Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 111


__ADS_3

Seminggu berlalu.


Selama waktu itu juga Kiran sudah mulai bekerja di


toko. Hubungannya dengan Hana pun berjalan dengan sangat baik. Banyak kecocokan


diantara keduanya hingga tak sulit bagi mereka untuk bisa menjadi seorang


teman.


Bahkan, Hana bukan hanya seperti kepala toko itu,


tetapi juga asisten pribadi bagi Kiran.


Seminggu inipun mereka sudah merampungkan perbaikan


laporan dan semua sistem kerja yang baru. Dua orang yang biasanya melayani


pelanggan, kini mendapat tugas untuk menjual secara online, melayani pembelian


melalui media sosial milik toko Kiran.


Saat ini, Kiran sedang merombak ruang kerjanya


sendiri, untuk menadi studio foto sekaligus meja kerjanya sendiri.


Beberapa orang sudah memasang beberapa tiang lampu


dan background putih yang akan digunakan untuk pengambilan foto.


Beberapa orang lagi merapikan berbagai jenis baju


yang akan diambil fotonya hari ini juga.


Sedari tadi pagi, toko Kiran sudah sangat sibuk.


Namun semua karyawan pun merasa senang, karena Kiran


adalah bos yang ramah dan juga sangat menghargai kerja mereka. Selain itu,


suasana toko jadi lebih hidup dan tidak membosankan seperti selama ini. Mereka


juga sudah menggunakan seragam yang sangat nyaman, makin membuat mereka


bersemangat untuk bekerja.


“Hana, coba ganti baju dulu, pakai yang ini,” pinta


Kiran, seraya menyerahkan satu stel baju yang akan digunakan oleh Hana.


Hana menerimanya dengan kikuk, jujur saja, ia merasa


tidak percaya diri didepan kamera. Apalagi jika harus sampai bergaya, belum


lagi semua orang akan melihat kearahnya.


Melihat wajah pias Hana, Kiran mengulum senyumnya,


lalu mengelus bahu Hana pelan.


“Kalau belum dicoba mana tahu hasilnya bagaimana,


bisa jadi awalnya terasa sangat kaku, tapi akhirnya kamu akan jadi sangat santai,”


ucap Kiran dngan senyumnya yang khas, senyum yang memperlihatkan deretan


giginya yang tersusun rapi.


“Tapi Bu_”


“Coba dulu,” titah Kiran, ia bahkan mendorong tubuh


Hana untuk segera masuk ked alam ruang ganti.


Mau tak mau Hana [pu menuruti keinginan bosnya itu,


meski dengan hati yang seikit ragu.


Selesai mengganti baju, Kiran langsung menambah


riasan diwajah Hana, hingga nampak lebih jelas di depan kamera.


“Lihatlah, kamu itu sangat cantik, wajahmu cocok


untuk meenjadi wajah toko kita,” jelas Kiran, Hana pun mulai menatap dirinya


sendiri dipantulan cermin, yang nmapka berbeda.

__ADS_1


Namun ia tersenyum, sentuhan tangan Kiran membuat ia


terlihat lebih cantik.


“Sudah siap Len?” tanya Kiran pada sang photografer,


Lena.


Kiran memang sengaja, banyak memperkerjakan para


wanita, ingin menghindari fitnah seperti saat ia bekerja di showroom dulu. Hubungannya


dengan Agung selalu saja disalah artikan oleh semua orang. Dan Kiran tidak


ingin mengulangi itu lagi disini, apalagi ini adalah toko keluarga miliknya.


Sebisa mungkin, Kiran harus menjaga nama baik keluarga, bukan hanya didepan


karyawan, namun juga semua orang.


Dulu, Kiran sangat tidak peduli dengan penilaian


semua orang itu, namun kini, ia lebih berhati-hati.


Kiran tak bisa sesuka hatinya lagi. Karena setiap


gerak geriknya, kini Kiran membawa nama baik keluarga sang suami.


“Udah Bu, siap!” jawab Lena antusias, dan Hana makin


gugup tak karuan.


Namun sebisa mungkin, ia menguasi diri. Setelah


berulang klai menarik dan menghembuskan napasnya pelan. Akhirnya Hana


memberanikan diri berada ditengah-tengah area foto.


Tersenyum tipis, bahkan sedikit mendunduk, membuat


anggel.


