
Aslan turun dari atas tangga, melihat dibawah sana
sang ibu dan istri seperti membicarakan sesuatu yang serius. Wajah Yuli nampak
menegang, dan Kiran terus bergelayut manja di lengan sang mertua.
Aslan yakin, jika istrinya itu sedang diomel-omel
oleh Yuli karena pulang sangat terlambat, padahal Aslan sudah memberi tahu Yuli
jika Kiran pergi bersama Widya untuk berbelanja.
“Terserah Umi saja, aku ikut,” jawab Kiran atas
ucapan yang dikatakan Yuli tadi, bahwa Yuli dan iwanlah yang akan menjemput mas
Fahmi besok di Bandara.
“Terserah apa?” sahut Kiran yang tiba-tiba berada
dibelakang Kiran dan sang ibu.
Sontak saja kedua wanita ini menoleh dan berbalik ke
belakang, menatap wajah Aslan yang juga menatap mereka lekat. Aslan takut ibu
dan istrinya terlibat perselisihan.
“Besok mas Fahmi pulang ke Indonesia sayang, umi
yang mau jemput di Bandara.” Kiran menjelaskan langsung inti masalahanya, iapun
belum sempat menceritakan perihal ini pada suaminya itu.
“Mas Fahmi mau kesini?” tanya Aslan sekali lagi,
memastikan.
“Iya, tapi Cuma 2 hari, ada urusan di kantornya yang
dulu, habis selesai ya besoknya balik lagi ke Malaysia,” jawab Kiran apa
adanya, seperti itulah yang diucapkan Tika tadi pagi.
Wajah Aslan mulai nampak lega, ia lalu menganggukkan
kepalanya kecil.
“Kalau begitu besok biar aku temani umi juga untuk
menjemput mas Fahmi,” jawab Aslan kemudian, namun Kiran malah mengerutkan
dahinya. Kenapa semua orang jadi ingin menjemput kakaknya itu, sementara ia
sendiri tidak bisa., pasalnya ia sudah banyak sekali izin. Bahkan kemarin saat
ia masuk angin di kantor ia banyak istirahat, masa ia sekarang izin lagi?
“Kenapa?” tanya Aslan saat melihat wajah istrinya
yang nampak tak senang.
“Umi, Abi, sama mas Aslan mau jemput mas Fahmi, tapi
aku tidak bisa,” jawab Kiran lirih, dengan raut wajah bersalah. Yuli yang
mendengar itu hanya tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepalanya, ia pikir ada
sesuatu yang serius, ternyata.. hah.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Lagipula tidak ada bedanya
siapapun yang menjemput, yang jelas Fahmi, Tika, Raka dan Rian harus menginap
di rumah ini,” Final Yuli.
Dan anak serta menantunya itu hanya mengangguk.
__ADS_1
“Sana mandi dulu,” titah yuli pada Kiran.
“Iya Umi,” jawabnya, Kiran lalu melepaskan
gelayutannya pada Yuli dan Kini pindah bergelayut di lengan sang suami. Lagi,
Yuli hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang menantu, lalu
pergi meninggalkan kedua anak itu berdua disana.
“Mandi,” ucap Aslan, mengikuti ucapan sang ibu.
“Iya Mas,” balas Kiran dengan suaranya yang khas,
ketika sedang bermanja-manja dengan Aslan, suara yang mendayu-dayu.
Merasa gemas sendiri, Aslan lalu mengecup sekilas
bibir sang istri, namun mereka tidak tahu, jika kelakukan mereka itu dilihat
oleh Iwan. Terkejut, Iwan kembali balik badan dan tidak jadi ke ruang tengah.
****
Selesai membersihkan tubuh dan beribadah, Kiran
menyusul suaminya yang sedang berssama Aydan di ruang makan, bayi yang tiap
hari tumbuh tinggi ini sedang memakan cemilannya, makan dengan tangannya sendiri
hingga berantakan.
Bukannya merasa kesal, semua orang yang melihat
tingkahnya malah merasa gemas.
