Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 83


__ADS_3

Cukup lama berpaut akhirnya ciuman itu terlepas pula. Agung tersenyum, menarik wajahnya dan memberi jarak. Dilihatnya wajah yang memerah, merona. Agung lalu menggerakkan tangan kanannya dan menghapus


sedikit salivanya yang tertinggal dipinggir bibir Widya.


“Aku tidak akan menunda, malam ini juga aku akan


melamarmu,” ucap Agung dengan jarak yang masih begitu dekat dengan sang


manejer.


Widya bergeming, tak tahu harus mengatakan apa.


Wajahnya terasa begitu panas, ia gugup.


“Bu Widya, eh!” ucap Agung keceplosan, rasanya


begitu janggal jika kini ia masih memanggil Widya dengan sebutan ibu.


“Aku tidak akan memanggil Ibu lagi, apalagi saat


kita sedang berdua seperti ini,” timpal Agung cepat.


Lalu?Tanya Widya di dalam hati, karena lidahnya kelu untuk berkata-kata.


Tapi seolah Agung bisa mendengar suara hati Widya


itu, iapun langsung menjawabnya, “ Aku akan memanggil, Sayang,” jawab Agung,


saat mengatakan itu bibirnya tersenyum, namun sorot matanya menggambarkan


keseriusan.


Dan Widya, hanya bisa menelan salivanya dengan susah


payah. Dihadapkan dengan situasi seperti ini, mendadak jiwa kepemimpinannya


hilang entah kemana. Ia malah terus terdiam, gugup sekaligus malu.


Bahkan Widya tetap bergeming saat Agung kembali


mengikis jarak, dan memberinya sebuah kecupan singkat di bibir yang masih


terasa kebas itu.


“Aku tahu sayang masih terkejut, tapi kita bukan


orang asing kan? aku bahkan sampai lupa sudah berapa tahun kita saling


mengenal,” jelas Agung lagi, karena Widya terus saja terdiam, tak sedikitpun


mengeluarkan kata-kata.


“Aku yakin perasaanku ini tidak salah, aku mencintai


manajer ku sendiri, kurasa cinta itu sudah tumbuh lama, hanya saja aku tidak


berani untuk mengungkapkannya.”


“Benarkah?” tanya Widya akhirnya dan Agung


menganggukkan kepalanya dengan mantap, Agung bahkan langsung berjongkok


dihadapan wanita itu.


“Tatap mataku, apa kamu tidak bisa merasakannya?”


jawab Agung, kini tatapan keduanya terkunci, seperti sebuah garis lurus yang


tak putus-putus.


Menatap mata Agung yang juga menatapnya lekat, ada


kehangatan yang menjalar masuk kedalam hati Widya kala terus mentap mata


lak-laki itu.


Agung, memang bukanlah orang asing baginya, mereka


sudah lama saling mengenal, sama-sama bekerja di showroon mobil ini. Bahkan


Agung adalah bawahannya yang sering sekali mendapatkan teguran.


Tapi aneh memang, saat dulu Agung sering izin kulu


kilir Jakarta Malaysia, Widya sempat merasakan ada yang hilang, merasa ada


ruang kosong di showroon saat Agung tak ada disana.


Namun dulu, Widya menampik perasaannya itu, yang

__ADS_1


selalu ada dibenaknya adalah profesional dalam bekerja.


Dan kini, saat tiba-tiba Agung mengungkapkan


perasaannya, entah kenapa pula debar itu kembali datang. Bahkan ia tak menolak


saat Agung dengan lancang menyesap bibir ranum miliknya.


“Baiklah, jangan hanya banyak bicara, tunjukkan


dengan tindakan tentang keseriusanmu itu,” jawab Widya, ia lalu memalingkan


wajah, tak sanggup berlama-lama menatap kedua mata Agung.


Pria tampan, yang bahkan usianya masih dibawah


dirinya.


Mendengar itu, Agung langsung bersorak, “YES!”


ucapnya dengan teriakan yang tertahan, tak ingin mencuri perhatian semua orang


di dalam showroom itu.


“Terima kasih, karena kamu beri aku kesempatan,”


ucap Agung lagi, ia hendak kembali mencium bibir Widya, namun dengan cepat


Widya menahannya menggunakan kedua tangan.


“Nikahi aku dulu,” tantang Widya dan Agung terkekeh.


Tak sanggup menahan kebahagian yang membuncah,


akhirnya Agung memeluk Widya erat, tak peduli meski gadisnya ini meronta minta


dilepaskan.


