Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 158 - Tidak Baik-Baik Saja


__ADS_3

“Bu, aku mau ke rumah Altar ya,” pamit Alana pada sang ibu, saat ini Kiran sedang menyusun bunga dalam sebuah vas. Beberapa saat lalu ia memesan bunga-bunga yang cantik dari toko bunga langganannya, Haura Florist.


“Iya sayang, kalian mau belajar bersama?” tanya Kiran, ia melirik sekilas sang anak yang kini berdiri tepat disampingnya, lengkap dengan beberapa buku di tangan.


“ iya Bu,” jawab Alana apa adanya.


Dan Kiran pun menganggukkan kepalnya , mengizinkan.


Dengan senyum yang mengembang, Alana segera bergegas pergi ke rumah Altar. Ia bahkan sedikit berlari saat sudah keluar dari rumahnya sendiri, berlari kecil-kecil menuju rumah Altar yang berada disebelah rumahnya.


Sampai di sana, Alana segera menekan bell rumah itu, dan tak lama kemudian Altar membukanya.


Melihat Altar yang membuka pintu itu, seketika senyum Alana perlahan menyurut. Senyum itu menghilang kala melihat wajah sendu yang Altar tunjukkan.


Nampak jelas, jika kini Altar tidak dalam keadaan yang baik.


“Al,” panggil Alana pelan.


Altar tak menjawab, ia hanya membuka pintu rumahnya lebar-lebar dan menarik Alana untuk masuk. Menggenggam pergelangan tangan Alana dan membawa gadis ini untuk masuk ke dalam rumahnya.


Mereka menuju ruang tengah dan duduk di sana, duduk bersimpuh di atas karpet dan meletakkan semua buku di atas meja.


Alana, sungguh heran melihat sikap diam Altar itu. Ia sungguh ingin bertanya lebih, ada apa? Kenapa?. Namun dari raut wajah itu, Alana merasa jika Altar sedang tidak ingin diganggu. Akhirnya, Alana hanya memilih diam. Tak ingin memperburuk suasana hati Altar.


“Dimana Ayah Agung dan ibu Wid?” tanya Alana, mencoba memecah keheningan dan mengalihkan kecanggungan ini.


“Ayah menemani ibu beristirahat, kurasa sekarang mereka sudah tidur siang,” jawab Altar apa adanya, tak lama setelah mereka makan siang bersama, ibu Widya meminta izin padanya untuk beristirahat di kamar.


Kala itu Altar mengangguk dengan senyum yang terkembang, ia juga mengatakan pada sang ibu jika nanti Alana akan datang. Mereka akan belajar bersama.


Mendengar itu, Agung pun menganggukkan kepalanya dengan antusias.


Agung malah begitu senang dan tidak berniat menganggu sedikitpun kedua anaknya itu untuk bersama.


“Kamu bawa buku apa?” tanya Altar pula, ia mencoba tetap tenang dan tidak larut dalam kecemasannya sendiri terhadap sang ibu.


Ditanya seperti itu, Kiran segera menunjukkan buku bawaannya, hanya satu buku mata pelajaran yang ia bawa, pelajaran yang paling tidak disukai oleh Altar, Matematika.


“Kenapa bawa buku ini, harusnya yang lain dulu,” elak Altar, hanya membaca judulnya saja ia sudah merasa pusing.

__ADS_1


“Aku memang sengaja ingin membawa yang ini dulu, aku akan membuatmu menyukai pelajaran matematika,” jelas Alana dengan yakin, ia bahkan sudah mulai kembali tersenyum


Senyum, yang bisa menular pada Altar.


“Bagaimana  caranya?” tanya Altar, menantang, ia bahkan menatap Alana dengan tatapan meremehkan.


Ditatap seperti itu, Alana mencebikkan bibirnya.


“Buka dulu buku mu,” ketus Alana, hingga membuat Altar terkekeh.


Siang itu, mereka terus belajar bersama, sesekali diselingi candaan ringan yang membuat keduanya terkekeh pelan.


Hingga saat jam 3 sore, Alana memutuskan untuk pulang, sebentar lagi waktu ashar tiba.


“Aku akan mengantarmu ke depan,” ucap Altar, saat alana sedang membereskan buku-buku miliknya.


“Apa Ayah dan Ibu Wid belum bangun?” tanya alana pula, ia bahkan menoleh kearah kanan, kearah dimana kamar ibu Widya dan Ayah Agung berada, ingin melihat apakah kedua orang tuanya itu sudah keluar atau belum.


