Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 105


__ADS_3

Di showroom, tempat kerja Kiran,


Kiran terus saja memakan cemilan, namun ia


begituenggan untuk meinum air putih. Sementara Agung yang meliohatnya saja


merasa begitu ahus.


“Minum dulu Ran, sebelum sakit tenggorokanmu itu,”


pintta Agung perhatian, ia bahkan mengulurkan botol minumnya sendiri ntuk sang


sahabat.


Melihat air itu, Kiran malah bergidik ngeri,


membayangkan betapa eneqnya minum air putih.


“Tidak mau!” tolak Kiran cepat, lalu kembali makan


snack yang ia beli tadi. Chiki-chiki berbagai rasa, namun semua yang ia pilih


yang manis-manis.


Dan melihat itu, kini giliran Agung yang bergidik


ngeri, membayangkan sudah berapa banyak coklat yang sudah menempel di


tenggorokan Kiran.


“Huwek!” muntah Agung dan Kiran mencebik, tidak


peduli.


Agung mencoba untuk acuh, lalu kembali menatap layar


komputernya sendiri, saat ini sudah minggu ketiga, mereka mulai menyicil untuk


membuat laporan akhir bulan.


“Gung, jadi gimana? Kamu jadi tidak  tinggal di rumah mas Fahmi?” tanya Kiran


kemudian, setelah keduanya cukup lama berada dalam keheningan, dan hanya terdengar


bunyi keyboard yang diketik.


Pasalnya hingga kini, Agung masih juga belum memberikan


kepastian. Andai tidak jadi, Kiran dan Aslan akan mencari orang lain, yang


penting rumah itu dihuni oleh orang yang bisa dipercaya, untuk menjaga dan


merawatnya dengan baik.


“Memangnya aku belum bilang ya Ran? Seingatku aku


sudah mengatakannya padamu, aku mau tinggal di rumah mas Fahmi dan Widya juga


setuju,” jawab Agung, lalu ia menoleh pada Kiran yang juga sedang menoleh kerahnya.


“Kamu sudah bilang padaku?” tanya Kkiran heran,


karena ia tak merasa Agung sudah memberitahunya.


“Iya,” balas Agung yakin,  3 hari yang lalu ia sudah memberi tahu Kiran


tentang itu.


Dan Kiran hanya menggaruk kepalanya yang tidak


gatal.


Apa iya sih? Batin Kiran merasa tak ingat apapun.


Sedangkan Agung mencebik, ada –ada saja, pikirnya.


Keduanya kembali fokus membuat laporan, hingga


dering ponsel Kiran kembali mengalihkan perhatian keduanya.


Dilihat Kiran, ada panggilan masuk dari sang suami,


namun entah kenapa, ia begitu enggan untuk menjawab. Kiran malah memberikan


ponselnya pada Agung, dan memintanya untuk menjawab panggilan itu.


“Tidak mau!” tolak Agung lantang.


“Enak saja suruh-suruh, angkat sediri, kalau ada


masalah itu diselesaikan, jangan libatkan aku,” cerocos Agung, sekaligus

__ADS_1


menerka-nerka, padahal Aslan dan Kiran tidak sedang bertengkar, Kiran hanya


merasa enggan untuk menjawab panggilan itu.


“Tolonglah Gung,” pinta Kiran dengan matanya yang


berkaca-kaca, nyaris tumpah air mata.


Dan melihat itu, kedua netra Agung langsung membola,


bagaimana bisa Kiran menangis semudah itu, pasti masalahnya dengan Aslan sangat


berat, pikir Agung sangat yakin.


“Baiklah,” jawab Agung akhirnya.


Dengan setengah hati, akhirnya Agung menjawab


panggilan itu.


Belum sempat Agung buka suara, Aslan sudah lebih


dulu mengucapkan kata cinta.


“Sayang, aku mencintaimu,” ucap Aslan diseberang sana,


hingga membuat Agung bergidik negeri., jijik jijik geli.


“Sayang, sehabis pulang kerja nanti, kita ke dokter


kandungan ya? Kita periksakan kandunganmu, aku yakin sayang, kamu saat ini


pasti sedang hamil,” jelas Aslan lagi karena Kiran tak menjawab ucapan


cintanya. Aslan berucap, dengan begitu semangat.


Dan mendengar itu, lagi-lagi kedua mata Agung


terbelalak, ia masih berpikir keras, sebenarnya ada masalah apa Aslan dan Kiran


saat ini.


“Ran?” panggil Aslan, karena Kiran terus saja


mendiamkannya.


Hingga terdengar, malah suara Agung yang menjawab.


