Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 15


__ADS_3

"Kita hanya perlu saling menerima, selebihnya kita jalani apa adanya." ucap Aslan ketika ia selesai mengecup bibir sang istri.


Mendapati Kiran yang mematung membuatnya tersenyum kecil. Semalam, ia ingat dengan jelas jika Kiran memintanya untuk melakukan itu dengan ketusnya. Seolah ia benar-benar siap.


Tapi sekarang, hanya dicium seperti ini saja, Kiran sudah seperti kehilangan nyawa.


"Satu lagi, aku sudah susah payah berusaha agar tidak memanggilmu Mbak, jadi jangan panggil aku hanya dengan nama, panggil aku Mas." jelas Aslan lagi.


Kiran mencoba sadar, tapi karena masih gamang, akhirnya ia hanya bisa mengangguk.


"Bagus." ucap Aslan, ia bahkan mengangkat tangannya dan mengelus kepala sang istri.


Namun tangan Kiran malah reflek menepis tangan itu.


Seketika itu juga suasana menjadi canggung, kembali dingin.


"Maaf," ucap Kiran lirih, meski mengucapkan kata maaf tapi ia memalingkan wajah.


Aslan hanya mampu menghela napasnya.


"Ran ..."


"Selalu ada alasan baik kenapa sesuatu itu bisa terjadi Ran, Mungkin sekarang kita merasa sakit, marah dan tidak terima. Tapi percayalah, Allah tidak mungkin memberikan cobaan yang sia-sia." jelas Aslan.


Ia coba terus memberi pengertian, semata-mata agar rumah tangganya menjadi rukun. Tak ingin ada selisih yang akan menyakiti sebelah pihak.


Kini Kiran adalah tanggung jawabnya, rasa sedihnya pun menjadi tanggungannya.


Kiran menoleh, semua kata-kata Aslan memang selalu benar. Ia sadar akan hal itu.


"Tapi aku tidak bisa menerimamu dengan penuh." jawab Kiran, ia balas tatapan sang suami yang menatapnya lekat.


"Kenapa? karena Maya?" tanya Aslan dan Kiran mengangguk, memang itulah yang ia rasakan.


"Ran, Maya dan kamu sekarang sama. Tak peduli siapa yang pertama dan siapa yang kedua. Kalian adalah istriku."


"Tapi tetap saja Lan_"


"Mas! panggil aku Mas."


Kiran menggigit bibir bawahnya, rasanya begitu canggung untuk mengucapkan satu kata itu.


Sementara Aslan terus menatapnya dengan tajam.


"Tapi tetap saja, Mas. Aku tidak bisa, aku pernah diposisi Maya. Dan aku tau itu rasanya sakit."

__ADS_1


"Ya, kamu benar. Mungkin diantara kita, Maya adalah yang paling menderita. Jadi jangan buat pengorbanannya itu jadi sia-sia. Mari kita bangun rumah tangga bersama-sama." jelas Aslan.


Kiran terdiam, selama ini memang ia hanya peduli pada sakitnya sendiri.


"Kalau begitu sentuh aku, lakukan sekarang." ucap Kiran yakin, bukankah mereka menginginkan anak?


Keduanya saling tatap dengan intens.


"Kenapa? kenapa kamu memintaku untuk melakukan itu, apa alasanmu?" tanya Aslan, tanpa melepaskan tatapan.


"Bukankah kalian menginginkan anak? jadi ayo kita buat, dengan begitu baik Maya ataupun kamu akan bisa berbahagia lagi."


Aslan terdiam, entah kenapa ia benar-benar tak suka mendengar kata-kata itu. Meski memang ini adalah tujuannya.


"Aku mau kamu melakukan itu bukan karena ingin memberiku ataupun Maya seorang anak. Tapi karena kamu ingin memenuhi kewajibanmu sebagai seorang istri." jelas Aslan.


Setelah mengatakan itu ia bangkit dan melipat sajadahnya sendiri. Meletakkannya diatas meja kecil khusus alat shalat.


Kiran tertegun, ia bahkan tak memperhatikan semua gerakan Aslan. Seperti tertembak tepat di relung hatinya yang terdalam.


Ucapan Aslan itu benar-benar menusuk.