Kiran masuk kesana, menciumi pipi Aydan lalu langsung
menuju lemari pendingin, memeriksa semua bahan-bahan yang ia beli tadi.
diatas kepalanya, mengambil susu program hamil yang ia beli tadi dan mulai
membuat satu gelas.
“Ran, makan dulu sayang,” ucap Yuli yang baru saja
selesai makan malam, melhat Kiran yang asik sendiri di meja pantry.
“Iya Umi, nanti selesai makan kan susunya sudah
dingin,” jawabnya sambil terus mengaduk-aduk susu didalam gelas.
Yuli pun ikut merestui niat Kiran dan Aslan yang
ingin kembali memiliki momongan, Yuli dan Iwan pun ikut mendoakan agar
keinginan kedua anaknya itu kembali diijabah oleh Allah. Namun berulang kali
juga Yuli mengingatkan pada Aslan dan Kiran, jika Anak itu adalah titipan, maka
semuanya serahkanlah pada Allah.
Belajar dari masa lalu, perihal Anak pernah sekali
menghancurkan keluarga mereka, dan Yuli tidak ingin hal itu kembali terulang.
Apapun yang kita miliki sekarang, patutlah disyukuri dengan sebaik-baiknya,
ucap Yuli kala itu.
Selesai membuat susu, Kiran segera makan malam, kini
tinggal ia dan Aydan saja yang makan, semua orang sudah selesai lebih dulu.
Yuli dan Iwan meninggalkan meja makan itu, sementara Aslan masih menemani istri
dan juga anaknya.
__ADS_1
Kiran menoleh sejenak, menatap suaminya yang terus
memperhatian dia makan. Dilihatnya Aslan malah mengulum senyum.
“Kenapa?” tanya Kiran dengan mulut yang penuh dengan
makanan., salah satu pipinya bahkan terlihat sedikit menggelembung.
“Lihat sini,” Titah Aslan, Kiran yang sudah tak
menatapnya pun reflek kembali menoleh dan menatap sang suami.
“Lama-lama kamu jadi seperti Aydan,” ucap Aslan
menahan tawa, ia lalu mencubit pipi Kiran yang menggelembung itu, menarik wajah
Kiran mendekat dan mencium bibirnya sekilas.
“Mas, aku lagi makan,” keluh Kiran, wajahnya
cemberut, lalu menarik diri untuk menjauh.
Dan Aslan terkekeh, entah kenapa ia senang sekali
melihat istrinya yang makan dengan lahap seperti itu. Bahkan terlihat lebih
cantik.
Malam ini, Aydan kembali tidur bersama Kiran dan
Aslan, sengaja membawa Aydan kesana agar mereka bisa beristirahat dengan
tenang, tidak terpikir untuk memadu kasih.
Aydan sudah terlelap, sementara Kiran dan Aslan
belum, namun mereka sudah berbaring di kedua sisi anaknya, tidur miring dan
saling pandang.
Bahkan salah satu tangan Aslan terulur untuk terus
mengelus pucuk kepala sang istri dengan sayang.
“Besok sayang izin?” tanya Kiran, sambil terus
menatap kedua mata suaminya.
Aslan mengangguk kecil.
Tak ada lagi pembicaraan, mereka hanya terus saling
menatap dengan tatapan penuh cinta.
Hingga lambat laun, Kiran lebih dulu memejamkan
matanya. Dan tinggalah Aslan sendiri yang masih terjaga. Melihat secara bergantian
Aydan dan Kiran yang terlelap disampingnya.
Berulang kali, Aslan mengucapkan syukur. Betapa
Allah bermurah hati kepadanya, hingga kini keluarganya dapat hidup rukun dan
penuh dengan kasih sayang.
Aslan sedikit bangkit, lalu mencium anak dan
istrinya bergantian. Seraya berdoa, agar kedua orang yang disayanginya ini
selalu diberi kesehatan dan juga kebahagiaan.
“Aamiin, Aamiin Ya Robbal Alamin,” gumamnya pelan,
lalu menarik selimut untuk mereka bertiga, mulai berbaring dan menutup matanya, menyusul sang istri dan anak
kedunia mimpi.
__ADS_1