Dan Aslan langsung terpaku, sementara Kiran sudah


kabur lebih dulu, meninggalkan Agung dengan panggilan yang masih terhubung itu.


“Mas Agung,“ lirih Aslan diujung sana.


“Maaf ya Lan, aku yang angkat panggilanmu, Kiran


sepertinya sedang tidak ingin bicara denganmu, mungkin dia memang benar-benar


hamil,” jawab Agung gelagapan, bingung sendiri, Kiran sudah menempatkannya


dalam masalah.


Mendengar itu, Aslan murung.


“Kenapa ya Mas? Akhir-akhir ini Kiran


menghindariku?” tanya Aslan, yang malah mencurahkan isi hatinya, ia sudah


bingung harus berbagi cerita dengan siapa, tiba-tiba mengalir begitu saja ingin


bertanya pada Agung.


Mendengar itu, Agung pun langsung menaggapinya


dengan serius. Meminta Aslan untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Dan Aslan pun menceritakan semuanya tanpa ada yang


dikurang-kutrangi, menceritakan bagaimana Kiran bisa berubah sedrastis ini


dalam hitungan hari.


Agung pun mulai yakin pula, jika saat ini Kiran sedang


hamil. Apalagi saat teringat, Kiran yang enggan minum air putih dan hanya ingin


makan yang manis-manis.


“Sepertinya benar dugaanmu Lan, Kiran hamil,” ucap


Agung setelah Asaln selesai bercerita.

__ADS_1


“Lalu kenapa dia menghindariku?” tanya Aslan yang tidak


terima, harusnya disaat hamil seperti ini, Kiran selalu menempel padanya dan


bermanja-manja.


Ditanya seperti itu, Agung, menggaruk kepalanya yang


tidak gatal.


“Kenapa ya? Bawaan bayi mungkin Lan, atau mungkin


ini balasanmu karena dulu saat kehamilan Aydan kamu tidak menemani Kiran sejak


awal,” jawab Agung setelah berpikir keras, tapi sepertinya, jawaban Agung itu


salah, karena jawaban itu malah membuat Aslan murung.


“Mak-maksudku bukan seperti itu Lan,” timpal Agung


lagi yang merasa bersalah.


“Mas Agung benar, mungkin memang seperti itu,” jawab


Aslan dengan tersenyum getir.


Dan Agung tak punya pembelaan apapun, akhirnya,


panggilan telepon itupun terputus juga. Sumpah demi apapun, jika Kiran kembali


ia akan memarahi sahabatnya itu habis-habisan, gara-gara Kiran, ia jadi merasa


tak enak hati pada Aslan.


Dan benar saja, saat Kiran kembali dengan membawa


segelas jus mangga, Agung langsung mencerca Kiran dengan banyak omongan.


Yang inilah yang itulah, hingga membuat Kiran merasa


bersalah, murung, lalu menangis.


Bahkan Kiran menangis hingga sesenggukan, baru kali


inilah, Kiran menangis gara-gara Agung, biasanya, Kiran akan balas omongan


Agung tak kalah bengisnya.


Sampai-sampai, Agung pun dibuat bingung, saat melihat


Kiran yang menangis tersedu, terisak dengan banyak air mata yang mengalir.


“Loh, kok jadi nangis Ran?” tanya Agung bingung,


sontak tangisan Kiran itu memicu rasa curiga semua orang. Bahkan Widya sampai


datang menghampiri mereka.


Widya memeluk Kiran, memintanya untuk berhenti menangis.


Lalu menatap tajam pada sang kekasih, yang dituduh sebagai oarng yang


menyebabkan Kiran menangis.


Bisik-bisik karyawan yang lain mulai bersahutan.


Mereka mengira, jika Kiran pasti sedih, karena


sebentar lagi Agung akan menikah dengan Widya.


Mereka mengira pasti saat ini Agung sudah mengakhiri


hubungan mereka berdua.


Semua orang itu kembali menyalahkan Kiran, menuduh


Kiran tak punya malu dan tak tahu diri.


“Sudah Ran,” pinta Widya dengan lembut.


“Agung jahat Mbak,” jawab Kiran apa adanya, sesuia


yang ia rasa.


Dan Widya makin menatap tajam kekasihnya itu, sumpah


demi apapun, Agung ingin sekali menjitak kepala Kiran. Tadi, Kiran sudah


membuatnya bermasalah dengan Aslan, dan saat ini, Kiran membuat ia bertengkar


dengan kekasihnya sendiri.

__ADS_1


“Hi!” geram Agung.


__ADS_2