
Di showroom, tempat kerja Kiran,
Kiran terus saja memakan cemilan, namun ia
begituenggan untuk meinum air putih. Sementara Agung yang meliohatnya saja
merasa begitu ahus.
“Minum dulu Ran, sebelum sakit tenggorokanmu itu,”
pintta Agung perhatian, ia bahkan mengulurkan botol minumnya sendiri ntuk sang
sahabat.
Melihat air itu, Kiran malah bergidik ngeri,
membayangkan betapa eneqnya minum air putih.
“Tidak mau!” tolak Kiran cepat, lalu kembali makan
snack yang ia beli tadi. Chiki-chiki berbagai rasa, namun semua yang ia pilih
yang manis-manis.
Dan melihat itu, kini giliran Agung yang bergidik
ngeri, membayangkan sudah berapa banyak coklat yang sudah menempel di
tenggorokan Kiran.
“Huwek!” muntah Agung dan Kiran mencebik, tidak
peduli.
Agung mencoba untuk acuh, lalu kembali menatap layar
komputernya sendiri, saat ini sudah minggu ketiga, mereka mulai menyicil untuk
membuat laporan akhir bulan.
“Gung, jadi gimana? Kamu jadi tidak tinggal di rumah mas Fahmi?” tanya Kiran
kemudian, setelah keduanya cukup lama berada dalam keheningan, dan hanya terdengar
bunyi keyboard yang diketik.
Pasalnya hingga kini, Agung masih juga belum memberikan
kepastian. Andai tidak jadi, Kiran dan Aslan akan mencari orang lain, yang
penting rumah itu dihuni oleh orang yang bisa dipercaya, untuk menjaga dan
merawatnya dengan baik.
“Memangnya aku belum bilang ya Ran? Seingatku aku
sudah mengatakannya padamu, aku mau tinggal di rumah mas Fahmi dan Widya juga
setuju,” jawab Agung, lalu ia menoleh pada Kiran yang juga sedang menoleh kerahnya.
“Kamu sudah bilang padaku?” tanya Kkiran heran,
karena ia tak merasa Agung sudah memberitahunya.
“Iya,” balas Agung yakin, 3 hari yang lalu ia sudah memberi tahu Kiran
tentang itu.
Dan Kiran hanya menggaruk kepalanya yang tidak
gatal.
Apa iya sih? Batin Kiran merasa tak ingat apapun.
Sedangkan Agung mencebik, ada –ada saja, pikirnya.
Keduanya kembali fokus membuat laporan, hingga
dering ponsel Kiran kembali mengalihkan perhatian keduanya.
Dilihat Kiran, ada panggilan masuk dari sang suami,
namun entah kenapa, ia begitu enggan untuk menjawab. Kiran malah memberikan
ponselnya pada Agung, dan memintanya untuk menjawab panggilan itu.
“Tidak mau!” tolak Agung lantang.
“Enak saja suruh-suruh, angkat sediri, kalau ada
masalah itu diselesaikan, jangan libatkan aku,” cerocos Agung, sekaligus
__ADS_1
menerka-nerka, padahal Aslan dan Kiran tidak sedang bertengkar, Kiran hanya
merasa enggan untuk menjawab panggilan itu.
“Tolonglah Gung,” pinta Kiran dengan matanya yang
berkaca-kaca, nyaris tumpah air mata.
Dan melihat itu, kedua netra Agung langsung membola,
bagaimana bisa Kiran menangis semudah itu, pasti masalahnya dengan Aslan sangat
berat, pikir Agung sangat yakin.
“Baiklah,” jawab Agung akhirnya.
Dengan setengah hati, akhirnya Agung menjawab
panggilan itu.
Belum sempat Agung buka suara, Aslan sudah lebih
dulu mengucapkan kata cinta.
“Sayang, aku mencintaimu,” ucap Aslan diseberang sana,
hingga membuat Agung bergidik negeri., jijik jijik geli.
“Sayang, sehabis pulang kerja nanti, kita ke dokter
kandungan ya? Kita periksakan kandunganmu, aku yakin sayang, kamu saat ini
pasti sedang hamil,” jelas Aslan lagi karena Kiran tak menjawab ucapan
cintanya. Aslan berucap, dengan begitu semangat.
Dan mendengar itu, lagi-lagi kedua mata Agung
terbelalak, ia masih berpikir keras, sebenarnya ada masalah apa Aslan dan Kiran
saat ini.
“Ran?” panggil Aslan, karena Kiran terus saja
mendiamkannya.
Hingga terdengar, malah suara Agung yang menjawab.
