yang kesal. Biasanya, mah bagi kiran itu akan tetap mahal bagi Agung.


“Ini loh, yang mobil kecil-kecil gini, ayla ayla,”


jawab Kiran ketus dan Agung mengangguk setuju.


Kalau itu bener murah, batin Agung.


Interaksi keduanya itu sontak menjadi bahan pembicaraan karyawan yang lain. Kiran yang sudah bersuami dan Agung yang tetap sendiri di


usia matang, bisik-bisik mereka berkata jika Agung pasti mencintai Kiran dan menunggu Kiran menjadi seorang janda.


Kasihan pak Agung.


Iya.


Tapi bu Kiran jahat, tetap kasih harapan palsu sama pak Agung.


Iya.


Ah, andaikan pak agung mau sama aku aja. Aku pasti jadi orang terberuntung di


dunia.


Ngarepp!!


Sebelum jam 12 siang, Aslan datang ke showroom


tempat kerja sang istri. Kiran pun menyambut kedatangan suaminya itu seperti yang dilakukan Agung tadi saat menyambut kedatangannya.


Berdiri didepan pintu utama showroon dengan raut wajah berseri dan senyum yang lebar.


“Sayang,” sambut Kiran seraya memeluk suaminya erat, entahlah, jika bersama Aslan ia mendadak jadi wanita manja. Sedangkan saat


bersama Agung ia langsung berubah jadi begitu ketus, judes, pedes.


“Dimana mas Agung?” tanya Aslan, lalu keduanya


berjalan beriringan masuk ke dalam showroom. Kiran memeluk lengan suaminya erat.


“Ada di dalam, dia sudah menunggu kita,” jawab Kiran apa adanya.


“Kamu sudah dapat mobil yang mau dibeli?”


Kiran mengangguk.


Namun saat mengetahui Kiran hendak membeli mobil ayla ayla itu, Aslan tidak setuju. Tahu jika mungkin  Kiran merasa tak enak hati, akhirnya Aslan meminta Kiran untuk membeli mobil yang sama seperti milik dirinya, hanya saja

__ADS_1


berbeda warna, Pajero Sport.


Selesai urusan beli membeli mobil itu, akhirnya


mereka bertiga memutuskan untuk makan siang bersama.


Di salah satu cafe yang tak jauh dari shwroom.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Aslan saat melihat dahi sang istri dipenuhi oleh keringat dingin.


Kiran tak langsung menjawab, ia menarik Aslan untuk lebih mendekat kearah dirinya, lalu berbisik.


“Asiku penuh Mas, tadi lupa tidak bawa pompa Asi.” Bisik Kiran pelan sekali, terdengar begitu lirih. Mendengar itu, kedua netra Aslan langsung membola, lalu melihat cepat keaarah dada sang sitri.


Untunglah Kiran meggunakan hijab yang cukup panjang, hingga dada yang sudah membesar itu tertutup dengan sempurna.


“Kamu kenapa Ran? Sakit?” tanya Agung pula yang merasa cemas, jika dilihat-lihat Kiran nampak lebih pucat, padahal tadi dia masih baik-baik saja.


“Maaf Mas, tapi kami harus pulang.” Aslan yang


menjawab. Namun karena tak memungkinkan Kiran untuk membawa mobil sendiri, akhirnya


Aslan meminta bantuan Agung untuk nanti sore mengantar mobil itu ke rumah mereka.


Agung yang tidak tahu apa-apa hanya menurut, ia bahkan meminta Aslan dan Kiran untuk berhati-hati ketika pulang.


Jadilah siang itu Agung hanya makan seorang diri,


Sementara aslan dan Kiran berhenti di basement hotel terdekat.


Aslan membantu sang istri untuk mengeluakan Asinya itu.


“Sayang, kita check in saja ya?” tawar Aslan,


rasanya jika kini ia  tak akan sanggup


untuk menahan sesuatu yang dibawah sana. Jika dulu ia terpaksa, karena Kiran masih nifas. Tapi kini? Sudah tak ada penghalang lagi.


“Kalau check in nanti kita lama Mas, nanti umi


nyariin lagi.”


“Terus?” balas Aslan, disela-selanya mengeluarkan asi itu.


Kiran mendesah pelan, suminya ini memang nakal. Tak hanya menghisaap, ia juga memainkan lidahnya.


“Disini saja,” jawab Kiran singkat.


Dan mendengar itu, Aslan langsung tersenyum lebar.

__ADS_1


Ia tak menahan diri lagi, malah melepaskan semuanya.


Percintaan ditempat baru, yang membuat keduanya malah semakin menggila.


__ADS_2