
Widya terus menarik Kiran keluar dari dalam kamar sang anak. Bahkan setelah keluar dari sana, Widya masih saja menarik sahabatnya itu hingga keluar dari dalam rumah.
Berhenti, di taman yang berada di samping ruang keluarga.
"Mbak Wid, lepasin aku, itu si Alana kalau didiamin terus bisa-bisa mereka gituan mbak," ucap Kiran, ambigu dan menggebu. Ia bahkan hendak kembali ke kamar sang anak. Namun dengan cepat pula Widya mencekal tangannya.
"Ran, sabar dulu, mereka kan sudah menikah, wajar jika melakukan itu. Meskipun Alana belum begitu mengerti tentang itu itu, tapi bagaimana dengan Altar? dia juga pasti tersiksa Ran," sanggah Widya, tak kalah menggebunya.
Masalahnya kini, bukan hanya Alana, tapi juga Altar. Walau bagaimanapun, Widya sudah mengerti jika anak laki-lakinya sudah puber.
Sudah memiliki hasrat yang membuatnya tersiksa.
"Ran, aku mohon. Biar mereka urus sendiri masalah itu, kita jangan ikut campur lagi. Ku rasa mereka pun punya perencanaannya sendiri untuk masa depan rumah tangga mereka," jelas Widya, kini ia berucap dengan begitu pelan. Berharap Kiran akan mengerti.
Bahwa baik Alana ataupun Altar, tak mungkin gegabah dalam menentukan sebuah keputusan. Apalagi, tentang anak diantara pernikahan mereka yang terbilang sangat belia.
Pelan, Kiran menarik dan menghembuskan napasnya pelan. Mencoba menerima semua ucapan sang besan.
"Maafkan aku mbak, aku berlebihan terhadap mereka berdua. Aku hanya merasa cemas mbak."
"Iya, aku tahu," jawab Widya, cepat.
Dari tadi sibuk sendiri. Keduanya sampai lupa jika memiliki suami.
Saat ini Aslan dan Agung sedang berada di dapur, lengkap dengan kedua anaknya Altar dan Aydan.
Mereka duduk bersama di meja makan itu, memakan beberapa cemilan dan minum segelas jus buah.
Di meja makan ini, para pria tidak membicarakan Altar. Melainkan Aydan.
"Aydan, kamu kenal kan dengan teman ayah yang namanya om Arick. Dia punya dua anak gadis, kembar. Namanya Anja dan Jani. Ayah rasa salah satu diantara mereka akan cocok denganmu," ucap Aslan, hingga membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Terlebih Aydan.
Pria dewasa yang memiliki wajah rupawan ini memang mengenal om Arick. Juga kedua anaknya yang bernama Anja dan Jani.
Di kampusnya, Anja dan Jani adalah kakak tingkat Aydan. Mereka saling mengenal, namun tidak dekat.
Bahkan para pria pun tak ada yang berani mendekati Anja dan Jani. Karena kedua wanita cantik itu dilindungi oleh sang kakak yang terkenal dengan sikap dingin dan menakutkannya, Zayn.
"Kapan-kapan kita main ke rumah om Arick ya? kamu mau tidak?" tanya Aslan lagi, saat melihat anaknya hanya terdiam dan tidak merespon apapun.
__ADS_1
"Aku sudah mengenal mereka Yah, tidak perlu menjodoh-jodohkan kami," jawab Aydan akhirnya.
Dan mendengar itu, Aslan makin tersenyum antusias.
"Benarkah? jadi kamu dekat dengan Anja dan Jani? jangan dua-dua Ay, pilih salah satu saja," balas Aslan lagi.
Sebuah kalimat yang mampu membuat Agung terkekeh. Jadi ingat masa lalu saat Aslan memiliki dua istri, Maya dan Kiran.
"Iya Aydan, jika ada salah satu diantara mereka yang membuatmu tertarik, langsung menetapkan hatimu, jangan bimbang lagi." Agung, akhirnya ikut buka suara.
Sementara Altar, hanya mendengarkan, seraya berulang kali melongok kearah masuk dapur.
Mencari-cari keberadaan sang istri yang tak kunjung muncul.
"Iya Yah, aku memang mengenal mereka. Tapi belum berpikir sejauh itu. Anja dan Jani juga sedang disibukkan dengan magang mereka," jawab Aydan.
