Setelah Menikah

Setelah Menikah
BAB 43


__ADS_3

Perlahan, Kiran mengerjabkan matanya.


Kini ia masih berada di salah satu Rumah Sakit di Malaysia. Masih dalam perawatan intensif dokternya yang baru, dokter Johan.


Pagi ini, entah kenapa ia begitu pusing. Tak biasanya, bahkan sampai membuat matanya berkunang-kunang.


Dilihatnya sekeliling dengan susah payah, ternyata Agung sudah datang, duduk sambil tertidur di sofa ujung sana.


"Gung," panggil Kiran lemah, kesadarannya pun belum seutuhnya terkumpul.


Lagi, Kiran mengerjabkan matanya berulang, berusaha mengusir pusing yang menyerangnya tanpa belas kasih.


"Agung!" panggil Kiran cukup keras.


Pria yang dipanggil langsung terkisap, sadar dengan mata yang terbuka lebar.


"Ran," jawabnya seraya bangkit.


Berjalan, Agung menghampiri Kiran dan duduk di kursi nakas sebelah ranjang itu.


Ditatapnya lekat wajah sang sahabat yang nampak lebih kurus. Semalam, Agung sampai di Malaysia dan Kiran sudah terlelap.


Sejak awal, Agung lah yang membantu semua urusan keluarnya Kiran dari pekerjaan. Dan kini, ia baru memiliki waktu untuk berkunjung.


"Ya Allah Ran, kenapa kamu berubah begitu banyak? kamu jadi jelek," jawab Agung menurut pendapatnya sendiri.


Kiran cemberut, kata-kata dipagi hari yang terdengar begitu menyebalkan.


"Tolong ambilkan minum," pinta Kiran, tanpa menjawab Agung langsung menuruti permintaan sahabatnya itu. Entah kenapa, ia selalu patuh dengan kata-kata Kiran.


Sebenarnya ia ingin menolak, namun hati dan raganya berhianat.


"Aku bisa minum sendiri," ucap Kiran saat Agung hendak membantunya minum, segelas air putih.


Kiran lalu mengambil gelas itu dan meneguk isinya hingga tandas.


Namun belum ada semenit ia minum, mendadak perutnya mual tanpa ampun. Wajahnya langsung memucat seketika.


"Gung, aku mau muntah," lirih Kiran dan Agung kelimpungan.


"Aduh, tahan-tahan, ayo ke kamar mandi," ajak Agung cemas, dengan cepat ia hendak membantu Kiran untuk bangkit.


Tapi sayang, Kiran tak bisa menahan.


Belum sempat ia turun, ia sudah memuntahi Agung.


"Huwek!" muntah Kiran yang hanya berisi air putih tadi.


Agung terpaku, pasrah dan basah.

__ADS_1


"Maaf Gung, bau tubuhmu buat aku mual," jujur Kiran dan malah Agung mengira itu hanya sekedar pembelaan.


Pembelaan karena Kiran sudah menumpahkan muntahan di seluruh bajunya.


"Sabar, sabar, sabar," ucap Agung dengan mengeram kesal. Untung saja Kiran sedang sakit, jika tidak? pasti sudah ditelannya mentah-mentah.


"Kamu bawa baju ganti kan? ganti sana, tapi jangan pakai parfum," pinta Kiran dan Agung makin mengeram kesal.


Benar-benar tidak ada raut merasa bersalah di wajah wanita judes ini.


"Astagfirulahalazim," gumam Agung beristigfar, meski begitu, ia tetap menuruti keinginan Kiran.


Dengan patuh, Agung segera menghampiri tas ranselnya. Mengambil salah satu baju dan segera bergegas ke kamar mandi.


Ia hanya sedikit membasuh tubuhnya, tidak menggunakan parfum seperti permintaan Kiran.


"Gung, aku mau minum jus buah," rengek Kiran saat dilihatnya Agung keluar dari dalam kamar mandi.


Bagi Kiran, air putih terasa begitu memuakkan dimulutnya, ia butuh minuman yang manis-manis. Jus buah adalah pilihannya.


Mendengar permintaan itu, Agung malah mengeryit bingung. Kenapa dimatanya, Kiran nampak seperti wanita yang sedang mengidam.


Perlahan, ia kembali menghampiri Kiran. Menarik kursi nakas agar sedikit menjauh dari wanita barbar ini.


