Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 171 - Makan Malam


__ADS_3

Malam datang.


Malam ini keluarga Aslan dan keluarga Agung akan makan malam bersama, merayakan pernikahan kedua anak mereka, Altar dan Alana.


Berkumpul di rumah Aslan, kini mereka semua sudah berada di meja makan.


Tak hanya terdengar canda tawa, sesekali bahkan Kiran akan menangis melepaskan putrinya itu kini menikah.


Kemarin-kemarin ia bisa begitu tegar, namun entah kenapa, malam ini tidak.


“Ran, aku tidak akan memisahkan kamu dengan Alana, jangan bersedih seperti ini.” Widya menenangkan sang sahabat.


Iapun bisa mengerti kenapa Kiran sangat bersedih seperti itu, jika dipikirkan terus menerus memang rasanya akan sangat kasihan pada Alana, karena ia harus menikah di usia muda seperti ini.


“Iya bu, jangan nangis terus, aku bahagia kok nikah sama Mas Altar,” Alana juga buka suara, diantara sela-selanya memakan hidangan makan malam itu.


Sebelum turun tadi, Alana terus belajar memanggil Altar dengan sebutan Mas. Dan untungnya, itu berhasil. Ia tidak keceplosan lagi memanggil Altar dengan sebutan Al, Al dan Al.


Dan mendengar ucapan sang anak itu, tangis Kiran tiba-tiba terhenti. Ia lalu menatap Alana dengan tatapan yang lekat.


“Ibu tahu, kamu bahagia menikah dengan Altar sayang, ibu juga merasa jika kalian sudah saling mencintai. Ibu hanya merasa kehilangan saja, walau bagaimana pun namanya perempuan kalau sudah menikah pasti akan ikut suami,” jawab Kiran dan didengar semua orang.


“Walaupun rumah kita akan tetap berdekatan, tapi setelah menikah kami tidak boleh pulang ke rumah ini tanpa izin Altar. Apa kamu mengerti Al?” tanya Kiran pula pada sang anak.


Ditanya seperti itu, mendadak Alana bergeming. Mendadak jadi haru juga.


Hingga terasa sang suami menyentuh tangannya di bawah meja, barulah Alana tersadar.


“Iya Bu, Alana tahu,” jawab Alana lirih.


Dan semua orang yang mendengar pun hanya terdiam. Sedikit menghembuskan napasnya pelan. Hingga akhirnya, Aslan buka suara.


“Ibu Kiran tenang saja, tak lama setelah Alana pergi, Aydan akan membawa seorang wanita ke rumah ini, iya kan Ay?” tanya Aslan pada anak sulungnya itu.

__ADS_1


Widya dan Agung tersenyum. Sementara Aydan dan Alana sama-sama mencebik. Alana merasa dilupakan, sementara Aydan merasa kini ia yang didesak.


Dan Altar, terkekeh kala melihat reaksi kedua kakak beradik itu.


“Benar Ay, apa sekarang kamu sudah punya kekasih? Kenalkan Lah pada ibu Aydan,” Kiran, mulai antusias kembali.


Dan malam itu, akhirnya Aydan yang jadi bulan-bulanan semua orang. Sedangkan sang pengantin kecil hanya terdiam tak mengucapkan sepatah katapun.


Alana dan Altar hanya terus tersenyum dengan tangan yang saling menggenggam erat dibawah meja makan sana.


Dan saat makan malam itu usai, akhirnya Agung dan Widya pulang. Seminggu ini, Alana dan Altar akan tinggal di rumah Aslan, dan setelah itu barulah Alana dan Altar akan pindah ke rumah Agung untuk selamanya.


Kembali ke dalam kamar, Alana dan Altar shalat isya sendiri-sendiri. Saat Altar ke kamar mandi, Alana shalat. Dan saat Alana ke kamar mandi, Altar shalat.


Mereka belum terbiasa untuk shalat bersama-sama. Ternyata rasanya masih sangat canggung untuk bersikap layaknya suami dan istri.


“Ayo langsung tidur,” ajak Alana, saat melihat sang suami baru saja selesai melaksanakan shalat isya.


Alana pun dengan sigap menggeser tubuhnya dan memberi ruang untuk Altar agar lebih leluasa.


Malam itu, mereka benar-benar tidak melakukan apapun. Bahkan karena takut tak bisa mengendalikan diri, Altar pun tidak kembali mencium istrinya itu.


Hanya membelai wajah Alana sekilas lalu tidur saling memandangi dengan memeluk guling masing-masing.


Pagi menjelang.


Alana dan Altar tidur dengan saling menendang.


Bahkan ada beberapa bantal pula yang jatuh, dengan selimut yang sudah tidak lagi membungkus tubuh keduanya.


Di depan pintu kamar Altar dan Alana, ada Aydan yang usilnya luar biasa.


Aydan begitu tahu kebiasaan adiknya itu yang tidak pernah mengunci pintu kamar. Dan kini ia coba-coba membukanya.

__ADS_1


Senyum Aydan langsung terbit saat pintu kamr sang adik itu bisa terbuka dengan mudah.


Seperti pencuri, Aydan masuk ke dalam kamar sana dan mengendap-ngendap menghampiri ranjang sang adik yang nampak berantakan.


Aydan mengulum senyum, menahan agar kekehannya tidak


pecah.


Tanpa babibu, ia langsung mengambil foto kedua adiknya itu. Foto yang nampak jelas memperlihatkan jika semalam keduanya sudah melakukan pertempuran hebat.


Dengan memegangi perutnya yang kram menahan tawa, Aydan keluar dari dalam kamar dan kembali menutupnya dengan perlahan.


“Mana, ibu lihat fotonya,” Kiran, ternyata pun ada di sana. Dan ternyata pula, kiran lah yang meminta Aydan untuk mengambil foto itu.


Tak langsung menjawab pertanyaan sang ibu, Aydan lebih dulu menarik ibunya itu untuk menjauh dari sana.


Tak tanggung-tanggung, Aydan bahkan sampai menarik sang ibu hingga sampai di lantai 1. Dan diujung tangga sana, Aydan langung tertawa terbahak, seraya menunjukkan layar ponselnya pada sang ibu.


“Ya ampun Bu, perutku sakit,” ucap Aydan diantara tawanya.


Altar dan Alana nampak bukan seperti pengantin baru, tapi seperti dua anak Sekolah Dasar yang sedang menginap di rumah temannya.


Bahkan nampak jelas Alana yang mengeluarkan air liurnya, hingga membentuk sebuah pulau di atas bantal.


Dan melihat foto itu, Kiran tersenyum.


Merasa lega, jika seperti ini bentuknya bisa dipastikan jika semalam kedua anaknya itu benar-benar tidak melakukan apa-apa.


“Sampai kapan aku harus mengambil foto mereka tiap pagi seperti ini bu?” tanya Aydan setelah tawanya mereda.


“Selama mereka tinggal disini,” putus Kiran hingga membuat Aydan mencebik.


Adiknya yang menikah tapi kini ia yang repot.

__ADS_1


__ADS_2