Aslan dan Agung pun menganggukkan kepalanya.
Mereka berempat terus asik mengobrol, hingga tak menyadari jika Kiran dan Widya datang menghampiri.
"Al, pergilah ke kamar, panggil Alaba untuk makan," titah Ibu Widya pada sang anak, Altar.
"Siap Bu!" jawab Altar patuh dan begitu antusias.
Dasar pengantin baru. Batin Aydan, ia bahkan sedikit mencebik ketika membatin itu.
Semenjak Alana dan Altar menikah, hidupnya pun jadi tak tenang. Setiap hari, kedua orang tuanya selalu meminta ia untuk segera menikah pula.
Tidak perlu menunggu lulus kuliah.
Mengingat itu, Aydan hanya mampu menarik dan menghembuskan napasnya pelan.
Dan Altar pun segera bergegas menuju kamarnya sendiri, dimana istrinya kini berada.
Tanpa mengetuk pintu, Altar langsung masuk kesana. Seketika Alana yang sedang merapikan bajunya sendiri pun melongok, melihat siapa yang datang.
Keduanya sama-sama tersenyum, ketika tatapan mereka bertemu.
"Kenapa lama sekali? ku kira ibu Wid dan ibu Kiran tadi membantumu," ucap Altar, seraya berjalan mendekati Alana yang berdiri tepat didepan lemari pakaian.
"Awalnya sih iya bantu, tapi habis itu ibu Kiran malah nangis, terus interogasi aku, padahal ini belum selesai," jawab Alana, apa adanya.
__ADS_1
Kedua ibunya itu tiba-tiba pergi begitu saja setelah ia selesai bercerita.
"Interogasi?" ulang Altar, penasaran dengan satu kata itu. Ingin tahu kedua ibunya mengintrogasi Alana tentang apa.
Dilihatnya, Alana menganggukkan kepalanya pelan.
"Iya, Interogasi, tanya-tanya tentang kita," balas Alana, kini ia mulai kembali tersenyum-senyum.
apalagi saat teringat, sentuhan intim yang berulang kali Altar berikan seminggu ini.
"Tanya-tanya tentang kita?" Altar, membeo.
"Tentang kita bagaimana?" timpalnya lagi, makin penasaran. Sedikit was-was, jika yang dimaksud Alana adalah tentang hubungan intim diantara mereka.
"Ya tentang kita. Ibu Kiran tanya, apa kita sudah berciuman atau belum. Trus waktu aku balik tanya kenapa tanya seperti itu, ibu wid bilang mereka hanya ingin memastikan apa kita sudah saling mencintai atau belum. Karena kalau belum cinta, biasanya kita tidak mau disentuh oleh pasangan," jawab Alana, dan Altar masih setia diam, setia menunggu sang istri melanjutkan ceritanya.
"Ya sudah, aku jawab saja, kalau kita sudah saling mencintai. Buktinya, kita sering berciuman mersa, bepelukan, bahkan kamu sering memainkan dadaku."
Astagfirulahalazim! batin Altar, sungguh terkejut. Altar bahkan sampai tak bisa berkata-kata lagi.
Altar lalu memilih duduk disisi ranjang, tiba-tiba kakinya terasa begitu lemah untuk berdiri.
Altar sungguh malu, merasa tak punya muka lagi untuk bertemu dengan kedua ibunya.
Membayangkan kedua ibunya itu membayangkan dirinya yang sedang memainkan dada Alana.
Argh!! Altar sungguh ingin berteriak, namun sekuat tenaga, ia tahan.
"Kamu kenapa?" tanya Alana, bingung.
Ia menutup lemari pakaian itu dan menghampiri suaminya. Lalu duduk persis disebelah Altar.
"Mas kenapa?" tanya Alana sekali lagi.
"Tidak ada apa-apa sayang, aku hanya sangat bahagia, sekarang ibu Kiran dan ibu Wid tahu kalau kita saling mencintai," jawab Altar, yang tak ingin menyalahkan istrinya itu.
Dilihatnya, Alana yang tersenyum lebar.
Seketika, kegundahan didalam hatinya menghilang begitu saja. Altar, bahkan sampai ikut tersenyum pula.
"Ayo kita keluar, semua orang sudah menunggu," ajak Altar lembut seraya mengelus salah satu pipi sang istri dengan sayang.
__ADS_1
Dan Alana, menganggukkan kepalanya.