Setelah Menikah

Setelah Menikah
Bab 94


__ADS_3

Aslan turun dari atas tangga, melihat dibawah sana


sang ibu dan istri seperti membicarakan sesuatu yang serius. Wajah Yuli nampak


menegang, dan Kiran terus bergelayut manja di lengan sang mertua.


Aslan yakin, jika istrinya itu sedang diomel-omel


oleh Yuli karena pulang sangat terlambat, padahal Aslan sudah memberi tahu Yuli


jika Kiran pergi bersama Widya untuk berbelanja.


“Terserah Umi saja, aku ikut,” jawab Kiran atas


ucapan yang dikatakan Yuli tadi, bahwa Yuli dan iwanlah yang akan menjemput mas


Fahmi besok di Bandara.


“Terserah apa?” sahut Kiran yang tiba-tiba berada


dibelakang Kiran dan sang ibu.


Sontak saja kedua wanita ini menoleh dan berbalik ke


belakang, menatap wajah Aslan yang juga menatap mereka lekat. Aslan takut ibu


dan istrinya terlibat perselisihan.


“Besok mas Fahmi pulang ke Indonesia sayang, umi


yang mau jemput di Bandara.” Kiran menjelaskan langsung inti masalahanya, iapun


belum sempat menceritakan perihal ini pada suaminya itu.


“Mas Fahmi mau kesini?” tanya Aslan sekali lagi,


memastikan.


“Iya, tapi Cuma 2 hari, ada urusan di kantornya yang


dulu, habis selesai ya besoknya balik lagi ke Malaysia,” jawab Kiran apa


adanya, seperti itulah yang diucapkan Tika tadi pagi.


Wajah Aslan mulai nampak lega, ia lalu menganggukkan


kepalanya kecil.


“Kalau begitu besok biar aku temani umi juga untuk


menjemput mas Fahmi,” jawab Aslan kemudian, namun Kiran malah mengerutkan


dahinya. Kenapa semua orang jadi ingin menjemput kakaknya itu, sementara ia


sendiri tidak bisa., pasalnya ia sudah banyak sekali izin. Bahkan kemarin saat


ia masuk angin di kantor ia banyak istirahat, masa ia sekarang izin lagi?


“Kenapa?” tanya Aslan saat melihat wajah istrinya


yang nampak tak senang.


“Umi, Abi, sama mas Aslan mau jemput mas Fahmi, tapi


aku tidak bisa,” jawab Kiran lirih, dengan raut wajah bersalah. Yuli yang


mendengar itu hanya tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepalanya, ia pikir ada


sesuatu yang serius, ternyata.. hah.


“Ya sudah, tidak apa-apa. Lagipula tidak ada bedanya


siapapun yang menjemput, yang jelas Fahmi, Tika, Raka dan Rian harus menginap


di rumah ini,” Final Yuli.


Dan anak serta menantunya itu hanya mengangguk.

__ADS_1


“Sana mandi dulu,” titah yuli pada Kiran.


“Iya Umi,” jawabnya, Kiran lalu melepaskan


gelayutannya pada Yuli dan Kini pindah bergelayut di lengan sang suami. Lagi,


Yuli hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang menantu, lalu


pergi meninggalkan kedua anak itu berdua disana.


“Mandi,” ucap Aslan, mengikuti ucapan sang ibu.


“Iya Mas,” balas Kiran dengan suaranya yang khas,


ketika sedang bermanja-manja dengan Aslan, suara yang mendayu-dayu.


Merasa gemas sendiri, Aslan lalu mengecup sekilas


bibir sang istri, namun mereka tidak tahu, jika kelakukan mereka itu dilihat


oleh Iwan. Terkejut, Iwan kembali balik badan dan tidak jadi ke ruang tengah.


****


Selesai membersihkan tubuh dan beribadah, Kiran


menyusul suaminya yang sedang berssama Aydan di ruang makan, bayi yang tiap


hari tumbuh tinggi ini sedang memakan cemilannya, makan dengan tangannya sendiri


hingga berantakan.


Bukannya merasa kesal, semua orang yang melihat


tingkahnya malah merasa gemas.