"Aku akan keluar lebih dulu." ucap Aslan dingin, tapi Kiran masih duduk dan mematung. Ia hanya mendengar tak berusaha untuk mencegah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aslan keluar dan berdiri di depan pintu kamar itu. Dadanya sesak, rasanya sangat sulit untuk menjalani ini semua. Terlebih saat berdekatan dengan Kiran ia selalu teringat dengan Maya.


Rasa berslah itu tetap bersarang meski sudah berulang kali ia coba singkirkan.


"Maya." gumamnya pelan, hanya ditangkap oleh telinganya sendiri.


Astagfirulahalazim, astagfirulahalazim.


Terus, Aslan beristigfar. Setelah cukup tenang, ia kembali memutuskan untuk masuk ke dalam kamar.


Ceklek!


Pintu terbuka, seketika itu juga tatapannya bertemu dengan mata teduh Kiran. Dilihatnya sang istri yang baru selesai melipat mukenah.


Ia berjalan dan mendekati Kiran.


"Apa ada yang tertinggal?" tanya Kiran, ia memutus tatapan dan kembali sibuk dengan melipat mukanah dan sajadah.


Aslan tak menjawab, ia langsung memeluk Kiran dari arah belakang. Hingga membuat istrinya ini kembali mematung.

__ADS_1


Tangan Kiran mendadak lemas, sajadah itu langsung jatuh begitu saja diatas karpet.


"Maaf." ucap Aslan tepat ditelinga sang istri.


Hanya satu kata tapi mampu meluluhkan segalanya, juga hati dingin sang istri.


Kiran meluluh, ia melepas pelukan Aslan dan berbalik menatap sang suami.


"Aku yang harusnya meminta maaf, aku salah, aku egois. Selalu menjadikan Maya alasan dari ketidaksiapanku sendiri. Maafkan aku." ucap Kiran jujur, baru kali inilah ia benar-benar berkata jujur tentang perasaannya.


Cintanya memang masih jelas untuk Alfath, Aslan pun begitu, cintanya hanyalah untuk Maya.


Tapi Aslan dan Kiran hanya butuh waktu. Waktu agar cinta itu juga bersemi diantara keduanya.


Perlahan, Kiran bergerak mendekat, ia menutup mata dan memberanikan diri memeluk sang suami. Dipeluknya erat, Aslan yang kini bukan lagi pria bodoh atau bocah cupu. Melainkan suaminya sendiri.


Aslan tersenyum, seraya membalas pelukan itu tak kalah eratnya.


Meskipun cinta tak akan pernah utuh, namun mereka memutuskan untuk meraihnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selsai sarapan, Aslan dan Fahmi berbincang di ruang tengah. Fahmi sengaja libur hari ini untuk menemani sang calon adik ipar, sementara Aslan dan Kiran cuti pernikaham selama 1 minggu.


Saat ini Kiran dan Tika sedang membereskan meja dapur, sementara Nur sudah mencuci pakaian di belakang sana.


"Ran, mbak bahagia sekali hari ini." jelas Tika, tangannya sibuk menumpuk piring kotor sedangkan bibirnya tersenyum dengan lebar.


"Kenapa?" tanya Kiran yang jadi ikut-ikutan senyum juga. Ia menoleh sekilas lalu berlalu ke westafel dengan membawa beberapa gelas kotor.


"Mbak bahagia, karena pagi ini melihat wajahmu dan Aslan sama-sama bahagia. Mbak pikir muka kalian akan kusut saat keluar dari kamar." jelas Tika yang memasang wajah kusut, menggambarkan ucapannya sendiri.


Kiran tak langsung menjawab, ia malah mengulum senyum.


Awalnya ia pikir juga akan begitu, awalnya ia pikir Aslan hanya akan membuatnya kesal. Tapi seperti menemukan orang yang tepat, Aslan justru membuatnya tenang.


"Menurut mbak, Aslan itu adalah orang yang tepat untuk kamu dan datang diwaktu yang tepat pula." jelas Tika.


Kiran tak menjawab, namun hati kecilnya membenarkan.


"Mbak cuma berharap, kamu tidak hanya menerima Aslan, tapi juga Maya."


Kedua tangan Kiran yang sedang mencuci gelas langsung terdiam kala mendengar kata-kata itu.


"Kalian sesama perempuan. Apa yang kamu rasakan, Maya juga rasakan. Jadi jangan hanya Aslan yang berusaha adil, tapi kalian juga harus adil."

__ADS_1


__ADS_2