
Seminggu berlalu.
Selama waktu itu juga Kiran sudah mulai bekerja di
toko. Hubungannya dengan Hana pun berjalan dengan sangat baik. Banyak kecocokan
diantara keduanya hingga tak sulit bagi mereka untuk bisa menjadi seorang
teman.
Bahkan, Hana bukan hanya seperti kepala toko itu,
tetapi juga asisten pribadi bagi Kiran.
Seminggu inipun mereka sudah merampungkan perbaikan
laporan dan semua sistem kerja yang baru. Dua orang yang biasanya melayani
pelanggan, kini mendapat tugas untuk menjual secara online, melayani pembelian
melalui media sosial milik toko Kiran.
Saat ini, Kiran sedang merombak ruang kerjanya
sendiri, untuk menadi studio foto sekaligus meja kerjanya sendiri.
Beberapa orang sudah memasang beberapa tiang lampu
dan background putih yang akan digunakan untuk pengambilan foto.
Beberapa orang lagi merapikan berbagai jenis baju
yang akan diambil fotonya hari ini juga.
Sedari tadi pagi, toko Kiran sudah sangat sibuk.
Namun semua karyawan pun merasa senang, karena Kiran
adalah bos yang ramah dan juga sangat menghargai kerja mereka. Selain itu,
suasana toko jadi lebih hidup dan tidak membosankan seperti selama ini. Mereka
juga sudah menggunakan seragam yang sangat nyaman, makin membuat mereka
bersemangat untuk bekerja.
“Hana, coba ganti baju dulu, pakai yang ini,” pinta
Kiran, seraya menyerahkan satu stel baju yang akan digunakan oleh Hana.
Hana menerimanya dengan kikuk, jujur saja, ia merasa
tidak percaya diri didepan kamera. Apalagi jika harus sampai bergaya, belum
lagi semua orang akan melihat kearahnya.
Melihat wajah pias Hana, Kiran mengulum senyumnya,
lalu mengelus bahu Hana pelan.
“Kalau belum dicoba mana tahu hasilnya bagaimana,
bisa jadi awalnya terasa sangat kaku, tapi akhirnya kamu akan jadi sangat santai,”
ucap Kiran dngan senyumnya yang khas, senyum yang memperlihatkan deretan
giginya yang tersusun rapi.
“Tapi Bu_”
“Coba dulu,” titah Kiran, ia bahkan mendorong tubuh
Hana untuk segera masuk ked alam ruang ganti.
Mau tak mau Hana [pu menuruti keinginan bosnya itu,
meski dengan hati yang seikit ragu.
Selesai mengganti baju, Kiran langsung menambah
riasan diwajah Hana, hingga nampak lebih jelas di depan kamera.
“Lihatlah, kamu itu sangat cantik, wajahmu cocok
untuk meenjadi wajah toko kita,” jelas Kiran, Hana pun mulai menatap dirinya
sendiri dipantulan cermin, yang nmapka berbeda.
__ADS_1
Namun ia tersenyum, sentuhan tangan Kiran membuat ia
terlihat lebih cantik.
“Sudah siap Len?” tanya Kiran pada sang photografer,
Lena.
Kiran memang sengaja, banyak memperkerjakan para
wanita, ingin menghindari fitnah seperti saat ia bekerja di showroom dulu. Hubungannya
dengan Agung selalu saja disalah artikan oleh semua orang. Dan Kiran tidak
ingin mengulangi itu lagi disini, apalagi ini adalah toko keluarga miliknya.
Sebisa mungkin, Kiran harus menjaga nama baik keluarga, bukan hanya didepan
karyawan, namun juga semua orang.
Dulu, Kiran sangat tidak peduli dengan penilaian
semua orang itu, namun kini, ia lebih berhati-hati.
Kiran tak bisa sesuka hatinya lagi. Karena setiap
gerak geriknya, kini Kiran membawa nama baik keluarga sang suami.
“Udah Bu, siap!” jawab Lena antusias, dan Hana makin
gugup tak karuan.
Namun sebisa mungkin, ia menguasi diri. Setelah
berulang klai menarik dan menghembuskan napasnya pelan. Akhirnya Hana
memberanikan diri berada ditengah-tengah area foto.
Tersenyum tipis, bahkan sedikit mendunduk, membuat
anggel.