Kiran masuk kesana, menciumi pipi Aydan lalu langsung


menuju lemari pendingin, memeriksa semua bahan-bahan yang ia beli tadi.


diatas kepalanya, mengambil susu program hamil yang ia beli tadi dan mulai


membuat satu gelas.


“Ran, makan dulu sayang,” ucap Yuli yang baru saja


selesai makan malam, melhat Kiran yang asik sendiri di meja pantry.


“Iya Umi, nanti selesai makan kan susunya sudah


dingin,” jawabnya sambil terus mengaduk-aduk susu didalam gelas.


Yuli pun ikut merestui niat Kiran dan Aslan yang


ingin kembali memiliki momongan, Yuli dan Iwan pun ikut mendoakan agar


keinginan kedua anaknya itu kembali diijabah oleh Allah. Namun berulang kali


juga Yuli mengingatkan pada Aslan dan Kiran, jika Anak itu adalah titipan, maka


semuanya serahkanlah pada Allah.


Belajar dari masa lalu, perihal Anak pernah sekali


menghancurkan keluarga mereka, dan Yuli tidak ingin hal itu kembali terulang.


Apapun yang kita miliki sekarang, patutlah disyukuri dengan sebaik-baiknya,


ucap Yuli kala itu.


Selesai membuat susu, Kiran segera makan malam, kini


tinggal ia dan Aydan saja yang makan, semua orang sudah selesai lebih dulu.


Yuli dan Iwan meninggalkan meja makan itu, sementara Aslan masih menemani istri


dan juga anaknya.

__ADS_1


Kiran menoleh sejenak, menatap suaminya yang terus


memperhatian dia makan. Dilihatnya Aslan malah mengulum senyum.


“Kenapa?” tanya Kiran dengan mulut yang penuh dengan


makanan., salah satu pipinya bahkan terlihat sedikit menggelembung.


“Lihat sini,” Titah Aslan, Kiran yang sudah tak


menatapnya pun reflek kembali menoleh dan menatap sang suami.


“Lama-lama kamu jadi seperti Aydan,” ucap Aslan


menahan tawa, ia lalu mencubit pipi Kiran yang menggelembung itu, menarik wajah


Kiran mendekat dan mencium bibirnya sekilas.


“Mas, aku lagi makan,” keluh Kiran, wajahnya


cemberut, lalu menarik diri untuk menjauh.


Dan Aslan terkekeh, entah kenapa ia senang sekali


melihat istrinya yang makan dengan lahap seperti itu. Bahkan terlihat lebih


cantik.


Malam ini, Aydan kembali tidur bersama Kiran dan


Aslan, sengaja membawa Aydan kesana agar mereka bisa beristirahat dengan


tenang, tidak terpikir untuk memadu kasih.


Aydan sudah terlelap, sementara Kiran dan Aslan


belum, namun mereka sudah berbaring di kedua sisi anaknya, tidur miring dan


saling pandang.


Bahkan salah satu tangan Aslan terulur untuk terus


mengelus pucuk kepala sang istri dengan sayang.


“Besok sayang izin?” tanya Kiran, sambil terus


menatap kedua mata suaminya.


Aslan mengangguk kecil.


Tak ada lagi pembicaraan, mereka hanya terus saling


menatap dengan tatapan penuh cinta.


Hingga lambat laun, Kiran lebih dulu memejamkan


matanya. Dan tinggalah Aslan sendiri yang masih terjaga. Melihat secara bergantian


Aydan dan Kiran yang terlelap disampingnya.


Berulang kali, Aslan mengucapkan syukur. Betapa


Allah bermurah hati kepadanya, hingga kini keluarganya dapat hidup rukun dan


penuh dengan kasih sayang.


Aslan sedikit bangkit, lalu mencium anak dan


istrinya bergantian. Seraya berdoa, agar kedua orang yang disayanginya ini


selalu diberi kesehatan dan juga kebahagiaan.


“Aamiin, Aamiin Ya Robbal Alamin,” gumamnya pelan,


lalu menarik selimut untuk mereka bertiga, mulai berbaring dan  menutup matanya, menyusul sang istri dan anak


kedunia mimpi.

__ADS_1


__ADS_2