Kiran tersenyum, ia tahu Hana pasti bisa.


Dan hari itu pemotretan berjalan dengan sangat baik.


Merayakan berhasilnya pemotretan pertama itu, Kiran


dan semua karyawan makan siang bersama di toko. Memesan makanan cepat saji,


ayam tepung krispi sebagai pilihan mereka.


Duduk bersama di ruang istirahat para karyawan,


ruangan yang cukup besar dengan banyak kursi dan satu meja panjang.


Tak ada kecanggungan diatara mereka semua, Kiran


membaur jadi satu. Satu hal yang selama ini tidak pernah Kiran lakukan.


Biasanya, ia selalu menjaga jarak, pemilih teman dan hanya berteman dengan


Agung saja.


Tapi seolah berubah 180 derajat, kini Kiran bahkan


tertawa diantara semua karyawannya.


Hubungan yang ketulusannya bisa mereka rasakan


sampai ke hati.


****


Selesai makan siang bersama itu, Kiran memutuskan


untuk pulang, berpesan kepada Hana untuk menghandle semuanya.


Hana mengangguk dengan patuh, bahkan Hana mengantar


kepergian Kiran hingga keluar dari dalam toko itu.


Hana tersenyum, kala melihat sang atasan pergi.


Sumpah demi apapun, ia sangat menyesal pernah memiliki rasa pada Aslan.


Mengetahui Kiran sangat bermurah hati pada semua orang, ia merasa tak ada

__ADS_1


apa-apanya.


Setelah mobil Kiran keluar dari area parkiran toko,


barulah Hana kembali masuk.


Kembali bekerja sesuai perintah Kiran.


****


Di dalam mobilnya, Kiran mendengar suara ponsel yang


bergetar dari dalam tas. Tak ingin mengangkat panggilan selama menyetir,


akhirnya Kiran mengabaikan panggilan itu.


Hingga lambat laun suara getar itu menghilang. Nanti


saat sudah sampai di rumah, ia akan kembali menghubungi.


Dua puluh menit perjalanan, akhirnya Kiran sampai di


rumah. Buru-buru ia masuk, karena belum melaksanakan shalat zuhur. Terlebih


tadi saat berada didalam mobil Kiran bersin cukup kuat, hingga terasa ia


sedikit buang air kecil.


Harus mandi dulu baru bisa melaksanakan


kewajibannya.


“Umi, aku langsung ke kamar ya?” ucap Kiran dengan


langkahnya yang cepat, melewati begitu saja Yuli yang sedang menggendong Aydan.


“Nanti gendong ibunya ya sayang,” pekik Kiran lagi


pada sang anak.


Yuli hanya menatap sang menatu dengan tatapan yang


entah.


“Begitu-begitu dia sudah mau punya anak dua,” ucap


Yuli pada Desi yang berada didekat Yuli.


Desi hanya mampu mengulum senyumnya.


Kiran memang nampak barbar, namun ada sisinya yang


begitu dewasa, dan hanya keluar disaat-saat tertentu.


***


Selesai mandi dan melaksanakan shalat zuhur, Kiran


segera turun ke bawah, menemui sang mertua dan bermain dengan sang anak, ia


sampai melukapakan tentang panggilan telepon saat berada didalam mobil tadi.


“Wah, kolam ikan punya Opa sudah jadi sayang, waa


ikannya banyak sekali,” riang Kiran ketika berbicara dengan Aydan.


Aydan yang diajak melihat kolam itu lalu bergerak


belingsatan, ingin masuk ke dalam kolam juga, dan bererang bersama para ikan.


Ikan Koi dengan warnanya yang khas, orange, hitam dan putih.


“No no no, jangan sayang, tidak boleh, nanti Aydan


bau amis. Kalau bau amis nanti bukan anak ibu lagi, tapi anak ikan,”


seloroh  Kiran, dan Aydan tidak peduli.


Ia masih berusaha untuk minta diturunkan ke dalam molam ikan, bahkan kepalanya


terus condong ke bawah, hingga Kiran kualahan.


“Jangaaan,” rengek Kiran, hi9ngga terjadi perdebatan


anatara anak dan ibu itu.


“Oke tunggu, kita ambil aja ikan Opa ya? Kita tarok

__ADS_1


di baskon, bagaimana?” tawar Kiran dan sang anak langsung tenang.


__ADS_2