“Sepertinya belum bangun, setelah mengantarmu aku akan membangunkan mereka.” Jawab Altar dan Alana menganggukkan kepalanya.


Semua bukunya sudah beres dan Alana segera bangkit untuk pulang. Berjalan  dengan Altar yang mengantarnya hingga ke depan.


Ia menarik Alana dan memeluknya sejenak. Altar, sungguh butuh sebuah pelukan untuk menenangkan ombak didalam hatinya yang sedang bergemuruh hebat.


Ia bahkan menghirup aroma tubuh Alana dalam-dalam, mencari ketenangan.


Alana tidak membalas pelukan itu, ia masih bingung kenapa Altar jadi seperti ini. Nampak jelas jika kedua netra Altar begitu sendu.


“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Alana lirih.


“Jangan katakan tidak ada apa-apa, aku tahu kamu tidak baik-baik saja,” timpal Alana lagi. Ia sungguh ingin tahu.


Bukannya menjawab, Altar malah semakin memeluk Alana dengan erat. Hingga akhirnya Alana pun membalas pelukan itu.


“tidak ada apa-apa kok, aku hanya ingin memelukmu,” jawab Altar, ia melerai pelukannya sendiri, memberi jarak lalu menatap Alana dengan senyum miringnya, senyum yang membuat Alana jadi kesal.


Bahkan Alana sampai reflek memukul dada Altar cukup kuat.


“Lepas, jangan peluk-peluk!” kesal Alana, ia lalu mendorong Altar dan mengambil jarak.

__ADS_1


“Awas peluk-peluk aku lagi,” ancam Alana, ia lalu membuka pintu itu dan segera berlalu dari rumah Altar dengan bibir yang menggerutu, Altar yang melihatnya malah terkekeh, merasa lucu sendiri dengan sikap Alana itu.


Altar terus memperhatikan Alana hingga sang calon istri keluar dari halaman rumahnya dan tak nampak lagi.


Kekehan Altar itu seketika mereda, kembali dengan wajahnya yang nampak datar, tak ada ekspresi.


Malam harinya, Altar berkunjung ke rumah Alana, tapi ia bukan mencari Alana, melainkan menemui ayah Aslan.


Altar, sudah menganggap Aslan seperti ayahnya sendiri. Ia bahkan mengenal Aslan sebagai orang yang begitu bijaksana dalam menyikapi semua masalah. Memiliki pembawaan yang tenang dan begitu mengayomi.


Tak tahu kemana harus mengadu dan menumpahkan kesedihannya, Altar akhirnya memilih Ayah Aslan sebagai tempat bertanya, tempat mencurahkan semua kegundahannya.


“Altar ingin pergi berdua dengan ayah?” tanya Aslan, saat Altar sudah berdiri tepat di depan rumahnya dengan tatapan yang sendu.


Tak mengeluarkan sepatah katapun, Altar hanya menganggukkan kepalanya.


Malam itu, Aslan membawa Altar keluar menggunakan mobilnya.


Mobil itu terus melaju dengan perlahan, berkeliling kota Jakarta tanpa ada tujuan yang pasti.


“Ada apa Nak? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Aslan, setelah cukup lama mereka hanya terdiam, jika dihitung-hitung, mungkin sudah ada 10 menit mereka berada didalam mobil yang melaju ini.


“Ayah, aku ingin bertanya satu hal,” jawab Altar, dengan suaranya yang mulai bergetar. Bersama Aslan, ia merasa menemukan tempatnya untuk bersandar, hingga ia tak kuasa lagi untuk menutupi kesedihannya.


“Apa Nak? Apa tentang Alana?”


Altar menggeleng.


“Tentang ibu Wid,” jawab Altar, hingga membuat Aslan tersentak seketika.


Agung, Widya, Kiran dan Aslan sudah bersepakat untuk menutupi penyakit Widya dari anak-anak. Namun ternyata, Altar sudah mengetahuinya.


“Apa ayah tahu jika ibu Widya sakit?” tanya Altar lagi dengan matanya yang mulai terasa panas dan sudah berkaca-kaca.


Tak langsung menjawab, Aslan menepikan mobilnya di rest area tepi jalan.


Aslan lalu menoleh pada anak laki-lakinya itu dan melihat Altar yang sudah menangis.


“Ibu Wid sakit kan yah? Ayah tahu itu kan?” tanya Altar lagi dengan suaranya yang  putus-putus, tangisnya mulai pecah dan terasa tercekak.

__ADS_1


__ADS_2