
Cukup lama berpaut akhirnya ciuman itu terlepas pula. Agung tersenyum, menarik wajahnya dan memberi jarak. Dilihatnya wajah yang memerah, merona. Agung lalu menggerakkan tangan kanannya dan menghapus
sedikit salivanya yang tertinggal dipinggir bibir Widya.
“Aku tidak akan menunda, malam ini juga aku akan
melamarmu,” ucap Agung dengan jarak yang masih begitu dekat dengan sang
manejer.
Widya bergeming, tak tahu harus mengatakan apa.
Wajahnya terasa begitu panas, ia gugup.
“Bu Widya, eh!” ucap Agung keceplosan, rasanya
begitu janggal jika kini ia masih memanggil Widya dengan sebutan ibu.
“Aku tidak akan memanggil Ibu lagi, apalagi saat
kita sedang berdua seperti ini,” timpal Agung cepat.
Lalu?Tanya Widya di dalam hati, karena lidahnya kelu untuk berkata-kata.
Tapi seolah Agung bisa mendengar suara hati Widya
itu, iapun langsung menjawabnya, “ Aku akan memanggil, Sayang,” jawab Agung,
saat mengatakan itu bibirnya tersenyum, namun sorot matanya menggambarkan
keseriusan.
Dan Widya, hanya bisa menelan salivanya dengan susah
payah. Dihadapkan dengan situasi seperti ini, mendadak jiwa kepemimpinannya
hilang entah kemana. Ia malah terus terdiam, gugup sekaligus malu.
Bahkan Widya tetap bergeming saat Agung kembali
mengikis jarak, dan memberinya sebuah kecupan singkat di bibir yang masih
terasa kebas itu.
“Aku tahu sayang masih terkejut, tapi kita bukan
orang asing kan? aku bahkan sampai lupa sudah berapa tahun kita saling
mengenal,” jelas Agung lagi, karena Widya terus saja terdiam, tak sedikitpun
mengeluarkan kata-kata.
“Aku yakin perasaanku ini tidak salah, aku mencintai
manajer ku sendiri, kurasa cinta itu sudah tumbuh lama, hanya saja aku tidak
berani untuk mengungkapkannya.”
“Benarkah?” tanya Widya akhirnya dan Agung
menganggukkan kepalanya dengan mantap, Agung bahkan langsung berjongkok
dihadapan wanita itu.
“Tatap mataku, apa kamu tidak bisa merasakannya?”
jawab Agung, kini tatapan keduanya terkunci, seperti sebuah garis lurus yang
tak putus-putus.
Menatap mata Agung yang juga menatapnya lekat, ada
kehangatan yang menjalar masuk kedalam hati Widya kala terus mentap mata
lak-laki itu.
Agung, memang bukanlah orang asing baginya, mereka
sudah lama saling mengenal, sama-sama bekerja di showroon mobil ini. Bahkan
Agung adalah bawahannya yang sering sekali mendapatkan teguran.
Tapi aneh memang, saat dulu Agung sering izin kulu
kilir Jakarta Malaysia, Widya sempat merasakan ada yang hilang, merasa ada
ruang kosong di showroon saat Agung tak ada disana.
Namun dulu, Widya menampik perasaannya itu, yang
__ADS_1
selalu ada dibenaknya adalah profesional dalam bekerja.
Dan kini, saat tiba-tiba Agung mengungkapkan
perasaannya, entah kenapa pula debar itu kembali datang. Bahkan ia tak menolak
saat Agung dengan lancang menyesap bibir ranum miliknya.
“Baiklah, jangan hanya banyak bicara, tunjukkan
dengan tindakan tentang keseriusanmu itu,” jawab Widya, ia lalu memalingkan
wajah, tak sanggup berlama-lama menatap kedua mata Agung.
Pria tampan, yang bahkan usianya masih dibawah
dirinya.
Mendengar itu, Agung langsung bersorak, “YES!”
ucapnya dengan teriakan yang tertahan, tak ingin mencuri perhatian semua orang
di dalam showroom itu.
“Terima kasih, karena kamu beri aku kesempatan,”
ucap Agung lagi, ia hendak kembali mencium bibir Widya, namun dengan cepat
Widya menahannya menggunakan kedua tangan.
“Nikahi aku dulu,” tantang Widya dan Agung terkekeh.
Tak sanggup menahan kebahagian yang membuncah,
akhirnya Agung memeluk Widya erat, tak peduli meski gadisnya ini meronta minta
dilepaskan.