Hingga lambat laun, perlawanan Widya itu mereda,


bahkan Agung dapat merasakan dengan jelas, Widya yang juga membalas pelukannya.


Melingkar penuh hingga sampai dipunggungnya.


Agung tersenyum penuh syuykur, juga dengan Widya.


terasa begitu hangat. Lengkap pula dengan debar yang sama dihati keduanya.


****


Keluar dari ruangan Widya, Agung senyum-senyum, khas


orang yang baru saja jatuh cinta.


Tanpa bertanya, Kiran sudah tahu jawabannya. Lamaran


sahabatnya itu diterima oleh sang manajer.


Alhamdulilah.


Ucap Kiran didalam hati, jujur saja, ia sebenarnya bersyukur. Sangat-sangat


bersyukur, kini sahabatnya itu menemukan tambatan hati. Tempatnya kelak berbagi


keluh kesah dan juga kebahagiaan.


Selama ini Agung sudah banyak berkorban untuknya,


tak hanya waktu tapi juga tenaga.


Sebelum Kiran bertanya pun, Agung sudah menceritakan


semuanya, termasuk niatnya untuk membawa kedua orang tuanya melamar Widya nanti


malam.


Kiran yang antusiaspun berniat ikut mengantar Agung


pula, dan Agung menyetujui itu.


Jadi nanti malam, mereka akan melamar sang manajer.


Seperti biasa, jam 4 sore mereka semua sudah


bergegas pulang.


Kiran yang tak punya baju baru untuk mengantar


sahabatnya itu lamaran pun memutuskan untuk pergi ke pusat perbelanjaan, tak

__ADS_1


hanya membeli untuk dirinya sendiri, ia juga membelikan sang suami dan juga


anaknya, Aydan.


Kiran ingin, malam ini mereka menggunakan baju


couple. Kiran pun sudah begitu menghapal ukuran baju Aslan dan juga Aydan,


hingga ia tak merasa kesulitan sedikitpun.


Selama berbelanja itu, Kiran juga memutuskan untuk


memberi tahu suaminya tentang acara semalam. Tapi sayang, ternyata nomor Aslan


tidak aktif.


“Duh, jangan-jangan mas Aslan pulang malem lagi, kan


lamarannya habis magrib. Gimana ya?” gumam Kiran, ia masih berdiri diantara


baju-baju yang berjejer rapi dalam sebuah toko.


Mendadak galau, bingung harus bagaimana.


“Ran!” panggil seorang wanita, Kiran menoleh dan


melihat Dinda datang menghampirinya.


Kini, Dinda juga sudah mulai berhijab seperti Kiran.


“MasyaAllah cantiknya,” ucap Kiran saat Dinda sudah


berdiri tepat dihadapannya, lengkap pula dengan senyumnya yang begitu lebar.


Dinda bahkan langsung memeluk Kiran erat, tanpa


canggung. Kiranlah yang sudah membuat ia berani memutuslkan untuk menggunakan


hijab ini.


“Kamu sendiri?” tanya Dinda dan Kiran mengangguk.


Lalu tak lama kemudian ada seorang pria yang keluar


dari balik tubuh Dinda lengkap pula dengan menggendong Akbar, tenyata Alfath


juga ada disana.


“Kalian rame-rame?” tanya Kiran dengan nada bercanda


dan Dinda mengangguk antusias.


“Tapi kami sudah  menemukan yang kami cari, tadi rencananya mau keluar, tapi aku lihat


kamu disini,” jelas Dinda apa adanya, seraya mengangkat paper bag belanjaannya.


“Kamu sibuk tidak, mau makan malam bersama kami?”


tanya Dinda lagi dan Kiran langsung menggelengkan kepalanya seraya memasang


wajah kecewa.


“Maaf  Din,


kali ini tidak bisa, kamu tahu temanku yang namanya Agung? Malam ini di lamaran.”


Jelas Kiran.


“Oh, jadi kamu beli baju untuk acara itu?” tebak


Dinda dan kini Kiran mengangguk.


Tak lama kemudian mereka berpisah, Kiran menatap


kepergian Dinda beserta keluarga kecilnya itu kleluar dari dalam toko.


Ternyata


benar ucapan mas Aslan, sepertinya akan sulit untuk memiliki hubungan yang


baik, seperti teman dengan Maya dan juga mas Alfath. Nyatanya hingga kini,


masih nampak jelas mas Alfath yang menghindariku.


Batin Kiran.


Selama mereka bertemu tadi, Alfath memang tak


mengucapkan sepatah katapun, ia hanya tersenyum tipis saat hendak berpamitan.

__ADS_1


__ADS_2