Kiran tersenyum, ia tahu Hana pasti bisa.
Dan hari itu pemotretan berjalan dengan sangat baik.
Merayakan berhasilnya pemotretan pertama itu, Kiran
dan semua karyawan makan siang bersama di toko. Memesan makanan cepat saji,
ayam tepung krispi sebagai pilihan mereka.
Duduk bersama di ruang istirahat para karyawan,
ruangan yang cukup besar dengan banyak kursi dan satu meja panjang.
Tak ada kecanggungan diatara mereka semua, Kiran
membaur jadi satu. Satu hal yang selama ini tidak pernah Kiran lakukan.
Biasanya, ia selalu menjaga jarak, pemilih teman dan hanya berteman dengan
Agung saja.
Tapi seolah berubah 180 derajat, kini Kiran bahkan
tertawa diantara semua karyawannya.
Hubungan yang ketulusannya bisa mereka rasakan
sampai ke hati.
****
Selesai makan siang bersama itu, Kiran memutuskan
untuk pulang, berpesan kepada Hana untuk menghandle semuanya.
Hana mengangguk dengan patuh, bahkan Hana mengantar
kepergian Kiran hingga keluar dari dalam toko itu.
Hana tersenyum, kala melihat sang atasan pergi.
Sumpah demi apapun, ia sangat menyesal pernah memiliki rasa pada Aslan.
Mengetahui Kiran sangat bermurah hati pada semua orang, ia merasa tak ada
__ADS_1
apa-apanya.
Setelah mobil Kiran keluar dari area parkiran toko,
barulah Hana kembali masuk.
Kembali bekerja sesuai perintah Kiran.
****
Di dalam mobilnya, Kiran mendengar suara ponsel yang
bergetar dari dalam tas. Tak ingin mengangkat panggilan selama menyetir,
akhirnya Kiran mengabaikan panggilan itu.
Hingga lambat laun suara getar itu menghilang. Nanti
saat sudah sampai di rumah, ia akan kembali menghubungi.
Dua puluh menit perjalanan, akhirnya Kiran sampai di
rumah. Buru-buru ia masuk, karena belum melaksanakan shalat zuhur. Terlebih
tadi saat berada didalam mobil Kiran bersin cukup kuat, hingga terasa ia
sedikit buang air kecil.
Harus mandi dulu baru bisa melaksanakan
kewajibannya.
“Umi, aku langsung ke kamar ya?” ucap Kiran dengan
langkahnya yang cepat, melewati begitu saja Yuli yang sedang menggendong Aydan.
“Nanti gendong ibunya ya sayang,” pekik Kiran lagi
pada sang anak.
Yuli hanya menatap sang menatu dengan tatapan yang
entah.
“Begitu-begitu dia sudah mau punya anak dua,” ucap
Yuli pada Desi yang berada didekat Yuli.
Desi hanya mampu mengulum senyumnya.
Kiran memang nampak barbar, namun ada sisinya yang
begitu dewasa, dan hanya keluar disaat-saat tertentu.
***
Selesai mandi dan melaksanakan shalat zuhur, Kiran
segera turun ke bawah, menemui sang mertua dan bermain dengan sang anak, ia
sampai melukapakan tentang panggilan telepon saat berada didalam mobil tadi.
“Wah, kolam ikan punya Opa sudah jadi sayang, waa
ikannya banyak sekali,” riang Kiran ketika berbicara dengan Aydan.
Aydan yang diajak melihat kolam itu lalu bergerak
belingsatan, ingin masuk ke dalam kolam juga, dan bererang bersama para ikan.
Ikan Koi dengan warnanya yang khas, orange, hitam dan putih.
“No no no, jangan sayang, tidak boleh, nanti Aydan
bau amis. Kalau bau amis nanti bukan anak ibu lagi, tapi anak ikan,”
seloroh Kiran, dan Aydan tidak peduli.
Ia masih berusaha untuk minta diturunkan ke dalam molam ikan, bahkan kepalanya
terus condong ke bawah, hingga Kiran kualahan.
“Jangaaan,” rengek Kiran, hi9ngga terjadi perdebatan
anatara anak dan ibu itu.
“Oke tunggu, kita ambil aja ikan Opa ya? Kita tarok
__ADS_1
di baskon, bagaimana?” tawar Kiran dan sang anak langsung tenang.