"Nanti akan ku belilan jus buah, sekarang jawab dulu pertanyaanku," ucap Agung dan kini giliran Kiran yang mengerutkan dahinya, bingung.


"Tanya apa?" tanyanya cengo.


Mendapati pertanyaan itu, rona wajah Kiran langsung berubah sendu. Bahkan matanya langsung berembun, mengisyaratkan kesedihan.


Jika mengingat itu, hatinya begitu pilu. Seperti mengorek luka lama.


"Maaf Ran, hanya saja sepertinya kamu masih hamil," ucap Agung pelan, ia merasa bersalah. Namun tak bisa menutupi pemikirannya sendiri.


"Kamu mual mencium parfumku?" tanya Agung dan Kiran mengangguk.


"Coba kita ulangi lagi, jika kali ini kamu masih mual, fixs dugaanku benar, kamu masih hamil," ucap Agung semangat. Buru-buru ia berlari ke sofa mendekati tas ranselnya.


Mengambil parfum dan menyemprotnya sedikit dibagian dada.


Dengan tersenyum, ia berbalik dan kembali menghampiri Kiran. Bahkan tanpa segan, ia menarik wanita sakit ini masuk ke dalam dekapannya.


Dan ...


"Huwek!" Seketika itu juga, Kiran kambali muntah, kembali mengotori baju Agung.


Kali ini Agung tak sedikitpun merasa kesal, ia malah begitu bahagia.


"Aku akan ganti baju lagi, setelah itu akan memanggil doktermu," ucap Agung semangat dan segera berlalu.

__ADS_1


Sementara Kiran, langsung tercenung.


Benarkah? tanyanya di dalam hati.


Seperti mempercayai sesuatu yang tidak mungkin.


Perlahan, ia menggerakkan tangan kanannya, mengelus perutnya yang masih rata.


Tes! air matanya jatuh tak bisa ditahan.


Pelan, ia menggeleng.


"Agung tidak pintar, untuk apa mempercayai ucapannya," lirih Kiran.


"Parfumnya memang norak, murahan, karena itulah aku muntah," bela Kiran dengan yakin.


Dengan cepat, ia menghapus air matanya sendiri.


Dan tak lama, Agung keluar dari dalam kamar mandi.


"Aku akan memanggil doktermu langsung," jelas Agung dan langsung keluar begitu saja.


Kiran tak bisa menolak.


Apalagi saat Johan datang dan membawa Kiran ke bagian dokter kandungan. Disana Meta mulai memeriksa keadaan Kiran.


"Selamat Ibu Kiran, anda benar-benar hamil," jelas Meta dengan tersenyum.


Dan Kiran masih gamang.


"Ta-tapi saya sudah keguguran janin itu dok, bagaimana bisa janin itu kembali lagi, sementara saya dan sua_" ucapan Kiran terhenti, mendadak kelu ketika ingin mengucapkan kata suami.


Karena yang ia tahu, kini ia sudah tak bersuami. Fahmi, sudah mengurus semua perceraiannya dengan Aslan.


"Dari data yang anda bawa, Anda memang mengalami keguguran, tapi hanya 1 janin. sementara janin yang lainnya selamat. Anda hamil anak kembar Bu," jelas Meta apa adanya.


"Bagaimana bisa Dok? dokter kandungan saya dulu tidak mengatakan jika saya hamil kembar," jelas Kiran dengan menggebu, ia belum begitu mempercayai ucapan Meta, lebih tepatnya ia takut untuk percaya.


Takut jika itu hanyalah fatamorgana, hanya harapan palsu.


"Lihatlah Bu, ini adalah gambar rahim anda, ada satu kantung janin disana. Itu artinya Anda hamil. Kehamilan kembar memang belum dapat dilihat diusia muda. Walau memiliki 2 kantung, namun akan tetap terlihat satu. Dengan pemeriksaan rutin, barulah bisa diketahui bayi anda kembar atau tidak," jelas Meta dengan telaten.


Seketika itu juga air mata Kiran luruh, ia menangis namun dengan bibir yang tersenyum.


"Jadi saya hamil Dok?" tanya Kiran sekali lagi dan Meta mengangguk mantap.


"Anakku," lirih Kiran sambil mengelus perutnya dengan sayang.


"Terima kasih Nak, terima kasih karena kamu sudah bertahan," gumamnya disela-sela isak tangis.

__ADS_1


Ternyata Agung tidak begitu bodoh, pikirnya dengan penuh syukur.


__ADS_2