Dan Aslan langsung terpaku, sementara Kiran sudah
kabur lebih dulu, meninggalkan Agung dengan panggilan yang masih terhubung itu.
“Mas Agung,“ lirih Aslan diujung sana.
“Maaf ya Lan, aku yang angkat panggilanmu, Kiran
sepertinya sedang tidak ingin bicara denganmu, mungkin dia memang benar-benar
hamil,” jawab Agung gelagapan, bingung sendiri, Kiran sudah menempatkannya
dalam masalah.
Mendengar itu, Aslan murung.
“Kenapa ya Mas? Akhir-akhir ini Kiran
menghindariku?” tanya Aslan, yang malah mencurahkan isi hatinya, ia sudah
bingung harus berbagi cerita dengan siapa, tiba-tiba mengalir begitu saja ingin
bertanya pada Agung.
Mendengar itu, Agung pun langsung menaggapinya
dengan serius. Meminta Aslan untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Dan Aslan pun menceritakan semuanya tanpa ada yang
dikurang-kutrangi, menceritakan bagaimana Kiran bisa berubah sedrastis ini
dalam hitungan hari.
Agung pun mulai yakin pula, jika saat ini Kiran sedang
hamil. Apalagi saat teringat, Kiran yang enggan minum air putih dan hanya ingin
makan yang manis-manis.
“Sepertinya benar dugaanmu Lan, Kiran hamil,” ucap
Agung setelah Asaln selesai bercerita.
__ADS_1
“Lalu kenapa dia menghindariku?” tanya Aslan yang tidak
terima, harusnya disaat hamil seperti ini, Kiran selalu menempel padanya dan
bermanja-manja.
Ditanya seperti itu, Agung, menggaruk kepalanya yang
tidak gatal.
“Kenapa ya? Bawaan bayi mungkin Lan, atau mungkin
ini balasanmu karena dulu saat kehamilan Aydan kamu tidak menemani Kiran sejak
awal,” jawab Agung setelah berpikir keras, tapi sepertinya, jawaban Agung itu
salah, karena jawaban itu malah membuat Aslan murung.
“Mak-maksudku bukan seperti itu Lan,” timpal Agung
lagi yang merasa bersalah.
“Mas Agung benar, mungkin memang seperti itu,” jawab
Aslan dengan tersenyum getir.
Dan Agung tak punya pembelaan apapun, akhirnya,
panggilan telepon itupun terputus juga. Sumpah demi apapun, jika Kiran kembali
ia akan memarahi sahabatnya itu habis-habisan, gara-gara Kiran, ia jadi merasa
tak enak hati pada Aslan.
Dan benar saja, saat Kiran kembali dengan membawa
segelas jus mangga, Agung langsung mencerca Kiran dengan banyak omongan.
Yang inilah yang itulah, hingga membuat Kiran merasa
bersalah, murung, lalu menangis.
Bahkan Kiran menangis hingga sesenggukan, baru kali
inilah, Kiran menangis gara-gara Agung, biasanya, Kiran akan balas omongan
Agung tak kalah bengisnya.
Sampai-sampai, Agung pun dibuat bingung, saat melihat
Kiran yang menangis tersedu, terisak dengan banyak air mata yang mengalir.
“Loh, kok jadi nangis Ran?” tanya Agung bingung,
sontak tangisan Kiran itu memicu rasa curiga semua orang. Bahkan Widya sampai
datang menghampiri mereka.
Widya memeluk Kiran, memintanya untuk berhenti menangis.
Lalu menatap tajam pada sang kekasih, yang dituduh sebagai oarng yang
menyebabkan Kiran menangis.
Bisik-bisik karyawan yang lain mulai bersahutan.
Mereka mengira, jika Kiran pasti sedih, karena
sebentar lagi Agung akan menikah dengan Widya.
Mereka mengira pasti saat ini Agung sudah mengakhiri
hubungan mereka berdua.
Semua orang itu kembali menyalahkan Kiran, menuduh
Kiran tak punya malu dan tak tahu diri.
“Sudah Ran,” pinta Widya dengan lembut.
“Agung jahat Mbak,” jawab Kiran apa adanya, sesuia
yang ia rasa.
Dan Widya makin menatap tajam kekasihnya itu, sumpah
demi apapun, Agung ingin sekali menjitak kepala Kiran. Tadi, Kiran sudah
membuatnya bermasalah dengan Aslan, dan saat ini, Kiran membuat ia bertengkar
dengan kekasihnya sendiri.
__ADS_1
“Hi!” geram Agung.