Hingga lambat laun, perlawanan Widya itu mereda,
bahkan Agung dapat merasakan dengan jelas, Widya yang juga membalas pelukannya.
Melingkar penuh hingga sampai dipunggungnya.
Agung tersenyum penuh syuykur, juga dengan Widya.
terasa begitu hangat. Lengkap pula dengan debar yang sama dihati keduanya.
****
Keluar dari ruangan Widya, Agung senyum-senyum, khas
orang yang baru saja jatuh cinta.
Tanpa bertanya, Kiran sudah tahu jawabannya. Lamaran
sahabatnya itu diterima oleh sang manajer.
Alhamdulilah.
Ucap Kiran didalam hati, jujur saja, ia sebenarnya bersyukur. Sangat-sangat
bersyukur, kini sahabatnya itu menemukan tambatan hati. Tempatnya kelak berbagi
keluh kesah dan juga kebahagiaan.
Selama ini Agung sudah banyak berkorban untuknya,
tak hanya waktu tapi juga tenaga.
Sebelum Kiran bertanya pun, Agung sudah menceritakan
semuanya, termasuk niatnya untuk membawa kedua orang tuanya melamar Widya nanti
malam.
Kiran yang antusiaspun berniat ikut mengantar Agung
pula, dan Agung menyetujui itu.
Jadi nanti malam, mereka akan melamar sang manajer.
Seperti biasa, jam 4 sore mereka semua sudah
bergegas pulang.
Kiran yang tak punya baju baru untuk mengantar
sahabatnya itu lamaran pun memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan, tak
__ADS_1
hanya membeli untuk dirinya sendiri, ia juga membelikan sang suami dan juga
anaknya, Aydan.
Kiran ingin, malam ini mereka menggunakan baju
couple. Kiran pun sudah begitu menghapal ukuran baju Aslan dan juga Aydan,
hingga ia tak merasa kesulitan sedikitpun.
Selama berbelanja itu, Kiran juga memutuskan untuk
memberi tahu suaminya tentang acara semalam. Tapi sayang, ternyata nomor Aslan
tidak aktif.
“Duh, jangan-jangan mas Aslan pulang malem lagi, kan
lamarannya habis magrib. Gimana ya?” gumam Kiran, ia masih berdiri diantara
baju-baju yang berjejer rapi dalam sebuah toko.
Mendadak galau, bingung harus bagaimana.
“Ran!” panggil seorang wanita, Kiran menoleh dan
melihat Dinda datang menghampirinya.
Kini, Dinda juga sudah mulai berhijab seperti Kiran.
“MasyaAllah cantiknya,” ucap Kiran saat Dinda sudah
berdiri tepat dihadapannya, lengkap pula dengan senyumnya yang begitu lebar.
Dinda bahkan langsung memeluk Kiran erat, tanpa
canggung. Kiranlah yang sudah membuat ia berani memutuslkan untuk menggunakan
hijab ini.
“Kamu sendiri?” tanya Dinda dan Kiran mengangguk.
Lalu tak lama kemudian ada seorang pria yang keluar
dari balik tubuh Dinda lengkap pula dengan menggendong Akbar, tenyata Alfath
juga ada disana.
“Kalian rame-rame?” tanya Kiran dengan nada bercanda
dan Dinda mengangguk antusias.
“Tapi kami sudah menemukan yang kami cari, tadi rencananya mau keluar, tapi aku lihat
kamu disini,” jelas Dinda apa adanya, seraya mengangkat paper bag belanjaannya.
“Kamu sibuk tidak, mau makan malam bersama kami?”
tanya Dinda lagi dan Kiran langsung menggelengkan kepalanya seraya memasang
wajah kecewa.
“Maaf Din,
kali ini tidak bisa, kamu tahu temanku yang namanya Agung? Malam ini di lamaran.”
Jelas Kiran.
“Oh, jadi kamu beli baju untuk acara itu?” tebak
Dinda dan kini Kiran mengangguk.
Tak lama kemudian mereka berpisah, Kiran menatap
kepergian Dinda beserta keluarga kecilnya itu kleluar dari dalam toko.
Ternyata
benar ucapan mas Aslan, sepertinya akan sulit untuk memiliki hubungan yang
baik, seperti teman dengan Maya dan juga mas Alfath. Nyatanya hingga kini,
masih nampak jelas mas Alfath yang menghindariku.
Batin Kiran.
Selama mereka bertemu tadi, Alfath memang tak
mengucapkan sepatah katapun, ia hanya tersenyum tipis saat hendak berpamitan.
__ADS_1